Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
JJM (Jalan Jalan Malam)


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 20.30, Ginara masih


sibuk membereskan paper bag yang terkumpul di ruangannya untuk segera di bawa


ke meja resepsionis. Ia merapikan mejanya kemudian memanggil Sasa untuk


membantunya memindahkan paper bag tersebut.


“Udah Mbak Gi, biar aku sama Santi saja, Mbak


istirahat saja…”


“Udah gak papa”


“Mbak di depan Tuan Aldy sudah nungguin lho” Goda


Sasa. Ginara menoleh terkejut.


“Iya?” Sasa mengangguk tersenyum memandang reaksi


Ginara yang seolah tak percaya.


“Sudah Mbak, Mbak pulang aja dulu, nanti biar


apotek kita yang tutupkan”


Ginara menatap Sasa dengan tatapan terimakasih.


“Baiklah, aku pergi dulu ya, terimakasih” Ginara


meraih tas ranselnya kemudian keluar dari ruangannya menuju keluar apotek.


Benar saja Aldy sudah bersandar di depan motor sport hitam kesayangannya.


Ginara terbeliak indah…


“Hai” Sapa Aldy.


“Assalamu’alaikum” Jawab Ginara, Aldy tersenyum


kikuk seraya meraba tengkuknya salting.


“Waalaikumussalam, hehe maaf lupa”


“Tumben bawa si black lagi” Davin berdiri tegak


sambil mengelus body si black.


“Iya, aku ingin mengajakmu jalan. tidak akan lama”


Ginara berbinar matanya kemudian menyatukan kedua tangannya.


“Boleh aku yang bawa?” Tanyanya berharap.


“Tidak!”


“Ayolah Al…” Pintanya memohon.


“Tidak ada penolakan nona!”


“Ck” Decak Ginara cemberut.


Cup


Ginara membelalak kaget, reflek ia memukul bahu


Aldy, cukup keras, buktinya laki-laki itu meringis.


“Rasain…” Omel Ginara. Aldy hanya tersenyum.


“Salah sendiri manyun, dah ah yuk jalan” Aldy


memakaikan mantel dan helm ke Ginara. Uh…meleleh hati adek bang…. Batinnya.


Matanya tidak lepas menatap lekat wajah tampan dengan segala daya tariknya itu.


Ia membiarkan tangan Aldy mengancingkan mantel itu ke tubuhnya.


“Iya aku memang tampan, gak akan habis kok” Goda

__ADS_1


Aldy tersenyum. Ginara terkesiap, ia tersenyum malu telah ketahuan memandangi


wajahnya cukup lama. Dengan wajah sedikit merah, dia bergerak naik ke belakang


aldy.


“Pegangan yang kuat, aku akan membawamu terbang


menembus awan”


Ginara menurut, ia melingkarkan tangannya di tubuh


gagah Aldy bersamaan dengan aroma harum menenangkan yang masuk ke hidungnya.


Dalam sekejap, dua manusia beda jenis itu sudah meluncur di jalan raya yang masih


cukup ramai.


“Al…sebenarnya kita mau kemana?”


“Kau lapar tidak, aku belum makan malam.”


“Kau belum makan malam? Baiklah…kalau begitu kit


acari tempat makan dulu, aku akan menemanimu”


Aldy tersenyum senang, dia membelokkan motor ke


kawasan kuliner yang lumayan banyak di kunjungi oleh wisatawan, baik local


maupun luar negeri, karena terkenal dengan khas masakannya.


Ginara semakin betah dengan posisinya, memeluk erat


tubuh Aldy untuk mendapatkan kehangatan karena suhu udara malam yang semakin


terasa menggigit kulit.


Akhirnya Aldy menghentikan motornya di sebuah warung


lesehan Yogyakarta khas Jawa yang sangat ramai oleh pengunjung.


Warung lesehan Yogyakarta merupakan lokasi kuliner


sajian utamanya. Berbagai olahan ayam, bandeng, gurami, udang, hingga lele


tersedia di sini. Ornamen tanaman, gazebo, dan kolam ikan menjadi daya Tarik


tersendiri, menjadikan seuasananya semakin asri. Pengunjung sapat memilih makan


di meja atau secara lesehan. Lesehannyapun ada dua macam, lesehan kecil dan


besar. Untuk lesehan kecil muat hingga dua meja, sementara lesehan besar mampu


menampung hingga tida meja sekaligus. Beberapa menu yang menjadi favorit dan


banyak di pesan oleh pengunjung antara lain ayam goreng, bandeng tanpa duri


masak pedas, gurami goreng dan bakar, dan udang asam manis. Dan masih banyak


menu lainnya yang ditawarkan di warung lesehan Yogyakarta ini. Lokasinya tidak


jauh dari Gedung Pertemuan Taman Krida Budaya di Jalan Sukarno Hatta atau


perumahan Griya Shanta.


 Aldy membawa


Ginara masuk ke ruang yang ada di bagian belakang, tempat gubug-gubug yang


tertata apik dengan disajikan taman mini dan kolam ikan hias yang sangat


menyejukkan mata.


Aldy memesan bandeng tanpa duri masak pedan, udang asam


manis, dan gurami bakar, serta dua gelas besar jeruk panas. Ia benar-benar


sudah hafal menu favorit Ginara, yang ternyata ia juga menyukai semua makanan

__ADS_1


favorit gadis di sebelahnya.


Dalam waktu 20 menit makanan tersaji dengan lengkap


dan nikmat.


“Ayo kita makan dulu…setelah itu baru melanjutkan


kegiatan kita yang tertunda…” Ucap Aldy sambil menghidangkan nasi di piring


Ginara lengkap dengan lauk udang asam manis yang sudah dikupas kulitnya


terlebih dahulu olehnya, dan sobekan gurami bakar yang sudah pula dipisahkan


dari durinya. Ginara tertegun, “kok malah dia yang melayaniku” Batinnya. Aldy,


kenapa semakin kesini dia semakin manis saja sih. Eh, apasih Gi. Gadis itu


bersemu merah ketika menerima piring dari Aldy.


“Kenapa?” Tanya Aldy heran menatap gadisnya. Gadis


itu menggeleng tersenyum.


“Kamu senang ya kulayani, sampai merah begitu…”


Godanya. Gadis itu hanya mendengus.


“Harusnya kan aku yang melayani…” Protesnya. Aldy


menaikkan alisnya, ia merasa ambigu dengan kalimat Ginara.


“Aku sangat tersanjung, apa boleh ya?” Goda Aldy


terus.


“Hah?” Ginara mendongak heran. Aldy terkekeh.


“Nanti saja melayaninya ketika kita sudah menikah”


Kata Aldy kemudian dengan terus tersenyum. Gadis itu melotot kaget.


“Mesum” Desisnya tajam. Aldy hanya tertawa. Senang


sekali hatinya mengerjai gadisnya.


Tidak lama keduanya sudah menikmati hidangan lezat


tersebut tanpa menggunakan sendok, biar rasa makanan lebih nikmat. Sesekali


Aldy menyuapkan bandeng ke Ginara dan pemuda itu minta balasan disuapi udang.


“Bagaimana…apa kau mau pulang sekarang, atau masih


mau jalan-jalan?” Aldy bertanya saat mereka sudah menaiki motor Kembali dan


bersiap-siap meninggalkan warung lesehan Yogyakarta.


“Kita jalan sebentar lagi ya, aku masih ingin


menikmati suasana mala mini” Ucap Ginara sambil melingkarkan tangannya ke tubuh


Aldy tanpa di suruh terlebih dahulu, yang membuat Aldy tersenyum puas.


“Baiklah nona…sesuai keinginan anda…” Sahut Aldy


yang mendapat balasan cubitan kecil di pinggangnya. Pemuda itu mulai melajukan


motor sportnya membelaj jalanan yang mulai memiliki pencahayaan minim. Karena


pemberlakuan jam malam bagi para pencari rezeki masih berlaku, walaupun sudah


mulai banyak kuliner malam yang mulai tidak mengindahkan peringatan tersebut.


Tangan kiri Aldy bergerak menangkup tangan Ginara


yang membelit di perutnya, sementara tangan kanan nya tetap stabil


mengendalikan laju motornya. Keduanya menikmati moment ini di iringi gejolak

__ADS_1


perasaan yang dari tadi tidak karuan.


To Be Continued


__ADS_2