Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Menjemput Ginara (2)


__ADS_3

Ginara menaiki ojek online yang sudah siap di depan


rumahnya dan siap meluncur, namun ia meminta ojek online berhenti sejenak


karena terdengar dering telepon dari tasnya. Ia mengambilnya kemudian melihat


layar hpnya tertera nama ‘kekasih tampanku’, ia tersenyum manis dan menggeser


tombol gambar telepon ke atas.


“Assalamu’alaikum Al, ada apa?”


“Waalaikumussalam, lagi apa?”


“Aku? Siap-siap mau berangkat, kenapa?”


“Aku jemput ya, ini mau sampai nih..”


“Hah, kau bilang hampir sampai?”


“Iya, tunggu aku ya, satu menit lagi sampai…”


“Hah, iya…iya.., aku masih di rumah kok”


Ginara menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan


mobil Aldy tapi nihil.


“Baiklah, keluarlah”


“Iya, iya aku mau keluar dari rumah ini, pamit


bunda dulu ya” Ginara panik bukan main, ia heran jam berapa Aldy berangkat,


jarak rumahnya dengan rumah papa lumayan jauh, kalau sama apartemen sih masih


dekat. Ia Kembali menoleh ke sekeliling, tapi masih juga belum ada tanda-tanda


keberadaan Aldy. Ginara mematikan panggilan kemudian mengeluarkan dompet,


mengambil lembaran lima puluh ribu.


“Mas, maaf ya, saya batalin pesanan…” Kata Ginara


seraya meng-cansel pesanan.


“Mbak ndak usah bayar gak papa, kan belum jadi


juga” Kata drivernya gak enak.


“Udah, anggap rezeki”


“Makasih ya mbak” Ginara mengangguk kemudian


bergegas berjalan ke arah depan pagar rumahnya sambil celingukan mencari mobil


Aldy. Ia mengernyit heran, katanya satu menit, kenapa belum datang juga.


Batinnya.


Tapi, ia merasa ada yang menjajari langkahnya dalam


jarak dua meter namun tertutup oleh pepohonan yang rimbun di depan rumahnya.


Begitu sampai depan pagar tampak Aldy keluar dari belakang mobil dengan


tersenyum lebar.


“Ah, hai…harusnya teleponnya tadi kan, kalau aku


dah berangkat gimana coba” Kata Ginara agak gugup.

__ADS_1


“Aku dah telepon ya, hp mu aja yang gak aktif”


Jawab Aldy tersenyum.


“Ah, gitu ya, mungkin aku silent ya” Bohongnya.


Aldy memandang ke arah rumah Ginara sambil tersenyum lucu.


“Kamu emang baru keluar dari rumah ya…” Katanya


kemudian.


“Iya lah” Jawabnya cepat.


“Hemmm, pfft” Aldy senyum-senyum misterius,


kemudian tertawa pelan seperti ada yang lucu.


“Eh, kenapa tertawa?” Tanya Ginara heran, ia


memandang Aldy yang tertawa tak berhenti sambil memandang ke arah rumah dan Kembali


memandang wajahnya. Pemuda itu menunduk, tidak tahan lagi untuk tidak tertawa.


“Kau lihat semuanya ya?” Tanya Ginara panik malu.


“Tidak semuanya, tadi sebelah sana kebetulan lihat


turun dari ojek trus berlari”


Ginara menggigit bibirnya malu kemudian berlalu


menuju mobil Aldy.


“Begitu tergesa-gesa ingin bertemu denganku ya? Apa


udah kangen ya?”


tombol buka secara sembunyi-sembunyi.


“Pintunya gak dikunci kok” Godanya tersenyum


menyeringai. Ginara membuka pintu mobil dengan menggigit bibir malu. Aldy


menyusulnya masuk kemudian langsung menyatukan jemari tangan Ginara dengan


jemarinya, di genggamnya erat.


“Ya Allah, kenapa sepagi ini kau sudah menggemaskan


ya…” Goda Aldy seraya menghidupnya mesin mobil dan melaju meninggalkan rumah


Ginara.


“Sudah ya, cukup” Kata Ginara pura-pura marah


seraya menoleh keluar jendela.


Aldy menoleh tersenyum.


“Biasanya aku jemput gak gini amat, kangen berat


ya…” Kata Aldy semakin menggoda gadis di sebelahnya.


“Sudah puas belum?” Ginara melotot, kali ini


malunya sudah berada di ubun-ubun, rasanya ingin ia bersembunyi di tempat yang


tidak bisa dilihat oleh Aldy.


“Hemmm, menggemaskan sekali ….” Aldy mencium jemari

__ADS_1


Ginara sayang.


“Beneran emang?” Ia penasaran, sebegitu cintanya


kah Aldy pada dirinya.


“Kamu beneran percaya?”


“Ah…lepaskan!” Sentaknya marah.


“Hahahaha” Aldy menahan genggamannya seraya


tertawa.


“Gak akan kulepaskan ya, susah payah baru berhasil


kugandeng, kok mau dilepas”


Ginara memandang tersenyum ke arah Aldy, ia merasa


bersyukur mendapatkan kasih sayang dari pemuda itu. Dengan perbedaan umur yang


cukup jauh, delapan tahun, semoga apa yang aku rasakan akan selamanya seperti


ini.


“Kenapa senyum-senyum?” Tanya Aldy menoleh.


“Nggak” Ginara memalingkan wajahnya diam kemudian


menoleh lagi pada Aldy.


“Kamu nggak akan menyesal bersamaku?”


“Pertanyaan apa itu sweety”


Blush


“Ya…kan nantinya aku menua trus kamu…”


“Sudah cukup, gak ada bahas-bahas usia!” Kata Aldy


marah. Ginara membawa tangan Aldy ke pangkuannya kemudian digenggamnya dengan


kedua tangannya.


“Maaf…” Aldy menghela nafas kemudian menoleh


tersenyum.


“Kau begitu berharga bagiku, kau gadis yang


istimewa di hatiku, jadi jangan selalu mengatakan yang tidak aku


suka,mengerti?” Ginara mengangguk paham.


“Iya, aku janji”


“Good girl”


Mereka sampai di apotek Medical Farma, sebelum


keluar Aldy mencium Kembali tangan itu.


“Nanti aku jemput, maaf gak bisa makan siang


bersama, aku ada meeting sama klien.” Katanya menyesal.


“Oke gak papa, aku tunggu nanti” Ginara tersenyum


kemudian keluar dan melambai pada Aldy yang melaju meninggalkan apotek.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2