Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Syarat Untuk Shifa


__ADS_3

**Untuk yang masih di bawah umur, bisa di skip saja ya.🙏🏻


Soalnya Chapter kali ini, khusus untuk orang dewasa...😊


Maafkan othor ya, untuk para pembaca setiaku**....😆🙏🏻.


.


.


.


Rey ngomel-ngomel sepanjang perjalanan. Ia kesal karena istrinya pulang terlebih dahulu tanpa menghampirinya yang menunggu di dalam mobilnya.


"Ish.. Di tungguin malah nggak datang-datang sih. Apa dia sudah pulang? Kenapa dia malah acuh padaku? Dan tak kunjung menghampiri aku tadi saat masih di parkiran." monolog Rey pelan.


Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, hingga sampai di rumah mertuanya. Ia mengucapkan salam sambil berlari kecil menuju ke kamar mereka berdua.


Rey membuka pintu kamarnya, dan disanalah istri tercintanya sedang asyik duduk sambil membaca novel. Bukan tanpa alasan Shifa melakukan hal seperti itu, ia hanya ingin lebih rileks dan berharap dapat melupakan masalah yang menimpanya tadi di restoran.


Shifa menyadari kedatangan suaminya, ia berusaha untuk menyapa suaminya. Meski sebenarnya ia masih kesal pada pria itu.


"Kamu sudah pulang, mas?" sapa Shifa tanpa menoleh ke arah Rey.


Tanpa banyak ucapan Rey menghampiri istrinya, dengan berbagai pertanyaan telah tersusun dalam benaknya. Dengan nada emosi Rey, mencecar pertanyaan pada wanita cantik di hadapannya.


"Kenapa tadi kamu pulang dan meninggalkan aku di resto?" tanya Rey dengan nada dingin dan marah.


Shifa tidak takut dengan ucapan suaminya, ia mencoba untuk lebih tenang agar ia tidak terpancing ammarah pada pria dingin di hadapannya. Ia menjawab pertanyaan suaminya dengan nada santai, namun menohok di hati suaminya.


Sebelum Shifa menjawab pertanyaan Rey, ia menarik nafas panjang lalu di hembuskannya secara perlahan. Ia berharap dirinya akan tenang dan tidak terbawa emosi dengan pria dingin di depannya.


"Loh... Bukannya kamu sendiri yang meninggalkan aku disana, mas? Ya, aku pulang saja lah. Ngapain aku harus menunggu kamu berbaik hati padaku serta menghampiri aku lagi. Itu semua rasanya mustahil bagiku, mas!" balas Shifa santai namun menohok hati Rey.


"Apa maksud kamu, sayang?"


"Maksud aku, ngapain juga aku berharap kamu akan berbaik hati padaku. Sedangkan aku tahu, kamu sedang di landa rasa cemburu yang amat dalam. Mana mungkin penjelasan dariku akan kamu dengar. Semua itu percuma, mas. Makanya aku pulang terlebih dahulu, berharap setelah kamu pulang ke rumah, kamu tidak akan marah padaku lagi." jelas Shifa panjang lebar.


Rey membulatkan kedua bola matanya, ia sungguh tidak percaya istrinya berani berkata seperti itu kepadanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu yang jadi marah padaku! Bukannya tadi kamu senang setelah menyapa mantan kamu yang gagal move on, itu.." dengus Rey kesal.


"Jangan begitu lah mas. Tadinya aku ingin minta maaf padamu dengan baik-baik, tapi kamu keburu ngambek. Makanya aku mencoba untuk bersikap lebih tenang. Tolong maafkan aku ya mas. Plese..." ucap Shifa sambil merapatkan kedua tangannya di dada.


Shifa berharap besar sang suami akan memberinya maaf, ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Shifa juga telah menjelaskan pada sang suami, jika di hatinya sudah tidak ada lagi rasa cinta lagi untuk laki-laki lain. Apalagi untuk Erka, laki-laki yang pernah mengkhianatinya.


Rey juga tahu hal itu sedari dulu, tapi di hatinya hanya ingin mengerjai Shifa. Ia hanya ingin Shifa benar-benar menyadari kesalahan dirinya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Rey masih dengan mode ngambeknya menjawab ucapan istrinya.


"Tidak ada kata maaf semudah itu, sayang!" ucapnya tegas.


Kini gantian Shifa yang membulatkan kedua matanya, ia mulai kesal dengan sikap suaminya. Shifa hanya ingin meminta maaf, tapi Rey malah berkata dengan nada yang kurang mengenakan hatinya.


"Ayo lah, mas. Aku mohon, tolong maafkan aku. Aku akui tadi aku memang salah padamu. Tapi kamu jangan seenaknya juga berkata seperti itu padaku!"


"Em.. Baik aku akan memaafkan dirimu, tapi ada syarat yang harus kamu penuhi!" balas Rey serius.


"Syarat apalagi sih, mas?" tanya Shifa penasaran.


Rey membisikan apa yang harus di setujui oleh istrinya sebagai syarat agar Rey beneran memaafkan dirinya, atas kesalahan yang telah di perbuatnya. Begitu Shifa mendengar apa yang di bisikan oleh suaminya, ia sangat terkejut.


"Apa?!" ucap Shifa kaget, ia sampai terlonjak dari tempat duduknya.


Shifa tidak mau suaminya terus marah padanya, ia hanya ingin sang suami memaafkannya dengan tulus tanpa adanya perdebatan lagi.


"Aku harus baik-baikin mas Rey. Aku tidak mau, ia marah padaku terus-terusan. Aku akan mengabulkan syarat darinya! Yang pertama aku sih tidak keberatan. Tapi yang kedua, aku harus bagaimana?" monolog Shifa dalam hatinya.


Rey memperhatikan istrinya yang masih saja terdiam sedari tadi, meski menurutnya permintaannya tidaklah berat. Tapi entahlah... Apakah istrinya akan mengabulkannya atau tidak.


"Bagaimana? Kamu setuju atau tidak? Kenapa malah diam?" cecar Rey penasaran.


"Ah... Iya, aku sih tidak keberatan dengan syarat yang pertama. Tapi yang kedua.. Aku harus minta izin dulu pada papa, ya mas.." ucap Shifa penuh harap.


"Yes... Aku berhasil. Shifa setuju dengan syarat dariku. Meski itu baru yang pertama, aku akan meminta izin pada papa Jho terlebih dahulu. Semoga papa Jho memberi izin pada kami berdua." Arka membatin dalam hatinya.


Mendengar jawaban yang keluar dari mulut istrinya, Rey tersenyum puas dalam hatinya. Meski ia masih belum menunjukannya pada istrinya, ia masih betah dalam mode pura-pura ngambek.


"Terserah kamu. Yang jelas kamu tidak boleh gagal! Bujuk papa Jho sampai kita berhasil pergi!" ucap Rey penuh penekanan.


"Iya mas, aku akan berusaha membujuk papa. Semoga saja papa mengizinkan kita berdua untuk pergi."

__ADS_1


"Harus donk. Itu pun jika kamu beneran mau di maafkan, olehku!"


"Iya.. Iya.. Aku akan berusaha. Kamu tenang saja, mas."


Setelah mendengar pernyataan dari istri tercintanya, Rey mendekati istri tercintanya. Ia mulai menciumi leher jenjang istrinya. Kini gairahnya sudah memuncak, Rey tidak mungkin dapat menahannya lagi.


"Sayang.. Ayo, kita lakukan sekarang juga. Aku tidak tahan lagi. Soal syarat yang kedua, kita bahas nanti setelah kita menuntaskan hal ini." bisik Rey tepat di telinga istrinya.


Setelah Shifa menganggukan kepalanya, Rey mulai menjalankan aktifitas di atas ranjangnya. Shifa mendesah begitu pun dengan Rey, ia sangat menikmati cumbu mesranya dengan sang istri, begitu pun sebaliknya.


Birahi pasangan suami istri tersebut sama-sama pada puncaknya, mereka merasakan kenikmatan hakiki, sebagai pasangan suami istri yang sangat bahagia.


Hingga sore menjelang malam ini, Rey dan Shifa telah menuntaskan permainan panas di atas ranjang. Rey kini merasa lebih baik dari tadi sore, menurutnya Shifa adalah candunya.


Mereka berdua hanya menutupi tubuh mereka yang masih polos dengan selimut. Rey memcium istrinya dengan mesra sambil membisikan kata-kata manis tepat di telinga istrinya.


"Tetaplah berada di sisiku, sayang. Meski aku kadang marah padamu, tapi itu semua aku lakukan karena aku cinta dan sayang kepadamu. Aku hanya tidak mau kamu akan pergi meninggalkan diriku, aku tidak bisa hidup tanpamu, sayang.!" bisik Rey.


"Iya mas.. Aku pun sebaliknya. Aku sungguh-sungguh minta maaf padamu ya, mas. Harusnya aku tidak melakukan hal seperti itu tadi, hal yang membuatmu marah kepadaku!" balas Shifa tulus.


"Baiklah sayang. Aku sudah memaafkanmu, tapi kamu harus janji padaku. Kamu jangan mengulangi hal seprti tadi lagi ya!"


"Iya mas.. Aku janji!" balas Shifa sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


Mereka berdua berpelukan hangat. Menurut Rey, Shifa adalah wanita yang dapat membuatnya cemburu, juga wanita yang dapat memberi kepuasan untuknya. Rey berjanji akan menyayangi serta menjaga istrinya dengan segepap jiwa raga, meski terkadang cobaan hidup datang silih berganti. Rey berharap jika mereka berdua akan mampu untuk mengatasi cobaan dalam rumah tangga mereka berdua.


.


.


Bersambung...


.


.


**Jangan lupa dukungan untuk karya author ya....


Terima kasih banyak yang sudah memberi dukungan...🙏🏻**.

__ADS_1


__ADS_2