Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Flashback on


__ADS_3

Assalamu'alaikumum


Selamat pagiiiii


Maaf baru bisa up


Aku usahakan up 2 episode yaaaa


Selamat membaca


Aldy berlari keluar kafe untuk mengejar Ginara,


tapi di luar ia sudah tidak menemukan bayangan gadis itu. Panik, itu yang ada


di pikirannya. Di keluarkannya hpya dari kantong jasnya kemudian menghubungi


nomor Ginara, sesaat kemudian ia meremas rambutnya kasar, ia lupa bahwa hp


Ginara ditinggal begitu saja di kafe tadi.


“Ah…Nara…dimana kamu” Katanya panik. Ia tahu pasti


Ginara sudah dewasa, tapi dalam keadaan suasana hati yang buruk sesuatu bisa


saja terjadi. Ia berlari ke arah mobilnya dan menstaternya kemudian meluncur


mencari jejak Ginara di sepanjang jalan.


Waktu sudah menunjukkan saat magrib dan Aldy masih


belum mendeteksi di mana keberadaan Ginara.


Frustasi.


Itu yang ia rasakan saat ini.


Apartemen Ginara kosong.


Davin juga tidak mengetahui keberadaan Ginara,


pemuda itu bertanya ada masalah apa, tapi Aldy belum bisa cerita. Keadaan


semakin membuat panik.


“Kemana lagi aku harus mencarimu, Nara?” Lirihnya


putus asa. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Ah, malam semakin larut tapi keberadaan Ginara masih nihil. Terlintas satu nama


sahabat Ginara, ya Dina. “pasti dia tahu kemana Ginara kalau lagi sedih”


Kembali ia bingung, ia tidak memiliki no telepon gadis itu. Ia menghubungi


Davin, berharap sahabatnya itu menyimpan nomor Ginara. Dan hasilnya tidak


susah, ia segera menghubungi Dina. Deringan ketiga nada itu tersambung.


“Ya? Siapa?”


“Halo Mbak Dina, ini Aldy, apa Nara ada sama Mbak?”


Tanyanya cepat.

__ADS_1


“Hah? Emang ada apa?”


“Aku gak bisa jelasin sekarang Mbak, kalau bisa tolong


kasih tahu aku dimana Nara, ini penting sekali Mbak.”


“Tapi Gi nggak sama


aku…” Suara di seberang ikut panik.


“Sebenarnya ada apa


ini? Kalian bertengkar?” Tanyanya agak marah. Aldy


berdecak tak sabaran.


“Ck…ayolah Mbak, kau tahu aku gimana, ini mendesak


sekali, aku cari di apartemen kosong, di rumahnya juga gak ada…mungkin Mbak


Dina tahu dimana tempat yang biasa ia kunjungi ketika dia sedang sedih?” Bujuk


Aldy. Dina tampak terdiam lama kemudian terdengar suara terkejut dari seberang.


“Makam Azril!” Teriak Dina spontan. Aldy terkejut, hatinya langsung mencelos


mendengar dua kata itu. Sudah lama juga ia tidak mengunjungi makam kakaknya,


bahkan setelah ia pulang ke tanah air, ia masih belum sempat berkunjung kesana.


“Oke terimakasih Mbak Dina, aku akan cari ke sana.”


“Eh, emang kamu


“Tahu Mbak.” Jawab Aldy singkat langsung mematikan


panggilan dan segera meluncur ke tempat pemakaman keluarga Dhanurendra. Di


lokasi pemakaman itu telah terbaring opa dan oma dari Daddy dan kakaknya.


Ketika sampai di pemakaman, ia langsung menuju ke


tempat di mana kakaknya di makamkan dan ternyata memang benar ada sesosok


bayangan yang bersimpuh di depannya. Dia mendekat ke arah gadis itu bersimpuh,


tapi langkahnya seketika berhenti. Hatinya perih, nyeri, mendengar semua keluh


kesah gadis itu. Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau ia tidak bisa


menemukan keberadaan Ginara. Gadis itu akan semakin terpuruk lebih dalam.


Flashback off


********


Aldy mengantar Ginara ke apartemennya, ia tidak


ingin membawa Ginara pulang ke rumah, nanti ditakutkan orang tua Ginara malah


cemas. Biarlah gadis itu menenangkan dirinya sebentar di apartemennya.


Gadis itu telah tertidur di kamarnya, kondisi

__ADS_1


fisiknya cukup lemah dengan mata yang masih sembab. Di belainya wajah gadis itu


sayang, kemudian menyelimutinya dengan pelan.


“Tidurlah, aku akan menjagamu di sini.” Di kecupnya


kening gadis itu lembut kemudian ia beranjak duduk di sofa kamar itu.


Baru sebentar ia duduk, dering telepon berbunyi


dari hpnya. Di lihatnya nama Davin di sana. Ia keluar ke arah balkon dan


menutup pintu perlahan.


“Hemmm” Jawabnya malas.


“Hei, gimana Kak Gi


sudah ketemukan? Gimana keadaannya? Dia baik-baik saja kan?” Tanya Davin memberondong berbagai pertanyaan. Aldy berdecak kesal.


“Ck…tanya itu satu-satu napa.”


“Ah…aku panik ini


Al, ayolah…”


“Iya, dia baik-baik saja, dia sekarang tidur.”


“Eh…kamu dimana?


Kok tahu kalau Kak Gi tidur, Hei jangan macam-macam ya…” Ancam Davin.


“Ah…cerewet” Aldy mematikan sambungan teleponnya,


namun sedetik kemudian Davin kembali menelepon.


“Hah, dia aman di apartemennya, tenanglah aku hanya


menjaganya, hatinya belum stabil. Dia dari makam Kak Azril tadi.” Jelasnya


pasrah.


“Kau tahu Kak


Azril?” Tanya Davin kaget. Aldy mengangguk, walaupun


Davin tidak melihat.


“Dia kakakku” Jawabnya pelan.


“Allahu akbar!” Teriak Davin.


“Tapi Kak Azril gak


pernah….”


“Ah…sudahlah besok saja ceritanya, aku mau


istirahat” Aldy menekan tombol merah, ia juga mematikan hpnya agar tidak


dihubungi Davin atau siapapun lagi saat ini. Ia ingin tenang dan membiarkan


Ginara juga tenang melewati perasaannya malam ini.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2