
Sebelumnya Dimas yang segera keluar dari kamarnya begitu menerima balasan dari Dewi. Sejenak ia tampak ragu berdiri di depan pintu dapur. Menarik napas, seakan ingin menguatkan jantungnya.
Dia begitu tegang, perlahan memberanikan diri menggeser pintu, membuat celah diataranya. Dari celah itu, Dimas bisa melihat Dewi yang sedang minum sembari memandangi ponsel.
Dimas syok, seakan tak percaya. Ia berbalik membelakangi pintu. Lalu kembali melihat Dewi dari celah pintu yang ia buat. Gadis itu benar-benar Dewi, Gadis yang disukainya berada di dalam rumahnya.
Dewi menunggu balasan dari Dimas, "Ada apa dengannya", gumam Dewi lalu memasukan ponselnya ke saku.
Lalu Dewi mengikat rambutnya, menyiapkan daging untuk sarapan besok. Dimas terus mengawasi dari celah pintu. Setelah selesai, Dewi mematikan lampu dan pergi dari dapur tanpa melihat Dimas.
Dimas masih di sana, berdiri terpaku ditempatnya.
Lalu Dimas berjalan setengah melamun kembali ke kamarnya. Tampak frustasi dan syok. Ia ingat saat berpapasan dengan ibu Dewi yang mengenakan kaos I Love Taiwan tempo hari.
Dimas juga ingat status Dewi yang tidak suka melihat ibunya bekerja keras dan berharap Ahmad Group bangkrut.
Dimas tahu sekarang siapa ibu Dewi yang tak lain adalah salah satu pelayan di rumahnya, dan alasan kenapa Dewi menginginkan kebangkrutan Ahmad Group.
Pagi harinya, Dimas berdiri di depan jendela, melihat Dewi yang berlari keluar halaman dengan mengenakan pakaian sekolahnya. "Itu benar-benar kau, Dewi".
Dewi berdiri di depan kamar yang digunakan Dewi dan ibunya. Ia mengetuk pintu pelan. Merasa yakin tak ada orang di dalam, Dimas membuka pintu yang memang tidak di kunci.
Dimas menelusuri setiap sudut kamar, menatap miris pada kamar kecil itu dan semua barang-barang yang ada di dalamnya. Tampak seperti gudang. Di kamar sempit itulah Dewi dan ibunya berbagi tempat tidur.
Dimas lalu turun ke dapur, dan melihat memo yang ditempelkan Astuti di pintu kulkas, "Pergi ke supermarket".
Nyonya Sari masuk ke dapur "Bibi, kopi", ucapnya dan kaget melihat Dimas ada di dapur. "Ya Tuhan.. Apa yang kau lakukan disini?".
"Aku haus" jawab Dimas, lalu menunjuk ke memo yang tertempel di kulkas, "Bibi,pergi ke supermarket".
Nyonya Sari melepas memo itu, "Apakah dia harus pergi sepagi ini?".
"Aku jarang melihat kakak beberapa hari ini" tanya Dimas.
Nyonya Sari sedikit kaget dan bilang mungkin Sandi pergi untuk urusan bisnis, dia sering sekali ke luar negeri.
__ADS_1
"Aku pikir setelah aku pulang ke Indonesia aku bisa bertemu kakak setiap hari" gumam Dimas.
"Astaga.. Kau sangat baik, padahal dia sangat membencimu", ujar Nyonya Sari.
"Tapi aku menyukainya", jawab Dimas. "Aku mandi dulu" Dimas jalan keluar dari dapur.
Nyonya Sari mengekor dan tanya apa yang akan dilakukan putranya hari ini, "Apakah kamu mau pergi berbelanja dengan Ibu?".
"Aku akan pergi ke suatu tempat". Nyonya Sari terus mengekor, ingin tahu kemana Dimas pergi.
Dimas pergi ke Ahmad High School untuk mengurus kepindahan sekolahnya, ia bertemu dengan Nyonya Lesti di sana.
Nyonya Lesti ini menduduki posisi penting di sekolah Ahmad, dia menjabat menjadi ketua yayasan.
"Aku sudah selesai mengurus kepindahan Sekolahmu, Kau tidak akan bisa melakukan apa yang pernah kau lakukan waktu SMP dulu di sini. Aku tidak akan memberikanmu pengecualian" jelas Nyonya Lesti.
Dimas mengerti. Tapi Nyonya Lesti ingin tahu siapa yang meminta Dimas pulang, "ibumu atau ayahmu?".
"Kepulanganku atas keinginanku sendiri" jawab Dimas.
"Benarkah?", tanya Nyonya Lesti seakan tak percaya. "Kau sudah dewasa sekarang..Setelah kamu kembali, kamu tahu bagaimana cara menendang saudaramu keluar ".
Sosok kakak yang sangat di sukai Dimas kini berada di restoran bersama Wanita.
Sandi ingin makan siang, tapi Wanita berkata ia sedikit sibuk dan hanya akan memberikan Sandi waktu 20 menit.
Sandi tersenyum tipis, "Yang benar saja". ucapnya sembari mengeluarkan bungkusan amplop coklat dari dalam jasnya. Lalu memberikannya pada Wanita itu.
Sandi berkata ia menemukan sesuatu yang menarik di Taiwan. Wanita itu membuka bungkusan dan ingin tahu benda apa ini yang sedang di pegang nya.
Sandi lalu menjelaskan itu adalah Wishbone.
"Sesuatu yang disukai oleh orang sana, Dua orang masing-masing memegang salah satu sisi nya dan saling tarik menarik hingga tulang patah. Orang yang mendapatkan bagian lebih banyak, maka keinginannya akan terwujud".
Wanita itu tersenyum, "Ini seperti Es potong", Sandi yang tak pernah makan es potong, tanya apa itu.
__ADS_1
"Itu es krim potong yang sering dijual di supermarket" jawab Wanita itu. Dia akan menyimpan tulang itu dan menarik salah satu jika ia memiliki sebuah harapan atau keinginan.
"Kau tidak memiliki keinginan sekarang?", tanya Sandi. lalu dijawab tidak.
Sandi sedikit geli, "Bagaimana bisa kau tidak memiliki keinginan?".
Dia merasa cukup dengan apa yang ia miliki sekarang, ia sudah kuliah, punya rumah dan punya tabungan.
"Itu bukan keinginan tapi keberuntungan".
"Ini adalah hadiah yang sebenarnya", ucap Sandi memberikan kalung Wishbone yang ia beli di Taiwan. "Pakai ini untuk keberuntungan".
Wanita itu merasa tidak enak, "Aku dibesarkan dengan menggunakan dukungan beasiswa dari keluargamu. Aku akhirnya bisa membiayai hidupku sendiri. Jadi...".
Sandi langsung menyela, "Dukungan?Tidak bisakah itu di sebut sebagai hadiah?".
Sandi marah, karena Wanita itu menganggap pemberian kalung sebagai salah satu bentuk dukungan dari keluarga Ahmad.
Wanita mengalihkan pembicaraan, "Aku harus pergi. Aku akan dipecat jika aku terlambat".
"Apakah aku harus membuang ini?", tanya Sandi dengan nada meninggi.
Wanita itu mengalah, "Baiklah...Terima kasih".
"Kau hanya akan menerima dan tidak akan memakainya, bukan?" ujar Sandi.
"Jangan bergerak, Aku akan memasangkannya padamu", ucap Sandi lalu berdiri memakaikan kalung itu sendiri ke leher wanita itu. Wajahnya terlihat sedih saat Sandi memakaikan kalung Wishbone ke lehernya.
Selesai memakaikan kalung, Sandi kembali duduk di tempatnya.
Wanita itu tanya, "Apakah kalung ini terlihat cantik?".
"Ya", jawab Sandi. "Mengapa sangat sulit bagi ku untuk memakaikan kalung ini padamu?".
Wanita itu tersenyum tipis, ada kesedihan di matanya. Mimik wajah Sandi berubah, mengetahui dengan pasti jawaban dari pertanyaannya sendiri.
__ADS_1
Hubungan mereka terhalang tembok "status dan hutang budi". Sandi yang dingin ini bisa jatuh hati pada gadis sederhana seperti dia. Sandi dan Dimas memiliki kemiripan. Sama-sama menyukai gadis sederhana. Tanpa memperdulikan latar belakang keluarga mereka.
BERSAMBUNG...