
Ginara menaiki ojek online yang sudah siap di depan
rumahnya dan siap meluncur, namun ia meminta ojek online berhenti sejenak
karena terdengar dering telepon dari tasnya. Ia mengambilnya kemudian melihat
layar hpnya tertera nama ‘kekasih tampanku’, ia tersenyum manis dan menggeser
tombol gambar telepon ke atas.
“Assalamu’alaikum Al, ada apa?”
“Waalaikumussalam, lagi apa?”
“Aku? Siap-siap mau berangkat, kenapa?”
“Aku jemput ya, ini mau sampai nih..”
“Hah, kau bilang hampir sampai?”
“Iya, tunggu aku ya, satu menit lagi sampai…”
“Hah, iya…iya.., aku masih di rumah kok”
Ginara menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan
mobil Aldy tapi nihil.
“Baiklah, keluarlah”
“Iya, iya aku mau keluar dari rumah ini, pamit
bunda dulu ya” Ginara panik bukan main, ia heran jam berapa Aldy berangkat,
jarak rumahnya dengan rumah papa lumayan jauh, kalau sama apartemen sih masih
dekat. Ia Kembali menoleh ke sekeliling, tapi masih juga belum ada tanda-tanda
keberadaan Aldy. Ginara mematikan panggilan kemudian mengeluarkan dompet,
mengambil lembaran lima puluh ribu.
“Mas, maaf ya, saya batalin pesanan…” Kata Ginara
seraya meng-cansel pesanan.
“Mbak ndak usah bayar gak papa, kan belum jadi
juga” Kata drivernya gak enak.
“Udah, anggap rezeki”
“Makasih ya mbak” Ginara mengangguk kemudian
bergegas berjalan ke arah depan pagar rumahnya sambil celingukan mencari mobil
Aldy. Ia mengernyit heran, katanya satu menit, kenapa belum datang juga.
Batinnya.
Tapi, ia merasa ada yang menjajari langkahnya dalam
jarak dua meter namun tertutup oleh pepohonan yang rimbun di depan rumahnya.
Begitu sampai depan pagar tampak Aldy keluar dari belakang mobil dengan
tersenyum lebar.
“Ah, hai…harusnya teleponnya tadi kan, kalau aku
dah berangkat gimana coba” Kata Ginara agak gugup.
__ADS_1
“Aku dah telepon ya, hp mu aja yang gak aktif”
Jawab Aldy tersenyum.
“Ah, gitu ya, mungkin aku silent ya” Bohongnya.
Aldy memandang ke arah rumah Ginara sambil tersenyum lucu.
“Kamu emang baru keluar dari rumah ya…” Katanya
kemudian.
“Iya lah” Jawabnya cepat.
“Hemmm, pfft” Aldy senyum-senyum misterius,
kemudian tertawa pelan seperti ada yang lucu.
“Eh, kenapa tertawa?” Tanya Ginara heran, ia
memandang Aldy yang tertawa tak berhenti sambil memandang ke arah rumah dan Kembali
memandang wajahnya. Pemuda itu menunduk, tidak tahan lagi untuk tidak tertawa.
“Kau lihat semuanya ya?” Tanya Ginara panik malu.
“Tidak semuanya, tadi sebelah sana kebetulan lihat
turun dari ojek trus berlari”
Ginara menggigit bibirnya malu kemudian berlalu
menuju mobil Aldy.
“Begitu tergesa-gesa ingin bertemu denganku ya? Apa
udah kangen ya?”
tombol buka secara sembunyi-sembunyi.
“Pintunya gak dikunci kok” Godanya tersenyum
menyeringai. Ginara membuka pintu mobil dengan menggigit bibir malu. Aldy
menyusulnya masuk kemudian langsung menyatukan jemari tangan Ginara dengan
jemarinya, di genggamnya erat.
“Ya Allah, kenapa sepagi ini kau sudah menggemaskan
ya…” Goda Aldy seraya menghidupnya mesin mobil dan melaju meninggalkan rumah
Ginara.
“Sudah ya, cukup” Kata Ginara pura-pura marah
seraya menoleh keluar jendela.
Aldy menoleh tersenyum.
“Biasanya aku jemput gak gini amat, kangen berat
ya…” Kata Aldy semakin menggoda gadis di sebelahnya.
“Sudah puas belum?” Ginara melotot, kali ini
malunya sudah berada di ubun-ubun, rasanya ingin ia bersembunyi di tempat yang
tidak bisa dilihat oleh Aldy.
“Hemmm, menggemaskan sekali ….” Aldy mencium jemari
__ADS_1
Ginara sayang.
“Beneran emang?” Ia penasaran, sebegitu cintanya
kah Aldy pada dirinya.
“Kamu beneran percaya?”
“Ah…lepaskan!” Sentaknya marah.
“Hahahaha” Aldy menahan genggamannya seraya
tertawa.
“Gak akan kulepaskan ya, susah payah baru berhasil
kugandeng, kok mau dilepas”
Ginara memandang tersenyum ke arah Aldy, ia merasa
bersyukur mendapatkan kasih sayang dari pemuda itu. Dengan perbedaan umur yang
cukup jauh, delapan tahun, semoga apa yang aku rasakan akan selamanya seperti
ini.
“Kenapa senyum-senyum?” Tanya Aldy menoleh.
“Nggak” Ginara memalingkan wajahnya diam kemudian
menoleh lagi pada Aldy.
“Kamu nggak akan menyesal bersamaku?”
“Pertanyaan apa itu sweety”
Blush
“Ya…kan nantinya aku menua trus kamu…”
“Sudah cukup, gak ada bahas-bahas usia!” Kata Aldy
marah. Ginara membawa tangan Aldy ke pangkuannya kemudian digenggamnya dengan
kedua tangannya.
“Maaf…” Aldy menghela nafas kemudian menoleh
tersenyum.
“Kau begitu berharga bagiku, kau gadis yang
istimewa di hatiku, jadi jangan selalu mengatakan yang tidak aku
suka,mengerti?” Ginara mengangguk paham.
“Iya, aku janji”
“Good girl”
Mereka sampai di apotek Medical Farma, sebelum
keluar Aldy mencium Kembali tangan itu.
“Nanti aku jemput, maaf gak bisa makan siang
bersama, aku ada meeting sama klien.” Katanya menyesal.
“Oke gak papa, aku tunggu nanti” Ginara tersenyum
kemudian keluar dan melambai pada Aldy yang melaju meninggalkan apotek.
__ADS_1
To Be Continued