
Di kampus, Davin Kembali menunggu sesosok gadis
berhijab dengan niqob yang anggun yang selalu ia tunggu kehadirannya. Sampai
saat ini ia masih belum bisa mendekati gadis itu. Gadis itu tidak pernah
sekalipun menanggapi keberadaan Davin, padahal jelas-jelas ia mengetahui dan
mendengar ada orang yang menyapanya.
Unik.
Benar-benar unik.
Memang kepamoran dan ketampanan Davin masih di
bawah Aldy, tapi pesona pemuda itu sama saja dengan Aldy dalam hal menarik
simpati cewek. Banyak sudah yang berusaha mendekati dan ingin menjadi temannya
atau bahkan ada yang nekad ingin menjadi pacarnya secara terang-terangan. Tapi
Davin masih tetap cuek.
Sampai ia menemukan salah satu gadis yang tidak
biasa. Berhijab dan berniqab biasa sih, Cuma cuek dan angkuh itu yang
membuatnya tertarik sekaligus penasaran. Ia jadi membandingkan antara gadis itu
dengan kakaknya, Ginara. Menurutnya gadis itu Ginara versi berhijab. Keren abis
dah pokoknya. Cuek, dingin, angkuh, tak tersentuh, tak pernah melirik. Davin
benar-benar melihat Ginara versi lain, ia merasa tertantang untuk mengenal dan
memiliki gadis itu.
Beberapa minggu ini ia juga jarang berkumpul dengan
para sahabatnya, karena ia sibuk dengan urusannya. PDKT. Hahaha…
Dari kejauhan Davin telah melihat gadis berhijab
itu melangkah keluar dari ruang kelasnya. Tampak anggun. Hari ini dia memakai pakaian
gaya fashionable dengan paduan kombinasi velvet skirt, floral vest, dan long
outer dengan hijab dan niqob senada dan white sneakers. Cantik sekali.
Davin berlari mendekati gadis itu, kali ini gadis
itu tidak bisa menghindar. Ia diam saja Ketika dihadang jalannya oleh Davin,
sejenak menatap kemudian menunduk. Davin tersenyum.
“Hai…aku hanya ingin kenalan, boleh kan?” Davin
menyatukan kedua telapak tangannya ke dada, ia tahu gadis di depannya tidak
ingin bersentuhan dengan lawan jenis.
Gadis itu tampak menghela nafas ringan kemudian
menggeleng pelan, ia bermaksud melangkah pergi.
“Tunggu, paling tidak katakan alasannya, kenapa?”
Tanya Davin, ia tidak marah dengan penolakan itu, ia hanya berpikir bagaimana
lagi caranya untuk bisa mengenal gadis ini.
Gadis itu mengikuti Gerakan Davin, menyatukan dua
telapak tangannya tanpa memandang ke arahnya, kemudian menunggu sampai Davin
bersedia melepasnya. Pemuda itu menghela nafas, menyerah untuk hari ini. Ia
bergeser ke samping kiri dan membiarkan gadis itu lewat dan meninggalkannya.
“Usaha apalagi ya?” Katanya pada dirinya sendiri.
Ia berpikir keras, sebentar kemudian ia tersenyum lebar.
“Kak Gi…, iya aku akan mengunjunginya dan meminta
pendapatnya.” Davin tersenyum kemudian meninggalkan kampus menuju apartemen
Ginara.
Dalam perjalanan, ia menelepon Ginara untuk
memastikan kakaknya itu ada di apartemen dan ternyata memang ada dan bersedia
di kunjungi.
Dalam waktu lima belas menit ia telah sampai di
apartemen Ginara dan langsung naik ke lantai empat.
__ADS_1
Ting.
Tong.
Ting.
Tong.
Pintu terbuka dan senyum merekah terbit di wajah
Davin melihat kakaknya baik-baik saja, segera saja ia peluk manja kakaknya itu.
“Apa sih?” Ginara memukul punggung Davin gemas, ia
tidak marah, hanya aneh saja kelakuan pemuda itu.
“Kakak baik-baik aja kan?”
“Seperti yang kamu lihat”
Mereka masuk ke dalam, Davin langsung menuju ke
lemari pendingin untuk mengambil orange jus yang sudah tersedia dalam kemasan.
Ia menghampiri kakaknya yang duduk di sofa sambil menonton televisi.
“Kakak libur, kok tumben?” Tanya Davin heran,
biasanya tidak ada kata libur dalam kamus Ginara kecuali hari Minggu.
“Hemm, Aldy melarang”
“Eh, anak itu, sudah berkuasa saja dia. Siapa dia
emang? Enak aja ngatur seenaknya” Sungut Davin seraya meminum jusnya. Ginara
mendengus menggeleng.
“Tuan Pemaksa!” Kata Ginara pelan. Davin tergelak
mendengar julukan Ginara pada Aldy.
“Ha ha ha, sok kali dia tuh Kak. Eh Kak kata Aldy
dia kakaknya Kak Azril?” Tanya Davin pelan, terkesan hati-hati. Ginara menghela
nafas pelan kemudian mengangguk.
“Kebetulan sekali kan?” Jawab Ginara dalam tanya
balik.
“Iya, kok bisa sih? Emang sih Kak Azril pernah
detail.”
Ginara diam saja.
“Eh, kak…”
“Sudahi saja” Potong Ginara tidak ingin
memperpanjang pembicaraan tentang Azril.
“Ish, sudahi apanya Kak. Aku mau curhat ini…” Davin
cemberut. Ginara menoleh dan terkekeh pelan melihat adiknya cemberut. Di
cubitnya pipi adiknya gemes.
“Jelek tahu” Ledeknya.
“Kak seriusan ini.” Kata Davin memelas. Ginara
mematikan televisi kemudian menghadap adiknya.
“Oke…oke, Kakak dengerin.”
“Kak, di kampus ada cewek cantik banget deh” Kata
Davin mulai bercerita persis anak kecil. Padahal ia belum tahu definisi wajah
gadis itu, sudah yakin dia bilang cantik, tapi melihat alis, mata dan bulu mat
aitu sudah bisa membuat Davin mendeskripsikan bahwa gadis itu sangat cantik.
Ginara ingin tertawa tapi langsung ia tahan karena mendapat pelototan dari
Davin, Gadis itu akhirnya diam dan mendengarkan dengan seksama.
Davin menceritakan mulai dari awal ia ketemu gadis
berhijab itu sampai berkali-kali ingin berkenaln tidak pernah di tanggapi.
Pendekatan yang ia lakukan sudah hampir dua bulan tapi tetap tidak membuahkan
hasil. Terakhir tadi siang, dengan sangat menyesal Davin Kembali merelakan
keprgian gadis pujaan hatinya menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
“Gimana lagi Kak Davin harus usaha? Rasanya susah
sekali” Keluh Davin. Ginara tersenyum sambil mengacak rambut adiknya.
“Adik kakak dah dewasa rupanya” Pujinya. Davin
hanya mendengus, sebentar kemudian ia menatap kakaknya untuk meminta saran.
Gadis itu menghembuskan nafas pelan.
“Yang kakak tahu, gadis berhijab dengan menutup
seluruh tubuh itu berati dia tidak ingin berhubungan dengan lawan jenis tanpa
ada ikatan resmi.” Kata Ginara panjang lebar. Aldy membelalak bukan karena
jawaban Ginara, tapi sepanjang sejarah, ini perkataan Ginara yang terpanjang.
“Kak…ini…aku gak salah denger kan?” Tanya Davin
takjub. Ginara mendengus.
“Hemmm” Jawabnya malas. Davin tertawa terbahak. Ia
senang kakaknya akhirnya bisa berubah dari satu dua kata menjadi kalimat yang
Panjang dalam berbicara, di peluknya kakaknya dengan sayang.
“Yah…yah…jangan hemm lagi dong kak, iya, iya, Dav
nggak akan goda lagi.” Kata Davin sambil menaikkan jari telunjuk dan jari
tengah membentuk huruf V.
“Jadi gitu ya menurut kakak, berarti cara mudahnya
kita harus punya ikatan dulu sama dia, gitu?” Tegas Davin. Ginara mengangguk.
“Seorang muslim itu tidak boleh mengumbar pergaulan
bebas, kita men-sahkan pegangan tangan, cium tangan, cium pipi itu salah.”
Ginara menerawang tentang hubungan dirinya sendiri dengan Aldy. Ia merasa bukan
seorang gadis muslim yang taat, karena ternyata ia masih mudah menerima
sentuhan dari pria yang belum menjadi suaminya. Eh, suaminya? Apaan sih Gi?
Pikirnya malu.
Davin bergumam pelan, ia tidak melihat perubahan
wajah Ginara yang agak memerah, jadi ia tidak menggoda kakaknya itu.
“Masak harus nikah dulu…” Terawangnya.
“Menikah dulu…pacaran kemudian” Ginara menggoda
adiknya dengan meniru peribahasa ‘berrakit-rakit ke hulu berenang ke tepian,
bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian’
“Ah, mana bisa kak seperti itu, masak ia di
keluarga kita Dav dulu yang nikah. Nggak-nggak…” Tolak Davin. Ginara
menggelengkan kepalanya melihat adiknya frustasi.
“Berarti kamu harus siap kehilangan dia” Kata
Ginara menakuti Davin.
“Aduh, gimana dong kak?” Davin panik mendengar
kata-kata Ginara.
“Ya nikahin lah” Kata Ginara yakin.
Davin memandang kakaknya bimbang. Menikah? Tidak
ada terpikirkan dirinya akan menikah muda mendahului kakak-kakaknya. Akhhh…Davin
menjambak rambutnya frustasi. Ia tidak ingin kehilangan gadis itu. Tidak gadis
berhijab itu hanya miliknya. Klaimnya.
“Yakinkan hatimu, bilang papa” Saran Ginara.
“Tapi Kak Genta…” Kalimatnya mengambang.
“Pasti ngerti” Kata Ginara.
Davin mengambil nafas Panjang kemudian
menghembuskannya perlahan, ia ingin meyakinkan dirinya sendiri untuk
memantabkan hatinya tentang menikahi gadis berhijab itu. Ia sudah benar-benar
terpesona dan terpaku pada gadis itu. Ya, ia harus mantabkan diri dulu baru
__ADS_1
minta restu papa.
To Be Continued