
.
.
Di perusahaan yang di pimpin oleh Erka, ia menjalani rutinitasnya sama seperti hari-hari kemarin. Sedikit demi sedikit kini ia mulai berubah, tidak sedingin dulu pada Lia, asisten pribadinya.
Erka mengulas senyum manisnya, saat ia mengingat kembali gadis ubsurd yang selalu menghiasi hari-harinya di tengah patah hati yang melanda dirinya.
"Kenapa dalam pikiranku selalu ada dia, sih? Memangnya dia siapa sehingga dapat meracuni pikiranku?!" monolog Erka pelan.
Tanpa ia sadari jika di hadapannya kini telah berdiri gadis yang berada dalam pikirannya tadi.
"Ish.. Ngapain kamu berdiri disitu? Dan sejak kapan kamu berada di ruanganku? Kenapa juga kamu tidak mengetuk pintu dulu sih!" cecar Erka dengan segerombol pertanyaan tidak suka.
Namun Lia sama sekali tidak memperdulikan pria dingin yang kini menjadi bosnya, menurut Lia itu semua sudah biasa di dengarnya. Jadi Lia sudah merasa terbiasa dengan ucapan pedas Erka yang terkadang menohok hatinya.
"Sorry nih pak, tadi aku sudah mengetuk pintu ruangan bapak sampai tiga kali loh. Tapi bapak tidak menjawabnya, sementara pintu ruangan bapak kan sedikit terbuka, makanya aku menyelonong masul kesini. Soalnya aku terburu-buru pak!" jelas Lia pada pria dingin di hadapannya.
"Ah.. Itu hanya alasan kamu! Memangnya kamu mau kemana sih, pake berlagak terburu-buru!" cecar Erka penasaran.
"Em.. Begini pak, saya akan meminta tanda tangan dari anda. Dan sekali lagi aku mohon maaf pada bapak, aku izin pulang lebih awal ya. Aku mohon bapak mengizinkannya.."
"Ada masalah apa kamu harus pulang lebih awal? Tidak biasanya!" dengus Erka penasaran.
"Oh.. A..aku.. Aku harus menghadiri pertunangan..." ucap Lia terjeda saat ia melihat ibunya menghubungi dirinya lewat telepon genggam miliknya.
Meski Lia belum menyelesaikan ucapannya, ia sudah harus meninggalkan bos besarnya. Sementara Erka menurunkan tangannya, niat hati ia ingin bertanya lebih jauh pada gadis yang kini telah meninggalkan dirinya.
"Widih.. Bikin kesal juga ini anak ya! Belum juga aku selesai berbicara padanya., eh.. dia malah menyelonong pergi meninggalkan aku begitu saja!" monolog Erka pelan.
Namun Erka enggan berburuk sangka pada Lia, ia memilih untuk pergi menyusul Lia ke rumahnya. Meski sebenarnya Erka juga bingung alasan apakah yang nanti akan di berikan, jika ada seseorang yang bertanya padanya.
Erka mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, sehingga tidak butuh waktu yang lama dirinya sampai di rumah Lia. Tanpa Erka duga jika di rumah Lia memang ramai, mungkin apa yang di ucapkan Lia memang benar, jika dirinya akan bertunangan hari ini.
__ADS_1
Entah mengapa rasanya hati Erka menjadi dongkol, ia urung turun dari mobilnya. Bukan tanpa sebab, nanti dirinya tidak akan sebebas biasanya lagi dalam bercengkerama dengan asisten ubsurd nya.
Namun satu hal yang membuat Erka kesal, kenapa selama ini Lia sama sekali tidak berterus terang kepada dirinya tentang pertunangan ini. Di saat kepiluan yang melanda hati Erka, seorang wanita yang di kenalnya datang menghampiri dirinya.
Wanita itu menyapa dirinya, dan masih mengenakan pakaian yang sama seperti di kantor tadi. Biasanya seseorang yang akan bertunangan akan berdandan secantik mungkin, tapi Lia... Lia bahkan masih sama seperti tadi siang.
"Hallo bos.. Ternyata anda datang ke rumahku? Kenapa hanya diam saja disitu? Ayo turun dari mobil!" ajak Lia sambil mencoba membuka pintu mobil bos besarnya.
"Tidak..! Aku disini saja! Ngapain juga aku hadir di acara pertunangan kamu. Aku kesini hanya ingin memastikannya saja, jika kamu beneran akan bertunangan hari ini." ucapnya dengan berat hati.
Mendengar apa yang di ucapkan oleh bosnya, Lia tergelak tawa. Ia tidak dapat menahan tawa dalam hatinya lagi, Lia sama sekali tidak menyangka jika Erka si bos dinginnya akan salah menilai jika dirinya yang akan bertunangan.
"Ha..ha..ha.. Jadi menurut anda seperti itu ya?" ucap Lia dengan seringai di bibirnya.
"Apa..? Apa maksud dari ucapan kamu? Lebih baik kamu masuk dan temui calon tunangan kamu itu. Nanti dia salah menduga kita ada apa-apa lagi!" balas Erka sedih.
Lia tertawa lagi, hingga ibunya datang menghampiri dirinya dan juga Erka. Wanita setengah baya itu menegur Lia, mengapa tamunya di biarkan menunggu di luar.
"Adelia.." sapa Roselin, ibunya Lia.
"Kenapa kamu membiarkan tamu kita menunggu di luar, ajak dia masuk!" titah Roselin pada anak gadisnya.
Erka merasa tidak enak hati, ia menolak dengan halus ucapan ibunya Lia.
"Tidak perlu repot-repot tante, kebetulan saya lewat sini jadi saya berhenti disini sebentar." kilah Erka pada Roselin.
"Kenetulan lewat? Apa sengaja mengikuti aku?" cibir Lia pelan.
Mendengar ocehan putrinya Roselin merasa tidak enak hati, apalagi tadi Lia bilang jika yang datang adalah bos besarnya di kantor. Roselin menyikut lengan Adelia, seraya memelototi putri keduanya, ia berharap Lia akan segera meminta maaf pada laki-laki di depannya.
"Lia.. Tidak baik berbicara seperti itu di depan bos kamu! Nanti kamu akan mendapat masalah di kantor lho..!" ucap Roselin memberi nasehat pada Adelia.
"Biarin saja lah bu, lagian apa yang aku ucapkan kan memang benar adanya. Iya kan pak Erka..?" ucap Lia dengan lantang.
__ADS_1
"Lia.. Kamu ini bikin malu saja.." gertak Roselin sambil menggertakan giginya pada Lia, sementara Lia malah mencebikan bibirnya kesal.
Erka merasa tidak hati karena kedatangannya, malah membuat Lia terkena masalah dari ibunya. Ia meminta maaf pada Roselin, serta memintanya untuk tidak memarahi Lia.
"Tidak apa-apa tante. Anda tidak perlu memarahi Lia, ini semua memang salahku. Aku mohon maaf jika kehadiranku disini malah membuat suasana menjadi kacau!" ujar Erka merasa bersalah.
"Sama sekali tidak tuan. Lia memang seperti orangnya, dia terlalu berkata blak-blakan. Mari masuklah.. Singgah di tempat kami, karena sebentar lagi acara pertunangan Seira, kakaknya Lia." ucap Roselin jujur.
Apa yang di ucapkan oleh ibunya Lia membuat Erka melongo, ia tak percaya dan ingin segera memberondong berbagai pertanyaan untuk Adelia.
"Apa tante, ini pertunangan kakaknya Lia? Jadi bukan pertunangan Lia ya, tan?" tanya Erka tanpa ragu.
"Hah.. Apa maksud anda tuan? Ini pertunangan Seira kakaknya Lia, memangnya Lia tidak bilang kalo dia ingin menghadiri pertunangan kakaknya? Lia kan belum memiliki pacar, jadi dia belum tunangan tuan!" balas Roselin pelan, ia tidak menyangka jika Lia masih suka jahil pada siapa pun.
"Anak itu bikin malu saja.. Pasti besok di kantor dia akan terkena masalah lagi deh.." monolog Roselin dalam hatinya.
"Begitu ya tan? Oya karena sebentar lagi acaranya akan di mulai, tante masuk saja ke dalam. Saya akan kembali lagi ke kantor, kebetulan tadi hanya lewat saja kok. Terima kasih karena tante sudah berbaik hati padaku!" ucap Erka dengan seulas senyum di bibirnya.
"Baiklah tuan. Terima kasih karena anda sudah mampir kesini, padahal saya berharap jika anda berkenan untuk singgah di rumah kami lho." ucap Roselin tanpa ragu.
"Terima kasih tawarannya tante. Mungkin lain kali aku akan singgah ke rumah anda. Aku permisi dulu tante.." balas Erka sambil merapatkan kedua tangannya di dada, ia melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya.
"Baiklah tuan. Hati-hati di jalan.." ucapnya, lalu ia juga masuk ke dalam rumah. Ia sama sekali tidak menyangka jika putrinya akan mengerjai bos besarnya tanpa rasa takut akan terkena masalah.
Sementara Erka tersenyum puas saat mendengar jika yang akan bertunangan bukanlah Lia tapi kakaknya. Entah mengapa rasanya Erka tidak siap jika Lia akan menjadi milik orang lain.
.
.
Bersambung...
.
__ADS_1
.