
"Apa yang ingin kalian bicarakan?" Azlan menatap dua pria bertubuh besar yang saat ini berdiri di hadapannya. Dia sedang bercengkrama dengan keluarganya, tapi tiba-tiba kedua pria ini menariknya ke ruang kerja dengan alasan ada yang ingin mereka katakan. Tapi sekarang, keduanya justru hanya diam saja.
"Kenapa kalian diam saja?" tanya Azlan lagi.
Kedua pria yang tak lain adalah Nino dan Baron hanya bisa saling pandang. Baron menyenggol lengan Nino memberi kode agar Nino segera mengatakan tujuan mereka pada Azlan. Tapi bukannya berbicara, Nino justru menyenggol balik lengan Baron.
Brakh
"Apa kalian semua bisu, hah?" teriak Azlan.
Kedua pria itu tersentak. Kini mereka ragu untuk mengatakan. Tapi jika mereka tidak mengingatkan Azlan, mereka takut tuannya itu akan melupakan janjinya pada mereka.
Sebenarnya Azlan tahu apa yang ingin mereka sampaikan. Tapi dia merasa tidak suka karena mereka mengganggu nya di saat dia sedang bercengkrama dengan keluarga kecil nya. Dia pasti akan menepati janjinya. Tapi bisakah mereka membicarakannya besok? Ini adalah hari pertama Baby Azriel pulang dan Azlan tidak ingin melewatkannya.
"Be_begini Tuan. Sa_saya ingin memberikan hadiah kecil ini untuk tuan muda." Nino menyerahkan kotak kecil kepada Azlan. Itu memang hadiah yang dia siapkan untuk Baby Azriel dan akan menyerahkannya secara langsung nanti setelah semua orang bubar dan dia ingin membicarakan tentang kelanjutan hubungan nya dengan Lani terlebih dahulu. Tapi situasi sekarang tidak memungkinkan, Jadi lebih baik dia memberikan kado itu pada Azlan saja.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Baron. Dia memberikan bingkisan kecil pada Azlan sebagai kado untuk baby Azriel. Dia sudah menyiapkan kado itu beberapa hari yang lalu dengan Ayna dan meminta ayna untuk memberikan nya pada Ariel nantinya.Tapi Ayna menolak. Dia ingin Baron memberikan sendiri kado itu pada baby Azriel. Dan sekarang dia merasa beruntung karena kado itu berada di tangannya.
Azlan menaikkan kedua alisnya. Kenapa mereka justru memberikan kado untuk baby Azriel padanya? Jika mereka mau, mereka bisa memberikannya pada baby Azriel secara langsung. Tapi sepertinya mereka gugup.
"Jadi hanya ini yang ingin kalian sampaikan?" tanya Azlan yang di jawab anggukan oleh keduanya.
"Baiklah. Kalian boleh keluar!!" seru Azlan.
Kedua pria itu keluar terburu-buru meninggalkan ruangan Azlan dengan bibir yang terus berkomat-kamit. Bahkan sampai di luar mereka mulai berdebat dan saling menyalahkan.
"Kenapa kau tidak mengatakan nya langsung pada Tuan? Kenapa malah memberikan hadiah, hah?" tanya Baron sedikit emosi.
"Hei, kau sendiri juga melakukan hal yang sama. Jangan menyalahkan ku. Kau sendiri juga tidak berani mengatakannya pada tuan kan?" ledek Nino
Baron berdecak kesal. Mereka adu mulut cukup lama dan memilih pergi untuk menemui pujaan hati mereka masing-masing.
Mereka tidak tahu jika selama mereka berdebat, seseorang mendengar semua keluh kesah mereka. Dia adalah Rendy.
Rendy mencari Azlan karena ada yang ingin dia bicarakan tentang perusahaan. Tapi langkah nya terhenti saat mendengar cekcok antara Nino dan Baron. Awalnya Rendy ingin menengahi pertengkaran mereka, tapi niatnya dia urungkan karena itu bukan masalah serius dan Rendy memilih pergi mencari Azlan.
Tok Tok Tok
"Masuk!!"
Rendy membuka pintu perlahan dan masuk. Dia mengerutkan keningnya melihat Azlan dengan dua buah mainan di tangannya.
"Apa bos sedang cosplay menjadi anak-anak?" ledek Rendy.
Azlan berdecak kesal. Dia memasukkan lagi mainan itu kedalam wadahnya. "Ini bukan milik ku. Tapi milik Baby Azriel dari Nino dan Baron." seru Azlan.
"O ya? Tadi aku melihat mereka berdua bertengkar di luar. Mereka saling menyalahkan karena tidak ada yang berani menanyakan tentang kelanjutan hubungan mereka dengan kekasih mereka pada mu, Bos." terang Rendy
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Azlan yang di jawab anggukan oleh Rendy.
"Aku punya ide, kau harus membantuku Ren." seringai Azlan.
*
*
*
*
*
*
Beberapa hari setelah kepulangan baby Azriel, semua bekerja seperti semula. Nino tidak lagi membantu di perusahaan. Dia kembali memimpin bodyguard dan menjaga keamanan keluarga Pramudya. Begitu juga dengan Lani, Baron dan Ayna. Lani kembali menjadi anggota Nino, Baron menjaga keamanan kediaman Pramudya sedangkan Ayna menjadi pelayan seperti biasanya.
Mereka senang karena bisa kembali pada profesi mereka masing-masing. Apalagi akan lebih mudah untuk mereka bertemu satu sama lain. Tapi ada hal yang membuat mereka sedih. Tuan mereka seolah melupakan janjinya pada mereka. Mereka ingin mengingatkan Azlan, tapi mereka terlalu takut untuk mengatakannya.
Dan saat ini, Nino dan Lani bertugas untuk mengawal Azlan yang sedang pergi ke perusahaan. Tapi mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti mendadak karena di depan sana beberapa mobil hitam nampak menghalangi jalan mereka.
"Siapa mereka?" tanya Lani.
"Siapapun mereka, kita tidak boleh lengah." seru Nino. Dia menghubungi teman-temannya yang lain yang berada di dalam mobil yang sama dengan Azlan.
"Ini gawat!!" Nino dan Lani keluar dari mobil dan menodongkan senjata pada orang-orang itu.
"Siapa kalian?" teriak Nino.
Tapi mereka tidak perduli. Mereka membuka paksa pintu mobil Azlan dan menyandera nya.
"Tu_tuan..!!" lirih Nino. Bahkan mereka juga menyandera teman-teman Nino yang berada dalam satu mobil dengan Azlan.
"Turunkan senjata kalian!!!" teriak salah satu pria yang menyandera Azlan.
Nino dan Lani tidak mempunyai pilihan. Mereka meletakkan perlahan senjata mereka. Tapi tiba-tiba dua tembakan melesat ke tubuh Nino dan Lani yang membuat keduanya tumbang tidak sadarkan diri.
Sementara itu di kediaman keluarga pramudya. Seperti biasa, Baron berpatroli mengawasi keamanan keluarga itu. Samar-samar dia mendengar sesuatu yang aneh yang berada di semak-semak. Karena penasaran, Baron mendekati nya. Tapi tiba-tiba dari arah belakang, seseorang membekapnya dengan sapu tangan yang sudah di lumuri dengan obat bius. Dan tidak butuh waktu lama, Baron pingsan.
Ayna yang kebetulan ingin menemui Baron seketika berteriak melihat Baron yang pingsan di tangan seseorang. Karena merasa menjadi pengganggu, akhirnya Ayna juga di lumpuhkan menggunakan tembakan yang membuat Ayna tumbang seketika.
*
*
*
__ADS_1
*
Ayna dan Lani terbangun. Mereka merasa kepala mereka berdenyut pusing. Tapi justru mereka di buat kaget dengan penampilan masing-masing.
"A_ay, ada apa dengan penampilan? Apa kau akan menikah?" tanya Lani.
"Kau sendiri juga sama kak." seru Ayna.
Lani memperhatikan dirinya yang sudah memakai baju pengantin. Dia berdiri dan menatap wajahnya di cermin. "Cantik" Tapi bukan itu yang harusnya dia pikirkan. Yang jadi masalah adalah, kenapa mereka sudah berdandan cantik dan memakai gaun pengantin?
Lani merasa ada yang tidak beres. Dia mencari senjatanya tapi tidak ada di manapun. Sial!! dia tidak punya sesuatu yang bisa di jadikan senjata untuk berjaga-jaga.
"Bagaimana sekarang kak?" tanya Ayna panik.
"Tenang dulu, Kita pikirkan cara untuk keluar dari tempat ini."
"Tidak perlu terburu-buru!!!" suara seseorang yang mereka kenal mampu membuat mereka terdiam.
"Nyo_nyonya..!!!" seru mereka serempak.
"Kalian akan keluar dari sini setelah mempelai pria siap di atas altar." seru Ariel yang membuat Lani dan Ayna merasa bingung. Mempelai pria? Altar?
Ariel berdecak kesal dan memilih pergi dari sana. Dia sudah bersalah karena membocorkan rahasia Suaminya dan sekarang yang dia lihat adalah dua wajah yang kebingungan. Sungguh menyebalkan.
Tak butuh waktu lama, Alfa dan Hendra masuk ke kamar di mana Lani dan Ayna berada.
"Tu_tuan!!" seru Lani terbata.
"Apa kalian sudah siap? Jika sudah, ayo kita keluar!!! Semua orang sudah menunggu." ucap Alfa yang semakin membuat keduanya bingung. Tapi baik Lani maupun Ayna tetap mengikuti langkah tuan besar mereka. Mereka merasa seperti seorang putri yang di gandeng oleh ayah mereka.
Dan saat memasuki gedung pernikahan, mereka di buat terkejut dengan dua pria yang berdiri di atas altar.
"I_ini..
"Iya Lani, ini adalah hari pernikahan kalian." Alfa meraih tangan Nino dan menyatukan nya dengan Lani. "Semoga kalian bahagia." ucapnya yang kemudian kembali ke kursi tamu.
Begitu juga dengan Hendra. Dia melakukan hal yang sama pada Baron dan Ayna. " Aku tahu selama ini kau sudah hidup menderita. Tapi sekarang berbahagialah karena kau akan hidup dengan orang yang kau cintai." seru Hendra pada Baron. pria itu tidak bisa berkata-kata. Dia memeluk Hendra dan mengucapkan banyak terimakasih.
Kini kedua pasangan pengantin itu mengucap janji suci secara bergantian. Semua para tamu undangan bertepuk tangan apalagi saat mereka di persilahkan pendeta untuk mencium pasangan mereka masing-masing.
"Akhirnya semua berakhir bahagia dengan pasangan mereka masing-masing." seru Ariel yang terharu melihat kebahagiaan Nino dan yang lain. Dia menatap satu persatu sahabat nya yang juga menggandeng pasangan mereka masing-masing.
"Aku juga bahagia dengan kehadiran kalian di tengah-tengah hidupku. Sekarang aku tidak sendirian lagi, ada kau yang menemani ku tidur dan ada di mungil yang menggangguku tidur." kekeh Azlan.
"Aku mencintaimu istri ku. Aku berharap kita bisa terus bersama sampai maut memisahkan."
"I Love you too, my husband." mereka mengakhiri cerita dengan ciuman panas di tengah-tengah kebahagiaan Nino dan Baron. Hidup hanya sekali, dan mencintai pun hanya sekali. Jika dulu kau pernah mencintai orang beberapa kali, aku yakin pilihan terakhir mu adalah orang yang paling kau cintai. Untuk itu kau memutuskan untuk hidup bersama nya.
__ADS_1
...~End~...