
Dengan kaki bergetar Hana mendekat ke sisi makam.
Air matanya sudah tidak berhenti mengalir bahkan kini semakin deras mengalir,
“maafkan Uti sayang” Ucap Hana terisak.
“Maafkan ibu Maira, akulah yang membuat putrimu
merasakan penderitaan selama ini” Sambungnya penuh penyesalan, “sekali lagi
maafkan Uti” Hana mengusap lembut kepala Ginara.
“Aku berjanji akan menjaganya Maira, menyayanginya
sepenuh hatiku” Ucapnya lemah. Ginara menangis sesenggukan di pelukan Hana.
Sena mendekat kemudian membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya, “Maira pasti
mengerti dan memaafkanmu sayang” Ucapnya pada Hana, kemudian membawa tubuh itu
sedikit menjauh dari sisi makam.
Aldy kini telah mendekat ke arah Ginara, dan di
saat itu Dina melepas pelukannya pada Ginara lalu bergerak mendekati Genta dan
jatuh dalam pelukannya. Di pegangnya lembut tangan Ginara yang masih memeluk
erat batu nisan. Gadis itu menoleh sendu. Wajahnya penuh dengan air mata.
Ginara mengangkat kepalanya dan melihat laki-laki yang kini berada di sisinya.
Hatinya trenyuh saat melihat ada setetes air mata mengalir dari mata laki-laki
itu walau dengan cepat dia menyekanya.
“Ma, lihat aku membawanya kemari, dia yang akhirnya
menemaniku menggantikan Azi, Namanya Aldy, kau tahu ma? Dia adiknya Azi ma…”
Ucap Ginara sambil terisak lagi.
“Aku berjanji akan membahagiakan dan mencintai
putri anda dengan segenap jiwaku” Ucap Aldy begitu tegas. Namun suara serak
dari nada ucapannya tidak bisa menyembunyikan kalau hatinya hancur saat ini.
“Aku berjanji akan membuat putri anda Bahagia
__ADS_1
setiap harinya, tidak ada kesepian, tidak ada kesendirian, ataupun air mata
yang mengalir lagi” Tambahnya bersungguh-sungguh.
Mendengar ungkapan itu tangis Ginara Kembali pecah,
laki-laki itu merengkuh gadisnya lalu membiarkan menangis sejadi-jadinya di
pelukannya.
“Setelah ini kau akan terus Bahagia sayang, aku
berjanji” Ucap Aldy yang kini tidak bisa untuk menahan isakannya, “Kau tidak
akan kesepian lagi ataupun merasa sendiri. Itu janjiku. Tapi kau juga harus
berjanji padaku satu hal” Sambung Aldy.
Ginara tidak bisa berkata-kata, hanya isak tangis
yang terus terdengar dari wajah yang ia tenggelamkan di dada Aldy. Gadis itu
mendongak, “janji?” Ucapnya. Aldi mengangguk, di usapkan seluruh air mata di
wajah kekasih tercintanya itu.
“Jangan lagi ada air mata, air ini sangat berharga
ungkapan laki-laki itu, dengan lemah ia mengangguk dan berusaha untuk
tersenyum.
“Ayo kita pulang sayang, hujan akan semakin deras
ini” Ajak Tiara mendekat pada Ginara dan Aldy.
“Mamamu pasti merestui kalian” Tambahnya dengan
menyeka air matanya yang kembali menetes. Ia mendekati sisi makam, “berbahagialah
di sana, karena putrimu sudah akan Bahagia di sini” Ucapnya serak, “aku mungkin
tidak menjadi ibu yang sempurna untuk putrimu, tapi aku sudah mencoba memberi
yang terbaik Mai. Cinta yang aku berikan sama besarnya dengan anak kandungku,
tidak pernah kurang dan aku yakin kau tahu itu.” Katanya sambil menyeka air
matanya dan Reza ikut mendekat.
__ADS_1
“Terima kasih Maira, kau sudah menghadirkan putri
yang cantik untukku, putri yang sangat baik” Ucap Reza sambil mengusap makam
istrinya, “sampai kapanpun kamu tetap ada di hatiku bersanding dengan Tiara,
Dia sangat menyayangi putri kita, kau pasti sudah bertemu dengan Kirana di sana.
Bahagialah, kami akan menjaga dan menyayangi putri kita” Lanjutnya dengan mata
yang kini mulai berair.
Semua orang menabur bunga di atas makam bersama
rintik air hujan yang mulai deras. Lalu Dina memberikan bucket bunga lily putih
pada Ginara, “berikan pada mamamu Gi” Ucapnya.
Dengan air mata yang Kembali mengalir, Ginara
meletakkan satu bucket bunga lily di atas makam mamanya.
“Ayo sayang” Ajak Aldy. Ginara terdiam sejenak
menatap makam mamanya, “selamat tinggal ma, aku menyayangimu, assalamu’alaikum”
Ucapnya lemah, lalu menarik nafas begitu dalam dan beranjak dari tempatnya.
Tubuhnya masih bergetar Ketika ia meninggalkan area
pemakaman, namun, entah mengapa justru saat ini ia merasa jauh lebih tenang
dari sebelumnya. Seperti sebuah perasaan yang akhirnya bisa diungkapkan, atau
lebih tepatnya seperti sebuah rindu yang begitu dalam akhirnya bisa
tersampaikan. Ia masuk ke dalam mobil Aldy dan memandang sekali lagi ke area
pemakaman, “aku mencintaimu ma lebih dari apapun, berbahagialah di sana.”
Empat mobil mulai merangkak meninggalkan area
pemakaman bersamaan dengan hujan turun yang sangat deras.
“Mamamu pasti senang karena kau datang” Ucap Aldy
seraya mengusap kepala gadis itu. Ginara mengangguk dengan tersenyum sendu,
namun hatinya lega.
__ADS_1
To Be Continued