
Assalamu'alaikum
Selamat pagi....
Ketemu lagi nih...
Segera aja deh ya...
Met baca readers...
“Perhatian ladies dan jentelmen, bisakah Groomsmen
dan Bridesmaidnya minggir sebentar, karena sekarang tiba sesi ketiga pasang
mempelai untuk sungkeman kepada orang tuanya” Seru pembawa acara, membuat
masing-masing teman dan saudara yang mengelilingi ketiga pasang pengantin
terpaksa melepaskan mereka dan melanjutkan acara.
Kedua belas orang tua dari tiga pasang pengantin
telah menempati koade yang di sediakan di masing-masing dekorasi yang
diciptakan bak istana raja dan ratu. Dari kedua belas orang tua yang terlihat
tidak bisa berhenti mengusap tissue ke arah matanya yang sudah memerah karena
tidak berhenti menangis adalah Tiara. Ia bagai melihat semua kisah masa lalu
putrinya yang memilukan, walaupun kini kisah itu di awali dengan kebahagiaan
yang diharapkan akan terus hinggap di sekitar putrinya.
Hampir semua orang tua merasa tegar ketika prosesi
sungkem belum di mulai, namun itu hanya sebentar, ketika pemandu acara mulai
membimbing satu persatu pasangan mempelai untuk melakukan sungkeman, saat
itulah air mata tidak ada yang tidak menetes di mata mereka.
Suasana dalam ruangan resepsi langsung menghening,
mereka terdiam tenang menyaksikan moment yang paling mengharukan. Banyak
pasangan suami istri maupun pasangan kekasih saling berpelukan sambil menyelami
prosesi khidmat itu.
Dan kini Ginara sudah tertunduk di hadapan Tiara,
ia belum berbicara sepatah katapun. Namun tangannya sudah berulang kali
bergerak untuk menyeka air mata yang mulai menetes kembali. Dan seolah tak
sabar, Tiara merengkuh tubuh perempuan berbalut kebaya syar’I modern itu dengan
begitu erat.
“Jangan mengucapkan terima kasih…”, katanya dengan
terisak, “Kau sudah menjadi anak yang sangat baik, sangat istimewa di hati
Bunda. Bundalah yang harusnya berterima kasih padamu saat ini…”
Ginara semakin terisak dalam pelukan wanita
terkasih dalam hidupnya itu, “Kau putri keduaku, jadi jangan katakan sesuatu
yang seolah kau bukan siapa-siapa, kau putri kecilku dan selamanya akan tetap
begitu.” Sambung Tiara dengan tangisan yang kini mulai ikut tersendat.
Ginara semakin mengeratkan pelukannya, ia
benar-benar tidak bisa mengucapkan apapun selain terus menangis, “Terima kasih
Bunda” Ucapnya, dan hanya itu kalimat yang bisa terucap dari mulutnya. Setelah
__ADS_1
itu pelukannya berganti pada laki-laki paruh baya yang biasanya tegar dan
tegas, kini hanya menampakkan wajah dengan mata berkaca-kaca.
“Berbahagialah putriku….” Kalimat pertama yang
diucapkan sudah membuat hatinya membuncah keharuan, “Raih hidupmu dengan
senyuman, jangan lagi ada tangisan, Papa ingin wajah ini penuh dengan senyuman
seperti putri kecil Papa dulu” Sambung Reza seraya mengelus pipi Ginara lembut.
“Aku akan…dan terima kasih Pa atas semuanya” Hanya
itu yang bisa disampaikan, karena baginya sebuah pelukan itu mewakili semua
perasaan yang harus ia curahkan pada laki-laki yang memeluknya erat. Reza
mencium lama kening Ginara, setelah itu menyerahkan Ginara untuk sungkem kepada
mertuanya.
Sementara dilihatnya Aldy masih memeluk erat Yara
yang tidak berhenti menangis, “Berhenti menangis Mom, aku sudah di sini di
hadapanmu” Katanya seraya terkekeh.
“Mom..my ter..ha..ru
akhrinya..kau..me..ni..kah..de..ngan..ga..dis..ida..manku” Kata Yara dengan
suara yang benar-benar tersendat akibat tangisannya.
Mendengar itu, Aldy tersenyum, di kecupnya pipi
wanita paruh baya itu, “Aku ingat, ternyata aku benar-benar telah melaksanakan
wasiat abang” Katanya. Yara menatap heran, pemuda itu mengangguk.
“Abang pernah telepon Al seminggu sebelum kejadian,
pernah tahu siapa bahkan bertemu dengannya. Ternyata kami dipertemukan oleh
takdir yang membawa kami menjadi dekat.” Kata Aldy panjang lebar.
“Benarkah? Ma syaa Allah…berbahagialah nak, inilah
jalan takdir yang kita manusia tidak bisa menentukan sendiri. Jaga dia, cintai
dia, bahagiakan dia” Pesan Yara.
“Pasti Mom, sudah jangan menangis lagi, kau harus
melepas anakmu dengan senyuman Mam”
Yara mendongak mengusap air matanya kemudian
tersenyum, diusapnya pipi Aldy, “Mommy bahagia untukmu” Aldy tersenyum kembali
mengecup pipi Yara kemudian beralih ke Daddynya.
Tanpa menunggu lelaki gagah itu memeluk tubuh
daddynya, tidak ada acara tangisan seperti pada mommynya, hanya pelukan haru
dan sedikit air menetes di pelupuk mata Reynand.
“Jadilah pria yang bertanggung jawab nak…” Katanya
menjedah, “Kau bukan pria lajang lagi, ada wanita yang harus kau jaga dan
lindungi mulai saat ini” Sambungnya.
“Pasti Dad, Daddy adalah panutanku, dan kau adalah
Daddy yang luar biasa bagi aku dan Bang Azril, dia pasti bangga memilikimu
sebagai daddynya” Entah siapa yang mulai, saat itulah dua laki-laki itu terisak
__ADS_1
sama-sama mengenang laki-laki muda yang pernah menjadi bagian dari keluarga
itu, bukan pernah…tapi Azril akan tetap menjadi bagian dari keluarga besar
Dhanurendra.
Sekarang bergantian Ginara yang duduk bersimpuh di
hadapan Yara, wanita yang pernah akan menjadi mertuanya untuk Azril, walaupun
sekarang telah benar-benar menjadi mertuanya karena seorang Aldy.
“Kemarilah sayang, peluk Mommy” Pintanya kemudian
Ginara memeluk Yara dengan erat. Keduanya terisak pilu tanpa mampu
membendungnya. Karena masing-masing jiwa dan hati itu sama-sama mengenang sosok
laki-laki yang pernah bersemayan di hati mereka.
“Maaf…” Lirih Ginara di pelukan Yara. Wanita baya
itu semakin mengeratkan pelukannya.
“Aku tidak ingin mendengar kata itu hari ini,
seterusnya, bahkan selamanya.” Sergahnya, “Semuanya sudah berlalu, kita boleh
mengenangnya, itu hal yang wajar nak, tapi mulai ini kita akan memulai
kehidupan yang baru…” Sambungnya.
“Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk
putra Mommy, ajari aku ya Mom”
“Itu pasti sayang, kita akan melangkah bersama,
Mommy menyayangimu dulu, sekarang, dan selamanya akan terus seperti itu…” Yara
mencium kening Ginara sayang.
“Terima kasih Mom” Kedua wanita itu tersenyum
bahagia.
Ginara beralih ke Reynand, pria tua itu langsung
berkaca-kaca. Waktu bersama Azril dulu, gadis itu memang menjadi calon menantu
idaman di keluarga Dhanurendra, ia membawa perubahan pada Azril mereka yang
sangat pendiam bahkan kalau dikatakan anak zaman sekarang itu “Kuper” atau
kurang pergaulan, hingga Azril menjadi pemuda yang minder bahkan sejak kecil ia
selalu di bully oleh teman-temannya. Saat kuliah itulah ia bertemu dengan
Ginara yang mampu menerimanya apa adanya dan merubah pandangan Azril menjadi
pemuda yang lebih terbuka pada dunia luar.
“Terimakasih telah hadir kembali di keluarga kami,
nak” Ucap Reynand seraya memeluk Ginara, gadis itu tersenyum terharu.
“Gi juga terimakasih karena Daddy masih mau nerima
Gi setelah…” Ucapannya terputus oleh suara berat Reynand.
“Jangan katakan itu, nak. memang jalan takdir
seperti itu, dan takdir kembali mempertemukan mu dengan kami…” Reynand menatap
menantunya sayang kemudian di ciumnya kening gadis itu lembut dan
menyerahkannya kembali pada suaminya.
To Be Continued
__ADS_1