
Dewi sebenarnya ingin mengenalkan dirinya pada Aldi, tapi perkenalan ini terputus karena para murid lain mulai ribut, berlarian keluar. "Apakah dia benar-benar kembali? Jadi dia benar-benar kembali? Dia bahkan mengenakan seragam" gumam mereka penasaran.
Tias bingung, dengan cepat ia menyadari sesuatu, "Apakah...Oh, tidak!" seru Tias.
Kimi menyahut ya, benar. Sedangkan Aldi menanggapi santai "Dia datang ke sekolah? Aku perlu mencari Rendi" Aldi berlari lain arah.
Tias langsung pergi, Kimi juga bergegas pergi keluar. Tinggal Dewi sendirian di dalam loker bingung.
Anak-anak bergerombol membentuk lingkaran berdiri di halaman depan. Mengelilingi Dimas sang harimau yang kembali masuk ke hutan.
Tias, Kimi dan Steven datang terakhir kali.
Dimas tersenyum menyapa Tias "Sudah lama kita tak bertemu" Tias langsung merengut.
"Kau tidak perlu menatapku seperti itu.. Semua orang tahu bahwa kita sudah bertunangan" ucap Dimas pada Kimi yang memandanginya dengan kesal.
Ucapan salam juga Dimas tujukan pada Steven "Pacar mantanku..Apa yang kau lakukan di sini?Tunjangan karyawan?".
"Ya..Itulah dia" desis Tias kesal, menilai Dimas masih sama seperti yang dulu.
Di atas atap, ada siswa lain yang diam-diam menatap ke bawah kerumunan, "Lucifer muncul di sekolah Satan..Menarik" Dani menarik senyum tipis.
Rendi, sang srigala masuk ketengah kerumanan, jalan mendekat ke tengah. Percikan api permusuhan mulai berkobar. Membuat Dani semakin tertarik melihat dari atas.
Sang harimau dan serigala saling berhadapan dan memandang lama satu sama lain. Sengatan aliran listrik keluar dari mata mereka.
Aldi lari ke tengah lingkaran, memanggil Rendi. Lalu melihat Dimas, "Oh..Kalian sudah bertemu" ucap Aldi mundur teratur kembali ke barisan.
"Aku merindukanmu, teman!" sapa Dimas lebih dulu dengan nada di tekan.
"Selamat datang" balas Rendi menyinggung senyum sinis dengan alis terangkat.
"Tenanglah, aku tidak akan melakukan apa-apa sekarang padamu!".
"Jadi ayo katakan salam mu. Kau akan menakut-nakuti anak-anak".
Semua anak-anak tegang. Di tengah ketegangan itulah, Dewi melenggang santai memasuki kerumunan tanpa melihat sekelilingnya. Pandangannya fokus menatap ponsel. Tias dan Kimi menatap heran, terlebih Steven.
Dewi berdiri di tengah-tengah di antara Dimas dan Rendi.
Dewi sedang mengetik SMS, "Steven! Dimana kau? Aku di sekolah sekarang".
__ADS_1
Dewi merasakan ada yang tak beres. Mengangkat kepalanya, banyak siswa di depannya.
Lalu menoleh ke kanan, kaget ada Dimas menatapnya. Pria yang membuat ia menangis semalam. Lalu menoleh kesebelah kiri, ada Rendi yang bahkan ia tak tahu siapa namanya.
Dewi bingung, diam sejenak. Lalu kembali menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat menoleh ke arah Dimas Dewi tidak bereaksi, karena ia mengenal Dimas. Tapi saat menoleh ke Rendi, Dewi mundur sedikit takut menyadari pria yang di depannya itu adalah pria yang menghadang jalannya kemarin malam.
Dewi bingung. Hari pertama masuk sekolah yang jauh dari perkiraan.
kembalinya Dimas ke sekolah High School, membawa kehebohan sendiri. Para murid berkumpul di Halaman depan mengelilinginya.
Dewi bingung, tak tahu apa yang terjadi. Rendi bersiul, "Ini seperti 1 set paket hadiah lIburan" tersenyum dengan gaya khasnya.
"Kau datang tanpa memakai seragam mu?" tanya Dimas. Wajah Rendi langsung suram, menyadari Dimas dan Dewi saling kenal.
Dewi seperti orang bego, tidak bisa mencerna, lalu Steven maju, menggandeng tangan Dewi pergi dari sana, "Ikuti aku" ucapnya sambil melirik Dimas.
"Aku sangat kesal!" gerutu Tias marah, dan disahuti "Aku juga" oleh Kimi.
Rendi terus mengamati Dimas yang masih melihat kepergian Dewi dari sudut matanya.
Kimi mendekati Rendi dan bertanya, "Apa kau sudah selesai memberi salam?". Tanpa menunggu jawaban Kimi berbalik hendak menghampiri Dimas.
Kimi meronta, "Lepaskan!".
"Aku tidak tahu tentang pelukan, Tapi kau bisa bertanya padaku tentang tangisan, karena aku bisa membuatmu menangis" balas Dimas dengan tatapan tajam.
"Lihat? Ini sudah mulai menyenangkan, Huft.... Aku akan menjadi semangat untuk ke sekolah setiap pagi sekarang" gumam Rendi.
Dimas maju mendekat dan menarik Kimi, membebaskan gadis itu dari cengkraman Rendi. Kimi sedikit terkejut dengan tindakan dimas.
"Kalau kau khawatir, harusnya kau pindah..Karena aku tidak bisa. Karena aku tidak bisa melakukan itu. Ibuku adalah ketua dewan" ucap Dimas.
"Ooo..." Rendi mengolok karena ia mengetahui siapa ibu kandung Dimas yang sebenarnya, "Ibu atau bibi?Begitu kah cara kamu membedakan keduanya?".
Wajah Dimas mengeras, rahangnya menggigit menahan geram. Rendi semakin menjadi, "Apakah aku bersikap berlebihan sekarang? Aku sangat senang bertemu denganmu lagi...Ayo berteman".
Rendi melangkah masuk ke dalam dengan senyum kemenangan, di ikuti Aldi. Dimas menatap marah punggung Rendi. Kimi mengajak Dimas bicara di suatu tempat, lalu jalan pergi lebih dulu. Dimas mengikuti di belakang.
Satu persatu anak-anak membubarkan diri, masuk ke dalam gedung sekolah. Dani tersenyum melihat dari atas.
Tias dan Vania masih di tempat mereka, melihat Dimas dan Kimi pergi.
__ADS_1
"Jadi dia Dimas yang terkenal itu?" tanya Vania pada Tias. "Aku dengar dia bahkan lebih jahat dari Rendi..Tapi dia sangat tampan".
"Itulah kenapa dia adalah iblis. Dia mem-bully yang lainnya dengan wajah setampan itu" ujar Tias.
"Bagaimana kau mengenalnya?" tanya Vania heran.
"Dia cinta pertamaku..Si brengsek" jawab Tias.
"Benarkah? Kau pernah pacaran dengan Dimas? Bagaimana semua ini bisa terjadi pada saat yang bersamaan?".
Tias diam saja, tak lepas memandang Dimas yang semakin menjauh.
Kimi berkata sepertinya ia harus mentraktir Aldi makan. Jika Aldi tidak menyebarkan rumor mengenai kembalinya Dimas. Ia pasti akan tercengang seperti orang lain yang tidak mengetahui apa-apa. Padahal statusnya adalah tunangan Dimas. Dimas menanggapi santai menyuruh Kimi mentraktir Aldi makanan yang enak.
"Dia ditransfer ke sekolah ini.. Apakah itu ada hubungannya denganmu?" tanya Kimi menuntut penjelasan.
"Itu tidak ada hubungannya denganku, karena pasti Ibuku yang menandatangani surat persetujuannya", jawab Dimas.
Kimi bertanya karena ia penasaran, jika Dimas lah yang menginginkan kepindahan Dewi.
"Sejak kapan keinginanku menjadi urusan keluargaku? Aku bahkan bertunangan tanpa aku menginginkannya. Dewi ditransfer ke sekolah ini tidak ada hubungannya denganku".
Kimi terkejut sekaligus terluka mendengar pengakuan Dimas barusan. Ia tahu sekarang, kalau Dimas bertunangan dengannya karena desakan orang tua bukan keinginan Dimas sendiri.
Kimi lalu melunak, mengajak Dimas bicara mengenai hubungan mereka saja. Tapi Dimas tidak bersedia, "Kita sudah berbicara tentang kita sekarang".
Dimas berjalan pergi, Kimi hanya menghela napas. Pasti hatinya sakit.
Dewi dan Steven bicara di taman sekolah, "Seharusnya kau menelponku, jadi kita bisa datang ke sekolah bersama-sama".
"Seharusnya kau yang menelponku, Kenapa kau tidak memberitahuku kalau Dimas adalah anak dari pemilik Grup Ahmad?" sahut Dewi.
Steven diam sebentar, "Jadi kau sudah tahu".
"Seharusnya kau memberitahu hal itu padaku" ujar Dewi.
"Dan jika memang aku memberitahumu?
Apakah kau akan meninggalkan rumah itu?" balas Steven.
BERSAMBUNG...
__ADS_1