
Pagi hari setelah berpamitan dengan penduduk
sekitar dan para relawan yang masih tinggal, rombongan Ginara meninggalkan
Lumajang untuk kembali pulang ke Kota Malang. Tiga mobil beriringan menyelusuri
sepanjang jalanan desa diirngi dengan lambaian tangan selamat jalan para warga
sambil mengucapkan banyak terima kasih.
“Bahagianya memiliki seorang bidadari cantik di
sisiku…” Puji Aldy sambil membelai rambut gadis di sebelahnya sayang. Gadis itu
menoleh tersenyum heran.
“Apaan sih, gak jelas tahu”
“Eh, kamu gak dengar tadi teriakan para warga yang
mengucapkan terima kasih dengan menyebut namamu lho di tambahi embel-embel Eneng
Bidadari…” Ginara hanya melengos pelan.
Aldy tersenyum melirik kekasihnya, dalam hatinya ia
merasa bersyukur memiliki seorang kekasih yang berjiwa mulia.
Flashback On
Aldy mencari keberadaan Ginara di antara para
dokter yang menangani anak-anak yang terserang batuk dan radang tenggorokan,
tapi ia tidak menemui gadisnya itu. Di tempat para relawan berkumpul membagikan
bantuan juga tidak ada. Dia mencari teman-teman Ginara tapi mereka juga tidak
tahu keberadaan gadis itu. Langkahnya menuju ke aula para relawan tinggal,
sejauh mata memandang, tidak Nampak sosok gadis yang dicarinya.
Kepanikan dan kekhawatiran muncul diirngi dengan langkah
tergesa mulai mencari Ginara di sepanjang jalan. Dia sudah dewasa, tapi kan
tidak mengenal daerah sini, bagaimana kalau tersesat. Tiap penduduk yang lewat
ia tanyai dengan ciri-ciri yang ia sampaikan, sampai ia mendapatkan informasi
dari salah satu relawan yang kebetulan melihat seorang gadis yang membantu para
dokter tadi memasuki tenda para pengungsi.
Aldy segera berlari ke arah tenda, waktu sudah
menunjukkan pukul 11.00 malam. Sampai di tenda, ia begitu pusing melihat begitu
banyak warga yang berada di sana, hanya ia sedikit heran, wajah mereka tampak
sumringah bahagia. Walaupun belum menemukan Ginara, ia berusaha bertanya pada
__ADS_1
salah satu warga yang kebetulan belum tertidur.
“Permisi pak, apa bapak melihat seorang gadis
dengan tinggi 180 cm dengan rambut sebahu….”
“Oh…Eneng Bidadari ya, ma syaa allah, mulia sekali enengnya
mas”
“Iya, eh, maksudnya pak?” Tanya Aldy heran.
“Iya mas, Eneng Bidadari mendatangi kami dari habis
magrib tadi trus membagikan amplop kepada kami…” Jelas bapak tersebut. Pemuda
itu masih menatap heran bapak pengungsi itu.
“Sebentar..sebentar, maksud saya Eneng Bidadari itu
namanya siapa ya pak?” Tanyanya penasaran sekaligus ingin memastikan bahwa
bidadari itu kekasihnya.
Bapak pengungsi itu tampak berpikir sebentar
kemudian tersenyum cerah, “Tadi katanya namanya Ginara..ya Eneng Ginara Mas” Aldy
memandang takjub.
“Mau tahu berapa jumlah dalam amplop itu?” Lanjut
bapak pengungsi itu. Aldy menggeleng.
Aldy melotot tak percaya. Ma syaa allah…ia takjub sekali dengan gadis itu.
Ternyata ia masih belum mengetahui kebiasaan gadisnya.
“Ada berapa kk di sini pak?” Tanya Aldy.
“Hmmm, kurang lebih 65 kk mas” Aldy kembali
membelalakkan matanya. Baginya uang segitu memang tidak seberapa karena banyak
perusahaan yang ia kelola dan sering transaksi dengan jumlah yang lebih dari
itu, pun dengan memberi sumbangan, tapi gadis itu…benar-benar sungguh mulia.
Flashback Off
“Terimakasih….” Ucap Aldy kemudian. Ginara kembali
menoleh heran.
“Untuk?”
“Bersedia berada di sisiku, aku tidak salah pilih,
kau benar-benar memiliki hati yang sangat mulai, aku bangga memilikimu.”
“Jangan membuatku menjadi orang takabur” Pinta
__ADS_1
Ginara.
“Tidak, aku memuji karena Allah, semoga terus
begini dan kita bisa menjadi berguna bagi orang lain” Aldy tersenyum. Ginara
menatap pemuda di sebelahnya ikut tersenyum.
“Aamiin, semoga”
******
Aldy mengantar Ginara sampai di depan rumahnya.
“Nggak ingin mampir?” Tanya Ginara.
“Besok aja sekalian jemput, dah lengket banget ini”
“Iya deh, hati-hati ya, terima kasih” Aldy
tersenyum mengiringi Ginara sampai hilang di balik pagar, kemudian ia kembali
menghidupkan mobil dan meluncur pulang ke rumahnya.
“Assalamu’alaikum, bunda, papa” Panggil Ginara ketika
memasuki ruang tamu. Ia langsung menuju ke ruang keluarga, benar saja orang
yang dicarinya sedang duduk di sofa seraya melihat televisi.
“Wa’alaikumussalam, lho Gi sudah datang, nak Aldy
nya mana?” Tanya Tiara melihat Ginara masuk hanya seorang diri. Gadis itu
mendatangi kedua orang tuanya kemudian mencium tangan dan pipi keduanya.
“Langsung pulang bun, kasian capek juga.”
“Oh…gimana di sana?” Tanya Reza.
“Ya gitu pa, kasihan banget, terutama banyak anak
yang terserang sesak napas, batuk, dan radang tenggorokan, kalau yang dewasa
palingan cuma batuk aja.” Reza mengangguk.
“Ya sudah, mandi dulu aja, trus istirahat” Kata
Tiara. Gadis itu mengannguk.
“Iya bun, Gi ke kamar dulu ya”
Kedua orang tua itu mengangguk tersenyum kemudian
melanjutkan melihat televisi yang lagi seru-serunya.
Ginara keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar,
ia menuju ke ranjang untuk merilekskan tubuhnya. Dalam sekejap, ia sudah
terbang ke alam mimpi bersama harapan esok akan menjadi lebih baik.
__ADS_1
To Be Continued