Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Episode 40


__ADS_3

Setelah Dewi pergi Dimas menarik napas, mengambil ponselnya lalu menghubungi Steven. Ia mengajak Steven bertemu dengannya sepulang sekolah.


Dimas menemui Steven di studio milik Aldi. Markas tempat Rendi dan Aldi berkumpul. Dimas yang sedikit heran tanya tempat apa ini.


"Studio, alias tempat nongkrong Aldi" jelas Steven. Dimas tak pernah tahu Aldi bekerja di luar klub.


Dimas tanya apa yang sedang Steven lakukan dengan komputer didepannya . Steven menjelaskan kalau ia sedang memperbaiki komputer Aldi yang rusak.


"Kau ahli dalam bidang komputer?" Tanya Dimas.


"Lumayan" sahut Steven.


Setelah selesai memperbaiki, Steven heran kenapa Dimas ingin menemuinya.


"Apa kau tahu Dewi tinggal di rumahku?" tanya Dimas.


"Dewi juga tahu dia tinggal di rumahmu" jelas Steven.


Itu sebabnya, Dimas minta Steven jangan beritahukan orang lain fakta bahwa Dewi sekolah di SMA ini dengan beasiswa kesejahteraan, "Hubungan antara dia dan keluarga ku, dan hal-hal lain tentang identitasnya.


Steven menyinggung senyum, merasa tersinggung, "Apakah kau baru saja menyuruhku menutup mulut? Aku sudah menjadi temannya selama 10 tahun".


"Teman bisa saja menjadi musuh yang potensial. Karena kalian terlalu banyak tahu tentang satu sama lain..Itulah dunia yang aku alami" jelas Dimas.


"Steven?" Tias datang memanggil nama kekasihnya dengan riang. Dimas dan Steven langsung menoleh ke pemilik suara.


Saat melihat Dimas, Tias langsung berbalik pergi pura-pura menelpon.. Tias berfikir kalau pacarnya akan ribut dengan mantannya.


Dimas heran Dan Steven hanya tersenyum geli.


"Sepertinya Tias tidak bisa melupakan aku" ujar Dimas.


"Apakah orang menghindari truk sampah karena mereka tidak bisa melupakannya?" tanya Steven.


"Apa? Truk sampah?" sahut Dimas.


***

__ADS_1


Di lain sisi Dewi masuk ke kamar, lesu tanpa semangat. Ibunya mendekat, menyenggol bahu putrinya, bertanya dalam bahasa isyarat, "Bagaimana sekolahmu? Apakah semua siswa baik pada kamu? Bicaralah! Ibu ingin tahu".


Dewi mengajak ibunya pindah dari rumah itu, "Tak bisakah kau mendapatkan pinjaman? Tak bisakah ibu meminjam uang dari seseorang?".


"Keluar dari mana? Hentikan omong kosong itu dan fokus pada sekolahmu" bentak putrinya dalam bahasa isyarat.


"Aku tidak peduli tentang sekolah.. Ayo keluar dari dari ruangan kecil ini! Aku bisa mencari pekerjaan lagi, Kita bisa membayar uang sewa" desak Desak Dewi.


Astuti menyuruh Dewi jangan pernah berpikir tentang hal itu Dan jangan bermimpi tentang hal itu, "Aku sudah melakukan semuanya bahkan bekerja di restoran. Semuanya memecatku dalam waktu 3 bulan. Tidak ada yang akan menerima orang bisu sepertiku".


"Apakah salahku Ibu tidak bisa bicara?" tanya Dewi putus asa.


"Jadi apakah ini salahku?" tanya Astuti sedih.


"Ini tidak adil" Dewi menangis, "Kenapa kita harus hidup seperti ini tanpa masa depan? Ini membuatku gila".


Astuti termenung sedih. Orang tua lah yang paling merasa sedih jika melihat anaknya menderita.


Sedangkan Dimas mondar mandir di gudang wine, memutar-mutar ponselnya. Seperti ingin menghubungi seseorang. Tak lama ia mendengar, suara dari atas. Dimas langsung sembunyi di tempat kemarin, dibalik tembok.


Dewi masuk ke gudang wine membawa notebook, sembari menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya. Dewi duduk didekat tembok, menyalakan notebook. Di mesin pencari internet Dewi mengetik sesuatu,"Seragam Bekas SMA ". Tidak ada hasil penelusuran.


Dimas tak bersuara. Keduanya diam mendengarkan lagu dengan pikiran masing-masing


Kemudian Dimas berinisiatif mengirim SMS ke ponsel Dewi "Bisakah kita bertemu sebentar?".


Dewi membalas "Dimana kau?".


"Tepat disini" Dimas tiba-tiba muncul dari balik tembok mengangetkan Dewi.


"Ya Tuhan" seru Dewi meloncat mundur, terkejut setengah mati.


Dewi protes kenapa Dimas sembunyi, mengangetkan nya saja. Dimas bilang kalau dialah yang lambat menyadarinya, "Apa kau buta. . Kamu lihat kan! terang sekali di sana?" sambil menunjuk balik tembok tadi.


"Sudah berapa lama Kau di sana? Apakah kau pernah sembunyi di sini sebelumnya?" tanya Dewi.


"Kenapa bertanya? Tentu saja" jawab Dimas tertawa, Dewi penasaran.

__ADS_1


"Kenapa? Apakah kamu melakukan sesuatu yang kamu tidak harus lakukan di sini?" sahut Dimas balik tanya.


Dimas meraih tangan Dewi mendekatkannya ke mulut seperti ingin mencium.


Dewi terbelalak kaget "Apa yang kau lakukan?".


"Kau tidak merokok" ucap Dimas. (Hahaha). dikira mau nyium tangan Dewi sekalinya cuma mau mencium aroma tangan Dewi, sembari menggoda. "Apakah kau berbicara tentangku di belakangku?".


Dewi buru-buru menarik tangannya, "Lepaskan!".


Dimas minta Dewi makan siang bersamanya di sekolah besok. Dewi tanya apa Dimas tidak mendengarkan perkataannya di sekolah tadi, ia yakin akan baik-baik saja jika melakukan apa yang tadi ia bilang.


Kalau begitu, Dimas menyuruh Dewi kembali ke sekolah lamanya, atau berpura-pura lah menjadi orang kaya baru sampai lulus, dan tetap disampingnya tapi Dewi menolak.


"Terserah...Makan siang denganku besok" kata Dimas Dan Dewi pun diam.


Keesokan harinya Saat makan siang, Dewi mengambil makanan di buffet sendirian. Restoran dan buffetnya di set'up seperti hotel bintang 5. Hari ini Dewi masih mengenakan pakaian casual, dan memakai earphone di telinganya. Siswa lain memandanginya dengan pandangan aneh.


Dewi duduk di meja kosong dekat buffet. Saat mulai makan, siswa datang dan menyuruhnya untuk segera pindah. "Minggir.. Ini tempatku" Dewi melepas earphone, "Aku tidak melihat namamu tertulis di sini", lalu memasang kembali earphone nya.


Siswa itu tahu, Dewi tidak sedang mendengarkan musik. Dewi tak jadi memasang earphone dan tanya bagaimana siswa itu tahu. dia menyuruh Dewi mengecilkan suara bicaranya.


Menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat sekitar. Setelah dirasa aman Siswa itu berbicara, "Anak-anak berpikir bahwa kau adalah orang kaya baru..Tapi aku telah mendengar semuanya di kantor guru. Tentang pekerjaan Ibumu. Aku mengatakan ini hanya untuk berjaga- jaga. Jangan pernah mengungkapkan identitas kamu yang sebenarnya. Kau tidak akan menginginkan itu, menjadi sukarelawan untuk di kerjai".


"Hati Nurani? Tak seorangpun peduli tentang hati nurani mu. Semua yang mereka senangi adalah kau terus di bully. Satu-satunya hal yang menarik bagi mereka adalah penderitaan yang akan kamu alami. Hadapi itu. Walau aku sendiri tak bisa" lanjut penjelasan siswa korban bully itu.


Dewi mulai terpengaruh dan tanya apa maksudnya. Siswa tadi bilang ia akan segera pindah ke sekolah lain.


Rendi dan kedua temannya masuk ke kantin. Siswa itu yang mengetahuinya buru-buru mendorong Dewi untuk menjauhi dari meja-nya. Teman Rendi langsung mendudukkan siswa tadi dengan kasar.


Dewi memandang heran. Teman Rendi menegur Dewi, "Orang kaya baru! Apakah kau butuh sesuatu? Kau ingin makan bersama kami?" Rendi mengangkat tangan, "Aku tidak keberatan".


Dewi balik pergi, Teman-teman Rendi mulai mengerjai sasaran pembully'an. Mereka menyuruh siswa itu makan banyak, dengan melemparinya kacang dan kentang. ia makan, sambil menahan marah. Tak berdaya meski ia mencoba melawan. Kasihan...makan aja gak bisa tenang.


Dewi tak tahan melihat kelakuan nakal mereka, "Hei! Apa yang kau lakukan?", protes Dewi melihat ketidakadilan. Hatinya tergerak ingin membantu.


Dimas lalu muncul, langsung menarik Dewi pergi, "Aku sudah menyuruhmu, makan bersamaku". Dewi berontak minta di lepaskan. Dimas tetap menariknya pergi. Mata Rendi mengekor memperhatikan mereka.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2