Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Jangan lagi ada air mata (3)


__ADS_3

Dengan kaki bergetar Hana mendekat ke sisi makam.


Air matanya sudah tidak berhenti mengalir bahkan kini semakin deras mengalir,


“maafkan Uti sayang” Ucap Hana terisak.


“Maafkan ibu Maira, akulah yang membuat putrimu


merasakan penderitaan selama ini” Sambungnya penuh penyesalan, “sekali lagi


maafkan Uti” Hana mengusap lembut kepala Ginara.


“Aku berjanji akan menjaganya Maira, menyayanginya


sepenuh hatiku” Ucapnya lemah. Ginara menangis sesenggukan di pelukan Hana.


Sena mendekat kemudian membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya, “Maira pasti


mengerti dan memaafkanmu sayang” Ucapnya pada Hana, kemudian membawa tubuh itu


sedikit menjauh dari sisi makam.


Aldy kini telah mendekat ke arah Ginara, dan di


saat itu Dina melepas pelukannya pada Ginara lalu bergerak mendekati Genta dan


jatuh dalam pelukannya. Di pegangnya lembut tangan Ginara yang masih memeluk


erat batu nisan. Gadis itu menoleh sendu. Wajahnya penuh dengan air mata.


Ginara mengangkat kepalanya dan melihat laki-laki yang kini berada di sisinya.


Hatinya trenyuh saat melihat ada setetes air mata mengalir dari mata laki-laki


itu walau dengan cepat dia menyekanya.


“Ma, lihat aku membawanya kemari, dia yang akhirnya


menemaniku menggantikan Azi, Namanya Aldy, kau tahu ma? Dia adiknya Azi ma…”


Ucap Ginara sambil terisak lagi.


“Aku berjanji akan membahagiakan dan mencintai


putri anda dengan segenap jiwaku” Ucap Aldy begitu tegas. Namun suara serak


dari nada ucapannya tidak bisa menyembunyikan kalau hatinya hancur saat ini.


“Aku berjanji akan membuat putri anda Bahagia

__ADS_1


setiap harinya, tidak ada kesepian, tidak ada kesendirian, ataupun air mata


yang mengalir lagi” Tambahnya bersungguh-sungguh.


Mendengar ungkapan itu tangis Ginara Kembali pecah,


laki-laki itu merengkuh gadisnya lalu membiarkan menangis sejadi-jadinya di


pelukannya.


“Setelah ini kau akan terus Bahagia sayang, aku


berjanji” Ucap Aldy yang kini tidak bisa untuk menahan isakannya, “Kau tidak


akan kesepian lagi ataupun merasa sendiri. Itu janjiku. Tapi kau juga harus


berjanji padaku satu hal” Sambung Aldy.


Ginara tidak bisa berkata-kata, hanya isak tangis


yang terus terdengar dari wajah yang ia tenggelamkan di dada Aldy. Gadis itu


mendongak, “janji?” Ucapnya. Aldi mengangguk, di usapkan seluruh air mata di


wajah kekasih tercintanya itu.


“Jangan lagi ada air mata, air ini sangat berharga


ungkapan laki-laki itu, dengan lemah ia mengangguk dan berusaha untuk


tersenyum.


“Ayo kita pulang sayang, hujan akan semakin deras


ini” Ajak Tiara mendekat pada Ginara dan Aldy.


“Mamamu pasti merestui kalian” Tambahnya dengan


menyeka air matanya yang kembali menetes. Ia mendekati sisi makam, “berbahagialah


di sana, karena putrimu sudah akan Bahagia di sini” Ucapnya serak, “aku mungkin


tidak menjadi ibu yang sempurna untuk putrimu, tapi aku sudah mencoba memberi


yang terbaik Mai. Cinta yang aku berikan sama besarnya dengan anak kandungku,


tidak pernah kurang dan aku yakin kau tahu itu.” Katanya sambil menyeka air


matanya dan Reza ikut mendekat.

__ADS_1


“Terima kasih Maira, kau sudah menghadirkan putri


yang cantik untukku, putri yang sangat baik” Ucap Reza sambil mengusap makam


istrinya, “sampai kapanpun kamu tetap ada di hatiku bersanding dengan Tiara,


Dia sangat menyayangi putri kita, kau pasti sudah bertemu dengan Kirana di sana.


Bahagialah, kami akan menjaga dan menyayangi putri kita” Lanjutnya dengan mata


yang kini mulai berair.


Semua orang menabur bunga di atas makam bersama


rintik air hujan yang mulai deras. Lalu Dina memberikan bucket bunga lily putih


pada Ginara, “berikan pada mamamu Gi” Ucapnya.


Dengan air mata yang Kembali mengalir, Ginara


meletakkan satu bucket bunga lily di atas makam mamanya.


“Ayo sayang” Ajak Aldy. Ginara terdiam sejenak


menatap makam mamanya, “selamat tinggal ma, aku menyayangimu, assalamu’alaikum”


Ucapnya lemah, lalu menarik nafas begitu dalam dan beranjak dari tempatnya.


Tubuhnya masih bergetar Ketika ia meninggalkan area


pemakaman, namun, entah mengapa justru saat ini ia merasa jauh lebih tenang


dari sebelumnya. Seperti sebuah perasaan yang akhirnya bisa diungkapkan, atau


lebih tepatnya seperti sebuah rindu yang begitu dalam akhirnya bisa


tersampaikan. Ia masuk ke dalam mobil Aldy dan memandang sekali lagi ke area


pemakaman, “aku mencintaimu ma lebih dari apapun, berbahagialah di sana.”


Empat mobil mulai merangkak meninggalkan area


pemakaman bersamaan dengan hujan turun yang sangat deras.


“Mamamu pasti senang karena kau datang” Ucap Aldy


seraya mengusap kepala gadis itu. Ginara mengangguk dengan tersenyum sendu,


namun hatinya lega.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2