
Bibir Ginara bergetar hebat menatap benda tak
bernyawa di hadapannya. Dadanya kian sesak oleh tangisan. Kerinduan yang ia
tahan selama ini kini pecah di sana. Di peluknya dengan begitu erat batu yang
bertuliskan nama mamanya. Tidak ada suara di sana, hanya isak tangis pilu yang
tersendat oleh rasa sesak.
Ada banyak yang ingin ia ungkapkan.
Ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan tapi
mulutnya tidak mampu untuk bergerak. Hanya air mata yang terus mengalir tanpa
henti.
“Aku hebat bukan ma?” Ucapnya serak. Beberapa kali
tangannya bergerak untuk menyeka air matanya. Namun bulir kristal itu seperti
tidak mengerti dan tanpa malu terus membasahi wajahnya.
“Ma, yang aku lalui sangat menyakitkan” Sambungnya
terisak. Wajahnya kini tertunduk di atas nama mamamnya. Semua orang yang berada
di sana kini menyeka air matanya masing-masing, tak terkecuali Aldy. Tidak ada
yang bisa menahan diri untuk tidak menangis saat menyaksikan sesuatu yang
begitu menyedihkan.
“Setelah hari itu, ini pertama kalinya kita bertemu
ma” Ucapnya begitu lemah, “Aku rindu ma, bahkan sangat rindu ma” Ungkapnya lagi
penuh sesak.
“Tidak ada satupun yang bisa membuat aku lupa akan
mama, aku selalu rindu ma, aku rindu pelukanmu, suara nyanyianmu sebelum aku
tertidur dan aku rindu kita bersama” Sambungnya. Tangis Ginara semakin oecah di
sana. Tetesan air hujan seolah memahami apa yang sedang di rasakan oleh Ginara
, membuatnya seirama dengan racauan Ginara dan air matanya yang terus mengalir.
Dina mendekat. Dipeluknya tubuh lemah yang memeluk
__ADS_1
erat sebuah batu. Bahkan ia sendiri tidak mampu berkata-kata saat ini, walau
hanya mengucapkan kalimat menenangkan untuk sahabatnya.
Isak tangisnya ikut pecah saat tubuhnya merasakan
getaran tubuh Ginara, “kau kuat, kau orang yang kuat Gi” Ucapnya dan hanya itu
yang bisa ia ucapnya sebagai kalimat penghiburan.
“Kami selalu ada untukmu Gi, dan semua orang di
sini ada karena menyayangimu bahkan sangat menyayangimu. “Ucapnya kemudian.
Aldy kini hanya bisa terdiam mematung dengan
sesekali menyeka air matanya. Hatinya begitu sakit saat melihat Wanita yang
dicintainya tengah menangis dengan pilu, dan tidak ada yang bisa menahan diri
untuk tidak menangis melihat itu.
Aldy ingin sekali menghentikam air mata itu dan
memeluknya dengan sangat erat. Namun setiap kali ia ingin mendekat tangan Davin
selalu menghentikannya.
“Biarkan dia menangis. Biarkan untuk terakhir
Davin tahu, memang ini yang diinginkan dan ini yang harus terjadi. Perempuan
itu harus meluapkan perasaannya demi hidup yang benar-benar Bahagia.
“Tapi Dav…”
“Ini demi kesembuhan traumanya Al, dan berjanjilah
bahwa kau tidak akan pernah membiarkan air mata itu Kembali menetes.” Ucap
Davin. Aldy menarik nafas bersama mata yang terpejam, rasanya ia tidak sanggup
untuk terus melihat wanitanya menangis.
Semua orang semakin terisak, terlebih dua perempuan
yang saling merengkuh di sebelah makam. Berulang kali Dina menyeka air mata
yang tidak berhenti mengalir. Semua orang seperti merasakan apa yang kini
tengah dirasakan oleh Ginara, terutama Hana dan Windi yang merasa karena
__ADS_1
merekalah trauma Ginara terjadi.
“Menangislah Gi, luapkan semua kerinduanmu di sini”
Kata Dina di sela isak tangisnya.
“Bahkan aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa
Din.” Ucap Ginara dengan tangis yang tersendat, “aku tidak tahu apa lagi yang
akan aku katakan padanya.” Dina terdiam.
“Tapi ma aku ingin marah, mama harus tahu kalau aku
benci menjalani hidup ini. Aku benci menghadapinya sendiri. Kenapa kau harus
meninggalkan aku sendiri ma, aku takut dan aku kesepian ma.” Racaunya.
“Kau begitu tidak adil ma, kau lebih memilih
nyawamu daripada menjagaku, kenapa kau tidak membawaku serta ma, aku ingin
bersamamu ma” Racaunya Kembali dengan berderai air mata.
Hana dan Windi yang mendengar racauan itu tanpa
bisa menghentikan tangisan yang terus mengalir. Mereka ikut merasakan kesakitan
yang di rasakan Ginara, karena bisa dikatakan semua perasaannya yang di alami
Ginara di akibatkan oleh mereka.
Dengan kaki bergetar Hana mendekat ke sisi makam.
Air matanya sudah tidak berhenti mengalir bahkan kini semakin deras mengalir,
“maafkan Uti sayang” Ucap Hana terisak.
“Maafkan ibu Maira, akulah yang membuat putrimu
merasakan penderitaan selama ini” Sambungnya penuh penyesalan, “sekali lagi maafkan
Uti” Hana mengusap lembut kepala Ginara.
“Aku berjanji akan menjaganya Maira, menyayanginya
sepenuh hatiku” Ucapnya lemah. Ginara menangis sesenggukan di pelukan Hana.
Sena mendekat kemudian membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya, “Maira pasti
mengerti dan memaafkanmu sayang” Ucapnya pada Hana, kemudian membawa tubuh itu
__ADS_1
sedikit menjauh dari sisi makam.
To Be Continued