Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Ikut Dalam Bakti Sosial Relawan Semeru


__ADS_3

Assalamu'alaikum...


Selamat siang


Maafkan lama gak up masih sibuk nih...


Tapi hari ini aku usahakan up sampai 2 episode yah....


Doakan lancar terus nulisnya.....


Maap yaaa ada ralat dikit ya untuk perjalanan dari Malang ke Lumajang....


Perjalanan dari Kota Malang ke Lumajang dengan


perkiraan kemacetan lalu lintas yang ada akan bisa di tempuh dalam waktu 5 jam atau


paling lama 6 jam kalau kondisi jalanan muacet banget. Rombongan dua mobil yang


di berangkatkan dari apotek Medical Farma mulai memasuki daerah terdampak


erupsi Semeru.


Seperti diketahui, kejadian meletusnya Gunung


Semeru pada tanggal 4 Desember 2021 sekitar pukul 15.00 WIB menyisakan pilu


bagi warga sekitar. Hingga saat ini, terlapor 14 korban jiwa dan setidaknya


ratusan  warga yang mengalami luka-luka.


Sejumlah warga yang kehilangan harta benda dan belum bisa Kembali ke rumah


mereka sebab rumah mereka luluh lantak tertimbun abu vulkanik serta status


gunung Semeru yang masih dalam status waspada, sehingga mereka terpaksa


mengungsi di posko-posko yang tersebar di lokasi yang masih terbilang aman.


Gunung Semeru adalah sebuah gunung berapi kerucut


di Jawa Timur, Indonesia. Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau


Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut. Gunung ini


terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia kebawah Lempeng Eurasia.


Peristiwa erupsi yang terjadi di Kabupaten Lumajang


ini mengundang empati dan menggerakkan banyak orang untuk dapat andil


memberikan bantuan demi meringankan beban korban terdampak. Banyak bantuan yang


sudah di luncurkan begitu peristiwa erupsi itu terjadi.


Rombongan Ginara selain membawa obat-obatan juga


membawa bantuan yang berupa 50 paket sembako terdiri dari beras, minyak, gula,


sarden, dan kecap, kurang lebih 40 kaleng sarden, 200 bungkus mie instant,


beras 5 kg 20 bungkus, kue kering 45 bungkus, 100 makanan siap saji, pakaian,


keperluan anak seperti mainan sebagai penghibur di kala sedih dan ada juga


keperluan bayi, tak lupa amplop besar uang.


Dari penyisiran pertama di empat titik pengungsian


yaitu Kantor Desa Oro-Oro Ombo, SDN 2 dan SDN 4 Oro-Oro Ombo, serta Masjid


Oro-Oro Ombo belum ditemukan korban dewasa dan anak yang mengalami luka bakar.


Keempat titik pengungsian tersebut menampung pengungsi dari desa terdampak


yaitu Desa Supit Urang. Namun mulai banyak anak-anak terserang pernapasan akud


dengan efek batuk yang tak kunjung sembuh. Obat-obatan dari semua lini


Kesehatan sudah di sebarkan tapi ternyata masih belum mencukupi untuk kebutuhan


semua pengungsi.


Ginara, Aldy, Andi dan beberapa rekan mereka yang

__ADS_1


sudah lebih dulu datang selain membantu melakukan perawatan terhadap warga yang


terluka akibat bencana dan membagikan donasi, mereka juga menghibur warga


khususnya anak-anak dengan memberi mainan dań bermain bersama anak-anak yang


berada di lokasi pengungsian.


Ginara melihat tim dokter yang bergerak di sana


juga sangat cekatan sehingga warga yang mengalami sesak napas, batuk, ataupun


luka bakar bisa dengan cepat tertangani. Gadis itu membaur beusaha untuk ikut


membantu melayani kerja dokter tersebut, sehingga dengan kerja sama yang baik


penanganan terhadap korban erupsi Semeru segera selesai.


Usai membantu tugas para dokter, Ginara menyelinap


ke beberapa tenda pengungsi dan mendatangi para kepala keluarga di dalamnya. Ia


menyerahkan banyak amplop kepada masing-masing kepala keluarga sambil


memberikan hiburan, harapan, dan doa semoga keadaan ini menjadi semakin baik


dan mereka bisa melewati masa pengungsian dengan sabar dan ikhlas. Beribu


ucapan terima kasih mereka sampaikan kepada gadis yang sangat murah hati itu.


Seorang diri menyampaikan begitu banyak amplop kepada ratusan kepala keluarga,


bisa dibayangkan begitu murah hatinya gadis itu. Banyak doa yang mereka


lantunkan untuk gadis itu agar mendapat rezeki berlimpah dan kehidupan yang


senantiasa Bahagia.


Ginara Kembali ke posko berkumpulnya para relawan,


ia sungguh yakin pemuda yang menemaninya tadi merasa kehilangan dan pasti akan


panik akan kehilangan jejaknya. Ia ingin melihat seberapa panik dan khawatirnya


aula terbuka Nampak banyak relawan yang beristirahat, ada yang tidur


selonjoran, ada yang duduk-duduk sambil bersenda gurau, ada juga yang masih


menulis berbagai laporan yang akan di kirimkan ke atasan mereka.


Mata gadis itu mulai mengitari area aula namun


tidak menemukan sosok yang dicarinya, namun sekelebat ia melihat penampakan


Andi di antara relawan yang duduk ngobrol. Gadis itu mendatanginya.


“Andi…” Yang di panggil langsung menoleh dan dengan


wajah panik langsung bangkit menghampiri Ginara.


“Aduh, kamu kemana aja sih Gi, gak tau aja kamu


gimana frustasinya pacarmu itu.” Gerutu Andi, Ginara hanya meringis.


“Maaf, akua da urusan sebentar, dimana dia?”


Tanyanya.


“Tau tuh, katanya nyari kamu keluar, emang kemana


sih Gi?” Tanya Andi balik.


“Aku ke tenda pengungsian sebentar” Jawab Ginara.


Andi memutar kepalanya Ketika melihat sosok yang


dicari masuk dengan wajah mengeras.


“Tuh, hadapi singamu, dari tadi siapapun kena


aumannya tau…” Ginara meringis tak enak hati. Di hampirinya pemuda yang sudah


mulai melihat ke arahnya dengan tatapan tajam seolah menyiratkan kemarahan yang

__ADS_1


tidak ada obatnya. Ya iyalah…emang ada obat marah. Disiram aja pakai air biar


adem. Hahaha.


“Hehe, maaf…” Cicit Ginara di depan Aldy. Pemuda


itu menatap datar, tapi jelas terlihat kepanikan di matanya.


“Jangan suka membuat orang jantungan kenapa sih!”


Ketusnya.


“Iya, kan sudah minta maaf” Kata Ginara dengan


sengaja mengambil tangan kanan Aldy dan di genggamnya untuk meredakan


amarahnya. Pemuda itu menghela nafas berat. Sentuhan lembut di tangannya


benar-benar mampu merontokkan kemarahannya pada gadis di depannya ini.


“Hmmm”


“Ini sudah malam, kita pulang besok pagi aja atau…”


Tawar Ginara.


“Kita menginap di hotel”


“What?!”


“Tidak ada penolakan” Aldy keluar ruangan dengan


menggandeng Ginara, secara otomatis gadis itu mengikuti ke arah Aldy


membimbingnya. Mereka mengendarai mobil menuju ke hotel yang sudah di pesan


Aldy secara online sejak di Kota Malang, karena ia tahu tidak mungkin mereka


akan pulang tengah malam.


Sesampai di hotel, Ginara merasa keberatan karena


ternyata Aldy memesan hanya satu kamar hotel walaupun vvip, tapi membuatnya tak


nyaman. Ah…satu kamar, masak satu ranjang?


Aldy menempelkan kartu ke pintu dan otomatis puntu


hotel terbuka dan langsung menampilkan keindahan dan kemewahan ruangan. Gadis


itu ragu-ragu untuk masuk.


Ctak.


“Aww” Ginara mengelus keningnya perlahan, cukup


sakit sentilan jari Aldy ke keningnya.


“Singkirkan otak mesummu, kita tidak akan sekamar


tahu”


Ginara tersenyum malu.


“Mandilah dulu” Perintah Aldy. Gadis itu mengangguk


kemudian mencari-cari baju ganti di tas ranselnya kemudian membawanya ke kamar


mandi. Aldy tampak duduk di sisi ranjang kemudian menekan tombol telepon untuk


memesan makanan. 20 menit kemudian Ginara keluar dengan keadaan telah segar dan


wangi bersamaan pesanan Aldy datang. Tanpa menunda mereka menikmati hidangan


dengan tenang.


“Tidurlah, aku akan tidur di sofa di luar, kalau


butuh apapun kamu tinggal telpon aja” Ginara tersenyum mengangguk.


“Terima kasih” Ucapnya sebelum Aldy keluar kamar,


pemuda itu menoleh tersenyum.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2