
Setelah kejadian sebelumnya Dimas duduk di halaman. Memandang penunjuk mata angin yang tertancap di bawah pohon. Sorot mata Dimas memancarkan rasa sepi dan sedih.
Dimas menoleh ke belakang, melihat Dewi yang baru pulang. Tapi Dewi sama sekali tak menyadari kehadiran Dimas, dan satu teguran Dimas membuat jantung Dewi hampir copot.
Dewi mengucapkan salam dalam bahasa formal. Dimas tanya apa Dewi sedang memberontak.
"Ibumu mungkin bisa melihat Kita, Karena itu aku permisi" ujar Dewi.
" Berhenti di situ" cegah Dimas.
Dewi berbalik kesal, "Apa lagi?".
"Kenapa kotak musikku tidak dikembalikan? Bilang terima kasih saja tidak..Aku tipe orang yang suka kalau orang bilang terima kasih pada perbuatan baikku, Bawa ke tempat penyimpanan wine. Sekarang juga! Mengerti?" perintah Dimas.
Dewi masuk ke dalam rumah dengan kesal.
Dimas sedang memutar lagu saat Dewi masuk ke gudang wine. Dimas memutar lagu yang pernah Dewi putar di laptopnya tempo hari. Dewi sedikit terkejut mendengar alunan lagu yang keluar dari ponsel Dimas.
Dewi mengembalikan kotak musik dan mengucapkan terima kasih.
"Kotak musik ini benar-benar bekerja, aku langsung mimpi buruk tanpa benda itu" ujar Dimas.
Dewi tak percaya, "Bohong" lalu berbalik pergi.
"Aku sudah menyalakan lagu..Dengarkan bersama denganku" ajak Dimas. Dewi mundur perlahan, "Aku duduk karena suka dengan lagunya".
Dimas pun ikut duduk, "Kau suka lagu ini? Kau pernah memutarnya sekali".
Dewi mengiyakan, "Seseorang yang sangat aku suka menyukai lagu ini".
Mendengar kata suka, membuat Dimas terganggu, "Kau pernah pacaran dulu? Kapan? Sebelum datang ke Taiwan? Siapa?", tanyanya menggebu-gebu.
"Aku tidak pernah bilang kalau dia adalah pria", jawab Dewi dengan wajah malas.
"Jadi kau tidak punya pacar?" Dimas jadi tenang, dengan nada lebih lembut Dimas tanya, "Jadi, siapa dia?".
Dewi tersenyum, "Kakak ku".
"Ah..." sahut Dimas. Menyinggung kakak Dewi mengingatkan Dimas pada Taiwan.
"Apakah kau masih ingin pergi ke Taiwan?" tanya Dimas.
__ADS_1
"Aku hanya ingin meninggalkan Indonesia, tapi bukan berarti ingin pergi ke Taiwan" jelas Dewi.
Dimas ingin tahu bagaimana perasaan Dewi sekarang setelah kembali ke Indonesia, apa tidak apa-apa.
Dewi menganggp sama saja, bekerja, bekerja dan bekerja, "Pemindahan sekolahku adalah suatu perubahan..Meskipun akhirnya aku tidak bahagia".
"Minta bantuanku kalau kau butuh" ujar Dimas. Dewi menolak halus dan mengucapkan terima kasih atas tawaran itu. Penolakan halus itu membuat Dimas kesal, "Siapa yang mau tolong?".
Dewi menanggapinya dengan senyum, giliran dia yang menanyakan bagaimana perasaan Dimas lahir sebagai putra pemilik grup Ahmad.
"Aku tidak bisa memanggil Ibuku, dengan sebutan Ibu. Aku tidak bisa memanggil kakak ku dengan sebutan kakak" jawab Dimas menerawang.
"Tipikal Tuan Muda dalam drama" sindir Dewi dengan nada prihatin.
"Kau ini tipe pendendam ya?" balas Dimas, "Boleh aku tanya sesuatu?".
Dewi menjawab cepat, "Tidak".
Dimas heran, "Kau bahkan belum mendengar pertanyaanku".
"Pertanyaanmu selalu berbahaya..Terima kasih untuk lagu ini, Selamat malam" Dewi berdiri dan beranjak pergi.
Dimas mengangkat kotak musiknya, mengarahkan pada Dewi yang jalan menaiki tangga hingga menghilang di balik pintu, "Ini bahkan baru satu bait lagu" gumam Dimas kecewa.
"Mungkinkah aku menyukaimu? dan "Dewi..Apakah aku merindukanmu?".
Sedangkan Dimas masih berada di gudang wine, membaringkan kepalanya di meja. Sorot matanya memancarkan kesedihan dan rasa sepi....
***
Di sekolah Para murid bergerombol di depan pintu kelas tambahan, Mereka mengeluh harus berapa lama lagi menunggu.
Tias yang baru datang heran melihat kerumunan teman-temannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Tias sembari melihat kedalam kelas, "Ada apa? Rendi berulah lagi".
2 teman Rendi berjaga di depan pintu menghalangi murid lain masuk. Mereka juga menyuruh Tias nanti saja masuknya tapi Tias tidak mau, "Kau saja yang masuk nanti" ucapnya lalu menerobos masuk ke dalam tanpa takut.
Di dalam kelas hanya ada Dewi dan Rendi. Dewi hendak berdiri, tapi Rendi menarik tangannya dengan kasar dan mendudukkan Dewi kembali.
"Hei, Rendi! Memangnya ini sekolahmu? Secara teknis, ini sekolahnya Dimas! Jadi, kenapa kau menyuruh kami keluar?" protes Dimas.
__ADS_1
"Ada yang harus kutanyakan pada orang kaya baru" jawab Rendi tanpa mengalihkan pandangannya dari Dewi, "Jangan gugup" Rendi berdiri mengambil tas Dewi dan mengeluarkan semua isinya ke lantai.
"Apa yang kau lakukan?" seru Dewi kaget dan marah.
"Apa-apaan ini?" seru Tias ikut marah sembari maju mendekat.
"Aku senang kau di sini" ucap Rendi mendadak menarik tas Tias dan menumpahkan semua isinya ke lantai.
Tias kaget, "Hei! Kau gila?".
"Bisa kau lihat?" ucap Rendi menunjuk ke barang-barang yang berserakan di lantai. Isi tas Dewi berada di sisi kiri dan isi tas Tias berada di sisi sebelah kanan. Terlihat jelas perbedaan dari isi tas keduanya.
Tas Tias berisi dompet, cermin, tempat kaca mata yang hanya dengan sekilas melihatnya, kita tahu bahwa itu barang-barang bermerek. Sementara tas Dewi hanya berisi alat tulis sederhana.
"Lihatlah! Kau tak pernah membelanjakan uang..Kau bukan orang kaya baru" kata Rendi membandingkan isi tas Dewi dengan Tias. Perkataan yang membuat Dewi menunduk malu dan merasa terhina.
Tias melirik Dewi dengan pandangan simpati. Meski Tias tidak menyukai Dewi, tapi dia bukanlah gadis jahat yang suka melihat Dewi terpojok seperti ini.
Rendi memastikan pada Tias, apa Dewi benar-benar orang kaya baru, "Kudengar kau tahu sedikit tentangnya".
"Aku tak tahu! Apa pedulimu dia orang kaya baru atau tidak?" Tias jongkok mengumpulkan barang-barangnya.
"Aku peduli..Jika anak grup kepedulian sosial sosial berpura-pura menjadi orang kaya baru, berarti dia sudah menipu seantero sekolah, Bukan begitu" tanya Rendi menatap tajam Dewi.
Dengan suara sedikit bergetar Dewi berkata, "Kalau tidak mau minta maaf..Bisa tidak kau pergi?" Ia berusaha tetap tenang meski tersirat jelas rasa gugup dan takut di wajahnya.
Rendi tertawa, maju selangkah mendekati Dewi, membuat Dewi mundur selangkah, dengan nada mengancam Rendi bertanya, "Apa yang membuatmu begitu berani? Boleh aku menanyakan hal itu?".
Dewi menunduk diam tak berkutik..Pertanyaan Rendi ini seolah ingin memancing agar Dewi menyebut nama "Dimas".
Untunglah disaat yang menegangkan ini, Steven masuk, "Ada apa Tias? Apa yang terjadi?" tanya Steven melihat ke lantai.
Steven berdiri, mengadu pada Steven kalau Rendi sudah gila. Steven memandang Dewi sesaat dan menyadari apa yang terjadi.
Dengan tenang dan nada tegas,"Kau mengganggu mulainya pelajaran.. Kau mulai membuatku kesal" ujar Steven.
"Kenapa anak baru ini punya banyak sekali ksatria yang menjaganya.. Membuatku ingin bersaing dengan mereka" ucap Rendi memandang Dewi.
Sebelum pergi, Rendi berkata pada Steven kalau ia hanya ingin mengerjai Dewi saja. Rendi pergi melewati Steven dan dengan sengaja menabrak pundaknya.
**BERSAMBUNG...
__ADS_1
Note: Terima kasih sudah support cerita saya maaf jika penulisanya belepotan jangan lupa like dan komen ya**...