
Assalamu'alaikum
Ketemu lagi readers....
Gak panjang-panjang...
Gak ribet-ribet....
Pkoknya selamat menikmati bacaan aja deh
Kalau mau like, sangat suka...
Kalau mau vote, sangat syuka sekali...
Kalau mau favorit uuuhhhh bahagia banget hatiku....
Dah lah met baca yaaa readers....
Beberapa hari sudah berlalu sejak Aldy berangkat ke
Inggris, tepatnya sudah enam hari sejak keberangkatannya. Dan ia hanya
menghubungi Ginara sekali, hal itu membuat gadis itu khawatir tentang
keberadaan kekasihnya di sana. Apa benar sebentar saja menghubungi tidak bisa,
apa sesibuk itu ia di sana? Batinnya galau.
Semua orang kini sibut mempersiapkan rencana
pernikahan massal kakak beradik dari Mahendra. Dan selama itu, baik Ginara
maupun Dina harus terkurung di dalam rumah tanpa diijinkan untuk kemana-mana
lagi, mereka hanya bisa bertemu melalui video call.
Namun hari ini, mereka akan mengunjungi desainer
yang akan merancang kebaya pernikahan mereka bersama Mahira tentu di temani
oleh Genta dan Davin.
“Bunda, apa Gi ada di kamarnya?” Seru Dina pada Tiara.
Wanita itu hanya menggeleng mendapati calon mantunya yang kelewat ceria.
“Hemm, ya, apa kalian sudah akan pergi?” Tanya
Tiara mendekat.
“Iya Bund, lebih cepat lebih baik” Sahut Dina
seraya mencium pipi Tiara.
“Berhati-hatilah kalian, apa Genta dan Davin sudah
siap juga?”
“Sepertinya sudah Bun, tadi Dina lihat mereka lagi
ngobrol sama Papa di teras rumah” Terang Dina. Wanita itu mengangguk tersenyum.
“Kau sudah datang?” Ucap seseorang bersama suara
langkah yang menuruni tangga.
“Apa kau bisa mencium kedatanganku?” Balas Dina
tanpa menjawab pertanyaan Ginara. Tiara hanya menggeleng melihat kelakuan dua
gadis di hadapannya itu.
“Kau kira aku kucing apa, suaramu itu yang membuat
seisi rumah bergetar” Cercah Ginara pura-pura kesal.
“Wah..bagus dong, aku tidak perlu membangunkanmu
kan” Kata Dina santai, “kau sudah siap?” Sambungnya.
“Apa kau tidak lihat apa yang kubawa?”
“Sengaja hehe, biar kamu tambah sewot” Dina tertawa
berlari menghindar dari cubitan Ginara. Ia bersembunyi di belakang Tiara.
“Sudah…sudah, kalian ini sudah bukan anak-anak
lagi, sudah mau menikah juga…” Ucap Tiara, “berhati-hatilah, jangan kemana-mana
lagi jika sudah selesai”
__ADS_1
“Siap bunda” Sahut keduanya seraya mencium punggung
tangan wanita itu kemudian kedua pipinya, lalu bergerak keluar menyusul Genta
dan Davin yang sudah siap.
“Kita jemput Mahira dulu ya Kak…” Kata Davin.
“Ya sudah, ayo”
Mobil meluncur menuju kawasan perumahan elit di
Kota Batu, tempat tinggal Omar Ramazan. Setelah mendapat ijin dari orang tua
Mahira untuk membawanya menyiapkan baju pengantin, mereka berenam pun meluncur
menuju gedung perancang busana terkenal di Kota Malang yang sudah menjadi
langganan bagi para pengusaha di Malang ini.
Ginara terdiam sejenak, menatap dirinya di dalam
balutan kebaya putih di hadapan cermin. Detak jantungnya berdebar lebih cepat,
“benarkah aku akan menikah” Gumamnya pelan dengan bibir yang tersenyum.
“Gi…kau sudah siap keluar belum?” Seru Dina di luar
ruang ganti.
“Iya” Sahutnya.
Perlahan ia keluar menuju dimana Dina dan Mahira
berada lengkap dengan gaun yang sudah mereka kenakan. Mereka bertiga saling
terpukau dengan penampilan masing-masing.
“Ma syaa Allah, Kak Gi cantik sekali” Puji Mahira.
Dina mengangguk setuju.
“Benar Gi, kau cantik sekali.”
“Ah, kalian juga sama cantiknya”
“Ya kali, kita kan tiga dara mencari suami…” Kata
“Boleh difotokan nggak?” Pinta Ginara.
“Buat apa Gi? Apa mau kau kirim ke Aldy?” Tebak
Dina. Ginara tersenyum malu.
“Ish, hanya meminta pendapatnya saja” Elaknya
pelan.
“Sini-sini, pose yang cantik” Dina meraih hp Ginara
kemudian membidiknya dengan sekali jepretan.
“Dah..kirim sono, biar dag dig dug sekalian haha”
Tawa Dina di iringi Mahira.
Ginara mengetik di hpnya seraya menyertakan foto
dirinya. “Bagaimana pendapatmu?” Tulisnya singkat di bawah foto dirinya.
Beberapa menit sudah berlalu, mereka juga sudah
berganti pakaian dan bersiap untuk pulang. Genta dan Davin hanya pasrah akan
baju mereka, yang pasti mereka akan cocok kalau pengantinnya cocok.
“Mengapa belum ada balasan? Gumamnya dengan sedikit
menghela nafas.
“Apa kata Aldy? Tanya Dina tidak sabar. Gadis itu
menggeleng sedih.
“Belum ada jawaban” Jawabnya sendu.
“Sabar Kak, pasti sebentar lagi telpon” Hibur
Mahira seraya mengelus punggung tangan Ginara. Dan benar saja, sebentar
kenudian.
__ADS_1
Drrrt drrrtt
Ginara langsung menggeser tombol video di layar
hpnya, muncul wajah pemuda yang dirindukan beberapa hari ini.
“Wah baru sekali dering langsung diangkat saja, gak
sabaran ya pingin lihat wajahku” Goda Aldy sambil tersenyum. Ginara hanya mendengus
disambut tawa kedua gadis di sebelahnya.
“Sudah tahu juga” Balasnya cemberut.
“Nara…” Peringatan Aldy membuat Ginara menarik
kembali bibirnya.
“Kau sudah baca pesanku?” Tanyanya kemudian.
“Tentulah, makanya aku langsung menghubungimu.”
“Kau suka?” Tanyanya dengan mata berharap.
Aldy terdiam sejenak dengan gaya berpikir.
“Aku bisa ganti modelnya kalau kau gak suka” Kata
Ginara lesu.
“Sangat suka” Balas Aldy cepat membuat mata Ginara
berbinar cerah, ia tersenyum.
“Bahkan aku sampai ingin kembali ke Indonesia
sekarang juga” Lanjut Aldy.
“Jangan bercanda, tempatmu bukan di Surabaya ya”
Aldy tergelak.
“Oya, kau sama siapa saja?” Tanya Aldy. Ginara
menggeser hpnya ke arah Dina, gadis itu melambai, sementara Mahira menolak
untuk di diperlihatkan di hp.
“Hanya sama Dina?” Tanya Aldy cemas.
“Tidak, ada Mahira cantin Davin, sama Davin dan
Abang Genta juga kok.” Aldy menghela nafas lega.
“Baguslah…” Sejenak mereka terdiam, hanya pandangan
mereka yang tak mau lepas.
“Jangan khawatir, aku besok sudah pulang, aku akan
percepat selesaikan urusan di sini” Kata Aldy menghibur Ginara yang tampak
mulai sendu wajahnya.
“Hmmm, jaga kesehatanmu di sana, jangan sampai
telat makan…”
“Oke sweety, baiklah, aku harus segera kembali ke
ruang rapat, tunggu aku, love you…” Aldy menempelkan dua jarinya ke layar hp,
Ginara tersenyum lembut.
“Love you to Bee” Aldy membelalak kemudian
tersenyum senang.
“Pertahankan itu…” Katanya disambut anggukan gadis
itu kemudian layar menghitam.
Dina merangkul pundak sahabatnya
“Sudah jangan sedih, Aldy pasti baik-baik saja di
sana”
Ginara mengangguk dan mengantarkan Mahira dan Dina
kembali sebelum pulang ke rumah.
__ADS_1
To Be Continued