Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Menikah dulu pacaran kemudian


__ADS_3

Di kampus, Davin Kembali menunggu sesosok gadis


berhijab dengan niqob yang anggun yang selalu ia tunggu kehadirannya. Sampai


saat ini ia masih belum bisa mendekati gadis itu. Gadis itu tidak pernah


sekalipun menanggapi keberadaan Davin, padahal jelas-jelas ia mengetahui dan


mendengar ada orang yang menyapanya.


Unik.


Benar-benar unik.


Memang kepamoran dan ketampanan Davin masih di


bawah Aldy, tapi pesona pemuda itu sama saja dengan Aldy dalam hal menarik


simpati cewek. Banyak sudah yang berusaha mendekati dan ingin menjadi temannya


atau bahkan ada yang nekad ingin menjadi pacarnya secara terang-terangan. Tapi


Davin masih tetap cuek.


Sampai ia menemukan salah satu gadis yang tidak


biasa. Berhijab dan berniqab biasa sih, Cuma cuek dan angkuh itu yang


membuatnya tertarik sekaligus penasaran. Ia jadi membandingkan antara gadis itu


dengan kakaknya, Ginara. Menurutnya gadis itu Ginara versi berhijab. Keren abis


dah pokoknya. Cuek, dingin, angkuh, tak tersentuh, tak pernah melirik. Davin


benar-benar melihat Ginara versi lain, ia merasa tertantang untuk mengenal dan


memiliki gadis itu.


Beberapa minggu ini ia juga jarang berkumpul dengan


para sahabatnya, karena ia sibuk dengan urusannya. PDKT. Hahaha…


Dari kejauhan Davin telah melihat gadis berhijab


itu melangkah keluar dari ruang kelasnya. Tampak anggun. Hari ini dia memakai pakaian


gaya fashionable dengan paduan kombinasi velvet skirt, floral vest, dan long


outer dengan hijab dan niqob senada dan white sneakers. Cantik sekali.


Davin berlari mendekati gadis itu, kali ini gadis


itu tidak bisa menghindar. Ia diam saja Ketika dihadang jalannya oleh Davin,


sejenak menatap kemudian menunduk. Davin tersenyum.


“Hai…aku hanya ingin kenalan, boleh kan?” Davin


menyatukan kedua telapak tangannya ke dada, ia tahu gadis di depannya tidak


ingin bersentuhan dengan lawan jenis.


Gadis itu tampak menghela nafas ringan kemudian


menggeleng pelan, ia bermaksud melangkah pergi.


“Tunggu, paling tidak katakan alasannya, kenapa?”


Tanya Davin, ia tidak marah dengan penolakan itu, ia hanya berpikir bagaimana


lagi caranya untuk bisa mengenal gadis ini.


Gadis itu mengikuti Gerakan Davin, menyatukan dua


telapak tangannya tanpa memandang ke arahnya, kemudian menunggu sampai Davin


bersedia melepasnya. Pemuda itu menghela nafas, menyerah untuk hari ini. Ia


bergeser ke samping kiri dan membiarkan gadis itu lewat dan meninggalkannya.


“Usaha apalagi ya?” Katanya pada dirinya sendiri.


Ia berpikir keras, sebentar kemudian ia tersenyum lebar.


“Kak Gi…, iya aku akan mengunjunginya dan meminta


pendapatnya.” Davin tersenyum kemudian meninggalkan kampus menuju apartemen


Ginara.


Dalam perjalanan, ia menelepon Ginara untuk


memastikan kakaknya itu ada di apartemen dan ternyata memang ada dan bersedia


di kunjungi.


Dalam waktu lima belas menit ia telah sampai di


apartemen Ginara dan langsung naik ke lantai empat.

__ADS_1


Ting.


Tong.


Ting.


Tong.


Pintu terbuka dan senyum merekah terbit di wajah


Davin melihat kakaknya baik-baik saja, segera saja ia peluk manja kakaknya itu.


“Apa sih?” Ginara memukul punggung Davin gemas, ia


tidak marah, hanya aneh saja kelakuan pemuda itu.


“Kakak baik-baik aja kan?”


“Seperti yang kamu lihat”


Mereka masuk ke dalam, Davin langsung menuju ke


lemari pendingin untuk mengambil orange jus yang sudah tersedia dalam kemasan.


Ia menghampiri kakaknya yang duduk di sofa sambil menonton televisi.


“Kakak libur, kok tumben?” Tanya Davin heran,


biasanya tidak ada kata libur dalam kamus Ginara kecuali hari Minggu.


“Hemm, Aldy melarang”


“Eh, anak itu, sudah berkuasa saja dia. Siapa dia


emang? Enak aja ngatur seenaknya” Sungut Davin seraya meminum jusnya. Ginara


mendengus menggeleng.


“Tuan Pemaksa!” Kata Ginara pelan. Davin tergelak


mendengar julukan Ginara pada Aldy.


“Ha ha ha, sok kali dia tuh Kak. Eh Kak kata Aldy


dia kakaknya Kak Azril?” Tanya Davin pelan, terkesan hati-hati. Ginara menghela


nafas pelan kemudian mengangguk.


“Kebetulan sekali kan?” Jawab Ginara dalam tanya


balik.


“Iya, kok bisa sih? Emang sih Kak Azril pernah


detail.”


Ginara diam saja.


“Eh, kak…”


“Sudahi saja” Potong Ginara tidak ingin


memperpanjang pembicaraan tentang Azril.


“Ish, sudahi apanya Kak. Aku mau curhat ini…” Davin


cemberut. Ginara menoleh dan terkekeh pelan melihat adiknya cemberut. Di


cubitnya pipi adiknya gemes.


“Jelek tahu” Ledeknya.


“Kak seriusan ini.” Kata Davin memelas. Ginara


mematikan televisi kemudian menghadap adiknya.


“Oke…oke, Kakak dengerin.”


“Kak, di kampus ada cewek cantik banget deh” Kata


Davin mulai bercerita persis anak kecil. Padahal ia belum tahu definisi wajah


gadis itu, sudah yakin dia bilang cantik, tapi melihat alis, mata dan bulu mat


aitu sudah bisa membuat Davin mendeskripsikan bahwa gadis itu sangat cantik.


Ginara ingin tertawa tapi langsung ia tahan karena mendapat pelototan dari


Davin, Gadis itu akhirnya diam dan mendengarkan dengan seksama.


Davin menceritakan mulai dari awal ia ketemu gadis


berhijab itu sampai berkali-kali ingin berkenaln tidak pernah di tanggapi.


Pendekatan yang ia lakukan sudah hampir dua bulan tapi tetap tidak membuahkan


hasil. Terakhir tadi siang, dengan sangat menyesal Davin Kembali merelakan


keprgian gadis pujaan hatinya menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


“Gimana lagi Kak Davin harus usaha? Rasanya susah


sekali” Keluh Davin. Ginara tersenyum sambil mengacak rambut adiknya.


“Adik kakak dah dewasa rupanya” Pujinya. Davin


hanya mendengus, sebentar kemudian ia menatap kakaknya untuk meminta saran.


Gadis itu menghembuskan nafas pelan.


“Yang kakak tahu, gadis berhijab dengan menutup


seluruh tubuh itu berati dia tidak ingin berhubungan dengan lawan jenis tanpa


ada ikatan resmi.” Kata Ginara panjang lebar. Aldy membelalak bukan karena


jawaban Ginara, tapi sepanjang sejarah, ini perkataan Ginara yang terpanjang.


“Kak…ini…aku gak salah denger kan?” Tanya Davin


takjub. Ginara mendengus.


“Hemmm” Jawabnya malas. Davin tertawa terbahak. Ia


senang kakaknya akhirnya bisa berubah dari satu dua kata menjadi kalimat yang


Panjang dalam berbicara, di peluknya kakaknya dengan sayang.


“Yah…yah…jangan hemm lagi dong kak, iya, iya, Dav


nggak akan goda lagi.” Kata Davin sambil menaikkan jari telunjuk dan jari


tengah membentuk huruf V.


“Jadi gitu ya menurut kakak, berarti cara mudahnya


kita harus punya ikatan dulu sama dia, gitu?” Tegas Davin. Ginara mengangguk.


“Seorang muslim itu tidak boleh mengumbar pergaulan


bebas, kita men-sahkan pegangan tangan, cium tangan, cium pipi itu salah.”


Ginara menerawang tentang hubungan dirinya sendiri dengan Aldy. Ia merasa bukan


seorang gadis muslim yang taat, karena ternyata ia masih mudah menerima


sentuhan dari pria yang belum menjadi suaminya. Eh, suaminya? Apaan sih Gi?


Pikirnya malu.


Davin bergumam pelan, ia tidak melihat perubahan


wajah Ginara yang agak memerah, jadi ia tidak menggoda kakaknya itu.


“Masak harus nikah dulu…” Terawangnya.


“Menikah dulu…pacaran kemudian” Ginara menggoda


adiknya dengan meniru peribahasa ‘berrakit-rakit ke hulu berenang ke tepian,


bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian’


“Ah, mana bisa kak seperti itu, masak ia di


keluarga kita Dav dulu yang nikah. Nggak-nggak…” Tolak Davin. Ginara


menggelengkan kepalanya melihat adiknya frustasi.


“Berarti kamu harus siap kehilangan dia” Kata


Ginara menakuti Davin.


“Aduh, gimana dong kak?” Davin panik mendengar


kata-kata Ginara.


“Ya nikahin lah” Kata Ginara yakin.


Davin memandang kakaknya bimbang. Menikah? Tidak


ada terpikirkan dirinya akan menikah muda mendahului kakak-kakaknya. Akhhh…Davin


menjambak rambutnya frustasi. Ia tidak ingin kehilangan gadis itu. Tidak gadis


berhijab itu hanya miliknya. Klaimnya.


“Yakinkan hatimu, bilang papa” Saran Ginara.


“Tapi Kak Genta…” Kalimatnya mengambang.


“Pasti ngerti” Kata Ginara.


Davin mengambil nafas Panjang kemudian


menghembuskannya perlahan, ia ingin meyakinkan dirinya sendiri untuk


memantabkan hatinya tentang menikahi gadis berhijab itu. Ia sudah benar-benar


terpesona dan terpaku pada gadis itu. Ya, ia harus mantabkan diri dulu baru

__ADS_1


minta restu papa.


To Be Continued


__ADS_2