Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Ya maaf…


__ADS_3

Assalamu'alaikum....


Hadir lagi nih...


Selamat membaca reader


Sama sekalian like dong hehe...


Ginara membereskan beberapa pakaian dan barang yang


masih tertinggal di apartemen, ia berencana pulang hari ini. Ia tidak ingin


membuat papa dan bunda menjadi lebih khawatir kalau berlama-lama di apartemen,


walaupun mereka pasti ngerti alasannya tidak pulang ke rumah. Satu koper kecil


telah siap ia bawa, hanya menunggu jemputan datang, ia menunggu di ruang tamu


sambil menonton televisi menampilkan dua kembar bocah plontos yang tidak pernah


dewasa.


Ting.


Tong.


Otomatis gadis itu berdiri kemudian membuka pintu.


Tampak Aldy sudah berdiri gagah di depan pintu, masih dengan pakaian kerja


lengkap, hanya dasi dan jasnya telah ia lepas dengan dua kancing kemeja yang


dibiarkan terbuka, semakin menambah kadar ketampanan dan machonya.


“Sudah siap?” Tanya pemuda itu tersenyum. Ginara


mengangguk pelan.


“Mau langsung?” Tanyanya.


Aldy berdecak, di sentilnya hidung Ginara gemas.


“Masak gak ada penawaran lain, masuk dulu kek atau


mau kopi dulu…ish…gak peka amat” Tanpa persetujuan pemuda itu langsung masuk di


iringi langkah gadis di belakangnya dengan bersungut-sungut. Tentu hanya dalam


hati. Hehe, ia sudah kapok melakukan aksi cemberut, ujung-ujungnya di kira dia


yang ketagihan.


Gadis itu berjalan menuju ke arah dapur kemudian menghidupkan


kompor dengan menaruh panci di atasnya yang sudah berisi air. Di lemari


pendingin hanya ada mie instan kuah, sosis, pentol, dan sawi. Ia memang sering

__ADS_1


menyediakan bahan itu jika ingin masak mie. Jadi selain sehat, juga akan


mengurangi kadar zat di dalamnya. Ia juga menyiapkan dua gelas yang sudah ia


tuang saset capucino coffie sebagai pelengkap makan mie.


Sepuluh menit sajian matang dan Ginara membawanya


dalam nampan ke meja makan. Di gesernya mangkuk mie untuk Aldy dan segelas


capucino coffe.


“Maaf, belum sempat belanja” Katanya sambil


tersenyum malu. Duh,,,gemesnya.


“Ini sudah nikmat kok” Aldy menyantap hidangan di


depannya dengan lahap. Malam ini ia memang lapar banget, rencana mau mengajak


makan di luar, tapi ia tidak ingin mengecewakan Ginara yang sudah memasak


untuknya.


“Aku jadi ingat waktu itu…” Kata Aldy sambil


menikmati seduhan mie nya. Ginara mengernyit heran.


“Ingat, yang apa?” Tanyanya. Aldy senyum-senyum


“Pukulanmu sakit banget lho dulu…bugh, gak ada


persiapan jadinya ya udah …” Aldy menirukan gerakan tinju ke pipinya. Ginara


membelalak tak percaya Aldy masih mengingat malam itu. Ia menunduk malu.


“Salah siapa memata-matai, kurang kerjaan aja…”


Sewotnya.


“Masak iya numpang cuci muka aja di sambut dengan


ngegas dan galak, ckckck”


“Ya maaf, aku kan paling gak suka di ikuti oleh


orang asing”


“Yah…yah…aku kan udah pernah ke rumah, masak iya


masih orang asing.” Sedih Aldy.


“Kan nggak kenal juga, lagian ngapain sih


ngikutin…?” Ginara meneruskan makan mienya. Aldy mengunyah makanannya dengan


cepat kemudian tersenyum.

__ADS_1


“Hehe, penasaran aja sih dengan yang namanya cewek


angkuh, jutek, dingin, brrrr” Godanya. Ginara hanya mendelik kesal.


“Tapi suka juga kan akhirnya” Gumam Ginara pelan,


sangat pelan sampai Aldy mengangkat wajahnya bertanya.


“Hah, apa?” Ginara menggeleng cepat.


“Dah selesein cepat makannya, keburu malam nanti


pulang ke rumah” Aldy tersenyum tipis. Aku dengar kok Nara, bukan hanya suka


tapi aku benar-benar menyayangimu, mencintaimu tulus, my sweety. Batin Aldy.


Mobil BMW mewah meluncur di jalan raya dengan


santai, karena malam ini suasana cukup lengang, Aldy mengendarai dengan santai.


Tangannya disatukan dengan jemari Ginara, gadis itu hanya bisa tersipu.


“Nanti biar aku yang bicara sama mereka” Kata Aldy.


Ginara menoleh heran.


“Kita kan sudah sepakat untuk menghadapi berdua”


Tolaknya. Ia tidak ingin Aldy menanggung beban sendiri, padahal mereka sudah


sepakat akan menyampaikan hubungan mereka secara bersama.


“Nggak, nanti sampai rumah, kamu harus masuk ke


kamar”


“Mana bisa begitu!” Sentak Ginara spontan. Aldy


meremas jemari Ginara lebih kuat untuk memberikan semangat.


“Harus begitu, anggap saja mereka sudah merestui,


kan om dan tante sudah mengenal aku”


“Tapi…”


“Tidak ada penolakan!” Potong aldy.


“Ck” Aldy mendekatkan kepalanya karena melihat


Ginara cemberut, namun gadis itu segera menarik bibirnya ke dalam dan


menutupnya dengan tangan kiri. Pemuda itu tertawa terbahak kemudian membawa tangan


yang digenggam itu untuk di ciumnya lama tanpa dilepaskan dari bibirnya.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2