
Dah tiga episode dulu aja ya readers....
“Mbak tadi dicariin pak Haris, suruh menemui di
ruangannya” Sapa Sasa begitu Ginara masuk.
“oh iya, makasih Sa”
“Sama-sama Mbak” Sasa merasa heran dengan sikap
Ginara pagi ini, biasanya kan dingin banget dan males ngomong, ini kok ramah
ya…
Tok
Tok
“Masuk aja Gi…” Seru suara dari dalam. Ginara
membuka pintu perlahan kemudian menuju meja Pak Haris.
“Duduklah dulu, saya mau ngomong bentar” Ginara
mengangguk kemudian duduk di depan meja Pak Haris.
“Ada tugas baru untukmu, wilayah terdampak gunung
Meletus di Lumajang sedang kehabisan stok bahan obat-obatan, sementara di sana
banyak anak-anak kecil mulai terserang batuk, orang kita di sana meminta
mengirim bantuan obat, kamu bersedia kan?” Kata Pak Haris Panjang lebar. Ginara
terdiam lama.
“Kapan berangkat?” Tanyanya.
“Siang ini” Jawab Pak Haris singkat.
“Apa?!” Ginara melotot kaget.
“Ah, biasa aja kali Gi, kamu kan dulu juga sering
bertugas untuk membantu korban bencana, kau tahu sendiri Dina sudah tidak bisa
di andalkan, sekarang malah ia lebih memilih bersama abangmu.” Keluh Pak Haris.
“Yang mengelola di sini siapa Pak?”
“Gampanglah itu, aku kan juga masih bisa ngatur”
Ginara menghela nafas, dulu ia memang sering
meminta di tugaskan di luar kalau ada bencana alam, hitung-hitung sebagai
Pelepas sepi di apartemen. Tapi sekarang keadaannya sudah berbeda, ia sudah
punya seseorang yang harus selalu ia kabari dan selalu menanyakan kabar kalau
lupa memberi kabar.
“Baiklah Pak, saya siap”
“Nah…gitu dong, makasih ya, tenang aja bonusmu dua
kali lipat” Pak Haris mengacungkan jempolnya seraya tersenyum. Ginara hanya
mengangguk kemudian keluar dari ruangan Pak Haris.
Ginara bingung antara memberitahu Aldy atau tidak,
ia pasti sangat yakin Aldy akan membatalkan meeting siang ini kalau ia
memberitahunya. Seolah merasakan kegelisahan Ginara, tiba-tiba dering telepon
terdengar. Di lihatnya nama yang tertera.
“Eh…apa dia merasakan kegalauanku ya?” Gumamnya
seraya menggeser tombol hijau.
__ADS_1
Tidak ada suara, Ginara pun juga diam, ia bimbang
dengan keputusannya untuk tidak memberitahukan keberangkatannya ke Lumajang,
tapi ia takut Aldy marah.
“Kenapa?” Tanya suara di seberang. Ginara
tersentak.
“Hah?”
“Kok diam, ada apa?”
“Kan kamu yang telepon dulu” Jawab Ginara asal
untuk menutupi kegugupannya.
“Ada apa?” Tegas Aldy lagi.
“Maksudnya?” Apa dia bisa membaca hati dan pikiran
orang ya, gadis itu menggeleng tak percaya.
“Katakan” Desak suara di seberang.
“Eh..anu..gak ada apa-apa kok” Jawabnya bohong.
“Bener, kamu nggak lagi bohongin aku kan?” Aldy
menegaskan suaranya. Ginara dibuat kelimpungan, mau tidak mau ia harus jujur,
berhadapan dengan Aldy serasa tidak ada kata bohong yang bisa ia sampaikan.
“Itu…aku…aku…ditugaskan ke Lumajang” Kata Ginara akhirnya.
“Ada acara apa?”
“Mereka membutuhkan obat-obatan, di sana kehabisan”
“Hmm, kapan?” Ginara terdiam.
“Sweety?”
“Ah…kenapa mendadak?”
“Iya, gak papa kok, aku ditemani sama sopir sama
Andi rekan kerjaku”
“Tidak boleh ada laki-laki lain ya, tunggu aku,
akan aku antar ke sana”
“Eh…dia rekan kerjaku Al, kamu kan juga ada
meeting, gak papa kok”
“Tetep tidak bisa, meeting bisa aku tunda, ada
Yudha juga, pokoknya tunggu aku sampai datang”
“Iya” Tuh, benar kan? Sudah bisa diduga pasti akan
berakhir pada keputusan DIANTAR.
Ginara menghela nafas kemudian mematikan
panggilannya.
Menjelang siang, Aldy sudah sampai di apotek, ia mengenakan
kaos kasual dan celana jean’s biru, bukannya menyegarkan malah membikin hati
nyut-nyut. Gimana nggak nyut-nyut, pemandangan yang paling indah dilihat oleh
semua orang terutama para cewek. Bukan bisik-bisik lagi yang terdengar tapi
bincangan yang cukup keras hingga membuat jiwa seorang gadis meradang.
Laki-laki itu tidak membiarkan Ginara membantu
__ADS_1
memasukkan bahan obat-obatan ke dalam mobil yang akan di kirim ke Lumajang, malah
mengajaknya untuk naik ke mobil bersamanya. Sopir dan Andi dibiarkan berangkat
sendiri bersama logistik yang akan dikirim.
“Kenapa?” Tanya Aldy di perjalanan menengok
kekasihnya yang sejak masuk ke mobil hanya diam.
“Gak papa” Jawabnya pendek, terdengar jutek. Aldy
menaikkan alisnya. Diraihnya tangan gadis itu.
“Kamu gak suka aku antar hmm” Kata Aldy tajam,
gadis itu langsung menoleh.
“Kenapa gak pakai jas seperti tadi pagi?” Bukan
menjawab Ginara malah bertanya dengan nada yang terkesan tidak terima tentang
pergantian baju Aldy. Pemuda itu meminggirkan mobilnya kemudian mengamati
sebentar penampilannya. Tidak ada yang salah, pantes kok. Gumamnya pelan. Ia
Kembali menoleh ke gadis di sebelahnya.
“Gak ada salah deh kayaknya”
“Yang salah itu mata mereka” Ketusnya, sebentar
kemudian ia menutup mulutnya. Ups keceplosan. Tawa menggema di dalam mobil
membuat pipi dan telinga Ginara memerah menahan malu.
“I see…you jeoleus sweety?” Tanya Aldy menaik
turunkan alisnya.
“Huh…jangan geer” Ketusnya lagi dengan memalingkan
muka menatap keluar jendela.
“Bilang aja cemburu, susah amat” Aldy Kembali
melanjutkan perjalanannya, genggamannya semakin erat, cemburu tanda cinta
bukan?
“Dengar baik-baik, dari dulu awal bertemu sampai
kapanpun hati, perasaan dan tubuhku hanya untukmu. Masukkan itu ke telinga dan
hatimu ya”
Blush
Wajah Ginara semakin memerah namun senyuman muncul
di bibirnya.
Perjalanan dari Kota Malang ke Lumajang dengan
perkiraan kemacetan lalu lintas yang ada akan bisa di tempuh dalam waktu 1 jam
39 menit atau paling lama 2 jam. Rombongan dua mobil yang di berangkatkan dari
apotek Medical Farma mulai memasuki daerah terdampak erupsi Semeru.
Seperti diketahui, kejadian meletusnya Gunung Semeru pada tanggal 4
Desember 2021 sekitar pukul 15.00 WIB menyisakan pilu bagi warga sekitar.
Hingga saat ini, terlapor 14 korban jiwa dan setidaknya ratusan warga yang mengalami luka-luka. Sejumlah
warga yang kehilangan harta benda dan belum bisa Kembali ke rumah mereka sebab
rumah mereka luluh lantak tertimbun abu vulkanik serta status gunung Semeru
yang masih dalam status waspada, sehingga mereka terpaksa mengungsi di
__ADS_1
posko-posko yang tersebar di lokasi yang masih terbilang aman.