
Dimas mengajak Dewi ketempat duduk yang ia pilih, "Kau ingin duduk di sana ?" Lalu memutar duduk di depan Dewi, "Jika kau ingin menyelesaikan sekolah tanpa kesulitan, makanlah dengan diam".
"Apakah ini alasan kenapa kau ingin makan denganku?" tanya Dewi.
"Itulah kenapa kau harus mendengarkan ku" sahut Dimas.
Dewi bingung bagaimana Dimas tahu hal ini akan terjadi, "Kau juga murid baru disini?".
Dimas menarik napas, "Karena aku yang memulainya..Waktu itu aku adalah salah satu dari mereka" ujar Dimas menunjukan wajah menyesal.
Tiba-tiba Rendi mengambil tempat duduk di samping Dewi, "Aku tidak tahu kenapa mereka mem-bully orang lain..Apakah aku bisa duduk di sini?".
"Duduklah di tempat lain.. Aku ingin menikmati makanan, Untukmu dan aku" ujar Dimas.
Rendi bilang kalau ***** makannya baru saja datang, "Aku harus duduk dengan murid baru".
Dewi berdiri, Tapi Rendi menarik tangan Dewi dengan cepat mendudukkannya kembali, "Jangan".
"Ayo luangkan waktu yang menyenangkan dengan hanya kita berdua" tawar Dimas pada Rendi. Tak ingin Dewi terlibat dalam masalah.
Tapi Rendi tidak mau, tidak tanpa murid pindahan. "Mereka melihat kita.. Mereka mungkin berpikir kita bertengkar".
Dimas kesal, melemparkan sendok ke meja dekat Rendi. Suara yang ditimbulkan membuat anak-anak menoleh ke mereka.
Rendi semakin menjadi, "Makan yang banyak, murid pindahan" ucap Rendi pada Dewi.
Dewi mulai takut, tapi ia mencoba bersikap berani, "Ayo makan..Kau juga makan yang banyak" lalu makan.
"Lihat dia.. Seorang gadis seperti ini, bagaimana mungkin aku tidak tertarik?" Rendi menekankan kata-katanya yang memang ia tujukan untuk Dimas.
Dimas menarik napas kesal, mencoba bersabar menghadapi sikap Rendi yang terus memancing amarahnya.
Selanjutnya di kelas musik. Vania memainkan piano, murid-murid lain membentuk kelompok sendiri. Bahkan diantara mereka ada yang sibuk memeriksa grafik nilai sahamnya.
Aldi duduk di samping Dimas yang duduk selonjor, sembari memejamkan mata. Aldi cerita ia membuat studio itu karena dipikir akan kuliah nantinya. Tapi malah digunakan orang. "Kau mungkin bisa temukan foto lamamu dengan Tias di sana, dengan Rendi juga ada.".
Aldi terdiam, menyadari kalau ia mulai menyinggung masalah yang sensitif. Dimas membuka mata, "Perlihatkan padaku nanti..Yang dengan Rendi juga"
__ADS_1
Aldi bilang kalau akan mencarinya nanti.
Tak lama kemudian Rendi Dan temannya masuk, "Maafkan aku..Tapi bisa kalian semua pergi? Dimas dan aku ada sesuatu yang mau kami bicarakan".
Dimas menghembuskan napas panjang. Aldi memberi isyarat pada yang lain untuk keluar. Rendi melirik Aldi yang masih duduk santai di kursinya.
Aldi kaget "Aku juga?".
Dimas minta Aldi keluar dan awasi pintunya, ia tak percaya pada ke dua teman Rendi. Aldi lalu berdiri, mengajak 2 teman Rendi keluar.
Tinggalah Dimas dan Rendi berdua. Dimas bilang Rendi sangat kekanak-kanakan sekali, kenapa mengusir mereka semua.
"Karena aku ingin berbicara tentang apa yang tidak boleh mereka dengar, Sepertinya kau lupa masa lalu kita, budaya etika, dan lain-lain saat kau di Taiwan. Di sini, mereka melakukan sesuatu yang disebut mendefinisikan peringkat sosial (hirarki) untuk perdamaian. Yang biasanya kita lakukan dulu".
Dimas duduk tegak, "Apa? Kau ingin berkelahi", emosinya mulai terpancing.
Rendi tertawa, "Kita bukan lagi anak 8 tahun..Kita sudah 18 tahun".
"Jadi apa yang kau mau?" tanya Dimas.
"Kita tidak bisa satu sekolah..Kalau bukan aku yang pergi, maka kau yang pergi" ujar Rendi.
"Kalau begitu pergilah lagi.. Aku beri kau kesempatan, Kesempatan untuk pergi sebelum aku berkata anak haram" ucap Rendi tajam.
Wajah Dimas mengeras, kali ini dia benar benar marah. Berdiri jalan mendekati Rendi, "Aku masih kelewat muda untuk mengerti pepatah, mengalah berarti menang".
"Aku terlalu kekanakan sehingga sikap Dimas yang begini membuatku marah" ujar Rendi.
Dimas menatap tajam, "Sudah terlambat bagi kita untuk berteman kembali".
"Terlambat juga untuk menghindarinya" jawab Rendi.
Kemudian Rendi pergi begitu saja.
***
Sepulang sekolah, Rendi pergi ke bengkel. Sepertinya ia ingin memodifikasi motornya menjadi motor balap. Pemilik bengkel tidak setuju, karena hal itu ilegal.
__ADS_1
Rendi bingung kenapa semua yang ingin ia lakukan ilegal. Pemilik bengkel bilang karena Rendi masih dibawah umur. Tapi Rendi punya jawaban, "Kalau kau melakukannya, aku bisa tumbuh dengan cepat".
Tak lama kemudian, Dewi datang mengantarkan pesanan ayam goreng. Ia menyerahkannya pada montir yang sedang bekerja di depan. Rendi yang berdiri di pojok dalam ruangan melihat Dewi, Tapi Dewi tidak melihat Rendi dan langsung pergi setelah menerima uang bayaran.
Rendi memperhatikan kotak restoran ayam goreng itu, tersenyum penuh arti dan munculah ide di benaknya. Seolah menemukan mainan baru.
Beberapa menit kemudian, Rendi datang lagi ke bengkel yang sama dengan membawa sekotak pesanan baru ayam goreng. Dewi menyebutkan 50 rb yang harus mereka bayar. Montir heran, bukankah tadi Dewi sudah mengantarnya, dan ayam goreng itu juga sudah mereka makan.
Dewi bilang ada pesanan tambahan. Ia mengira montir sedang bercanda dengannya, tapi kalian harus tetap membayar atas pesanan ayam goreng. Montir yang lain meyakinkan Dewi, "Kami tidak pesan! Apakah kau yakin pesanan itu dari sini?".
"Aneh sekali!", gumam Dewi lalu menelpon nomor pelanggan yang terakhir kali memesan. Panggilan tersambung, "Halo? Anda memesan ayam untuk dibawa ke bengkel motor?"
"Ini nomormu?" Rendi jalan masuk ke bengkel.
"Hah?".
"Dibelakangmu?" kata Rendi.
Dewi berbalik ke belakang, dan mata Dewi melebar terkejut melihat Rendi.
"Ayamnya sudah sampai" ucap Rendi.
Dewi merasa tak enak hati dan meminta maaf pada montir. Rendi membayar tagihannya dengan menggunakan kartu kredit. Tangan Dewi bergetar saat menggesek kartu kredit ke mesin EDC. Dewi terus menunduk tanpa berani mengangkat wajah.
Rendi bilang ia harus mengeluarkan uang untuk mendapatkan nomor ponsel Dewi. Harusnya ia bertanya saja pada Kimi.
"Jangan sampai kau menelponku, karena tidak akan ku jawab" jelas Dewi.
Dewi menyelesaikan proses pembayaran dan memberikan copyan bill pada Rendi.
"Kau menyimpan nomorku tidak?" tanya Rendi saat Dewi jalan berbalik. Dewi diam saja. Rendi melanjutkan, "Jika kau tidak akan menyimpannya, aku akan bertanya kenapa orang kaya baru bekerja. Padamu....".
Dewi tak menjawab, keluar dari sana dengan perasaaan langkah berat dan was-was. Satu lagi orang yang mengetahui kehidupan Dewi yang sebenarnya.
Dan itu membuat Dewi jadi kepikiran, dia takut kalau kehidupan aslinya akan tersebar di sekolah Dan membuatnya malu.
Dia juga sebenarnya tidak mau berbohong, semua itu di lakukan agar kehidupan di sekolah nya lancar Dan mendapat ijazah dengan lancar.
__ADS_1
BERSAMBUNG...