
Setelah mendengar pertanyaan setelah Dewi terdiam. Karena itulah kenapa Steven tidak memberitahu Dewi. Karena tak mungkin Dewi meninggalkan rumah itu. "Dibandingkan dengan apa yang ada di depanmu, tidak penting siapa itu Dimas. Sebaliknya, aku akan memberitahumu sesuatu yang penting, sesuatu yang terbentang di depanmu" ujar Steven.
"Kenapa kau terdengar sangat serius? Kau membuatku takut" sahut Dewi.
"Dengarkan baik-baik...Ada peringkat sosial yang ketat di sini" jelas Steven.
"Kelas tertinggi yaitu Kelompok Ahli Waris Pengusaha..Sederhananya , putra dan putri dari keluarga konglomerat".
Contohnya Rendi dan Kimi.
"Kelas kedua..Kelompok Ahli Waris Pemegang Saham, Mereka tidak berpartisipasi dalam manajemen, tetapi mereka sudah pemegang saham yang utama".
Contohnya Tias.
"Kelas Ketiga, Kelompok Ahli Waris Kehormatan...Menteri , politisi , hakim agung , dan pemilik firma hukum. Anak-anak dari keluarga seperi itu".
Contohnya Dani dan Aldi.
"Dan kelas keempat, Kelompok Kesejahteraan Sosial seperti kau dan aku".
"Kelompok kesejahteraan sosial" tanya Dewi tak mengerti.
Steven menjelaskan itu adalah nama kelompok untuk anak-anak yang masuk ke sekolah melalui kepedulian sosial (beasiswa). Dewi heran sebutan itu cocok untuk dirinya, tapi tidak untuk Steven.
"Apakah kau tahu sistem kasta? Seorang putra dari kepala sekretaris? Aku hanya rakyat biasa..Peringkat yang paling rendah" ujar Steven.
"Jika kau seperti itu, lalu bagaimana denganku?", tanya Dewi mulai panik, "Apakah aku bisa bertahan di sini?".
"Setidaknya kau memiliki seseorang di sisimu, Semua orang disini berdiri sendiri ketika baru masuk, termasuk aku" Steven menatap Dewi, mencoba memberikan dukungan pada temannya itu.Tetap saja ada rasa kekhawatiran di wajah Dewi.
Ponsel Steven berdering menerima pesan baru. Setelah membaca pesan, Steven bergurau sedikit memanggil Dewi dengan panggilan murid pindahan, "Kau di panggil ke kantor guru, Aku adalah ketua kelas. Kau bisa bertanya padaku, jika kau ingin tahu sesuatu".
"Terima kasih" ucap Dewi. "Pertanyaan pertama..Dimana kantor gurunya?".
Kemudian Dewi tiba di kantor guru. Guru memberikan beberapa lembar form yang harus diisi. Form pertama berisi mata pelajaran yang wajib Dewi ikuti, form ke dua berisi pilihan mata pelajaran tambahan apa yang ingin Dewi ikuti, seperti sistem kuliah. Dan form terakhir adalah data diri siswa. Guru minta Dewi mengisinya sekarang.
Dewi mengisi data dirinya dengan cepat, tapi pada saat mengisi kolom data diri mengenai orang tua, ia sempat terdiam beberapa detik. Kolom pendidikan tertinggi orang tua, Dewi kosongkan. Kolom pekerjaan orang tua, Dewi menulis, "Ibu rumah tangga".
__ADS_1
"Aku dengar Ibumu adalah pembantu rumah tangga. Itu sebabnya kau mendapatkan biaya pendidikan gratis" ucap Guru.
Ucapan ibu guru ini di dengar oleh anak berkacamata yang pernah Rendi bully pada episode 1. Dia juga ada di ruangan guru dan tak sengaja mendengar. Nama murid ini adalah Feri.
"Dia juga seorang Ibu rumah tangga" sahut Dewi menunduk.
"Hm..Oke" kata guru, bertepatan dengan bunyi lonceng, "Kelas pertama mu dengan aku... Ini kelas wajib, Belajarlah dengan baik".
Guru membawa Dewi masuk kelas. Dan sebuah kebetulan Dewi satu kelas dengan Dimas, Rendi, Vania dan Esti. Guru mengenalkan Dewi sebagai murid pindahan yang akan bergabung dengan murid lainya mulai hari ini, "Sapalah mereka".
Dewi membungkukkan badan, mengucapkan salam dalam bahasa formal. Seisi kelas menertawainya kecuali Dimas dan Rendi. Sadar di tertawai, Dewi merubah bahasanya menjadi bahasa non formal, dengan suara lebih keras.
"Aku Dewi.. Aku murid yang biasa saja. Aku bisa melakukan semuanya sendiri, Jadi aku tidak akan meminta bantuan kalian. Bantuan apapun itu akan terasa berlebihan...Senang bertemu dengan kalian".
"Oohh....!" reaksi dari murid lain mendengar perkenalan Dewi.
Guru menyuruh Dewi duduk di kursi yang kosong. Seorang murid yang duduk di depan Rendi mengajukan pertanyaan, murid ini adalah salah satu teman Rendi yang hobby membully orang lemah. Dia bertanya bagaimana bisa Dewi masuk ke sekolah ini.
Dewi hanya terpaku diam, bingung tak tahu harus menjawab apa. Semua mata tertuju pada Dewi menanti jawaban. Begitu pula dengan Dimas.
Di kelas itu hanya Dimas dan Feri yang mengetahui apa pekerjaan orang tua Dewi.
Dimas berdiri jalan ke depan kelas, alis Rendi terangkat menandakan ia tertarik. Rendi tahu Dimas sedang membantu Dewi. Membuatnya semakin penasaran.
"Minggir... Sekarang giliran ku" kata Dimas dingin bersikap tak mengenal Dewi.
Dewi duduk di bangku kosong yang tersedia. Ia duduk di belakang Feri, dan Vania duduk di belakangnya.
Vania yang menyukai Rendi terus memandang pria itu, tapi ia malah melihat Rendi yang sedang memperhatikan Dewi sejak duduk di bangkunya.
Dimas mengenalkan diri, "Aku adalah Dimas.. Aku tidak akan memberi tahu kalian sekolahku dulu. Aku baru saja kembali dari Taiwan, Aku juga ingin menjadi murid yang biasa saja dan tidak mengalami kesulitan di sekolah ini. Mohon kerja samanya" Dimas menatap tajam Rendi, yang ditatap pun balas menatap balik.
***
Di lain sisi Nyonya Sari memanggil Astuti sambil mencari di sekitar rumah. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat Astuti berada di kamar mandi, sedang membersihkan bath tub. Tak seperti biasanya, Astuti memakai pakaian pelayan, dan roknya tersingkap keatas, hingga melihatkan kedua pahanya.
"Kenapa kau memakai pakaian itu saat membersihkan? Bukankah itu tidak nyaman?" tanya Nyonya Sari syok.
__ADS_1
Astuti menulis, "Untuk merubah mood".
"Lalu bagaimana dengan moodku", tanya Nyonya Sari marah. "Apakah kau sedang syuting film
atau apa?".
Astuti menunduk bersalah. Nyonya Sari menggerutu, "Apakah kau melihat pakaian krem ku yang hanya ada 2 di Indonesia. Satunya ada pada Nagita slavina dan satunya ada padaku".
Astuti menulis, "Dry Cleaning Only".
"Oh.. Benar" sahut Nyonya Sari. "Aku merasa tidak aman tanpa itu".
Nyonya Sari pergi ke galeri lukis Nyonya Lesti, melihat lukisan yang di pajang di dinding. Nyonya Sari mencibir, "Apakah dia memiliki mata untuk seni? Apakah dia tahu apa yang dia gantung di dinding?".
Kemudian Nyonya Lesti datang dengan gayanya bak Nyonya besar, melirik judes ke arah Nyonya Sari. Tapi Nyonya Sari hanya tersenyum seperti biasa.
"Kau sudah gila! Kau pikir kau ada di mana?", tanya Nyonya Lesti.
"Aku di sini sebagai orang tua untuk bertemu dengan Ketua Dewan Sekolah. Aku hanya seorang Ibu yang bersemangat. Ini hari pertama Dimas bersekolah. Dia pasti membuat keributan di sini", ujar Nyonya Sari dengan senyum mengembang.
Nyonya Sari terus ngomel, "Apakah kau gila? Aku sudah membuatmu menjadi Nyonya rumah. Jadi tinggallah di rumah! Kenapa kau berkeliaran di luar? Apakah kau tidak tahu bahwa kau dan aku tidak bisa berada di tempat yang sama?".
"Apakah aku tidak bisa mendapatkan udara segar? Siapa aku ini? Rapunzel?" protes Nyonya Sari kehilangan kesabaran.
Nyonya Lesti menyuruh Nyonya Sari pergi ke sungai jika ingin mencari udara segar, "Kau harus sadar diri! Ini adalah galeri seni!" Nyonya Sari bilang kalau ia tak bisa pergi ke sana, seseorang mungkin akan mendorongnya ke sungai.
Nyonya Lesti menggertak seperti akan memukul.
Nyonya Sari sigap menghindar, "Apa? Kau mau menamparku lagi?" Nyonya Sari mengangkat tangannya, "tamparan kedua tidak akan sesakit itu".
Buru-buru Nyonya Sari mengeluarkan visum dari dokter, "Dokter bilang untuk 2 minggu rawat inap. Aku membiarkanmu menamparku dulu, tetapi tidak lagi sekarang.. Kau tahu aku bisa menuntut mu dengan ini!".
Nyonya Lesti merampas dengan kasar, lalu membacanya. "Diagnosis Cedera...Depresi, panik, dan ketakutan".
Nyonya Lesti menantang jika Nyonya Sari ingin mengajukan gugatan lakukan saja. Tentu Nyonya Sari kesal, "Kau pikir aku tidak akan melakukannya? Jika aku tidak bisa menuntut mu, aku bisa menamparmu".
"Pergi Sekarang! " teriak Nyonya Lesti melemparkan visum dokter ke wajah Nyonya Sari. Suara teriakannya menggelegar di penjuru ruangan. Nyonya Sari mendesis kesal, susah melawan Nyonya besar model ini. Bukan tandingan.
__ADS_1
Btw Nyonya Sari adalah ibu kandung Dimas tapi ibunya ini adalah istri simpanan. kalau Nyonya Lesti adalah istri sah presdir Ahmad tapi tidak punya anak.
BERSAMBUNG...