
Dah tiga aja yaaa....
Ni dah mau tamat kok, jadi...aku coba kebut lah...hehe
“Bismillahirrohmanirrohiim” Lantang suara Omar di
depan mikrofon dengan menjabat tangan Davin erat, “Saya nikahkan dan kawinkan
putri saya Mahira Ramazan binti Omar Ramazan dengan Engkau Saudara Davin
Febrian Mahendra, dengan mahar sebesar lima puluh juta rupiah, seperangkat
perhiasan, dan seperangkat alat sholat, di bayar tuuuunaaaaiiii” Sambungnya
lantang kemudian Omar menggerakkan tangannya.
“Saya terima nikah dan kawinnya Mahira Ramazan
binti Omar Ramazan untuk saya, dengan mahar tersebut di bayar tuuunaaaiii”
Jawab Davin lantang dengan satu kali tarikan nafas.
“Apa semuanya sah?” Tanya pak penghulu pada semua
yang hadir.
“Saaaaaahhhhhh” Untuk ketiga kalinya sorak semua
orang bersamaan, ruangan kembali riuh dengan suara sorak sorai dari seluruh
yang hadir.
“Sah” Kata pak penghulu mengulang seraya
mengangguk.
“Alhamdulillah….” Ucap semua orang bersamaan.
“Barokallahu laka wa baaroka ‘alaika wa jamaa
bainakumaa fii khoir” yang berarti “mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik
dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan” Doa
dari pak penghulu ketiga untuk kedua pengantin.
Semua tamu undangan yang hadir langsung bertepuk
tangan riuh menyaksikan prosesi akad ketiga kakak beradik Mahendra, yang
menurut mereka adalah moment langka. Karena baru kali ini mereka menyaksikan
terjadinya tiga akad sekaligus.
“Baiklah, bapak ibu semua, mohon tenang dulu yaaa,
sekarang kita akan menunggu ketiga mempelai wanita untuk dihadirkan ke ruang
acara untuk melakukan prosesi selanjutnya, jadi mohon kembali duduk di kursi
masing-masing dan tenang”
Ketiga gadis telah di bimbing masuk ke ruang acara
dengan ditemani ibunda masing-masing.
“Silahkan untuk para pengantin pria bisa menjemput
mempelai wanitanya masing-masing, awas jangan berebut apalagi salah menggandeng
mempelai yaaa” Ajak pemandu acara seraya bergurau yang disambut tertawa seluruh
yang hadir. Tampak Genta, Aldy, dan Davin berdiri melangkah menyambut wanitanya
masing-masing. Tiga wanita yang terbalut dalam busana pernikahan yang sangat
tertutup dan anggun, ya Ginara dan Dina memutuskan memakai gaun pernikahan
dengan dilengkapi dengan hijab, hanya Mahira yang tetap memakai niqab, karena
itu sudah menjadi kebiasaannya.
Mereka bertiga telah disambut oleh pasangan pria
__ADS_1
masing-masing dan membawanya untuk duduk di kursi yang telah di sediakan.
“Boleh saya pandu dari sini Mas?” Tanya salah satu
penghulu mengawali pembicaraan seraya menatap pada pemandu acara.
“Iya silahkan pak, acara sepenuhnya milik bapak
penghulu” Jawab pembawa acara seraya tertawa.
“Baiklah sebelum di mulai penyematan cincin, di
mohon ketiga pasangan mempelai menandatangani masing-masing buku nikah yang
telah kami persiapkan, di lanjutkan dengan wali dan saksi masing-masing” Kata
pak penghulu memulai acaranya di ikuti oleh penandatanganan semua yang telah di
atur.
“Sekarang silahkan di pasangkan cincin
pernikahannya.” Sambung pak penghulu.
Genta, Aldy, dan Davin meraih kotak kecil berwarna
merah yang berisi cincin berlian yang langsung disematkan ke jari manis pasangannya,
demikian juga dilakukan oleh Dina, Ginara, dan Mahira.
“Selanjutnya pengantin wanita silahkan cium
punggung tangan suaminya dan suaminya boleh mencium kening istrinya” Pinta pak
penghulu kembali pada mempelai wanita. Semua mempelai wanita langsung saja
menurutinya dengan mencium punggung tangan suaminya. Ginara menyentuh lembut
tangan besar lelaki yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Dan Aldy
membalasnya dengan mengecup puncak kepalanya dengan tak kalah lembut seraya
berucap pelan, “Istriku” membuat pipi Ginara langsung bersemu merah. Hal serupa
membacakan doa pada ubun-ubun masing-masing istrinya, “Allahumma inni as’aluka
min khoiriha wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaij. Wa a’udzubika min syarrihaa wa
syarrimaa jabaltaha ‘alaih” yang berarti, “Ya Allah, sesungguhnya aku bermohon
kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan
aku berlindung kepada-Mu dari kejelakannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan
atas dirinya”
Sehingga lengkap sudah prosesi akad yang di
selenggarakan oleh keluarga Mahendra terhadap tiga putra-putri Mahendra dengan
lancar dan khidmat. Suasana ruangan akad langsung riuh dengan sorak sorai,
tepuk tangan tak berhenti terdengar. Suara tangis dan tawa bahagia bergema di
ruangan aula yang menjadi begitu indah.
Sesi ikrar janji suci telah usai, untuk acara
lain-lain akan dilanjutkan pada waktu resepsi pernikahan yang akan dilaksanakan
di waktu yang sama.
Tanpa peduli dengan apa yang sedang di ocehkan oleh
pembawa acara, Aldy menarik tubuh Ginara, merengkuh tubuh wanitanya begitu erat
ke dalam pelukannya. Ginara yang semula tersentak, kini terdiam sejenak dalam
pelulakn Aldy, ruang ternyaman dirasakannya dalam pelukan itu.
“Kita sudah menikah” Ucap Aldy seraya mengecup
singkat kening Ginara, gadis itu tersenyum haru dan senang.
__ADS_1
“Terima kasih telah kembali dengan selamat untukku”
Balas Ginara pelan, bulir air mata kembali mengambang di pelupuk matanya
mengingat waktu sebelumnya.
“Aku sudah janji kan, aku pasti kembali, hanya
untukmu, jadi tidak boleh ada air mata lagi yang jatuh. Aku sudah bilang itu
kan” Kata Aldy seraya menghapus air mata Ginara, membuat gadis itu kembali
tersenyum bahagia. Di telusupkannya kepalanya di dada bidang Aldy.
“Kau membuatku takut tahu” Lirih Ginara, Aldy
mengeratkan pelukannya.
“Maafkan aku, aku tidak bisa menghubungimu, hpku di
bawa Yudha dan ternyata Yudha lupa tidak mengisi baterainya, hp Yudha juga
kebetulan mati. Kami benar-benar panik waktu mendapat informasi bahwa pesawat
mengalami sedikit kerusakan, mereka mengusahakan mendarat di tempat darurat
yang masih memungkinkan pesawat lain untuk mendarat dan mengevakuasi kami.”
Jelasnya panjang lebar.
Ginara menarik nafas lembut, “Jangan pernah lagi
membuatku khawatir” Pintanya.
“Pasti istriku sayang…” Dikecupnya lagi kening
Ginara lembut membuat rona merah kembali muncul di wajah Ginara.
Sayang moment indah itu harus hancur karena suara
seorang laki-laki yang membuat suasana hati kesal.
“Lihat tempat Al, bisa-bisanya” Seru Davin memecah
pelukan mereka berdua seraya menggandeng istrinya, Ginara langsung menunduk
malu tapi Aldy tidak melepaskan genggaman tangannya.
“Al..Al…panggil aku abang mulai sekarang!” Seru
Aldy pada Davin.
“Hah…Bang Aldy…” Panggil Davin mesra yang malah
membuat Aldy bergidik geli.
“Hah…gak lucu Dav, serasa….” Aldy tidak meneruskan
kalimatnya karena langsung mendapat tinjuan di bahunya. Tawa mereka membahana.
“Selamat brother…gak nyangka kita jadi saudara…”
Kata Davin seraya memeluk erat Aldy disambut dengan tepukan di punggung Davin.
“Selamat juga untukmu…”
“Dah yuk, Bang Genta dah beralih ke pelaminan noh,
masa kamu mau di sini aja” Ajak Davin.
“Maunya sih langsung ke kamar pengantin Dav” Jawab
Aldy tersenyum mengerling menatap Ginara. Gadis itu mendelik malu seraya
mencubit pinggang suaminya.
“Eh…samaan aja” Kata Davin yang di serbu dengan
cubitan tangan dari kakak dan istrinya. Laki-laki itu mengaduh disertai tawa
Aldy.
To Be Continued
__ADS_1