
Hari ini aku merasa sedikit lega, karna aku sudah memberikan buku harian lyra pada kak stella. Semoga saja dengan adanya buku itu lyra bisa cepat di temukan. Aku tidak pernah lagi pergi ke kantor polisi karna aku yakin jawaban mereka akan tetap sama. Aku jadi curiga ada yang membayar mereka. Tapi apa untungnya juga yah berurusan dengan keluarga seperti kami.
Satu hal yang baik sejak lyra pergi adalah keuangan kami cukup baik dari hasil penjualan kue. Meskipun kadang aku dan ibu membuat kue itu sambil menangis mengingat lyra. Tapi kami harus tetap bekerja untuk biaya hidup apalagi kini ayah jarang pulang dan bahkan dia tidak peduli pada tugas dan tanggung jawabnya pada aku dan ibu.
Selesai menyiapkan sarapan aku dan ibu menonton tv. Ya kini kami punya tv aku membelinya setelah sebulan sejak adikku hilang. Aku berharap suatu saat dia masuk tv dan telah di temukan tapi alasan sebenarnya adalah biar saat aku keluar rumah ibu tidak kesepian. Asal kalian tahu saja ibu memang jarang menangis di depanku tapi aku tahu tiap malam dia menangis.
"tok tok tok permisi", kata seseorang.
" eh ibu ada tamu biar aku lihat dulu",kataku.
"baiklah nak hati-hati, semoga saja kabar baik", kata ibu.
Akupun bergegas membuka pintu dan aku terkejut karna yang datang adalah sahabatku sasya.
" ya ampun sya aku kangen banget sama kamu",kataku refleks memeluknya.
"aku juga kangen tahu makannya aku datang", katanya seraya membalas pelukanku.
Aku pun mempersilahkan dia masuk. Lalu aku membuatkan teh hangat dan menyuguhkannya dengan kue buatan ku dan ibu. Kebetulan kami membuat kue yang lebih tadi.
__ADS_1
" wah kue itu kelihatannya lezat",katanya bersemangat.
"tentu saja kue buatan ibuku juara", kataku.
" ohya mana ibumu?",katanya
"dia ada kok di dalam sedang nonton tunggu ya ku panggilkan", kataku
Aku pun masuk ke kamar mencari ibu dan ternyata ibu sudah tertidur. Lalu ku matikan tv dan kembali menemui sasya. Ya tvnya sengaja ku taruh di kamar ibu biar ibu bisa menonton kapan saja. Apalagi dia pasti kesepian juga tanpa ayah.
" maaf ya sya ibuku ketiduran",kataku
Kami pun banyak berbincang tentang kehidupan kami setelah kami lama tidak bertemu. Sejujurnya aku merindukan kampus ku tapi aku masih harus mencari lyra. Aku tidak mau fokusku terpecahkan apalagi aku masih harus mengurus ibu.
Sasya pun menanyakan soal kasus adikku. Ya aku memang memberitahunya bahkan kami selalu berkomunikasi lewat hp. Tapi baru kali ini kami bertemu. Sasya turut prihatin tapi entah kenapa aku merasa sasya tidak benar-benar tulus mengkhawatirkan ku. Ya Tuhan bagaimana bisa aku meragukan sahabatku sendiri.
" anne apa kau dan keluargamu punya musuh?",kata sasya.
"setahuku tidak sya apalagi kami bukan orang berada bagaimana mungkin punya musuh", kataku meyakinkannya.
__ADS_1
" ya mungkin kau benar tapi bisa saja kan ayahmu atau ibumu punya masalah dengan seseorang di masa lalu dan kau tidak tahu itu",katanya.
"entahlah menurutku tidak seperti ini", kataku.
" ya semoga saja karna kau tahu tidak semua orang baik dan mau memaafkan kesalahan dengan begitu mudah",katanya.
Entah kenapa saat sasya mengatakan hal itu matanya memancarkan kebencian dan dendam. Persis seperti ray saat menatapku dulu. Ada apa dengan sasya?semoga saja dia tidak kenapa-napa. Aku ingin bertanya tapi aku ragu dan aku takut dia tersinggung.
Tidak lama kemudian dia pamit. Dan dia mengatakan padaku semoga aku baik-baik saja dan semoga aku kuat. Dia mengatakannya sambil tersenyum sinis, bahkan sempat kulihat dia membersihkan tangan dengan antiseptik saat mau naik ke mobilnya. seolah-olah dia jijik karna bersentuhan denganku. Aku sangat sedih sepertinya sasya telah berubah. Ya dan aku hanya mempersiapkan hati untuk kehilangan orang terdekatku untuk kesekian kalinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
apakah sasya ada hubungannya dengan kasus hilangnya lyra?