Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Jangan lagi ada air mata (2)


__ADS_3

Bibir Ginara bergetar hebat menatap benda tak


bernyawa di hadapannya. Dadanya kian sesak oleh tangisan. Kerinduan yang ia


tahan selama ini kini pecah di sana. Di peluknya dengan begitu erat batu yang


bertuliskan nama mamanya. Tidak ada suara di sana, hanya isak tangis pilu yang


tersendat oleh rasa sesak.


Ada banyak yang ingin ia ungkapkan.


Ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan tapi


mulutnya tidak mampu untuk bergerak. Hanya air mata yang terus mengalir tanpa


henti.


“Aku hebat bukan ma?” Ucapnya serak. Beberapa kali


tangannya bergerak untuk menyeka air matanya. Namun bulir kristal itu seperti


tidak mengerti dan tanpa malu terus membasahi wajahnya.


“Ma, yang aku lalui sangat menyakitkan” Sambungnya


terisak. Wajahnya kini tertunduk di atas nama mamamnya. Semua orang yang berada


di sana kini menyeka air matanya masing-masing, tak terkecuali Aldy. Tidak ada


yang bisa menahan diri untuk tidak menangis saat menyaksikan sesuatu yang


begitu menyedihkan.


“Setelah hari itu, ini pertama kalinya kita bertemu


ma” Ucapnya begitu lemah, “Aku rindu ma, bahkan sangat rindu ma” Ungkapnya lagi


penuh sesak.


“Tidak ada satupun yang bisa membuat aku lupa akan


mama, aku selalu rindu ma, aku rindu pelukanmu, suara nyanyianmu sebelum aku


tertidur dan aku rindu kita bersama” Sambungnya. Tangis Ginara semakin oecah di


sana. Tetesan air hujan seolah memahami apa yang sedang di rasakan oleh Ginara


, membuatnya seirama dengan racauan Ginara dan air matanya yang terus mengalir.


Dina mendekat. Dipeluknya tubuh lemah yang memeluk

__ADS_1


erat sebuah batu. Bahkan ia sendiri tidak mampu berkata-kata saat ini, walau


hanya mengucapkan kalimat menenangkan untuk sahabatnya.


Isak tangisnya ikut pecah saat tubuhnya merasakan


getaran tubuh Ginara, “kau kuat, kau orang yang kuat Gi” Ucapnya dan hanya itu


yang bisa ia ucapnya sebagai kalimat penghiburan.


“Kami selalu ada untukmu Gi, dan semua orang di


sini ada karena menyayangimu bahkan sangat menyayangimu. “Ucapnya kemudian.


Aldy kini hanya bisa terdiam mematung dengan


sesekali menyeka air matanya. Hatinya begitu sakit saat melihat Wanita yang


dicintainya tengah menangis dengan pilu, dan tidak ada yang bisa menahan diri


untuk tidak menangis melihat itu.


Aldy ingin sekali menghentikam air mata itu dan


memeluknya dengan sangat erat. Namun setiap kali ia ingin mendekat tangan Davin


selalu menghentikannya.


“Biarkan dia menangis. Biarkan untuk terakhir


Davin tahu, memang ini yang diinginkan dan ini yang harus terjadi. Perempuan


itu harus meluapkan perasaannya demi hidup yang benar-benar Bahagia.


“Tapi Dav…”


“Ini demi kesembuhan traumanya Al, dan berjanjilah


bahwa kau tidak akan pernah membiarkan air mata itu Kembali menetes.” Ucap


Davin. Aldy menarik nafas bersama mata yang terpejam, rasanya ia tidak sanggup


untuk terus melihat wanitanya menangis.


Semua orang semakin terisak, terlebih dua perempuan


yang saling merengkuh di sebelah makam. Berulang kali Dina menyeka air mata


yang tidak berhenti mengalir. Semua orang seperti merasakan apa yang kini


tengah dirasakan oleh Ginara, terutama Hana dan Windi yang merasa karena

__ADS_1


merekalah trauma Ginara terjadi.


“Menangislah Gi, luapkan semua kerinduanmu di sini”


Kata Dina di sela isak tangisnya.


“Bahkan aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa


Din.” Ucap Ginara dengan tangis yang tersendat, “aku tidak tahu apa lagi yang


akan aku katakan padanya.” Dina terdiam.


“Tapi ma aku ingin marah, mama harus tahu kalau aku


benci menjalani hidup ini. Aku benci menghadapinya sendiri. Kenapa kau harus


meninggalkan aku sendiri ma, aku takut dan aku kesepian ma.” Racaunya.


“Kau begitu tidak adil ma, kau lebih memilih


nyawamu daripada menjagaku, kenapa kau tidak membawaku serta ma, aku ingin


bersamamu ma” Racaunya Kembali dengan berderai air mata.


Hana dan Windi yang mendengar racauan itu tanpa


bisa menghentikan tangisan yang terus mengalir. Mereka ikut merasakan kesakitan


yang di rasakan Ginara, karena bisa dikatakan semua perasaannya yang di alami


Ginara di akibatkan oleh mereka.


Dengan kaki bergetar Hana mendekat ke sisi makam.


Air matanya sudah tidak berhenti mengalir bahkan kini semakin deras mengalir,


“maafkan Uti sayang” Ucap Hana terisak.


“Maafkan ibu Maira, akulah yang membuat putrimu


merasakan penderitaan selama ini” Sambungnya penuh penyesalan, “sekali lagi maafkan


Uti” Hana mengusap lembut kepala Ginara.


“Aku berjanji akan menjaganya Maira, menyayanginya


sepenuh hatiku” Ucapnya lemah. Ginara menangis sesenggukan di pelukan Hana.


Sena mendekat kemudian membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya, “Maira pasti


mengerti dan memaafkanmu sayang” Ucapnya pada Hana, kemudian membawa tubuh itu

__ADS_1


sedikit menjauh dari sisi makam.


To Be Continued


__ADS_2