Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Memulai Kehidupan Yang Baru


__ADS_3

Assalamu'alaikum


Selamat pagi....


Ketemu lagi nih...


Segera aja deh ya...


Met baca readers...


“Perhatian ladies dan jentelmen, bisakah Groomsmen


dan Bridesmaidnya minggir sebentar, karena sekarang tiba sesi ketiga pasang


mempelai untuk sungkeman kepada orang tuanya” Seru pembawa acara, membuat


masing-masing teman dan saudara yang mengelilingi ketiga pasang pengantin


terpaksa melepaskan mereka dan melanjutkan acara.


Kedua belas orang tua dari tiga pasang pengantin


telah menempati koade yang di sediakan di masing-masing dekorasi yang


diciptakan bak istana raja dan ratu. Dari kedua belas orang tua yang terlihat


tidak bisa berhenti mengusap tissue ke arah matanya yang sudah memerah karena


tidak berhenti menangis adalah Tiara. Ia bagai melihat semua kisah masa lalu


putrinya yang memilukan, walaupun kini kisah itu di awali dengan kebahagiaan


yang diharapkan akan terus hinggap di sekitar putrinya.


Hampir semua orang tua merasa tegar ketika prosesi


sungkem belum di mulai, namun itu hanya sebentar, ketika pemandu acara mulai


membimbing satu persatu pasangan mempelai untuk melakukan sungkeman, saat


itulah air mata tidak ada yang tidak menetes di mata mereka.


Suasana dalam ruangan resepsi langsung menghening,


mereka terdiam tenang menyaksikan moment yang paling mengharukan. Banyak


pasangan suami istri maupun pasangan kekasih saling berpelukan sambil menyelami


prosesi khidmat itu.


Dan kini Ginara sudah tertunduk di hadapan Tiara,


ia belum berbicara sepatah katapun. Namun tangannya sudah berulang kali


bergerak untuk menyeka air mata yang mulai menetes kembali. Dan seolah tak


sabar, Tiara merengkuh tubuh perempuan berbalut kebaya syar’I modern itu dengan


begitu erat.


“Jangan mengucapkan terima kasih…”, katanya dengan


terisak, “Kau sudah menjadi anak yang sangat baik, sangat istimewa di hati


Bunda. Bundalah yang harusnya berterima kasih padamu saat ini…”


Ginara semakin terisak dalam pelukan wanita


terkasih dalam hidupnya itu, “Kau putri keduaku, jadi jangan katakan sesuatu


yang seolah kau bukan siapa-siapa, kau putri kecilku dan selamanya akan tetap


begitu.” Sambung Tiara dengan tangisan yang kini mulai ikut tersendat.


Ginara semakin mengeratkan pelukannya, ia


benar-benar tidak bisa mengucapkan apapun selain terus menangis, “Terima kasih


Bunda” Ucapnya, dan hanya itu kalimat yang bisa terucap dari mulutnya. Setelah

__ADS_1


itu pelukannya berganti pada laki-laki paruh baya yang biasanya tegar dan


tegas, kini hanya menampakkan wajah dengan mata berkaca-kaca.


“Berbahagialah putriku….” Kalimat pertama yang


diucapkan sudah membuat hatinya membuncah keharuan, “Raih hidupmu dengan


senyuman, jangan lagi ada tangisan, Papa ingin wajah ini penuh dengan senyuman


seperti putri kecil Papa dulu” Sambung Reza seraya mengelus pipi Ginara lembut.


“Aku akan…dan terima kasih Pa atas semuanya” Hanya


itu yang bisa disampaikan, karena baginya sebuah pelukan itu mewakili semua


perasaan yang harus ia curahkan pada laki-laki yang memeluknya erat. Reza


mencium lama kening Ginara, setelah itu menyerahkan Ginara untuk sungkem kepada


mertuanya.


Sementara dilihatnya Aldy masih memeluk erat Yara


yang tidak berhenti menangis, “Berhenti menangis Mom, aku sudah di sini di


hadapanmu” Katanya seraya terkekeh.


“Mom..my ter..ha..ru


akhrinya..kau..me..ni..kah..de..ngan..ga..dis..ida..manku” Kata Yara dengan


suara yang benar-benar tersendat akibat tangisannya.


Mendengar itu, Aldy tersenyum, di kecupnya pipi


wanita paruh baya itu, “Aku ingat, ternyata aku benar-benar telah melaksanakan


wasiat abang” Katanya. Yara menatap heran, pemuda itu mengangguk.


“Abang pernah telepon Al seminggu sebelum kejadian,


pernah tahu siapa bahkan bertemu dengannya. Ternyata kami dipertemukan oleh


takdir yang membawa kami menjadi dekat.” Kata Aldy panjang lebar.


“Benarkah? Ma syaa Allah…berbahagialah nak, inilah


jalan takdir yang kita manusia tidak bisa menentukan sendiri. Jaga dia, cintai


dia, bahagiakan dia” Pesan Yara.


“Pasti Mom, sudah jangan menangis lagi, kau harus


melepas anakmu dengan senyuman Mam”


Yara mendongak mengusap air matanya kemudian


tersenyum, diusapnya pipi Aldy, “Mommy bahagia untukmu” Aldy tersenyum kembali


mengecup pipi Yara kemudian beralih ke Daddynya.


Tanpa menunggu lelaki gagah itu memeluk tubuh


daddynya, tidak ada acara tangisan seperti pada mommynya, hanya pelukan haru


dan sedikit air menetes di pelupuk mata Reynand.


“Jadilah pria yang bertanggung jawab nak…” Katanya


menjedah, “Kau bukan pria lajang lagi, ada wanita yang harus kau jaga dan


lindungi mulai saat ini” Sambungnya.


“Pasti Dad, Daddy adalah panutanku, dan kau adalah


Daddy yang luar biasa bagi aku dan Bang Azril, dia pasti bangga memilikimu


sebagai daddynya” Entah siapa yang mulai, saat itulah dua laki-laki itu terisak

__ADS_1


sama-sama mengenang laki-laki muda yang pernah menjadi bagian dari keluarga


itu, bukan pernah…tapi Azril akan tetap menjadi bagian dari keluarga besar


Dhanurendra.


Sekarang bergantian Ginara yang duduk bersimpuh di


hadapan Yara, wanita yang pernah akan menjadi mertuanya untuk Azril, walaupun


sekarang telah benar-benar menjadi mertuanya karena seorang Aldy.


“Kemarilah sayang, peluk Mommy” Pintanya kemudian


Ginara memeluk Yara dengan erat. Keduanya terisak pilu tanpa mampu


membendungnya. Karena masing-masing jiwa dan hati itu sama-sama mengenang sosok


laki-laki yang pernah bersemayan di hati mereka.


“Maaf…” Lirih Ginara di pelukan Yara. Wanita baya


itu semakin mengeratkan pelukannya.


“Aku tidak ingin mendengar kata itu hari ini,


seterusnya, bahkan selamanya.” Sergahnya, “Semuanya sudah berlalu, kita boleh


mengenangnya, itu hal yang wajar nak, tapi mulai ini kita akan memulai


kehidupan yang baru…” Sambungnya.


“Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk


putra Mommy, ajari aku ya Mom”


“Itu pasti sayang, kita akan melangkah bersama,


Mommy menyayangimu dulu, sekarang, dan selamanya akan terus seperti itu…” Yara


mencium kening Ginara sayang.


“Terima kasih Mom” Kedua wanita itu tersenyum


bahagia.


Ginara beralih ke Reynand, pria tua itu langsung


berkaca-kaca. Waktu bersama Azril dulu, gadis itu memang menjadi calon menantu


idaman di keluarga Dhanurendra, ia membawa perubahan pada Azril mereka yang


sangat pendiam bahkan kalau dikatakan anak zaman sekarang itu “Kuper” atau


kurang pergaulan, hingga Azril menjadi pemuda yang minder bahkan sejak kecil ia


selalu di bully oleh teman-temannya. Saat kuliah itulah ia bertemu dengan


Ginara yang mampu menerimanya apa adanya dan merubah pandangan Azril menjadi


pemuda yang lebih terbuka pada dunia luar.


“Terimakasih telah hadir kembali di keluarga kami,


nak” Ucap Reynand seraya memeluk Ginara, gadis itu tersenyum terharu.


“Gi juga terimakasih karena Daddy masih mau nerima


Gi setelah…” Ucapannya terputus oleh suara berat Reynand.


“Jangan katakan itu, nak. memang jalan takdir


seperti itu, dan takdir kembali mempertemukan mu dengan kami…” Reynand menatap


menantunya sayang kemudian di ciumnya kening gadis itu lembut dan


menyerahkannya kembali pada suaminya.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2