Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Episode 50


__ADS_3

Dewi yang dari tadi tegang tampak lega setelah Rendi pergi, dan meredakan napasnya yang sedari tadi tercekat.


Steven bertanya apa Dewi dan Tias baik-baik saja, ia mengajak ke dua gadis itu untuk membereskan barang-barang mereka. Murid-murid lain mulai memasuki kelas.


Tias masih kesal pada Dewi. karena gara-gara Dewi ia harus mengalami hal ini seperti ini.


Steven memilih membantu memasukan barang-barang Dewi ke dalam tas, dan membiarkan Tias membereskan barangnya sendiri. Steven tersenyum sembari mengucapkan terima kasih pada Tias.


Tias mendelik marah, "Aku benci padamu".


Steven terdiam, mengetahui pacarnya sedang marah. Dewi yang merasa tidak enak hati menyuruh Steven meninggalkan dia sendiri dan membantu Tias saja. Tapi Steven tetap membantu Dewi dan wajah Tias semakin marah. Tias langsung pergi dari sana setelah membereskan barangnya.


Wajar jika Tias marah, karena Steven lebih memilih membantu wanita lain di banding dirinya, yang statusnya adalah pacar Steven.


Dewi duduk di bangkunya, ia semakin merasa malu, saat teman-teman sekelasnya mulai mengunjing tentang dirinya.


Sinta lari ke dalam kelasnya, "Hei! Berita besar.. Rendi membongkar semua isi tas si orang kaya baru! Rendi bertanya apa benar dia orang kaya".


Mendengar Orang kaya baru disebut membuat Kimi langsung menoleh ke arah Dimas. Dimas tampak marah dan tanya "Kapan?".


Sinta menjawab baru saja. Aldi yang duduk disebelah Dimas mengira Rendi tidak akan menganggu Dewi.


Dimas langsung berdiri ingin menemui Rendi karena kesal. Tapi terhalang karena tepat pada saat itu, guru bahasa inggris masuk ke kelas, dan memulai pelajaran. Dimas menghela napas kesal Dan Kembali duduk ke bangkunya.


Sepanjang jam pelajaran, Dimas sama sekali tidak kosentrasi. Tidak menyimak ataupun mendengarkan materi yang disampaikan guru. Ia terus melihat jam tangannya, seakan waktu lama sekali berputar. Wajahnya menunjukkan rasa marah dan khawatir.


Kimi hanya bisa diam mengamati Dimas dari tempat duduknya, dengan pandangan terluka.


Selesai pelajaran, Dimas bergegas keluar kelas. Dengan langkah cepat ia menuruni tangga, jalan menuju loker. Sesekali Dimas menoleh saat berpapasan dengan siswa perempuan. Mungkin saja itu adalah Dewi.


Terjadi kehebohan lagi di ruang loker. Rendi kembali berulah mengerjai Feri. Dewi berdiri di depan lokernya, menatap cemas tanpa berniat ikut campur. Kejadian tadi sudah cukup membuatnya ketakutan.


Feri menyodorkan surat gugatan yang diajukan Rendi. Surat gugatan atas tuduhan penyerangan yang dilakukan Feri tempo hari. Dengan wajah menunduk Feri memohon agar Rendi bersedia menarik surat gugatan itu.


Rendi mengatakan kalau Feri membuatnya terlihat jahat, "Kau tak tahu ini akan terjadi ketika kau memukulku? Kau pikir seberapa sehatnya aku?".


Baru juga kena sabetan tas gitu aja langsung nuntut, sedangkan selama ini Rendi membully Feri, apa itu bisa dibilang tidak jahat.


Kimi sampai di ruang loker. Ia hanya menghela napas dan menggeleng heran melihat tingkah calon kakak tirinya itu, yang lagi-lagi membuat ulah.


Tak jauh dari sana, ada Sinta dan Aldi yang juga melihat tanpa berniat ikut campur. Begitu pula dengan murid lainya. 2 teman Rendi tersenyum melihat Feri yang ketakutan. Seakan itu adalah hiburan bagi mereka.

__ADS_1


Feri memohon sekali lagi. Rendi bilang luka itu membutuhkan waktu 3 minggu hingga bisa sembuh sepenuhnya. Sakitnya bukan main hingga air matanya tak bisa berhenti menetes.


"Maafkan aku..Kumohon tarik ini kembai. Aku mohon" ucap Feri dengan suara sepelan mungkin.


Rendi tidak mau, karena Feri sudah memukulnya. Jadi Feri bawa saja surat itu dan habiskan uangnya untuk menyewa pengacara yang bagus.


Feri memberanikan diri menatap Rendi, "Kau ingin aku melakukan apa?".


"Kau menyakiti hatiku..Meskipun aku tak bisa menjamin. Maukah kau berlutut? Aku mungkin akan berubah pikiran" tantang Rendi.


Feri sejenak ragu, dan memandangi surat tuntutan itu. Dengan membuang semua harga diri dan rasa malunya, Feri akhirnya berlutut di hadapan Rendi.


Rendi menyeringai puas.


Aldi memalingkan wajahnya, tidak tega melihat. Tindakan Rendi kali ini sudah kelewatan. Kimi tertegun.


Dewi menatap dengan tatapan miris dan tidak percaya. Siswa lain hanya bisa memandang iba.


Dimas tiba di ruang loker. Dari ujung koridor, dia melihat Feri berlutut di depan Rendi. Dimas menghela napas, pemandangan itu membuatnya semakin marah dengan kelakuan Rendi.


Dimas jalan cepat melewati Dewi berdiri tepat di depan Feri. Kehadiran Dimas membuat suasana semakin tegang. Dan senyum di wajah Rendi pun memudar.


"Bangun!" ucap Dimas menyuruh Feri bangun.


"Kubilang berdiri" ulang Dimas lagi dengan nada di tekan.


Feri meminta Dimas untuk tidak berpura-pura baik padanya, "Menjijikan..Kau tidak berbeda dengannya".


"Hohoho..." Rendi tertawa mengejek. "Joon Young! Kau memang pintar".


Dimas diam sejenak menghela napas, "Apakah aku mem-bully-mu dulu?".


Feri menjawab, "Setidaknya Rendi mengingatnya" (siapa saja anak yang pernah ia bully).


"Maafkan aku..Sebagai gantinya, aku akan melakukan ini",


Dimas langsung meninju wajah Rendi. Membuat semua orang terkesiap kaget, bahkan Dewi sampai memekik pelan. Satu tinju keras yang membuat bibir Rendi berdarah.


"Aku memukulmu sekarang..Jadi cobalah buat aku berlutut juga" tantang Dimas dengan pandangan tajam.


Rendi tampak syok, "Bolehkah?".

__ADS_1


"Aku menantikannya".


"Aku juga" balas Rendi.


Rendi maju mendekat membalas tatapan Dimas. Dewi dan Kimi tampak cemas.


Tiba-tiba terdengar seruan dari ujung koridor, "Ada apa ini? Siapa yang berkelahi? Sedang apa kalian?" Ternyata itu adalah suara dari guru pengawas.


Anak-anak berlarian membubarkan diri. Yang tertinggal hanya Dimas, Rendi berserta kedua temannya dan Feri. Dimas sedikit merapihkan jasnya.


Dimas dan Rendi dibawa keruang dewan sekolah menghadap ketua yayasan. ketua yayasan ini adalah ibu tirinya yaitu Nyonya Lesti.


Melihat bibir Rendi yang berdarah. Ia tanya apa lukanya tidak sakit, perlukah kerumah sakit. Di depan Nyonya Lesti, Rendi bersikap hormat dan bilang perkelahian seperti ini biasa terjadi diantara teman, meski hal itu melukai hatinya.


Nyonya Lesti meminta maaf. Ayah Rendi pasti marah mendengar perkelahian ini. Rendi minta Nyonya Lesti tidak perlu khawatir, "Aku tidak akan menuntut".


"Aku tidak bermaksud begitu..Aku minta maaf sebagai Ibunya Dimas" ujar Nyonya Lesti. Dimas memejamkan mata menahan kesal.


Di depan Rendi, tanpa segan Nyonya Lesti memarahi Dimas, "Kau baru saja pindah kemari. Apa perlu membuat masalah secepat ini? Kau sudah lupa dengan janjimu?".


"Maafkan aku" ucap Dimas. Rendi mengeryitkan kening puas mendengar Rendi dimarahi.


"Pergi ke sekolah lain jika kau akan melakukan ini.. Aku sudah mengingatkanmu dan kau sudah berjanji. Apa lagi yang harus kulakukan untukmu, Siapa yang harus aku beritahu untuk membuatmu takut? Haruskah aku memberitahu kakakmu?" ancam Nyonya Lesti.


Dimas terusik saat mendengar kakaknya di sebut, tapi ia tetap diam saja. Rendi meyakinkan Nyonya Lesti kalau ia baik-baik saja, tidak perlu sekeras itu pada Dimas.


Dimas tahu Rendi hanya berlagak baik di depan Nyonya Lesti, dan itu membuat Dimas mengarahkan pandangan tajamnya pada Rendi. Tak beda jauh dengan Dimas, Rendi pun menatap Dimas dengan pandangan menantang.


Tatapan mereka itu benar-benar seperti musuh bebuyutan.


Keduanya keluar dari ruang dewan. Rendi berkata "Bahkan ibumu sendiri menyarankan untuk pindah ke sekolah lain, kenapa kau tidak pindah saja".


"Bukannya kau yang harusnya pergi? Kau pasti malu karena sudah kuhajar" jawab Dimas membelakangi Rendi.


"Apakah kau tidak mendengarkannya karena dia bukan Ibu kandungmu?" sindir Rendi pedas.


Dimas langsung berbalik menghadap Rendi, "Pergilah sebelum aku meninju sisi wajahmu yang lain".


Rendi menantang, "Itu yang aku tunggu..Jadi aku tidak perlu menahan diri, Pukul aku lagi".


"Aku akan menghajarmu di waktu yang tepat" jawab Dimas lalu berbalik pergi.

__ADS_1


Keduanya jalan ke arah yang berlawanan..


BERSAMBUNG...


__ADS_2