
Jam sudah menunjukkan pukul 20.30, Ginara masih
sibuk membereskan paper bag yang terkumpul di ruangannya untuk segera di bawa
ke meja resepsionis. Ia merapikan mejanya kemudian memanggil Sasa untuk
membantunya memindahkan paper bag tersebut.
“Udah Mbak Gi, biar aku sama Santi saja, Mbak
istirahat saja…”
“Udah gak papa”
“Mbak di depan Tuan Aldy sudah nungguin lho” Goda
Sasa. Ginara menoleh terkejut.
“Iya?” Sasa mengangguk tersenyum memandang reaksi
Ginara yang seolah tak percaya.
“Sudah Mbak, Mbak pulang aja dulu, nanti biar
apotek kita yang tutupkan”
Ginara menatap Sasa dengan tatapan terimakasih.
“Baiklah, aku pergi dulu ya, terimakasih” Ginara
meraih tas ranselnya kemudian keluar dari ruangannya menuju keluar apotek.
Benar saja Aldy sudah bersandar di depan motor sport hitam kesayangannya.
Ginara terbeliak indah…
“Hai” Sapa Aldy.
“Assalamu’alaikum” Jawab Ginara, Aldy tersenyum
kikuk seraya meraba tengkuknya salting.
“Waalaikumussalam, hehe maaf lupa”
“Tumben bawa si black lagi” Davin berdiri tegak
sambil mengelus body si black.
“Iya, aku ingin mengajakmu jalan. tidak akan lama”
Ginara berbinar matanya kemudian menyatukan kedua tangannya.
“Boleh aku yang bawa?” Tanyanya berharap.
“Tidak!”
“Ayolah Al…” Pintanya memohon.
“Tidak ada penolakan nona!”
“Ck” Decak Ginara cemberut.
Cup
Ginara membelalak kaget, reflek ia memukul bahu
Aldy, cukup keras, buktinya laki-laki itu meringis.
“Rasain…” Omel Ginara. Aldy hanya tersenyum.
“Salah sendiri manyun, dah ah yuk jalan” Aldy
memakaikan mantel dan helm ke Ginara. Uh…meleleh hati adek bang…. Batinnya.
Matanya tidak lepas menatap lekat wajah tampan dengan segala daya tariknya itu.
Ia membiarkan tangan Aldy mengancingkan mantel itu ke tubuhnya.
“Iya aku memang tampan, gak akan habis kok” Goda
__ADS_1
Aldy tersenyum. Ginara terkesiap, ia tersenyum malu telah ketahuan memandangi
wajahnya cukup lama. Dengan wajah sedikit merah, dia bergerak naik ke belakang
aldy.
“Pegangan yang kuat, aku akan membawamu terbang
menembus awan”
Ginara menurut, ia melingkarkan tangannya di tubuh
gagah Aldy bersamaan dengan aroma harum menenangkan yang masuk ke hidungnya.
Dalam sekejap, dua manusia beda jenis itu sudah meluncur di jalan raya yang masih
cukup ramai.
“Al…sebenarnya kita mau kemana?”
“Kau lapar tidak, aku belum makan malam.”
“Kau belum makan malam? Baiklah…kalau begitu kit
acari tempat makan dulu, aku akan menemanimu”
Aldy tersenyum senang, dia membelokkan motor ke
kawasan kuliner yang lumayan banyak di kunjungi oleh wisatawan, baik local
maupun luar negeri, karena terkenal dengan khas masakannya.
Ginara semakin betah dengan posisinya, memeluk erat
tubuh Aldy untuk mendapatkan kehangatan karena suhu udara malam yang semakin
terasa menggigit kulit.
Akhirnya Aldy menghentikan motornya di sebuah warung
lesehan Yogyakarta khas Jawa yang sangat ramai oleh pengunjung.
Warung lesehan Yogyakarta merupakan lokasi kuliner
sajian utamanya. Berbagai olahan ayam, bandeng, gurami, udang, hingga lele
tersedia di sini. Ornamen tanaman, gazebo, dan kolam ikan menjadi daya Tarik
tersendiri, menjadikan seuasananya semakin asri. Pengunjung sapat memilih makan
di meja atau secara lesehan. Lesehannyapun ada dua macam, lesehan kecil dan
besar. Untuk lesehan kecil muat hingga dua meja, sementara lesehan besar mampu
menampung hingga tida meja sekaligus. Beberapa menu yang menjadi favorit dan
banyak di pesan oleh pengunjung antara lain ayam goreng, bandeng tanpa duri
masak pedas, gurami goreng dan bakar, dan udang asam manis. Dan masih banyak
menu lainnya yang ditawarkan di warung lesehan Yogyakarta ini. Lokasinya tidak
jauh dari Gedung Pertemuan Taman Krida Budaya di Jalan Sukarno Hatta atau
perumahan Griya Shanta.
Aldy membawa
Ginara masuk ke ruang yang ada di bagian belakang, tempat gubug-gubug yang
tertata apik dengan disajikan taman mini dan kolam ikan hias yang sangat
menyejukkan mata.
Aldy memesan bandeng tanpa duri masak pedan, udang asam
manis, dan gurami bakar, serta dua gelas besar jeruk panas. Ia benar-benar
sudah hafal menu favorit Ginara, yang ternyata ia juga menyukai semua makanan
__ADS_1
favorit gadis di sebelahnya.
Dalam waktu 20 menit makanan tersaji dengan lengkap
dan nikmat.
“Ayo kita makan dulu…setelah itu baru melanjutkan
kegiatan kita yang tertunda…” Ucap Aldy sambil menghidangkan nasi di piring
Ginara lengkap dengan lauk udang asam manis yang sudah dikupas kulitnya
terlebih dahulu olehnya, dan sobekan gurami bakar yang sudah pula dipisahkan
dari durinya. Ginara tertegun, “kok malah dia yang melayaniku” Batinnya. Aldy,
kenapa semakin kesini dia semakin manis saja sih. Eh, apasih Gi. Gadis itu
bersemu merah ketika menerima piring dari Aldy.
“Kenapa?” Tanya Aldy heran menatap gadisnya. Gadis
itu menggeleng tersenyum.
“Kamu senang ya kulayani, sampai merah begitu…”
Godanya. Gadis itu hanya mendengus.
“Harusnya kan aku yang melayani…” Protesnya. Aldy
menaikkan alisnya, ia merasa ambigu dengan kalimat Ginara.
“Aku sangat tersanjung, apa boleh ya?” Goda Aldy
terus.
“Hah?” Ginara mendongak heran. Aldy terkekeh.
“Nanti saja melayaninya ketika kita sudah menikah”
Kata Aldy kemudian dengan terus tersenyum. Gadis itu melotot kaget.
“Mesum” Desisnya tajam. Aldy hanya tertawa. Senang
sekali hatinya mengerjai gadisnya.
Tidak lama keduanya sudah menikmati hidangan lezat
tersebut tanpa menggunakan sendok, biar rasa makanan lebih nikmat. Sesekali
Aldy menyuapkan bandeng ke Ginara dan pemuda itu minta balasan disuapi udang.
“Bagaimana…apa kau mau pulang sekarang, atau masih
mau jalan-jalan?” Aldy bertanya saat mereka sudah menaiki motor Kembali dan
bersiap-siap meninggalkan warung lesehan Yogyakarta.
“Kita jalan sebentar lagi ya, aku masih ingin
menikmati suasana mala mini” Ucap Ginara sambil melingkarkan tangannya ke tubuh
Aldy tanpa di suruh terlebih dahulu, yang membuat Aldy tersenyum puas.
“Baiklah nona…sesuai keinginan anda…” Sahut Aldy
yang mendapat balasan cubitan kecil di pinggangnya. Pemuda itu mulai melajukan
motor sportnya membelaj jalanan yang mulai memiliki pencahayaan minim. Karena
pemberlakuan jam malam bagi para pencari rezeki masih berlaku, walaupun sudah
mulai banyak kuliner malam yang mulai tidak mengindahkan peringatan tersebut.
Tangan kiri Aldy bergerak menangkup tangan Ginara
yang membelit di perutnya, sementara tangan kanan nya tetap stabil
mengendalikan laju motornya. Keduanya menikmati moment ini di iringi gejolak
__ADS_1
perasaan yang dari tadi tidak karuan.
To Be Continued