
Oh ya mungkin ada yang tanya, ni novel kok gak ada
perang, selingkuh, atau berkhianat sih?
Iya benar, aku suka novel yang ringan-ringan aja,
yang gak banyak konflik, yang muncul pelakor atau pebinor, cukup di awal saja
konfliknya, semakin ke belakang semakin menuju kebahagiaan….
Selamat membaca reader….
Setelah menempuh perjalanan sampai 45 menit, mereka
sampai di kediaman Reza Mahendra. Tampak semua penghuni rumah sedang berkumpul,
kecuali Genta, karena memang ia sudah memilih tinggal di rumahnya sendiri di
dekat rumah sakit miliknya.
“Assalamu’alaikum” Sapa Ginara setelah membuka
pintu, ia meletakkan kopernya kemudian langsung menuju ke ruang keluarga, Aldy
mengikuti di belakangnya dengan langkah tenang, seolah tanpa beban sedikitpun. Padahal hati Ginara sudah
berdebar sangat kencang begitu kakinya memasuki ruang tamu.
“Waalaikumussalam, Gi…alhamdulillah, kamu kembali
sayang, kamu nggak papa kan?” Tiara menyambut seraya berdiri dan memeluk
putrinya erat.
“Iya bun, Gi baik-baik saja” Tiara tersenyum
kemudian melepas pelukannya dan ia baru menyadari kalau ada Aldy di belakang
Ginara. Ia sempat heran…
“Lho, ada Nak Aldy, kebetulan sekali datangnya
barengan ya?”
Aldy tersenyum mengangguk kemudian menyodorkan
tangannya untuk menyalami Wanita paruh baya itu.
“Iya tante, maaf terlalu malam ….” Agak ambigu apa
yang disampaikan oleh Aldy, hingga membuat Tiara semakin heran.
“Oh, iya gak papa silahkan duduk dulu, atau mau
langsung ke kamar sama Davin?” Tawar Tiara. Davin yang mendengar perkataan bundanya
hanya memutar bola matanya seraya menghela nafas. Ada apa nih, sepertinya akan
ada yang minta restu nih. Batinnya resah.
“Iya tan, terima kasih” Ucapnya seraya berbisik
pada Ginara.
__ADS_1
“Masuk” Ginara menghela nafas pelan, ia menoleh
bergantian pada Aldy dan Davin. Davin hanya mengangkat bahu sementara Aldy
dengan tidak sabar mendorong punggung Ginara pelan.
“Udah masuk sana, percaya sama aku” Gadis itu
mengangguk pasrah.
“Bunda, Gi ke kamar dulu ya”
“Iya sayang, eh boleh bunda ikut kan? Ada yang
pingin bunda bicarain sama Gi…”
“Boleh bunda”
Ginara dan Tiara berjalan ke tangga, koper Ginara
sudah di bawakan oleh Mang Udin jadi Ginara tinggal langsung ke kamar.
Di kamar perasaan Ginara tidak tenang sama sekali,
ia yakin saat ini Aldy sedang meminta berbincang berdua dengan papa. Sayangnya
kegelisahan itu tertangkap oleh mata Tiara.
“Ada apa sayang, kok seperti gelisah begitu?” Tanya
Tiara heran. Ginara menggeleng cepat.
“Gak ada apa-apa bun, hanya Gi sedikit lelah aja”
lembut rambut putrinya.
“Gi, boleh bunda bertanya?”
Deg!
Apa bunda sudah tahu?
Gadis itu menoleh menatap Tiara kemudian
mengangguk.
“Gi sudah punya kekasih?”
Ginara tersentak, cukup lama ia terdiam sambil
menunduk.
Hening.
“Gi…” Tiara tersenyum maklum.
“Kalau Gi belum punya kekasih, mau bunda kenalkan
dengan putra teman bunda?”
Ginara melotot terkejut, sejenak kemudian ia
menggeleng cepat. Tiara hanya tertawa melihat reaksi Ginara. Ia tahu putrinya
__ADS_1
itu tidak mau berdekatan dengan laki-laki manapun sejak kepergian kekasihnya,
namun orang yang sudah meninggal tidak akan bisa balik lagi bukan?
“Jangan bunda!” Tolaknya cepat, namun buru-buru ia
meralat ucapannya.
“Maksud Gi…jangan dulu bun, Gi belum siap…”
“Iya, gak papa, bunda akan menunggu sampai Gi siap,
Cuma pikirkan kebahagiaanmu sayang, jangan hanya mengingat masa lalu yang sudah
tidak mungkin kembali lagi, kamu harus mulai membuka diri, jangan siksa
perasaanmu, hmmm” Nasehat Tiara sambil menggenggam jemari Ginara. Gadis itu
mengangguk. Ia bingung bagaimana harus mengutarakan semuanya, sementara Aldy
sudah bilang biar dia yang mengurus semuanya.
“Iya bun…” Lirihnya. Tiara tersenyum, dikecupnya
kening putrinya sayang.
“Istirahatlah, kau terlihat lelah, besok hari
minggu kan? Bunda ingin sekali menghabiskan minggu bunda dengan berbelanja
bersamamu” Harap Tiara.
“Baiklah bunda, Gi mau” Ginara mengangguk
tersenyum, ia merasa sangat berterimakasih pada Wanita baya di depannya ini,
sosok Wanita yang dengan begitu telaten merawatnya dari kecil, berusaha
menghilangkan trauma yang di alaminya dan yang paling utama mencurahkan kasih
sayangnya sama porsinya dengan kakak dan adiknya, walaupun ia hanya putri
sambung.
Sementara itu di ruang kerja Reza, tampak duduk berhadapan dengan
di batasi meja kerja, Reza dan Aldy. Awalnya Reza bingung, dia kira pemuda itu
datang untuk menemui Davin, tapi ternyata ingin berbicara empat mata dengan
Reza, dengan penasaran pria paruh baya itu mengajak Aldy ke ruang kerjanya.
Tanpa basa basi Aldy langsung mengutarakan
keinginannya untuk menjalin bahkan bisa dikatakan ini adalah lamaran informal
yang disampaikannya pada calon papa mertua. Pemuda itu memang selalu apa
adanya, tidak mau bertele-tele, namun permintaan yang di luar perkiraan Reza
membuat pria itu terdiam sangat lama. Matanya menerawang jauh, seakan ia
mengenang kembali masa kecil putrinya.
__ADS_1