
Beralih ke sekolah Dewi. di sana ada pelajaran bahasa inggris, guru sedang membacakan soal, pertanyaan tentang public speaking, "Apa jawabannya?".
Teman-teman sekelas Dewi serempak menyebutkan jawaban, tapi Dewi tidak ikut menjawab. Kata Bahasa membuatnya hilang kosentrasi dan melamun. Guru melihat Dewi melamun dan memberikan pertanyaan berikutnya pada Dewi.
Beruntung, meski melamun Dewi bisa menjawab dengan benar. Jawaban Dewi bertepatan dengan berakhirnya waktu pelajaran bahasa inggris.
Guru berjalan keluar, teman-teman Dewi bergegas membereskan buku pelajaran. Dewi kemudian langsung merebahkan kepalanya ke meja. Siswa yang duduk di depan Dewi bertanya apa kau sakit? .
Dewi melambaikan tangannya dengan lemas, "Aku sudah pindah rumah, Perlu 2 jam dari rumah ke sekolah..Bangunkan aku nanti".
Dewi merubah letak posisi kepalanya, Tidak tidur tapi melamun.
Ia ingat kenangannya di Taiwan bersama Dimas, dimulai dari Dimas yang menatapnya dari atas balkon, saat mereka berpegangan tangan lari dari kejaran para preman.
Ketika Dimas membawanya melihat bukit dari jauh dan ketika ia mengeluarkan tangannya dari mobil Dimas, merasakan angin yang berhembus di sela-sela jarinya.
Dewi kembali ingat kenangan manis itu. Entah apa yang dirasakan Dewi saat ini, ada kesedihan terpancar dari matanya.
Sepulang sekolah Terjadi kehebohan di sekolah Dewi. Para siswa yang seharusnya pulang kerumah masing-masing, malah bergerombol membentuk lingkaran di depan sekolah. Mereka dibuat terpesona dengan sosok pria yang berdiri dengan mobil keren-nya.
Dewi yang berjalan keluar ikut penasaran, masuk ke lingkaran dan terkejut melihat sosok pria yang bagaikan lukisan berdiri di hadapannya.
Ia sangat kaget.
Dimas membuka kaca mata-nya, membuat para cewek-cewek berteriak histeris.
Diantara sekian banyak siswa yang mengelilingnya, Dimas hanya menunjuk satu gadis, yaitu Dewi, "Bisakah kau mendorong gadis dengan ginjal yang sehat itu ke sini?".
Dewi maju mendekat, ragu-ragu dan tampak malu-malu menatap Dimas. Dimas lalu tersenyum, "Kau terlihat senang melihatku..Kau pasti sering memikirkanku".
"Aku tidak senang, Aku terkejut!" sangkal Dewi malu. "Bagaimana kau datang ke sini?Kau kembali ke Indonesia?".
"Seperti yang kau lihat..Aku mengenal seseorang di sekolahmu, jadi aku datang untuk menemuinya. Aku sedang menatapnya saat ini", ucap Dimas membuat teman-teman Dewi teriak histeris.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Dewi.
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu" jawab Dimas singkat.
Dewi heran kenapa Dimas selalu bertanya.
"Pertanyaan kali ini bukan tentangmu" sahut Dimas.
Dewi lalu cemberut, "Lalu apa?" .
"Aku minta nomor ponsel Steven".
__ADS_1
Dewi heran, "Kenapa?".
"Aku tertarik" jawab Dimas.
"Jadi kenapa?" desak Dewi.
"Kenapa aku harus tertarik? Karena Steven cantik. Aku tidak bisa mengusirnya dari kepalaku..Itu menyiksaku" jawab Dimas bercanda.
Arghhh....
"Ya Tuhan..Lupakan saja, dia sudah punya pacar. Pacarnya adalah mantan pacarmu, Tias. Aku harus pergi. Aku sibuk" jawab Dewi ketus, berlalu pergi dari hadapan Dimas.
"Berhenti disitu" ucap Dimas. tapi Dewi tetap jalan.
"Berhenti di situ" seru Dimas lagi, tapi Dewi dengan cueknya melewati mobil Dimas. "Tidak bisakah kau berhenti? pinta Dimas ke-3 kalinya. Dewi tetap cuek, semakin menjauh meninggalkan Dimas.
Mungkin dia cemburu karena menanyakan Steven dari pada dirinya.
Sepulang sekolah, Dewi langsung kerja paruh waktu di cafe. Saat membuat minuman, diam-diam Dewi menarik senyum, pasti ingat dengan kejadian pulang sekolah tadi.
Ponsel Dewi lalu bergetar menerima panggilan masuk dari Dewi. Dewi menjawabnya dan bilang ia sedang kerja saat ini.
Steven heran, Dewi sibuk berkerja tapi masih punya waktu upload foto di akun Facebook.
Dewi ingat sesuatu, buru-buru menutup telponya.
Dewi memeriksa akun facebooknya, disana ada foto Dimas terposting dengan gaya seimut mungkin, dilengkapi tulisan "Dimas sangat tampan". Hahaha..
"Apakah kau bercanda?", gumam Dewi kesal, ia melihat latar belakang foto dan menyadari kalau Dimas sekarang berada di cafe tempat ia bekerja.
Dewi mengelilingi cafe celingukan mencari sosok Dimas.
Benar saja Di pojok ruangan, Dimas melambaikan tangan dan melemparkan senyum manisnya. Tapi senyum manis itu tak membuat kekesalan Dewi hilang "Kau masih belum log out?".
"Kalau kau jadi aku, apa kau mau log out" tanya Dimas balik.
"Laki laki macam apa kamu ini !" ucap Dewi kesal.
Dimas tentu kaget, "Apa?".
"Lupakan, Tidak usah log out. Aku akan menghapus akunku" ucap Dewi lalu berbalik pergi.
Dimas lalu mengangkat tangan, "Aku ingin memesan?". Sontak Dewi berbalik dengan kesal, lalu melihat kearah atasannya yang sedang berada di belakang meja kasir.
Dewi kembali mendekati Dimas, dengan menahan kesal ia berkata, "Kau harus memesan di depan".
__ADS_1
"Aku ingin memesan disini" jawab Dimas santai.
"Berikan aku nomor Steven, Es" Dimas menyebutkan pesanannya.
"Oke..Jika itu yang bisa membuatmu pergi" ucap Dewi mengambil ponsel Dimas dimeja, mengetik nomor ponsel Steven, "Ini ambil dan pergi" Dewi mengembalikan ponsel Dimas.
Dimas lalu tersenyum, "Kau bilang kau tidak bisa mengingat nomernya di Taiwan karena dia telah mengubah nomernya".
Dimas mengambil ponselnya. Dewi bertanya apa yang sedang di lalukan. Dimas tak menjawab dan langsung menghubungi Steven detik itu juga.
"Oi Steven? Ya, ini aku Dimas. Aku ingin menanyakan sesuatu..Berapa nomor Dewi?.Aku tidak akan bertanya padamu jika dia ingin memberikannya. Kenapa kau tidak bisa memberitahuku? Dewi baru saja memberiku nomermu".
Dengan segera Dewi merebut ponsel Dimas, "Steven! Maafkan aku. Aku akan menghubungimu nanti" Dewi mematikan telepon, menaruh ponsel Dimas ke meja, "Apa yang kau lakukan?".
"Kau sering mengucapkan terima kasih di Taiwan. Kau sangat berbeda di Korea", sindir Dimas mengambil ponselnya di meja, "Aku ingin tahu karena aku pikir aku bisa menghubungimu".
Dewi heran kenapa Dimas ingin menghubunginya.
"Kau tak akan pernah tahu, Aku mungkin ingin bilang Lihat ke atas atau Lihat di belakangmu".
Dengan polos Dewi langsung menegok ke belakang, tidak ada siapa-siapa. "Apa maksudmu?".
"Kau ingin tahu" tanya Dimas lalu berdiri, dengan cepat mengambil ponsel Dewi dari tangan Dewi, lalu keluar.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" Dewi kaget dan mengikuti Dimas.
Dimas menghubungi ponselnya sendiri menggunakan ponsel Dewi. Panggilan tersambung, Dimas langsung mematikan panggilan tersebut setelah nomor telepon Dewi muncul di layar ponselnya.
Dimas lalu berbalik menatap Dewi, "Aku ingin memberitahumu hal-hal yang yang tadi aku bilang. Tapi nanti, Aku akan log out dari akun mu. Katakanlah kita impas" Dimas lalu mengembalikan ponsel Dewi, "Bye" ucapnya lalu pergi.
Dewi segera protes, "Kenapa kau?Berhenti di situ!" tapi Dimas terus jalan, Dewi teriak lagi, "Aku bilang berhenti! Tidak bisakah kau berhenti?".
Dimas Tak mau berhenti, tapi ia menelpon ponsel Dewi, "Aku akan menghubungimu..Aku ingin menemui seseorang hari ini".
Dewi tanya berapa lama Dimas akan tinggal di Indonesia.
"Kenapa? Kau tidak ingin aku pergi?" jawab Dimas menggoda.
"Aku ingin mentraktirmu makan malam sebelum kau pergi" jawab Dewi dengan suara lebih pelan.
Dimas tertawa geli, "Kau mengajakku keluar!".
Dewi tak menjawab dan langsung mematikan telepon. Dimas berbalik, Tapi Dewi sudah masuk ke dalam cafe dengan cueknya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1