
Assalamu'alaikum....
Hadir lagi nih...
Selamat membaca reader
Sama sekalian like dong hehe...
Ginara membereskan beberapa pakaian dan barang yang
masih tertinggal di apartemen, ia berencana pulang hari ini. Ia tidak ingin
membuat papa dan bunda menjadi lebih khawatir kalau berlama-lama di apartemen,
walaupun mereka pasti ngerti alasannya tidak pulang ke rumah. Satu koper kecil
telah siap ia bawa, hanya menunggu jemputan datang, ia menunggu di ruang tamu
sambil menonton televisi menampilkan dua kembar bocah plontos yang tidak pernah
dewasa.
Ting.
Tong.
Otomatis gadis itu berdiri kemudian membuka pintu.
Tampak Aldy sudah berdiri gagah di depan pintu, masih dengan pakaian kerja
lengkap, hanya dasi dan jasnya telah ia lepas dengan dua kancing kemeja yang
dibiarkan terbuka, semakin menambah kadar ketampanan dan machonya.
“Sudah siap?” Tanya pemuda itu tersenyum. Ginara
mengangguk pelan.
“Mau langsung?” Tanyanya.
Aldy berdecak, di sentilnya hidung Ginara gemas.
“Masak gak ada penawaran lain, masuk dulu kek atau
mau kopi dulu…ish…gak peka amat” Tanpa persetujuan pemuda itu langsung masuk di
iringi langkah gadis di belakangnya dengan bersungut-sungut. Tentu hanya dalam
hati. Hehe, ia sudah kapok melakukan aksi cemberut, ujung-ujungnya di kira dia
yang ketagihan.
Gadis itu berjalan menuju ke arah dapur kemudian menghidupkan
kompor dengan menaruh panci di atasnya yang sudah berisi air. Di lemari
pendingin hanya ada mie instan kuah, sosis, pentol, dan sawi. Ia memang sering
__ADS_1
menyediakan bahan itu jika ingin masak mie. Jadi selain sehat, juga akan
mengurangi kadar zat di dalamnya. Ia juga menyiapkan dua gelas yang sudah ia
tuang saset capucino coffie sebagai pelengkap makan mie.
Sepuluh menit sajian matang dan Ginara membawanya
dalam nampan ke meja makan. Di gesernya mangkuk mie untuk Aldy dan segelas
capucino coffe.
“Maaf, belum sempat belanja” Katanya sambil
tersenyum malu. Duh,,,gemesnya.
“Ini sudah nikmat kok” Aldy menyantap hidangan di
depannya dengan lahap. Malam ini ia memang lapar banget, rencana mau mengajak
makan di luar, tapi ia tidak ingin mengecewakan Ginara yang sudah memasak
untuknya.
“Aku jadi ingat waktu itu…” Kata Aldy sambil
menikmati seduhan mie nya. Ginara mengernyit heran.
“Ingat, yang apa?” Tanyanya. Aldy senyum-senyum
“Pukulanmu sakit banget lho dulu…bugh, gak ada
persiapan jadinya ya udah …” Aldy menirukan gerakan tinju ke pipinya. Ginara
membelalak tak percaya Aldy masih mengingat malam itu. Ia menunduk malu.
“Salah siapa memata-matai, kurang kerjaan aja…”
Sewotnya.
“Masak iya numpang cuci muka aja di sambut dengan
ngegas dan galak, ckckck”
“Ya maaf, aku kan paling gak suka di ikuti oleh
orang asing”
“Yah…yah…aku kan udah pernah ke rumah, masak iya
masih orang asing.” Sedih Aldy.
“Kan nggak kenal juga, lagian ngapain sih
ngikutin…?” Ginara meneruskan makan mienya. Aldy mengunyah makanannya dengan
cepat kemudian tersenyum.
__ADS_1
“Hehe, penasaran aja sih dengan yang namanya cewek
angkuh, jutek, dingin, brrrr” Godanya. Ginara hanya mendelik kesal.
“Tapi suka juga kan akhirnya” Gumam Ginara pelan,
sangat pelan sampai Aldy mengangkat wajahnya bertanya.
“Hah, apa?” Ginara menggeleng cepat.
“Dah selesein cepat makannya, keburu malam nanti
pulang ke rumah” Aldy tersenyum tipis. Aku dengar kok Nara, bukan hanya suka
tapi aku benar-benar menyayangimu, mencintaimu tulus, my sweety. Batin Aldy.
Mobil BMW mewah meluncur di jalan raya dengan
santai, karena malam ini suasana cukup lengang, Aldy mengendarai dengan santai.
Tangannya disatukan dengan jemari Ginara, gadis itu hanya bisa tersipu.
“Nanti biar aku yang bicara sama mereka” Kata Aldy.
Ginara menoleh heran.
“Kita kan sudah sepakat untuk menghadapi berdua”
Tolaknya. Ia tidak ingin Aldy menanggung beban sendiri, padahal mereka sudah
sepakat akan menyampaikan hubungan mereka secara bersama.
“Nggak, nanti sampai rumah, kamu harus masuk ke
kamar”
“Mana bisa begitu!” Sentak Ginara spontan. Aldy
meremas jemari Ginara lebih kuat untuk memberikan semangat.
“Harus begitu, anggap saja mereka sudah merestui,
kan om dan tante sudah mengenal aku”
“Tapi…”
“Tidak ada penolakan!” Potong aldy.
“Ck” Aldy mendekatkan kepalanya karena melihat
Ginara cemberut, namun gadis itu segera menarik bibirnya ke dalam dan
menutupnya dengan tangan kiri. Pemuda itu tertawa terbahak kemudian membawa tangan
yang digenggam itu untuk di ciumnya lama tanpa dilepaskan dari bibirnya.
To Be Continued
__ADS_1