
Assalamu'alaikumum
Selamat pagiiiii
Maaf baru bisa up
Aku usahakan up 2 episode yaaaa
Selamat membaca
Aldy berlari keluar kafe untuk mengejar Ginara,
tapi di luar ia sudah tidak menemukan bayangan gadis itu. Panik, itu yang ada
di pikirannya. Di keluarkannya hpya dari kantong jasnya kemudian menghubungi
nomor Ginara, sesaat kemudian ia meremas rambutnya kasar, ia lupa bahwa hp
Ginara ditinggal begitu saja di kafe tadi.
“Ah…Nara…dimana kamu” Katanya panik. Ia tahu pasti
Ginara sudah dewasa, tapi dalam keadaan suasana hati yang buruk sesuatu bisa
saja terjadi. Ia berlari ke arah mobilnya dan menstaternya kemudian meluncur
mencari jejak Ginara di sepanjang jalan.
Waktu sudah menunjukkan saat magrib dan Aldy masih
belum mendeteksi di mana keberadaan Ginara.
Frustasi.
Itu yang ia rasakan saat ini.
Apartemen Ginara kosong.
Davin juga tidak mengetahui keberadaan Ginara,
pemuda itu bertanya ada masalah apa, tapi Aldy belum bisa cerita. Keadaan
semakin membuat panik.
“Kemana lagi aku harus mencarimu, Nara?” Lirihnya
putus asa. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Ah, malam semakin larut tapi keberadaan Ginara masih nihil. Terlintas satu nama
sahabat Ginara, ya Dina. “pasti dia tahu kemana Ginara kalau lagi sedih”
Kembali ia bingung, ia tidak memiliki no telepon gadis itu. Ia menghubungi
Davin, berharap sahabatnya itu menyimpan nomor Ginara. Dan hasilnya tidak
susah, ia segera menghubungi Dina. Deringan ketiga nada itu tersambung.
“Ya? Siapa?”
“Halo Mbak Dina, ini Aldy, apa Nara ada sama Mbak?”
Tanyanya cepat.
__ADS_1
“Hah? Emang ada apa?”
“Aku gak bisa jelasin sekarang Mbak, kalau bisa tolong
kasih tahu aku dimana Nara, ini penting sekali Mbak.”
“Tapi Gi nggak sama
aku…” Suara di seberang ikut panik.
“Sebenarnya ada apa
ini? Kalian bertengkar?” Tanyanya agak marah. Aldy
berdecak tak sabaran.
“Ck…ayolah Mbak, kau tahu aku gimana, ini mendesak
sekali, aku cari di apartemen kosong, di rumahnya juga gak ada…mungkin Mbak
Dina tahu dimana tempat yang biasa ia kunjungi ketika dia sedang sedih?” Bujuk
Aldy. Dina tampak terdiam lama kemudian terdengar suara terkejut dari seberang.
“Makam Azril!” Teriak Dina spontan. Aldy terkejut, hatinya langsung mencelos
mendengar dua kata itu. Sudah lama juga ia tidak mengunjungi makam kakaknya,
bahkan setelah ia pulang ke tanah air, ia masih belum sempat berkunjung kesana.
“Oke terimakasih Mbak Dina, aku akan cari ke sana.”
“Eh, emang kamu
“Tahu Mbak.” Jawab Aldy singkat langsung mematikan
panggilan dan segera meluncur ke tempat pemakaman keluarga Dhanurendra. Di
lokasi pemakaman itu telah terbaring opa dan oma dari Daddy dan kakaknya.
Ketika sampai di pemakaman, ia langsung menuju ke
tempat di mana kakaknya di makamkan dan ternyata memang benar ada sesosok
bayangan yang bersimpuh di depannya. Dia mendekat ke arah gadis itu bersimpuh,
tapi langkahnya seketika berhenti. Hatinya perih, nyeri, mendengar semua keluh
kesah gadis itu. Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau ia tidak bisa
menemukan keberadaan Ginara. Gadis itu akan semakin terpuruk lebih dalam.
Flashback off
********
Aldy mengantar Ginara ke apartemennya, ia tidak
ingin membawa Ginara pulang ke rumah, nanti ditakutkan orang tua Ginara malah
cemas. Biarlah gadis itu menenangkan dirinya sebentar di apartemennya.
Gadis itu telah tertidur di kamarnya, kondisi
__ADS_1
fisiknya cukup lemah dengan mata yang masih sembab. Di belainya wajah gadis itu
sayang, kemudian menyelimutinya dengan pelan.
“Tidurlah, aku akan menjagamu di sini.” Di kecupnya
kening gadis itu lembut kemudian ia beranjak duduk di sofa kamar itu.
Baru sebentar ia duduk, dering telepon berbunyi
dari hpnya. Di lihatnya nama Davin di sana. Ia keluar ke arah balkon dan
menutup pintu perlahan.
“Hemmm” Jawabnya malas.
“Hei, gimana Kak Gi
sudah ketemukan? Gimana keadaannya? Dia baik-baik saja kan?” Tanya Davin memberondong berbagai pertanyaan. Aldy berdecak kesal.
“Ck…tanya itu satu-satu napa.”
“Ah…aku panik ini
Al, ayolah…”
“Iya, dia baik-baik saja, dia sekarang tidur.”
“Eh…kamu dimana?
Kok tahu kalau Kak Gi tidur, Hei jangan macam-macam ya…” Ancam Davin.
“Ah…cerewet” Aldy mematikan sambungan teleponnya,
namun sedetik kemudian Davin kembali menelepon.
“Hah, dia aman di apartemennya, tenanglah aku hanya
menjaganya, hatinya belum stabil. Dia dari makam Kak Azril tadi.” Jelasnya
pasrah.
“Kau tahu Kak
Azril?” Tanya Davin kaget. Aldy mengangguk, walaupun
Davin tidak melihat.
“Dia kakakku” Jawabnya pelan.
“Allahu akbar!” Teriak Davin.
“Tapi Kak Azril gak
pernah….”
“Ah…sudahlah besok saja ceritanya, aku mau
istirahat” Aldy menekan tombol merah, ia juga mematikan hpnya agar tidak
dihubungi Davin atau siapapun lagi saat ini. Ia ingin tenang dan membiarkan
Ginara juga tenang melewati perasaannya malam ini.
__ADS_1
To Be Continued