Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Surprise


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, suasana gadis yang tengah


mengeringkan rambutnya sudah berangsur membaik setelah semalam melakukan video


call dengan sang kekasih. Walaupun rasanya tidak akan pernah puas, tapi baginya


sudah cukup saat mengetahui kekasih hatinya dalam keadaan baik-baik saja. Kini


ia bersiap untuk berangkat ke apotek, hari ini Dina berjanji akan menemaninya


seharian di apotek.


Setelah menikmati sarapan bubur ayam Bang Anton,


Ginara langsung berjalan menyusuri trotoar menuju apotek. Pagi tadi ia tidak


sempat melakukan jogging, jadi ia ganti dengan berjalan kaki menuju apotek. Itu


sudah cukup membakar kalori yang ada di tubuhnya.


Dari jauh sudah terlihat Dina keluar dari mobilnya


dan menunggu kedatangan Ginara. Sangat tidak sabaran.


“Tahu jalan gini aku langsung jemput ke apart Gi…”


Gerutunya melihat Ginara berjalan ke arahnya. Gadis itu hanya tersenyum


kemudian merangkul bahu Dina mengajaknya masuk.


“Sambil olahraga biar sehat” Jawab Ginara santai.


“Ck, eh si Aldy belum datang dari Inggris?” Ginara


menggeleng mendengar pertanyaan Dina.


“Masih dua hari lagi katanya” Dina iba memandang


wajah sendu sahabatnya.


Mereka meletakkan tas di meja sofa, Ginara langsung


mengambil berkas resep yang akan mulai di racik obatnya. Dina ikut mendampingi


di sebelahnya. Setelah memilah-milah resep yang berupa racikan dan resep yang


langsung obat jadi, mereka mulai menyiapkan obat-obat yang diperlukan. Dina


lebih memilih menyiapkan resep yang tinggal mengambil obat kemasan, sementara


obat racikan yang butuh ketelitian ekstra dikerjakan oleh Ginara.


 Kerjaan


mereka selesai bertepatan dengan jam makan siang, sebelum keluar mereka meminta


bantuan Sasa dan Santi untuk memindahkan paper bag yang sudah siap diambil


pemiliknya di box pengambilan obat. Hari ini ramai sekali orang yang berkunjung


untuk menukar resep dengan obat.


Mereka telah sampai di restoran OG faforit mereka,


segera mereka memesan cah baby col, iga bakar, gurami bakar pedas, dan tak


ketinggalan dua gelas jeruk panas.


“Davin udah taaruf sama cewek tau” Kata Ginara


sambil menyuap nasi dan iga ke mulutnya.


“What? Anak itu…ckckck diam-diam ternyata


menghanyutkan juga ya, gimana ceritanya?”


“Tau tu, tiba-tiba aja minta direstui papa bunda,

__ADS_1


huh”


“Jangan iri…ntar juga bakalan di lamar sama Aldy”


Kerling Dina.


“Situ kali yang iri, Abang gak juga bergerak minta


restu…” Dina mencebikkan bibir.


“Heran aku sama abangmu, gak pernah peka jadi


cowok” Ginara tersenyum mendengar keluhan Dina, ia melihat kehadiran Genta dan


Davin menuju ke arah mereka, sementara Dina yang membelakangi tidak mengetahui


kehadiran mereka. Ginara semakin gencar menggoda Dina.


“Gak peka gimana, bukannya abang sudah nyatain perasaannya


ke kamu?” Genta yang mendengar pertanyaan Ginara terdiam, penasaran dengan


jawaban yang akan diberikan oleh Dina.


“Nyatain apa Gi, sampai detik ini kayak digantung


nih”


“Wah…keterlaluan abang, anak gadis orang dimainin,


udah cuekin aja” Ginara memanas-manasi Dina sementara Genta sudah mendelik


galau.


“Eh Gi, aku jadi ragu deh sama abangmu…”


“Oh ya, kabarnya temen Abang yang naksir kamu


gimana?” Tanya Ginara sambil tersenyum menggoda, mengabaikan keraguan Dina,


sengaja untuk membuat laki-laki yang di belakang Dina cemburu. Biar tahu rasa,


sedap dipandang.


“Dokter Rendi ya…” Jawaban Dina mengambang. Tangan


laki-laki itu semakin mengepal membuat Ginara tersenyum senang.


“Dia masih sering mendekatimu ya”


“Hmmm, tapi kamu tahu sendiri bagaimana abangmu”


“Iya sih, super posesif tapi pengecut” Ginara


melirik sekilas ke belakang Dina dengan tersenyum sinis, yang dilirik menatap


tajam dengan kemarahan di matanya. Sementara pemuda di sampingnya hanya menutup


mulutnya dengan kedua tangannya, takut tawa yang ia tahan dari tadi lepas.


“Kalau kamu sendiri gimana?” Tanya Ginara kemudian.


Dina diam, ia merasai perasaannya sendiri. Genta menanti jawaban Dina dengan


menahan nafas.


“Kamu tahu sendiri Gi, sejak SMA aku sudah menyimpan


namanya di hatiku, hah, tapi kamu tahu sendiri, responnya minim banget…”


“Kamu sudah bosan kali Din, secara selama itu…”


Kata Ginara semakin gencar menggoda Genta, wajah laki-laki itu benar-benar sudah


tidak enak dipandang dengan mata mendelik marah.


“Apa iya ya Gi, percuma kali kalau cuma satu pihak,

__ADS_1


mending…”


“Mending diapain hmmm!” Potong suara tajam di


belakangnya. Reflek Dina menoleh, wajahnya langsung merah padam menahan malu,


aduh, sama aja dia menyatakan perasaannya lebih dahulu pada seorang laki-laki,


sialan Ginara, ia sengaja menjebakku. Batinnya.


Ginara dan Davin tertawa lepas melihat kepanikan


Dina dan kemarahan Genta. Dua orang yang sama-sama tinggi egonya untuk mengakui


perasaan masing-masing, hari ini terungkap sudah.


“Eh, abang…lho katanya ada meeting tadi…” Kilah


Dina agak panik.


“Hmm, untung aja meetingku di dekat sini dan


kebetulan juga ketemu kalian, coba kalau nggak…” Genta menatap Dina tajam. Gadis


itu hanya memandang gugup. Sementara Ginara dan Davin hanya terkikik lucu.


“Diam kalian, awas kau Gi!” Dina menatap keduanya


marah, yang ditatap tetap dengan wajah santai dan tertawa.


“Din, kali ini aku tidak akan menunda” Genta


mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya dan memegang tangan kanan Dina.


Gadis itu hanya menatap shock.


“Din, aku bukan pria romantis, aku tidak pandai


merayu, mungkin aku terkesan kaku di matamu, tapi aku serius sama kamu, maukah


kamu menjadi istriku, ibu dari anak-anaku?” Genta melamar Dina di hadapan


adik-adiknya. Biarlah mereka menjadi saksi bagi hubungan serius keduanya.


“Terima Din”


“Terima Mbak Din” Seru Ginara dan Davin bersamaan.


Apa ini, siang-siang mendapat surpise dari sang


pacar, hehe. Gadis itu menunduk malu kemudian mengangguk.


“Aku butuh jawaban Din bukan isyarat” Dina


mendongak kaget sekaligus malu.


“I..iya, aku bersedia” Kata Dina.


“Alhamdulillah” Seru ketiga bersaudara itu yang


membuat sebagian pengunjung menatap ke meja lesehan mereka. Genta mengambil


cincin berlian di kotak beludru itu kemudian memakaikannya di jari manis Dina


sebelah kiri.


“Terima kasih sudah mencintaiku selama itu, maaf


aku memang orang yang gak peka sama sekali”


“Ah…nggak kok bang, Dina seneng akhirnya hari ini


terjadi di hidup Dina…” Katanya jujur.


Lengkap sudah putra putri Papa Reza dan Bunda Tiara


sudah memiliki pasangan semua, sesuai doa dari Tiara yang mempunyai keinginan

__ADS_1


menikahkan massal mereka. Ah…unik dan seru kali ya….kita tunggu aja yaaaa


To Be Continued


__ADS_2