
Di rumah, Nyonya Sari menemani Dimas makan. Kali ini hidangan yang tersedia di meja lebih banyak dari kemarin. Nyonya Sari ingin tahu apa yang dilakukan Dimas di perusahaan.
Terlihat Dimas mulai kesal, Tapi ia tetap bersikap manis dan berkata tidak ada yang ia lakukan di kantor.
"Ayahmu bilang kau ikut dalam meeting" ujar Nyonya Sari.
"Aku tidak melakukan apa- apa. Aku hanya melihat lihat" jawab Dimas sembari menumpahkan air minum ke mangkuk nasinya.
Nyonya Sari senang, "Sama saja..Kau duduk di mana?Tepat di sampingnya? Atau di samping orang yang ada di sampingya?".
Dimas diam, makan nasinya tanpa lauk. Ibunya Heran kenapa Dimas makan nasi dengan air, ada banyak lauk yang bisa di makan.
"Aku ingin makan dengan cepat karena aku tidak mau mendengarkan Ibu" jawab Dimas pelan.
"Anak ini!", tegur Nyonya Sari. "Baiklah, Ibu akan bertanya padamu dengan cepat.. Meeting apa itu? Apakah Ayahmu menyuruhmu melakukan sesuatu? Apakah dia meminta pendapatmu? Siapa yang ada di sana? Apakah kakakmu ada di sana? Di mana dia duduk?" tanya Ibunya memberondong banyak pertanyaan dengan cepat, dalam satu tarikan napas.
Dimas sangat kesal, meletakan sendok dengan keras ke meja. Kehilangan selera makan, lalu pergi tanpa menyelesaikan makannya.
"Kau mau kemana" tanya Nyonya Sari Tapi ia tak memperdulikan kemarahan anaknya. Nyonya Sari mengepalkan tangan, "Yes" Merasa ini adalah peluang baru untuknya.
***
Di lain sisi Dewi dan ibunya menjemur berlembar-lembar sprei di halaman. Astuti menyuruh Dewi menjemur sendiri sisa sprei, ia akan masuk ke dalam memeriksa sup. Dewi mengangguk dan menyelesikan sisanya.
Dimas lewat di halaman. Melihat kaki Dewi dan sosok bayanganya yang tertutupi jemuran sprei.
Dewi merenggangkan badan setelah menjemur semua sprei. Mendongak ke atas melihat matahari yang bersinar terik. "Cuacanya sangat bagus, sepertinya meledekku.. Orang kaya baru pada siang hari, Pelayan pada malam hari. Mana ada hidup sejomplang itu?".
Dewi duduk di kursi, Merebahkan kepalanya dan tidur. Rasa lelah membuatnya bisa tidur di mana saja Tanpa menyadari ada Dimas berdiri di balik jemuran mendengarkan semua yang dia katakan barusan.
Dimas duduk di depan Dewi Memandang Dewi yang sedang tertidur dengan tatapan lembut dan dalam.
Dimas melihat plester di tangan Dewi yang terbuka. Ia berdiri di depan Dewi merekatkan plester itu kembali.
Dewi bicara dalam tidurnya, "Ibu, lima menit lagi.. Aku ingin tidur sebentar sebelum pergi kerja".
Dimas menatap miris, memandang wajah Dewi dan tangannya yang di balut plester. Bisa dibayangkan bagaimana kerja keras Dewi.
Beberapa saat kemudian. Dewi terbangun dan panik melihat jam di ponselnya. Dewi menarik napas lega, "Ya ampun, kukira sudah telat".
__ADS_1
Dewi melihat Kotak musik di atas kursi dekat tempat duduk yang berada di depannya, menyadari Dimas tadi ada disekitarnya.
Sementara itu Dimas tidur di ranjangnya, dengan pandangan kosong dan melamun. Terlihat sedih dan kesepian.
Beralih ke Veni, Saat ini dia berada di hotel tempat Sandi menginap. Veni jalan sembari mengecek ponselnya, seperti mengharapkan seseorang menelpon.
Veni menutup ponselnya dan ingat kejadian saat berciuman dengan Rudi. Veni tersenyum, lalu membuang pikiran itu jauh-jauh.
Ponsel Veni berdering menerima panggilan masuk dari nomor tidak di kenal. Senyum tersenyum, "Akhirnya kau menelpon juga" gumamnya mengira panggilan itu dari Rudi. Ia hendak menjawabnya, tapi tidak jadi karena tepat pada saat itu Veni melihat Rudi berada di depannya sedang bicara dengan pegawai hotel. Berarti panggilan itu bukan dari Rudi. Veni menjadi kesal, menutup kembali ponselnya.
Rudi berbalik dan melihat Veni lalu jalan mendekati Veni yang cemberut. Rudi berkata kita sering bertemu.
Veni menyahut itu karena Rudi sering ke hotel ini. Ia dengar Sandi menginap di hotel ini.
"Dan kau sering datang ke hotel ini", sambung Rudi.
"Jangan sarkastik begitu..Sebuah ciuman tidak memberimu hak berkata begitu" ucap Veni.
Rudi ingin pergi Tapi Veni mencegah "Kenapa kau tidak menelponku setelah kejadian itu?".
Rudi balik tanya "Kenapa bukan kau yang duluan menelpon?".
"Tidak sulit dicari bagi seorang Presdir RS International mencari tahu nomor teleponku" balas Rudi.
"Tepat! Alasan apa yang harus aku katakan untuk mendapatkan nomor seorang sekretaris?" balas juga Veni.
(Intinya mereka saling gengsi)
"Kalau begitu semoga beruntung..Semakin orang putus asa semakin mudah menemukan alasan" ucap Rudi tersenyum lalu pergi.
Rumah dalam keadaan gelap saat Rudi pulang. dia menenteng belanjaan yang ia beli di supermarket. Beginilah menjadi single parent, belanja sendiri dan tidak ada yang menyambut kepulangannya. Rudi Kemudian melepas dasinya, sedikit tersenyum ingat pertemuannya dengan Veni tadi.
***
Di Sekolah Dimas.. Dewi berada di ruangan guru menanyakan tentang beasiswa, ia ingin tahu apa dengan nilai bagus saja sudah cukup mendapatkan beasiswa.
"Kau pikir anak-anak di sini hanya menghabiskan uang dan bersenang-senang? Mereka sudah mempersiapkan untuk Universitas dengan tutor guru pribadi. Apakah kau yakin bisa bersaing dengan itu?" tanya Guru balik.
Guru memberikan Dewi formulir pembayaran, menyuruhnya untuk membayar biaya sekolah akhir minggu ini. Dewi mengira ia di bebaskan dari semua biaya sekolah. Guru berkata itu bukan bayaran uang sekolah, tapi biaya mata pelajaran tambahan yang dipilih Dewi.
__ADS_1
"Kalau kau dibebaskan dari ini juga, maka tidak ada alasan bagi orang-orang itu memindahkanmu dari sekolah. Tenis, Golf, Tenis, golf, dan menunggang kuda. Salah satunya adalah wajib. Persiapkan kelengkapan dan bajunya segera".
Dewi melihat formulir pembayaran itu. "Kelas khusus semester 1 \= 5jt".
Guru menambahkan lalu sampai kapan Dewi memakai pakaian kasual ke sekolah. Dengan kata lain guru menyuruh Dewi untuk segera memakai seragam.
Dewi lalu keluar dari ruang guru dengan memandangi formulir bayaran itu. Saat melewati mading, ia melihat sesuatu yang menarik. Pengumuman perekrutan Produser klub penyiaran. Pria atau wanita dengan keuntungan sedikit uang beasiswa. Dewi tertarik, lalu mencatat nomor ponsel Dani.
Tak perlu menunggu, saat itu juga Dewi menemui Dani di studio penyiaran. Dengan mata berbinar-binar Dewi berkata, "Aku tahu bahwa kau memiliki banyak pelamar..Aku tahu bahwa anak-anak di sini mempersiapkan untuk Ke universitas dengan tutor. Tapi aku hanya ingin tahu Apakah beasiswa dibayar dimuka atau setelah itu?".
"Memangnya..kenapa?" tanya Dani.
"Aku butuh uang untuk membeli seragam" jawab Dewi jujur.
Dani tersenyum, "Kau butuh berapa? Kau ingin masuk klub penyiaran karena uang beasiswa?".
Dewi tertawa, "Aku juga punya minat untuk ...".
Dani memotong, "Anggap saja kalau iya beda dari rumor yang aku dengar. Kau sungguh tidak punya uang untuk beli seragam? Aku kira kau orang kaya baru?".
Dewi berdalih baru saja membeli tas baru dan kelewat boros. Dani tanya, "Dan kau ingin aku untuk menerimamu setelah mendengar itu?".
Dewi menyakinkan Dani dengan bilang bahwa ia baik dalam melakukan semua hal kecuali boros.
"Bagaimana aku bisa tahu itu?".
"Karena aku tahu orang seperti apa dirimu, sungguh" puji Dewi setinggi langit.
"Wah..wah" komentar Dani.
"Kamu orang yang benar-benar baik.. Baik dan lembut", tambah Dewi, "Apakah kakak akan memberi aku kesempatan untuk tes?".
Dani tersenyum Pertanda baik kah?.
Dewi jalan di koridor loker, minum air sambil melihat from pendaftaran yang diberikan Dani. Terdengar suara keras di tengah loker, dan di depannya para siswa bergerombol menyaksikan sesuatu.
Dewi masuk ke tengah lingkaran, ingin melihat apa yang terjadi. Alangkah terkejutnya dia begitu melihat Rendi dan kedua temannya sedang membully siswa.
Rendi mendorong siswa berkali-kali, membuat laki laki itu terus-terusan menabrak loker yang ada di belakangnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...