
Steven dan Tias berada di perpustakaan. Steven menanyakan soal Dewi berhasil diterima atau tidak jadi penyiar pada Tias.
"Entahlah..Senior yang memutuskan" ujar Tias sembari menyuapkan makanan ke mulut Steven.
"Apa kau sedang diet?" tanya Steven.
Tias menggeleng, "Tidak, ini makanan untuk otak.. Sebentar lagi kita ujian".
Steven tersenyum senang, mengelus rambut Tias dengan sayang, "Wah, aku jadi terkesan ikan mas". Tias yang salah mendengar langsung kesal, "Apa maksudnya? Bagaimana aku bisa seperti Dimas?".
"Apa duniamu cuma berputar disekitar Dimas? ikan mas terdengar seperti Dimas?", tanya Steven cemburu.
Pertanyaan itu membuat Tias mengaku kalau dulu ia pernah berpacaran sebentar dengan Dimas waktu masih kecil (smp). Steven menilai Tias belum bisa melupakan Dimas.
"Apa yang kau bicarakan? Kami hanya bergandengan tangan" jawab Tias.
"Sungguh?"
"Sumpah!", jawab Tias mengangkat tangannya tanda sumpah.
Dengan suara pelan, Tias tanya, "Apa Dimas sendiri yang bilang padamu kalau aku mantannya?". Steven mengatakan kalau Kimi yang memberitahunya, "Tapi aku baru tahu bahwa kau pernah berpegangan tangan dengannya..Aku jadi kesal".
Tias menyesali ucapannya, "Tadinya kau tidak tahu kami bergandengan tangan, Apa? limited yang memberitahumu?".
Steven membenarkan, "Dimas adalah mantan Tias. Ini pacar Tias saat ini. Begitu cara dia memperkenalkan kami".
"Kimi benar-benar bitc (******)...", Tias langsung menutup mulutnya, Maaf.. Aku bicara bahasa asing".
Steven minta Tias berjanji padanya, jangan beritahu orang lain kalau Dewi masuk karena beasiswa dan berada di kelompok kelas sosial, "Kumohon".
Tias tidak mau berjanji, dan tanya kenapa Steven meminta hal itu padanya. Setengah merayu, Steven berkata karena ia mempercayai Tias.
"Aku benci..Jangan percaya padaku, Masa lalu tetap masa lalu. Dan aku masih tak suka Dewi", ucap Tias ketus lalu pergi. Steven hanya bisa menghela napas. Tias selalu cemburu jika menyangkut Dewi.
Dimas berada di studio Aldi, memandangi foto masa remajanya bersama Rendi yang tertempel di dinding. Hm..dulu mereka begitu akrab, makan es krim bersama. Tak lama Steven datang, tanya sedang apa Dimas disini dan dimana Aldi.
Tanpa mengalihkan pandanganya, Dimas menjawab kalau Aldi pergi menemui ibunya, sebentar lagi akan kembali.
Steven tanya apa yang sedang Dimas lihat.
"Mengingat masa lalu!" jawab Dimas pendek.
Dimas berbalik menghadap Steven, "Sudah berapa lama kau pacaran dengan Tias?".
__ADS_1
Steven menjawab satu setengah tahun, "Sejauh apa hubunganmu dengan Dewi?" tanya Steven balik.
"Aku baru mau menyatakan perasaan", jawab Dimas, "Apa tidak terjadi apa-apa antara kau dan Dewi saat kalian berteman selama setengah dari hidup kalian? Kau tidak pernah punya perasaan padanya?".
"Bagaimana kalau ada?" tanya Steven balik.
Dimas menghela napas, "Sudah kutebak..Pasti ada, Kapan itu?".
Steven mengingat saat berusia 9 tahun, "Waktu itu Dewi lebih tinggi dariku. Jadi dia memukuli anak-anak yang menindasku. Saat itu aku sangat bergantung padanya".
Dimas tak percaya, "Cuma itu?".
Steven tak menjawab dan balik tanya, "Kenapa kau menggandeng tangannya Tias?".
Dimas diam sebentar mengingat, "Karena dingin!" jawabnya pendek. Sama seperti Dimas, Steven pun tidak percaya, "Cuma itu?".
Dimas tersenyum, sembari menunjukkan foto Tias, "Dulu Tias lebih kuat dari pada aku..Aku pergi". Dimas meletakkan foto itu di meja lalu pergi.
Steven memandang foto yang tadi dilihat Dimas. Foto remaja Dimas dan Rendi. Apa Steven mengenali wajah remaja di foto itu???.
***
Dilain tempat Nyonya Sari keluar dari dapur dengan membawa segelas wine. Di ruang tengah, ia berpapasan dengan Sandi yang baru pulang kerumah. Buru-buru Nyonya Sari menyembunyikan gelas wine di balik punggungnya, "Apa yang kau lakukan di sini? Aku pikir kau sudah pindah".
"Kau seharusnya tidak mengatakan apa yang ada dipikiranmu.. Kau membuatku kehilangan kata-kata ketika kau blak-blakan begitu" ujar Sandi sinis lalu pergi dari sana.
Sandi pergi menemui ayahnya dan mengatakan akan pindah untuk sementara ini. Ia memberitahu hal ini agar ayahnya tidak cemas.
Presdir Ahmad berkata, "Selama ini ... bukannya kau selalu tinggal diluar?".
"Dulu aku punya tempat untuk pulang.. Tapi sekarang tidak lagi" ujar Sandi.
Presdir Ahmad mengira Sandi akan bersikap lebih pintar dan bijaksana. Sandi menyindir presdir Ahmad membawa Dimas ke perusahaan juga bukan hal yang pintar dan bijaksana. Presdir Ahmad heran Dimas baru 18 tahun, hanya ini sajakah yang bisa Sandi lakukan.
"Aku berumur 6 tahun ketika Ibu meninggal. Saat punya ibu tiri dan adik tiri. Aku baru 12 tahun. Aku tahu akan lebih banyak kehilangan daripada mendapatkan. Tapi ada sesuatu yang aku dapatkan. Setidaknya seseorang akan terluka. Dan luka itu bisa mendorong semangatku" ucap Sandi dingin.
"Bisa kau bayangkan kau akan kehilangan apa?", tanya presdir Ahmad.
"Tidak. Tapi, kalau memang aku harus kalah, maka biarkan itu terjadi. Aku pamit". Sandi membungkuk lalu pergi.
Presdir Ahmad diam, menghela napas dalam.
Sandi sedang mengemasi pakaiannya saat Dimas masuk, "kakak. Kau kembali ke rumah sekarang?", Dimas tersenyum senang melihat kakaknya pulang kerumah.
__ADS_1
"Apa cuma itu yang ingin kau dan ibumu ketahui", sahut Sandi sinis memudarkan senyum di wajah Dimas, "Keluar. Kau menggangguku" tambah Sandi lagi tanpa berbalik.
Dimas menghela napas, "Apa tidak bisa kakak dan aku hidup bersama meskipun kita saling benci maupun tidak?".
Sandi berkata itu hanya keluarga yang sebenarnya yang bisa tinggal bersama.
"Saat kau bicara seperti itu ...apa perasaan kakak baik-baik saja?" tanya Dimas.
"Tidak, tapi itu juga membuatmu tidak nyaman.. Itu sudah cukup bagiku" ujar Sandi.
Sandi mengangkat kopernya siap pergi, "Minggir" ucapnya tanpa memandang wajah Dimas.
"kak..." Dimas mencoba bicara.
"Kubilang minggir" ulang Dimas lagi.
Dengan perasaan terluka Dimas tanya kenapa kakaknya harus bertindak sejauh ini, "Kenapa kau keluar hanya karena aku kembali?".
"Karena kau terus mengikutiku" jawab Sandi kali ini memandang wajah Dimas. "Kau bahkan datang ke hotel dan ke perusahaan. Jika kau terus mengikutiku seperti anak 7 tahun. Aku tak punya tempat untuk menghindar darimu. Kenapa aku bisa seperti ini? Apa pernah terpikir olehmu, kau mengambil tempatku? Atau, apa aku harus ke Amerika kali ini? Kapan kau bisa dewasa? Aku tak bisa bertengkar dengan anak SMA..Jadi cepatlah dewasa".
Dimas terdiam...
Sandi pergi meninggalkan Dimas yang terluka karena perkataannya. Dimas membeku, matanya berkaca-kaca menahan sedih.
Sandi pergi ke penyimpanan wine bawah tanah. Mengambil beberapa botol wine yang dibuat ibunya, nama red wine.
Dimas datang menyusul, mengaku salah dan meminta maaf atas semua yang telah ia lakukan, "Aku minta maaf karena mencarimu di hotel..Aku juga minta maaf karena pergi ke perusahaan. Aku juga bersalah karena kembali dari Taiwan. Semuanya salahku, jadi tinggallah di rumah".
Sandi mengacuhkan permintaan maaf Dimas, tangannya sibuk memasukkan beberapa botol wine ke dalam tas. Sikap cuek Sandi membuat Dimas memberanikan diri memegang lengan Sandi, "kak.." berharap kakaknya mau memperhatikannya.
Sandi menoleh, melihat tangan Dimas, "Lepaskan.. Kau berani memegangku?".
"Aku bahkan tak boleh punya keberanian menyentuh kakak?" tanya Dimas menaikan nada suaranya, lalu bicara dengan suara lebih pelan, "Aku tahu aku melebihi batas. Tapi aku mengerti".
Sandi marah, "Mengerti? Kau mengejekku? Kau kira kau siapa bisa mengerti? Kau punya keberanian kembali tapi tidak berani melawan? Beraninya kau...!".
Sebelum Sandi melajutkan ucapannya yang lebih menyakitkan, Dimas mendadak memeluk Sandi (so sad), membuat Sandi terpaku terkejut (tidakah ia merasa tersentuh!).
Dengan sedih Dimas berkata, "Aku tidak akan melawanmu. Karena aku yakin aku akan kalah. Bagaimana aku bisa menang kalau aku tidak menginginkannya?".
Dimas melepas pelukannya, "Karena itu...".
"Kau ini banyak omong sekali", potong Sandi ketus lalu pergi sengaja menabrak pundak Sandi.
__ADS_1
Dimas menoleh melihat kepergian kakaknya dengan pandangan sedih.
BERSAMBUNG...