Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Percaya Sama Aku


__ADS_3

Oh ya mungkin ada yang tanya, ni novel kok gak ada


perang, selingkuh, atau berkhianat sih?


Iya benar, aku suka novel yang ringan-ringan aja,


yang gak banyak konflik, yang muncul pelakor atau pebinor, cukup di awal saja


konfliknya, semakin ke belakang semakin menuju kebahagiaan….


Selamat membaca reader….


Setelah menempuh perjalanan sampai 45 menit, mereka


sampai di kediaman Reza Mahendra. Tampak semua penghuni rumah sedang berkumpul,


kecuali Genta, karena memang ia sudah memilih tinggal di rumahnya sendiri di


dekat rumah sakit miliknya.


“Assalamu’alaikum” Sapa Ginara setelah membuka


pintu, ia meletakkan kopernya kemudian langsung menuju ke ruang keluarga, Aldy


mengikuti di belakangnya dengan langkah  tenang, seolah tanpa beban sedikitpun. Padahal hati Ginara sudah


berdebar sangat kencang begitu kakinya memasuki ruang tamu.


“Waalaikumussalam, Gi…alhamdulillah, kamu kembali


sayang, kamu nggak papa kan?” Tiara menyambut seraya berdiri dan memeluk


putrinya erat.


“Iya bun, Gi baik-baik saja” Tiara tersenyum


kemudian melepas pelukannya dan ia baru menyadari kalau ada Aldy di belakang


Ginara. Ia sempat heran…


“Lho, ada Nak Aldy, kebetulan sekali datangnya


barengan ya?”


Aldy tersenyum mengangguk kemudian menyodorkan


tangannya untuk menyalami Wanita paruh baya itu.


“Iya tante, maaf terlalu malam ….” Agak ambigu apa


yang disampaikan oleh Aldy, hingga membuat Tiara semakin heran.


“Oh, iya gak papa silahkan duduk dulu, atau mau


langsung ke kamar sama Davin?” Tawar Tiara. Davin yang mendengar perkataan bundanya


hanya memutar bola matanya seraya menghela nafas. Ada apa nih, sepertinya akan


ada yang minta restu nih. Batinnya resah.


“Iya tan, terima kasih” Ucapnya seraya berbisik


pada Ginara.

__ADS_1


“Masuk” Ginara menghela nafas pelan, ia menoleh


bergantian pada Aldy dan Davin. Davin hanya mengangkat bahu sementara Aldy


dengan tidak sabar mendorong punggung Ginara pelan.


“Udah masuk sana, percaya sama aku” Gadis itu


mengangguk pasrah.


“Bunda, Gi ke kamar dulu ya”


“Iya sayang, eh boleh bunda ikut kan? Ada yang


pingin bunda bicarain sama Gi…”


“Boleh bunda”


Ginara dan Tiara berjalan ke tangga, koper Ginara


sudah di bawakan oleh Mang Udin jadi Ginara tinggal langsung ke kamar.


Di kamar perasaan Ginara tidak tenang sama sekali,


ia yakin saat ini Aldy sedang meminta berbincang berdua dengan papa. Sayangnya


kegelisahan itu tertangkap oleh mata Tiara.


“Ada apa sayang, kok seperti gelisah begitu?” Tanya


Tiara heran. Ginara menggeleng cepat.


“Gak ada apa-apa bun, hanya Gi sedikit lelah aja”


lembut rambut putrinya.


“Gi, boleh bunda bertanya?”


Deg!


Apa bunda sudah tahu?


Gadis itu menoleh menatap Tiara kemudian


mengangguk.


“Gi sudah punya kekasih?”


Ginara tersentak, cukup lama ia terdiam sambil


menunduk.


Hening.


“Gi…” Tiara tersenyum maklum.


“Kalau Gi belum punya kekasih, mau bunda kenalkan


dengan putra teman bunda?”


Ginara melotot terkejut, sejenak kemudian ia


menggeleng cepat. Tiara hanya tertawa melihat reaksi Ginara. Ia tahu putrinya

__ADS_1


itu tidak mau berdekatan dengan laki-laki manapun sejak kepergian kekasihnya,


namun orang yang sudah meninggal tidak akan bisa balik lagi bukan?


“Jangan bunda!” Tolaknya cepat, namun buru-buru ia


meralat ucapannya.


“Maksud Gi…jangan dulu bun, Gi belum siap…”


“Iya, gak papa, bunda akan menunggu sampai Gi siap,


Cuma pikirkan kebahagiaanmu sayang, jangan hanya mengingat masa lalu yang sudah


tidak mungkin kembali lagi, kamu harus mulai membuka diri, jangan siksa


perasaanmu, hmmm” Nasehat Tiara sambil menggenggam jemari Ginara. Gadis itu


mengangguk. Ia bingung bagaimana harus mengutarakan semuanya, sementara Aldy


sudah bilang biar dia yang mengurus semuanya.


“Iya bun…” Lirihnya. Tiara tersenyum, dikecupnya


kening putrinya sayang.


“Istirahatlah, kau terlihat lelah, besok hari


minggu kan? Bunda ingin sekali menghabiskan minggu bunda dengan berbelanja


bersamamu” Harap Tiara.


“Baiklah bunda, Gi mau” Ginara mengangguk


tersenyum, ia merasa sangat berterimakasih pada Wanita baya di depannya ini,


sosok Wanita yang dengan begitu telaten merawatnya dari kecil, berusaha


menghilangkan trauma yang di alaminya dan yang paling utama mencurahkan kasih


sayangnya sama porsinya dengan kakak dan adiknya, walaupun ia hanya putri


sambung.


Sementara itu di ruang kerja Reza, tampak duduk berhadapan dengan


di batasi meja kerja, Reza dan Aldy. Awalnya Reza bingung, dia kira pemuda itu


datang untuk menemui Davin, tapi ternyata ingin berbicara empat mata dengan


Reza, dengan penasaran pria paruh baya itu mengajak Aldy ke ruang kerjanya.


Tanpa basa basi Aldy langsung mengutarakan


keinginannya untuk menjalin bahkan bisa dikatakan ini adalah lamaran informal


yang disampaikannya pada calon papa mertua. Pemuda itu memang selalu apa


adanya, tidak mau bertele-tele, namun permintaan yang di luar perkiraan Reza


membuat pria itu terdiam sangat lama. Matanya menerawang jauh, seakan ia


mengenang kembali masa kecil putrinya.

__ADS_1


__ADS_2