
Pagi hari yang cerah, suasana gadis yang tengah
mengeringkan rambutnya sudah berangsur membaik setelah semalam melakukan video
call dengan sang kekasih. Walaupun rasanya tidak akan pernah puas, tapi baginya
sudah cukup saat mengetahui kekasih hatinya dalam keadaan baik-baik saja. Kini
ia bersiap untuk berangkat ke apotek, hari ini Dina berjanji akan menemaninya
seharian di apotek.
Setelah menikmati sarapan bubur ayam Bang Anton,
Ginara langsung berjalan menyusuri trotoar menuju apotek. Pagi tadi ia tidak
sempat melakukan jogging, jadi ia ganti dengan berjalan kaki menuju apotek. Itu
sudah cukup membakar kalori yang ada di tubuhnya.
Dari jauh sudah terlihat Dina keluar dari mobilnya
dan menunggu kedatangan Ginara. Sangat tidak sabaran.
“Tahu jalan gini aku langsung jemput ke apart Gi…”
Gerutunya melihat Ginara berjalan ke arahnya. Gadis itu hanya tersenyum
kemudian merangkul bahu Dina mengajaknya masuk.
“Sambil olahraga biar sehat” Jawab Ginara santai.
“Ck, eh si Aldy belum datang dari Inggris?” Ginara
menggeleng mendengar pertanyaan Dina.
“Masih dua hari lagi katanya” Dina iba memandang
wajah sendu sahabatnya.
Mereka meletakkan tas di meja sofa, Ginara langsung
mengambil berkas resep yang akan mulai di racik obatnya. Dina ikut mendampingi
di sebelahnya. Setelah memilah-milah resep yang berupa racikan dan resep yang
langsung obat jadi, mereka mulai menyiapkan obat-obat yang diperlukan. Dina
lebih memilih menyiapkan resep yang tinggal mengambil obat kemasan, sementara
obat racikan yang butuh ketelitian ekstra dikerjakan oleh Ginara.
Kerjaan
mereka selesai bertepatan dengan jam makan siang, sebelum keluar mereka meminta
bantuan Sasa dan Santi untuk memindahkan paper bag yang sudah siap diambil
pemiliknya di box pengambilan obat. Hari ini ramai sekali orang yang berkunjung
untuk menukar resep dengan obat.
Mereka telah sampai di restoran OG faforit mereka,
segera mereka memesan cah baby col, iga bakar, gurami bakar pedas, dan tak
ketinggalan dua gelas jeruk panas.
“Davin udah taaruf sama cewek tau” Kata Ginara
sambil menyuap nasi dan iga ke mulutnya.
“What? Anak itu…ckckck diam-diam ternyata
menghanyutkan juga ya, gimana ceritanya?”
“Tau tu, tiba-tiba aja minta direstui papa bunda,
__ADS_1
huh”
“Jangan iri…ntar juga bakalan di lamar sama Aldy”
Kerling Dina.
“Situ kali yang iri, Abang gak juga bergerak minta
restu…” Dina mencebikkan bibir.
“Heran aku sama abangmu, gak pernah peka jadi
cowok” Ginara tersenyum mendengar keluhan Dina, ia melihat kehadiran Genta dan
Davin menuju ke arah mereka, sementara Dina yang membelakangi tidak mengetahui
kehadiran mereka. Ginara semakin gencar menggoda Dina.
“Gak peka gimana, bukannya abang sudah nyatain perasaannya
ke kamu?” Genta yang mendengar pertanyaan Ginara terdiam, penasaran dengan
jawaban yang akan diberikan oleh Dina.
“Nyatain apa Gi, sampai detik ini kayak digantung
nih”
“Wah…keterlaluan abang, anak gadis orang dimainin,
udah cuekin aja” Ginara memanas-manasi Dina sementara Genta sudah mendelik
galau.
“Eh Gi, aku jadi ragu deh sama abangmu…”
“Oh ya, kabarnya temen Abang yang naksir kamu
gimana?” Tanya Ginara sambil tersenyum menggoda, mengabaikan keraguan Dina,
sengaja untuk membuat laki-laki yang di belakang Dina cemburu. Biar tahu rasa,
sedap dipandang.
“Dokter Rendi ya…” Jawaban Dina mengambang. Tangan
laki-laki itu semakin mengepal membuat Ginara tersenyum senang.
“Dia masih sering mendekatimu ya”
“Hmmm, tapi kamu tahu sendiri bagaimana abangmu”
“Iya sih, super posesif tapi pengecut” Ginara
melirik sekilas ke belakang Dina dengan tersenyum sinis, yang dilirik menatap
tajam dengan kemarahan di matanya. Sementara pemuda di sampingnya hanya menutup
mulutnya dengan kedua tangannya, takut tawa yang ia tahan dari tadi lepas.
“Kalau kamu sendiri gimana?” Tanya Ginara kemudian.
Dina diam, ia merasai perasaannya sendiri. Genta menanti jawaban Dina dengan
menahan nafas.
“Kamu tahu sendiri Gi, sejak SMA aku sudah menyimpan
namanya di hatiku, hah, tapi kamu tahu sendiri, responnya minim banget…”
“Kamu sudah bosan kali Din, secara selama itu…”
Kata Ginara semakin gencar menggoda Genta, wajah laki-laki itu benar-benar sudah
tidak enak dipandang dengan mata mendelik marah.
“Apa iya ya Gi, percuma kali kalau cuma satu pihak,
__ADS_1
mending…”
“Mending diapain hmmm!” Potong suara tajam di
belakangnya. Reflek Dina menoleh, wajahnya langsung merah padam menahan malu,
aduh, sama aja dia menyatakan perasaannya lebih dahulu pada seorang laki-laki,
sialan Ginara, ia sengaja menjebakku. Batinnya.
Ginara dan Davin tertawa lepas melihat kepanikan
Dina dan kemarahan Genta. Dua orang yang sama-sama tinggi egonya untuk mengakui
perasaan masing-masing, hari ini terungkap sudah.
“Eh, abang…lho katanya ada meeting tadi…” Kilah
Dina agak panik.
“Hmm, untung aja meetingku di dekat sini dan
kebetulan juga ketemu kalian, coba kalau nggak…” Genta menatap Dina tajam. Gadis
itu hanya memandang gugup. Sementara Ginara dan Davin hanya terkikik lucu.
“Diam kalian, awas kau Gi!” Dina menatap keduanya
marah, yang ditatap tetap dengan wajah santai dan tertawa.
“Din, kali ini aku tidak akan menunda” Genta
mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya dan memegang tangan kanan Dina.
Gadis itu hanya menatap shock.
“Din, aku bukan pria romantis, aku tidak pandai
merayu, mungkin aku terkesan kaku di matamu, tapi aku serius sama kamu, maukah
kamu menjadi istriku, ibu dari anak-anaku?” Genta melamar Dina di hadapan
adik-adiknya. Biarlah mereka menjadi saksi bagi hubungan serius keduanya.
“Terima Din”
“Terima Mbak Din” Seru Ginara dan Davin bersamaan.
Apa ini, siang-siang mendapat surpise dari sang
pacar, hehe. Gadis itu menunduk malu kemudian mengangguk.
“Aku butuh jawaban Din bukan isyarat” Dina
mendongak kaget sekaligus malu.
“I..iya, aku bersedia” Kata Dina.
“Alhamdulillah” Seru ketiga bersaudara itu yang
membuat sebagian pengunjung menatap ke meja lesehan mereka. Genta mengambil
cincin berlian di kotak beludru itu kemudian memakaikannya di jari manis Dina
sebelah kiri.
“Terima kasih sudah mencintaiku selama itu, maaf
aku memang orang yang gak peka sama sekali”
“Ah…nggak kok bang, Dina seneng akhirnya hari ini
terjadi di hidup Dina…” Katanya jujur.
Lengkap sudah putra putri Papa Reza dan Bunda Tiara
sudah memiliki pasangan semua, sesuai doa dari Tiara yang mempunyai keinginan
__ADS_1
menikahkan massal mereka. Ah…unik dan seru kali ya….kita tunggu aja yaaaa
To Be Continued