
Assalamu'alaikum
Jumpa lagi nih....
Semoga terhibur yaaaa
Selamat membaca readers
Manusia tidak ada daya dan upaya selain kuasa Allah
Yang Maha Kuasa yang berhak menggerakkan segala hal yang dikehendaki-Nya.
Begitupun bagi seorang Ginara, hari-harinya hanya diisi rutinitas di dalam
ruangannya dengan meracik obat-obat yang siap untuk diambil oleh pemiliknya.
Butuh konsentrasi dan ketelitian tinggi, karena apabila ada kesalahan resep
satu saja, maka akibatnya akan sangat fatal. Bisa-bisa akan muncul konflik malpraktiksehingga
segalau apapun hatinya saat ini, ia harus bisa fokus dalam meneliti nama dan
obat apa yang tertera dalam resep itu.
Ginara mencurahkan segala keluh kesahnya pada Dzat
yang Maha membolak-balik hati manusia. Malam ini dia menjalankan ibadah sholat
malam agar hatinya lebih tenang dan damai. Setelah itu ia mencoba untuk memejamkan
matanya kembali.
Sampai malam ini, belum ada satupun yang saling
memberi kabar antara keduanya. Ginara tidak tahu kapan Aldy punya waktu luang,
jadi dia tidak berani menghubungi terlebih dahulu. Sudah tiga hari sejak
kepergian Aldy ke Inggris, namun ia masih mencoba untuk menahan dan membatasi
diri untuk tidak menanyakan kabar Aldy.
Dering telepon mengagetkan aktifitas melamun
Ginara, gadis itu segera menggeser tombol video begitu tahu nama si penelepon.
Muncullah di layarnya wajah yang selama tiga hari ini selalu menghantuinya,
namun sedetik kemudian air mata lolos dari kedua matanya.
“Hei, sayang…kenapa malah menangis…” Perubahan
wajah Aldy langsung sendu begitu melihat air mata itu, hatinya sakit
menyaksikan wajah itu. Ingin sekali ia terbang ke Indonesia dan menenangkan
gadisnya. Andai itu bisa.
“Kamu jahat” Lirih Ginara pelan.
“Iya, maaf…aku benar-benar tidak ada waktu untuk
mengabarimu, aku berusaha menyelesaikannya secepat mungkin agar bisa segera
pulang”
Ginara cemberut sambil menghapus air matanya.
“Kembalikan bibirnya sweety” Aldy menggeram kesal,
karena ia tidak bisa melakukan hal lainnya. Namun gadis itu semakin memajukan
bibirnya lebih ke arah menggoda tepatnya.
“Sweety, kamu mau aku terbang saat ini juga? Akan
aku lakukan” Kata Aldy frustasi. Gadis itu akhirnya perlahan mengkondisikan
bibirnya ke bentuk semula kemudian tersenyum sendu. Aldy menyentuh wajah Ginara
__ADS_1
di layar seolah menghapus sisa lelehan air mata gadis itu.
“Sabar ya, gak sampai lima hari aku sudah ada
bersamamu” Janjinya dengan di balas anggukan gadis itu.
“Masih lama” Rengeknya manja. Hei Gi, kemana jaim,
cuek, dingin mu itu. Siapa kamu Gi. Entahlah, saat berhadapan dengan Aldy
rasanya semua hal bertentangan dengan dirinya. Aldy tersenyum senang.
“Sudah kangen ya…” Ginara mengangguk.
“Pakai banget”
“Jangan menggodaku sweety, aku bisa saja dalam
waktu dua jam sampai di tempatmu, dan…”
“Buktikan” Kata Ginara tidak perduli. Aldy mengacak
rambutnya semakin frustasi.
“Sweety…, please”
“Pokoknya setelah urusanmu selesai kau harus cepat
kembali” Pinta Ginara yang justru seperti perintah bagi Aldy. Mendengar kalimat
Ginara membuat Aldy begitu gemas, ingin sekali ia merengkuh tubuh gadis it uke
dalam dekapannya.
“Nanti aku akan bicara pada ke dua orang tuaku”
Ucapnya tanpa menjawab kalimat Ginara. Gadis itu menaikkan alisnya heran.
“Bicara apa?” Tanyanya kemudian.
“Hmmm, aku ingin membicarakan kapan waktu
pernikahan kita…” Jelasnya. Ginara terdiam namun segera tersenyum.
bercanda ya? Jangan memikirkan yang lain dulu, segera selesaikan urusanmu dan
cepat kembali, itu sudah cukup”
“Kamu tidak ingin menikah denganku?”
“Aldy…jangan mulai ya…”
“Hmmm, aku usahakan tidak sampai tiga hari, kamu
tunggu ya, setelah sampai kita langsung menikah” Ginara mendelik terkejut.
“Kau terlihat tidak sabaran banget sih” Seru Ginara
tertawa.
“Sangat tidak sabar” Sahut Aldy serius tanpa
tertawa, membuat tawa Ginara langsung memudar.
“Kau menakutkan Al” Aldy tersenyum lembut membuat
hati Ginara berdenyut.
“Kau mau kan?” Tanya Aldy kemudian.
“Mau apa?” Ginara mengernyit heran, terdengar
******* napas Aldy yang frustasi.
“Sayang, kita baru saja membicarakannya lho…”
Jawabnya kesal.
“Banyak yang kita bicarakan Al, aku tidak mungkin
__ADS_1
mengulang satu persatu” Rajuk Ginara. Pemuda itu menghela nafas dan terlihat
sangat kesal.
“Kita akan menikah setelah aku kembali, apa kau
siap?” Ginara terdiam cukup lama sambil menatap sorot mata Aldy.
“Ehmmm, bagai…” Belum selesai ngomong sudah
langsung di potong oleh suara Aldy.
“Aku sungguh tidak ingin mendengar penolakan”
Katanya cepat dan tegas.
“Baiklah” Jawab Ginara seraya mengerucutkan
bibirnya, membuat mata Aldy melebar.
“Kau serius Nara?” Panggilan nama bagi Ginara malah
membuat gadis itu takut kalau Aldy tidak mempercayainya.
“Tentu Aldy sayang, aku tidak akan bercanda dalam
hal yang sakral seperti ini” Aldy semakin membelalak.
“Coba ulangi…” Desaknya. Ginara mengernyit lagi.
“Apa?”
“Yang barusan”
“Nggak ada, aku sudah lupa”
“Sweety….”
“Aldy sayang?” Aldy tertawa senang.
“Pertahankan panggilan itu” Perintahnya tegas.
Ginara mendengus malu.
“Baiklah, kamu bicarakan sama ke dua orang tuamu ya
perihal kita, jadi yang pasti begitu aku kembali, kita akan menikah”
“Hemmm, aku tutup ya, besok harus bangun pagi
sekali”
“Baiklah, tidurlah, jangan berpikir apa-apa, aku
akan cepat pulang” Ginara mengangguk, namun tidak ada dari mereka yang mau
menutup layarnya masing-masing.
“Tidurlah, aku akan menemanimu sampai kau tidur”
Ginara merebahkan dirinya menghadap ke samping dan meletakkan hpnya sejajar
dengan wajahnya dengan di sandarkan pada guling. Tidak ada pembicaraan, hanya
mata mereka saling menatap kuat untuk menyalurkan perasaan rindu mereka. Banyak
yang ingin mereka bicarakan, tapi tidak ada satupun yang sanggup untuk
mengutarakannya. Sampai akhirnya Ginara benar-benar terpejam karena terlelap.
Aldy mengusap wajah Ginara di layar, akhirnya setelah sekian lama ia tahan,
tetesan air itu turun juga.
“Aku juga sangat rindu my sweety, tunggulah, aku
akan segera datang padamu, love you” Dua jarinya di tempelkan pada layar tepat
pada bibir gadis itu, kemudian ia menutup panggilan.
__ADS_1
*****
To Be Continued