Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Episode 46


__ADS_3

Ketika Dewi sedang bahagia, maka berbanding terbalik dengan Kimi. Nona besar ini kesal saat mendengar niat ibunya yang ingin mengambil foto keluarga bersama Rendi dan Ferdi. Veni akan memajang foto itu di pesta pertunangan. Dan mencetaknya juga di dalam kartu undangan.


"Ibu sakit ya? Foto keluarga apa?" tanya Kimi dengan suara tinggi.


"Pelankan suaramu! Ini tempat usaha orang!"tegur Kimi.


Kimi sedikit marah "Apa maksudnya ini, kenapa aku harus berfoto bersama mereka, Kita tidak akan menjadi keluarga hanya karena melakukan itu".


Veni menyuruh Kimi berhenti merengek seperti anak usia 3 tahun, rengekan itu tidak ada gunanya. Tidak akan merubah apapun.


"Dan hidupku dalam pengawasan Ibu sampai aku berumur 3 tahun", sindir Kimi Dengan kata lain, sekarang ia tak bisa lagi diatur seperti anak kecil.


"Aku tidak peduli tentang foto keluarga atau foto pernikahan itu. Aku tidak akan melakukannya" sergah Kimi lalu pergi tidak memperdulikan panggilan ibunya.


Kimi keluar dan langsung menelpon Rendi, tanya dimana pria itu sekarang berada.


Kimi bergegas menemui Rendi di tempat latihan Judo. Ia melihat Rendi berdiri di depan loker, Kimi segera menghampirinya, menanyakan apakah Rendi sudah tahu tentang foto keluarga.


Rendi diam, wajahnya sudah menunjukkan rasa marah.


Kimi berkata bukan hanya Rendi yang merasa marah, "Apakah tidak ada cara lain menghentikan pertunangan ini?".


"Kau ingin berpacaran denganku?" Rendi menawarkan solusi.


"Sekarang aku bukan bicara soal pertunanganku.. Tak bisakah kau serius?" Kimi kesal.


Meski tak bisa menghentikan pertunangan, Rendi yakin bisa membatalkan foto pertunangan itu. Kimi tak yakin, Benarkah?".


Rendi balik tanya apa imbalan yang akan Kimi berikan jika ia berhasil membatalkannya. Kimi mengatakan hal ini akan mereka bicarakan lagi setelah rencananya berhasil.


"Sepertinya kau sungguh ingin berfoto bukan?' ucap Rendi menyindir.


Kimi kesal dan mengalah, "Apa yang kau inginkan?".


"Apakah kau akan memberikannya padaku, tidak peduli apa itu?" tanya Rendi menatap tajam.


Kimi diam, yang artinya ia setuju meski tak tahu imbalan apa yang harus ia berikan pada Rendi.


***


Dini hari, Dimas berdiri di luar pintu gerbang, menunggu Dewi keluar meski harus menahan hawa dingin. Disampingnya ada taksi yang sengaja ia pesan. Tak lama Dewi keluar dan kaget melihat Dimas, "Oh ! Apa yang kau lakukan di sini pagi-pagi begini?".


"Kau ini....supirku bahkan belum datang kerja!", ucap Dimas kesal. "Aku tak pernah melihatmu berangkat sekolah di pagi hari, jadi aku penasaran kapan kau keluar. Kau sengaja berangkat ke sekolah lebih awal untuk menghindariku?".


Dewi tak menyangkal, "Bukan hanya menghindar darimu. Aku pergi duluan". Dewi beranjak pergi, Dimas langsung menarik tangannya, "Aku tidak bangun sepagi ini untuk membiarkanmu pergi duluan".

__ADS_1


dewi ingin protes. Dimas bilang tak ada gunanya berdebat, lalu membuka pintu taksi, menunjuk ke arah CCTV dan mendorong Dewi masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan.


Pada supir taksi, Dimas meminta di antar ke Sekolahnya.


Dalam perjalanan Dimas memuji dirinya sendiri, "Anak-anak suka padaku.. Karena aku tampan.. aku pintar...".


"Apa yang kau bicarakan?" tanya Dewi bingung.


Dimas bilang Dewi bisa melaporkan perkataannya tadi pada ibunya, "Aku sudah mendengar semuanya".


Dewi bingung apa Dimas ingin dia berbohong.


Dimas balik tanya, bagian mana yang bohong dari perkataannya tadi.


"Lupakan" jawab Dewi.


"Kau bilang Baik setelah Ibuku memintamu untuk melaporkannya.. Kau sungguh mau melakukannya?.


"Sulit bagiku untuk bilang tidak di rumah itu" jawab Dewi.


"Itu sebabnya kau selalu bilang tidak padaku? " sahut Dimas.


Dewi tersenyum kecil, "Benar juga".


Dimas tersenyum melihat senyum Dewi. Ia ingin tahu kenapa Dewi berangkat sekolah lebih awal, sebenarnya apa yang dia hindari. Dewi diam dan ingat dihari pertamanya sekolah, dimana ia melihat siswa lain di antar dengan mobil mewah plus sopir. Dewi merasa minder. Tapi ia tak mengatakan hal itu pada Dimas.


Dimas bingung. Dewi minta supir taksi menurunkannya di di depan jalan. Tapi Dewi minta pada supir jalan terus hingga di depan sekolah.


Dewi khawatir bagaimana jika ada yang melihat. Dimas bilang jam segini siapa yang akan melihat mereka, "Untuk hari ini, ayo pergi kita pergi bersama-sama. Besok aku tidak akan bangun sepagi ini".


"Tetap saja...."protes Dewi mulai berdebat.


"Oh", tunjuk Dimas keluar jendela mengalihkan perhatian Dewi. Dewi menoleh ke arah yang ditunjuk.


Kesempatan itu digunakan Dimas untuk menyadarkan kepalanya ke pundak Dewi, dan sukses membuat Dewi membeku terkejut.


"Aku ngantuk..Aku bangun pagi karenamu" ucap Dimas dengan mata terpejam.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Dewi masih terkejut.


"Ayo kita turun mobil bersama" ucap Dimas lagi, "Kau cantik pakai seragammu".


Dewi mengulum senyum mendengar pujian Dimas. Dan membiarkan Dimas bersandar padanya.


Di sekolah, Dimas dan Dewi jalan terpisah. Mereka sengaja mengatur jarak. Dewi jalan di depan Dan Dimas dibelakangnya.

__ADS_1


Mereka melangkah seirama, Dimas tersenyum menatap punggung Dewi dan Dewi pun menyadari tengah di perhatikan. Pastinya hati Dewi berdesir hingga membuatnya sedikit salah tingkah dan sesekali melirik ke belakang.


Sampai di hall depan, Dimas terus mengawasi Dewi, tapi perhatiannya beralih dari punggung ke leher gadis itu. Dewi menguncir rambutnya seperti ekor kuda hingga terlihat lah lehernya yang putih dan bersih. Dimas diam sejenak mengigit bibir.


Tak tahan lagi, ia pun bergegas menghampiri Dewi dan menarik ikat rambutnya.


Dewi terkejut, berbalik dengan rambutnya yang jatuh tergerai, "Apa yang kau lakukan".


"Jangan ikat rambutmu di sekolah" ujar Dimas setelah memandang lekat Dewi sesaat. Dewi minta ikat rambutnya di kembalikan.


"Kau cantik bila rambutmu terurai" Dimas mengacak-acak rambut Dewi hingga menutupi rambutnya. "Pergilah kemana-mana seperti ini.. Paham?" Dimas tersenyum puas.


Dewi merapihkan rambutnya, "Hentikan! Bagaimana jika seseorang melihat kita?".


"Siapa yang datang sepagi....?" belum selesai Dimas bicara, ada seseorang yang memanggil namanya.


"Kim Tan" seru Aldi sembari berputar-putar menyemprotkan parfum ke seluruh badannya.


Dimas dan Dewi menoleh ke sumber suara. Aldi melihat Dewi dan memanggilnya dengan panggilan orang kaya baru. Ia heran bagaimana Dewi dan Dimas bisa datang ke sekolah bersama.


Dewi bingung, Dimas mengetahui itu dan segera menarik Dewi ke sisinya, "Hei! Sebenarnya apa yang kau lakukan jam segini? Apakah kau tidur di sini? Kau terlihat seperti dari klub".


Aldi tertawa, "Kau benar.. Aku mungkin akan tidur di sini lagi besok, jika Ibuku tahu" (kalau ia pulang dari klub). Aldi lalu mengajak mereka masuk.


Saat masuk Aldi menginjak garis tubuh yang tergambar di lantai. Dewi berseru panik. Aldi berbalik, tanya kenapa.


"Kau menginjaknya" Dewi menunjuk ke lantai dimana ada pola garis tubuh tergambar di sana, seperti olah TKP.


"Oh ini? Kau bisa menginjaknya. Ini palsu", jawab Aldi.


"Palsu? Seseorang tidak mati di sana?" tanya Dewi takut.


"Seseorang terus menggambarnya. Dia menggambarnya lagi bila terhapus" Aldi menggerakkan kaki menghapus sebagian gambar itu dengan sepatunya. "Ini seperti protes" jelas Aldi.


Dimas tanya siapa orang yang melakukan itu. Aldi juga tidak tahu, lalu menebak, "Mungkinkah Feri?". Dewi dan Dimas terdiam.


Melihat wajah Dewi membuat Aldi mengingat sesuatu, "Hei, Orang kaya baru! Pernahkah kita bertemu sebelumnya? Sepertinya aku pernah melihatmu jam segini".


"Entahlah" jawab Dewi mulai panik.


Dimas bilang jika Aldi pernah melihat Dewi pastilah itu di klub, tapi Dewi tidak pernah kesana. Aldi tanya darimana Dimas tahu. Dimas berkata klub tidak menerima sembrangan orang jelek masuk.


Dimas melangkah masuk kedalam. Aldi memperhatikan Dewi, "Gayanya sedikit kolot tapi dia tak jelek" komentar Aldi lalu menyusul Dimas.


Dewi mendesis kesal. 2 pria itu mengkritik dirinya, seolah ia tak ada disana. Tapi setidaknya rahasia Dewi aman!!!!..

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2