Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Eneng Bidadari


__ADS_3

Pagi hari setelah berpamitan dengan penduduk


sekitar dan para relawan yang masih tinggal, rombongan Ginara meninggalkan


Lumajang untuk kembali pulang ke Kota Malang. Tiga mobil beriringan menyelusuri


sepanjang jalanan desa diirngi dengan lambaian tangan selamat jalan para warga


sambil mengucapkan banyak terima kasih.


“Bahagianya memiliki seorang bidadari cantik di


sisiku…” Puji Aldy sambil membelai rambut gadis di sebelahnya sayang. Gadis itu


menoleh tersenyum heran.


“Apaan sih, gak jelas tahu”


“Eh, kamu gak dengar tadi teriakan para warga yang


mengucapkan terima kasih dengan menyebut namamu lho di tambahi embel-embel Eneng


Bidadari…” Ginara hanya melengos pelan.


Aldy tersenyum melirik kekasihnya, dalam hatinya ia


merasa bersyukur memiliki seorang kekasih yang berjiwa mulia.


Flashback On


Aldy mencari keberadaan Ginara di antara para


dokter yang menangani anak-anak yang terserang batuk dan radang tenggorokan,


tapi ia tidak menemui gadisnya itu. Di tempat para relawan berkumpul membagikan


bantuan juga tidak ada. Dia mencari teman-teman Ginara tapi mereka juga tidak


tahu keberadaan gadis itu. Langkahnya menuju ke aula para relawan tinggal,


sejauh mata memandang, tidak Nampak sosok gadis yang dicarinya.


Kepanikan dan kekhawatiran muncul diirngi dengan langkah


tergesa mulai mencari Ginara di sepanjang jalan. Dia sudah dewasa, tapi kan


tidak mengenal daerah sini, bagaimana kalau tersesat. Tiap penduduk yang lewat


ia tanyai dengan ciri-ciri yang ia sampaikan, sampai ia mendapatkan informasi


dari salah satu relawan yang kebetulan melihat seorang gadis yang membantu para


dokter tadi memasuki tenda para pengungsi.


Aldy segera berlari ke arah tenda, waktu sudah


menunjukkan pukul 11.00 malam. Sampai di tenda, ia begitu pusing melihat begitu


banyak warga yang berada di sana, hanya ia sedikit heran, wajah mereka tampak


sumringah bahagia. Walaupun belum menemukan Ginara, ia berusaha bertanya pada

__ADS_1


salah satu warga yang kebetulan belum tertidur.


“Permisi pak, apa bapak melihat seorang gadis


dengan tinggi 180 cm dengan rambut sebahu….”


“Oh…Eneng Bidadari ya, ma syaa allah, mulia sekali enengnya


mas”


“Iya, eh, maksudnya pak?” Tanya Aldy heran.


“Iya mas, Eneng Bidadari mendatangi kami dari habis


magrib tadi trus membagikan amplop kepada kami…” Jelas bapak tersebut. Pemuda


itu masih menatap heran bapak pengungsi itu.


“Sebentar..sebentar, maksud saya Eneng Bidadari itu


namanya siapa ya pak?” Tanyanya penasaran sekaligus ingin memastikan bahwa


bidadari itu kekasihnya.


Bapak pengungsi itu tampak berpikir sebentar


kemudian tersenyum cerah, “Tadi katanya namanya Ginara..ya Eneng Ginara Mas” Aldy


memandang takjub.


“Mau tahu berapa jumlah dalam amplop itu?” Lanjut


bapak pengungsi itu. Aldy menggeleng.


Aldy melotot tak percaya. Ma syaa allah…ia takjub sekali dengan gadis itu.


Ternyata ia masih belum mengetahui kebiasaan gadisnya.


“Ada berapa kk di sini pak?” Tanya Aldy.


“Hmmm, kurang lebih 65 kk mas” Aldy kembali


membelalakkan matanya. Baginya uang segitu memang tidak seberapa karena banyak


perusahaan yang ia kelola dan sering transaksi dengan jumlah yang lebih dari


itu, pun dengan memberi sumbangan, tapi gadis itu…benar-benar sungguh mulia.


Flashback Off


“Terimakasih….” Ucap Aldy kemudian. Ginara kembali


menoleh heran.


“Untuk?”


“Bersedia berada di sisiku, aku tidak salah pilih,


kau benar-benar memiliki hati yang sangat mulai, aku bangga memilikimu.”


“Jangan membuatku menjadi orang takabur” Pinta

__ADS_1


Ginara.


“Tidak, aku memuji karena Allah, semoga terus


begini dan kita bisa menjadi berguna bagi orang lain” Aldy tersenyum. Ginara


menatap pemuda di sebelahnya ikut tersenyum.


“Aamiin, semoga”


******


Aldy mengantar Ginara sampai di depan rumahnya.


“Nggak ingin mampir?” Tanya Ginara.


“Besok aja sekalian jemput, dah lengket banget ini”


“Iya deh, hati-hati ya, terima kasih” Aldy


tersenyum mengiringi Ginara sampai hilang di balik pagar, kemudian ia kembali


menghidupkan mobil dan meluncur pulang ke rumahnya.


“Assalamu’alaikum, bunda, papa” Panggil Ginara ketika


memasuki ruang tamu. Ia langsung menuju ke ruang keluarga, benar saja orang


yang dicarinya sedang duduk di sofa seraya melihat televisi.


“Wa’alaikumussalam, lho Gi sudah datang, nak Aldy


nya mana?” Tanya Tiara melihat Ginara masuk hanya seorang diri. Gadis itu


mendatangi kedua orang tuanya kemudian mencium tangan dan pipi keduanya.


“Langsung pulang bun, kasian capek juga.”


“Oh…gimana di sana?” Tanya Reza.


“Ya gitu pa, kasihan banget, terutama banyak anak


yang terserang sesak napas, batuk, dan radang tenggorokan, kalau yang dewasa


palingan cuma batuk aja.” Reza mengangguk.


“Ya sudah, mandi dulu aja, trus istirahat” Kata


Tiara. Gadis itu mengannguk.


“Iya bun, Gi ke kamar dulu ya”


Kedua orang tua itu mengangguk tersenyum kemudian


melanjutkan melihat televisi yang lagi seru-serunya.


Ginara keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar,


ia menuju ke ranjang untuk merilekskan tubuhnya. Dalam sekejap, ia sudah


terbang ke alam mimpi bersama harapan esok akan menjadi lebih baik.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2