
.
Siang ini cuaca begitu panas, membuat seorang pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya merasa kegerahan. Padahal pendingin di ruangan itu masih di hidupkan, bahkan untuk orang yang baru masuk ke ruangan itu pun merasa kedinginan.
"Apa ada yang salah sama pendingin di ruangan ini ya, ini bahkan sudah full, tapi kenapa rasanya tubuhku masih kepanasan?" ucap Erka pelan.
Ia bahkan sibuk ngomel-ngomel tak jelas, membuat seorang wanita yang hendak mengantarkan beberapa file untuk di tanda tangani menjadi tersenyum jahil.
"Kenapa dengan pria dingin ini ya, ia bilang merasa kepanasan. Padahal aku saja merasa sangat dingin disini. Apa ia berasal dari kutub utara, makanya dengan pendingin yang sudah full seperti ini, masih kurang dingin." gerutu asistent wanitanya.
Ia tidak mau terlalu banyak mengumpati pria dingin itu, makanya ia mencoba berpura-pura baik di hadapan pria yang ia kenal benar akan sikap dan kelakuannya.
"Anda kenapa tuan Erka? Apa yang terjadi pada anda, apa pula yang membuat anda marah-marah seperti tadi?" tanya wanita itu.
"Tau nih, aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Tidak biasanya aku seperti ini. Ada sedikit masalah tadi di luar, makanya aku kesal." jelas Erka pada asistent pribadinya.
"Apa anda sakit tuan, karena tidak biasanya anda seperti ini?"
"Entahlah.. Aku tidak tahu. Tapi aku tidak yakin jika aku sakit." jawabnya ragu.
"Apakah anda perlu ke dokter tuan, biar saya yang mengantar anda!" titahnya pada CEO dingin yang masih gagal move on dari istri orang tersebut.
"Tidak! Aku rasa, aku baik-baik saja. Sekarang pergilah, tinggalkan aku sendiri!" pinta Erka dengan nada berat.
"Baik pak. Saya permisi dulu, selamat siang." pamitnya sambil berlalu.
"Heemm.." jawab Erka sekilas.
Ia tidak mau membuat bosnya marah-marah, makanya ia lebih memilih untuk pergi meninggalkan Erka di ruangan itu. Meski hatinya bertanya-tanya, apa yang membuat pria dingin itu merasa tidak nyaman. Namun ia enggan menanyakan hal itu pada bos besarnya.
πππ
Flasback #Erka
.
.
__ADS_1
Pagi menjelang siang, Erka mengisi perutnya yang sudah berdendang meminta di isi. Wajar saja karena sedari pagi memang belum ada asupan lain yang masuk ke dalam perutnya.
Ia menyantap makanan yang di pesannya dengan lahap, di sampingnya juga ada Edward, atau biasa di sapa Ed oleh Erka. Mereka berdua adalah sahabat lama, entah dari kapan mereka sudah berteman. Suka duka Erka, Ed juga tahu, bahkan kisah cinta tragis yang menimpa Erka dan Shifa, Ed juga tahu.
Ed memperhatikan Erka yang tengah asyik menyantap makananya dengan lahap, ia menegur sahabatnya. Ed tidak mau pria itu tersedak, karena makan dengan terburu-buru.
"Makannya pelan-pelan kenapa sih, Ka'. Kayak orang belum makan selama satu minggu saja. Takutnya nanti kamu kesedak loh.." tegur Ed pada sahabatnya.
"Aku buru-buru, Ed. Sudah enggak ada waktu lagi. Bentar lagi disuruh jemput mama di bandara, mana kerjaan kantor masih menumpuk lagi." balas Erka tanpa basa-basi.
"Kan ada sopir. Kenapa mesti kamu yang di suruh jemput, mama kamu?" tanya Ed penasaran.
"Kayak kamu enggak tahu mama aku saja!" jawabnya tanpa berpikir.
"Iya sih. Tapi apapun alasannya, pelan-pelan lah makannya. Nanti kamu kesedak."
"Iya.."
Erka melanjutkan menyantap makanannya kembali, namun saat ia akan menyuapkan makanannya ke mulutnya lagi. Tiba-tiba Erka mengurungkannya, saat dengan jelas di pandangan matanya ada sepasang suami istri yang membuatnya merasa sangat cemburu.
"Kamu kenapa, Ka?" tanya Ed dengan rasa penasaran di dalam hatinya.
Tanpa menjawab, Erka langsung menghampiri pasangan suami istri tersebut. Niat hati ia ingin menyapa Shifa, mantan pacarnya yang membuatnya gagal move on sampai saat ini. Tapi sejauh ini Shifa belum menyadari akan kehadiran dirinya.
Namun ternyata suami Shifa menyadari kedatangan mantan pacar dari istrinya. Pria yang dulu pernah menyakiti Shifa, tapi entah mengapa kini malah ia masih menyimpan harapan kembali pada istrinya.
Rey menyuapi istri tercintanya, sesekali ia mengusap sudut bibir Shifa dengan manis. Shifa yang tidak menyadari akan kehadiran mantan kekasihnya, hanya bisa pasrah dengan tingkah laku suaminya.
Sedangkan Shifa baru menyadari kehadiran Erka, setelah pria itu berada tepat di depan mejanya.
"Shifa.. Apa kabar? Lama kita tak berjumpa?" sapa Erka sambil mengulurkan tangan kanannya.
Namun sebelum Shifa menerima uluran tangan Erka, Rey dengan sigap menerima uluran tangan mantan pacar dari istri tercintanya.
"Aku baik-baik sa..." ucap Shifa terhenti saat suaminya menjawab pertanyaan Erka dengan pedas.
"Anda tidak perlu repot-repot menanyakan keadaan istriku seperti ini. Seperti yang anda lihat, Shifa baik-baik saja di sampingku!" ujar Rey dengan santai.
__ADS_1
"Kenapa anda yang menjawabnya, aku kan tidak bertanya pada anda!" ucap Erka kesal.
"Anda pasti tahu jawabannya kan? Kenapa masih bertanya lagi!" ucap Rey tegas.
Shifa menyadari kondisi tidak tidak lagi damai, ia tidak menginginkan adanya keributan di tempat itu. Maksud hati ingin melerai, tapi apalah daya. Ternyata tindakannya memancing amarah Rey kepadanya.
"Sudahlah mas jangan ribut disini, dia hanya ingin tahu keadaanku. Malu di lihat orang." ucap Shifa menasehati suaminya.
"Dia yang ingin mengajakku ribut. Sudah tahu kamu sudah ada yang punya, masih saja berusaha untuk mendekatimu. Harusnya dia yang merasa malu, mengganggu istri sah orang! Dan kamu harusnya kamu menjaga perasaan suamimu. Apalagi kamu tahu siapa dia!" tunjuk Rey dengan lantang.
Mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Rey yang lantang, membuat beberapa pasang mata mulai memandang ke arah mereka bertiga.
"Iya maaf mas. Aku salah.." jawab Shifa pelan.
Shifa merasa malu dengan ucapan suaminya yang menohok hatinya, ia kemudian menundukan kepalanya bahkan ia sama sekali tidak pernah menyangka jika suaminya akan semarah itu kepadanya.
Berbeda dengan Rey, ia masih sibuk memarahi Erka dengan ucapan pedas dan menohok pria di depannya, yang menurutnya tidak tahu malu itu.
"Harus berapa kali lagi sih aku ucapkan padamu. Jangan kamu mengganggu istriku! Belajarlah untuk melupakannya, meski aku tahu sulit untukmu melupakan istriku ini. Tapi sadarlah.. Bangunlah dari tidurmu, kamu yang pertama kali menyakitinya. Kenapa kamu juga yang masih menginginkannya, apalagi kamu tahu kan dia istriku. Istri tercintaku..!" ucap Rey dengan penuh penekanan.
Rey berharap jika pria itu segera pergi dari sana. Erka mengepalkan tangannya kesal, jika ia tidak menghargai keberadaan Shifa, mantan kekasihnya. Mungkin saja ia sudah melayangkan bogem mentah itu tepat di wajah Rey.
Ed menghampiri sahabatnya, ia tidak mau ada pertengkaran yang semakin pahit. Ed mengajak pria itu untuk segera pergi dari resto itu. Ed tidak mau Erka merasa tersudutkan dan merasa malu sendiri dengan apa yang di ucapkan oleh suami dari mantan kekasihnya yang ternyata masih mengisi ruang kosong di hati Erka, sahabatnya.
"Ayo kita pergi dari sini, Ka. Malu di lihat banyak orang!" bisik Ed pada Erka sambil menarik tangan sahabatnya itu.
Meski berat hati, tapi Erka mengikuti langkah sahabatnya untuk segera pergi dari sana.
.
Bersambung...
.
.
Jangan lupa dukungannya ya.. Terima kasih banyakππ»ππ».
__ADS_1