Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Persiapan Tiga Dara


__ADS_3

Assalamu'alaikum


Ketemu lagi readers....


Gak panjang-panjang...


Gak ribet-ribet....


Pkoknya selamat menikmati bacaan aja deh


Kalau mau like, sangat suka...


Kalau mau vote, sangat syuka sekali...


Kalau mau favorit uuuhhhh bahagia banget hatiku....


Dah lah met baca yaaa readers....


Beberapa hari sudah berlalu sejak Aldy berangkat ke


Inggris, tepatnya sudah enam hari sejak keberangkatannya. Dan ia hanya


menghubungi Ginara sekali, hal itu membuat gadis itu khawatir tentang


keberadaan kekasihnya di sana. Apa benar sebentar saja menghubungi tidak bisa,


apa sesibuk itu ia di sana? Batinnya galau.


Semua orang kini sibut mempersiapkan rencana


pernikahan massal kakak beradik dari Mahendra. Dan selama itu, baik Ginara


maupun Dina harus terkurung di dalam rumah tanpa diijinkan untuk kemana-mana


lagi, mereka hanya bisa bertemu melalui video call.


Namun hari ini, mereka akan mengunjungi desainer


yang akan merancang kebaya pernikahan mereka bersama Mahira tentu di temani


oleh Genta dan Davin.


“Bunda, apa Gi ada di kamarnya?” Seru Dina pada Tiara.


Wanita itu hanya menggeleng mendapati calon mantunya yang kelewat ceria.


“Hemm, ya, apa kalian sudah akan pergi?” Tanya


Tiara mendekat.


“Iya Bund, lebih cepat lebih baik” Sahut Dina


seraya mencium pipi Tiara.


“Berhati-hatilah kalian, apa Genta dan Davin sudah


siap juga?”


“Sepertinya sudah Bun, tadi Dina lihat mereka lagi


ngobrol sama Papa di teras rumah” Terang Dina. Wanita itu mengangguk tersenyum.


“Kau sudah datang?” Ucap seseorang bersama suara


langkah yang menuruni tangga.


“Apa kau bisa mencium kedatanganku?” Balas Dina


tanpa menjawab pertanyaan Ginara. Tiara hanya menggeleng melihat kelakuan dua


gadis di hadapannya itu.


“Kau kira aku kucing apa, suaramu itu yang membuat


seisi rumah bergetar” Cercah Ginara pura-pura kesal.


“Wah..bagus dong, aku tidak perlu membangunkanmu


kan” Kata Dina santai, “kau sudah siap?” Sambungnya.


“Apa kau tidak lihat apa yang kubawa?”


“Sengaja hehe, biar kamu tambah sewot” Dina tertawa


berlari menghindar dari cubitan Ginara. Ia bersembunyi di belakang Tiara.


“Sudah…sudah, kalian ini sudah bukan anak-anak


lagi, sudah mau menikah juga…” Ucap Tiara, “berhati-hatilah, jangan kemana-mana


lagi jika sudah selesai”

__ADS_1


“Siap bunda” Sahut keduanya seraya mencium punggung


tangan wanita itu kemudian kedua pipinya, lalu bergerak keluar menyusul Genta


dan Davin yang sudah siap.


“Kita jemput Mahira dulu ya Kak…” Kata Davin.


“Ya sudah, ayo”


Mobil meluncur menuju kawasan perumahan elit di


Kota Batu, tempat tinggal Omar Ramazan. Setelah mendapat ijin dari orang tua


Mahira untuk membawanya menyiapkan baju pengantin, mereka berenam pun meluncur


menuju gedung perancang busana terkenal di Kota Malang yang sudah menjadi


langganan bagi para pengusaha di Malang ini.


Ginara terdiam sejenak, menatap dirinya di dalam


balutan kebaya putih di hadapan cermin. Detak jantungnya berdebar lebih cepat,


“benarkah aku akan menikah” Gumamnya pelan dengan bibir yang tersenyum.


“Gi…kau sudah siap keluar belum?” Seru Dina di luar


ruang ganti.


“Iya” Sahutnya.


Perlahan ia keluar menuju dimana Dina dan Mahira


berada lengkap dengan gaun yang sudah mereka kenakan. Mereka bertiga saling


terpukau dengan penampilan masing-masing.


“Ma syaa Allah, Kak Gi cantik sekali” Puji Mahira.


Dina mengangguk setuju.


“Benar Gi, kau cantik sekali.”


“Ah, kalian juga sama cantiknya”


“Ya kali, kita kan tiga dara mencari suami…” Kata


“Boleh difotokan nggak?” Pinta Ginara.


“Buat apa Gi? Apa mau kau kirim ke Aldy?” Tebak


Dina. Ginara tersenyum malu.


“Ish, hanya meminta pendapatnya saja” Elaknya


pelan.


“Sini-sini, pose yang cantik” Dina meraih hp Ginara


kemudian membidiknya dengan sekali jepretan.


“Dah..kirim sono, biar dag dig dug sekalian haha”


Tawa Dina di iringi Mahira.


Ginara mengetik di hpnya seraya menyertakan foto


dirinya. “Bagaimana pendapatmu?” Tulisnya singkat di bawah foto dirinya.


Beberapa menit sudah berlalu, mereka juga sudah


berganti pakaian dan bersiap untuk pulang. Genta dan Davin hanya pasrah akan


baju mereka, yang pasti mereka akan cocok kalau pengantinnya cocok.


“Mengapa belum ada balasan? Gumamnya dengan sedikit


menghela nafas.


“Apa kata Aldy? Tanya Dina tidak sabar. Gadis itu


menggeleng sedih.


“Belum ada jawaban” Jawabnya sendu.


“Sabar Kak, pasti sebentar lagi telpon” Hibur


Mahira seraya mengelus punggung tangan Ginara. Dan benar saja, sebentar


kenudian.

__ADS_1


Drrrt drrrtt


Ginara langsung menggeser tombol video di layar


hpnya, muncul wajah pemuda yang dirindukan beberapa hari ini.


“Wah baru sekali dering langsung diangkat saja, gak


sabaran ya pingin lihat wajahku” Goda Aldy sambil tersenyum. Ginara hanya mendengus


disambut tawa kedua gadis di sebelahnya.


“Sudah tahu juga” Balasnya cemberut.


“Nara…” Peringatan Aldy membuat Ginara menarik


kembali bibirnya.


“Kau sudah baca pesanku?” Tanyanya kemudian.


“Tentulah, makanya aku langsung menghubungimu.”


“Kau suka?” Tanyanya dengan mata berharap.


Aldy terdiam sejenak dengan gaya berpikir.


“Aku bisa ganti modelnya kalau kau gak suka” Kata


Ginara lesu.


“Sangat suka” Balas Aldy cepat membuat mata Ginara


berbinar cerah, ia tersenyum.


“Bahkan aku sampai ingin kembali ke Indonesia


sekarang juga” Lanjut Aldy.


“Jangan bercanda, tempatmu bukan di Surabaya ya”


Aldy tergelak.


“Oya, kau sama siapa saja?” Tanya Aldy. Ginara


menggeser hpnya ke arah Dina, gadis itu melambai, sementara Mahira menolak


untuk di diperlihatkan di hp.


“Hanya sama Dina?” Tanya Aldy cemas.


“Tidak, ada Mahira cantin Davin, sama Davin dan


Abang Genta juga kok.” Aldy menghela nafas lega.


“Baguslah…” Sejenak mereka terdiam, hanya pandangan


mereka yang tak mau lepas.


“Jangan khawatir, aku besok sudah pulang, aku akan


percepat selesaikan urusan di sini” Kata Aldy menghibur Ginara yang tampak


mulai sendu wajahnya.


“Hmmm, jaga kesehatanmu di sana, jangan sampai


telat makan…”


“Oke sweety, baiklah, aku harus segera kembali ke


ruang rapat, tunggu aku, love you…” Aldy menempelkan dua jarinya ke layar hp,


Ginara tersenyum lembut.


“Love you to Bee” Aldy membelalak kemudian


tersenyum senang.


“Pertahankan itu…” Katanya disambut anggukan gadis


itu kemudian layar menghitam.


Dina merangkul pundak sahabatnya


“Sudah jangan sedih, Aldy pasti baik-baik saja di


sana”


Ginara mengangguk dan mengantarkan Mahira dan Dina


kembali sebelum pulang ke rumah.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2