
Ketiga kakak beradik Mahendra saling berhadapan
dengan pandangan terharu, mereka tidak menyangka mereka akan mengalami moment
pernikahan yang di satukan. Ginara memeluk abangnya erat dan kembali menangis
di sana.
“Hei, ini hari bahagia lho, harusnya kita tertawa
bukan menangis…” Kata Genta sambil tertawa, di tepuknya punggung adik tirinya
itu dengan lembut dan sayang.
“Terima kasih Abang sudah bimbing dan sayang sama Gi
selama ini” Ucap Ginara.
“Abang selalu sayang sama kamu” Peluk erat Genta.
Setelah itu Ginara beralih memeluk Davin, pemuda itu juga memeluk erat
kakaknya.
“Hmmmm…kakak aku dah jadi istri sekarang, baik-baik
ya…” Godanya di sela pelukannya. Ginara memukul punggung Davin.
“Emang kau bukan suami sekarang” Ledeknya. Davin
tertawa, “Aku hanya tidak percaya saja bisa menikah di usia muda, bahkan belum
lulus kuliah lho” Katanya.
“Kau harus bertanggung jawab sebagai suami, jangan
slenge’an lagi, kau pria dewasa sekarang” Nasehat Ginara sambil melepas
pelukannya. Davin membuat gerakan menghormat.
“Siap komandan!” Mereka yang berada di sekitar
kakak beradik itu tertawa ramai.
Dina, Ginara dan Mahira saling berpelukan erat
seperti Teletubbis, mereka tertawa bahagia, dan selamanya mereka akan terus
bahagia.
“Selamat Gi, akhirnya kau benar-benar menikah”
“Ceh…doa apaan itu” Cemberut Ginara di sambut tawa
kedua gadis di hadapannya.
“By the way, selamat juga kalian, selamat bergabung
dalam keluarga besar Mahendra, aku bahagia kalian menjadi saudaraku” Sambung
Ginara dengan tersenyum. Ketiga gadis itu kembali berpelukan.
“Terima kasih Kak Gi, Mbak Dina, Hira juga bahagia
menjadi bagian keluarga Mahendra, ke depan kita akan saling mendukung” Kata
Mahira akhirnya.
“Pastinya…” Seru Dina ceria.
“Nyonya Muda Dhanurendra…” Panggil seseorang
tiba-tiba yang langsung membuat Ginara menoleh, matanya berbinar cerah
mendapati laki-laki muda yang kini menjadi suaminya. Di ulurkannya tangan
kanannya menyambut suaminya. Laki-laki itu menggenggam jemari Ginara seraya
tersenyum.
“Sudah selesai pelukable nya?” Ginara memukul
lengan Aldy gemas.
“Ish…”
“Aku tidak sabar ingin membawamu pergi dari sini…”
Katanya dengan menatap wajah wanitanya.
“Jangan mulai Al…” Kata Ginara jengah.
“Masak masih saja Al?” Protes Aldy cemberut, gadis
itu terkekeh.
“Jangan niru anak remaja ah…pake panggilan
kesayangan juga, malu tahu”
“Aku kan memang masih anak remaja…” Rajuknya.
“Iya, anak remaja yang berani dan nekat menikahi wanita
tua” Desis Ginara pelan dengan mata yang menatap lucu. Aldy membelalak tak
suka.
“Siapa yang wanita tua hah?” Marahnya, “Siapa juga
yang nekat?” Sambungnya masih dengan pose marah. Ginara menutup mulut Aldy
dengan cepat seraya menoleh ke sekitarnya. Untung semua sudah pada menyebar
untuk menikmati hidangan.
“Ish..iya, iya…laki-laki dewasa yang penyayang yang
sangat menyayangi istrinya, puas” Rajuknya. Aldy langsung tersenyum lebar.
“Ehmm, manisnya…istri siapa sih ini?” Godanya
__ADS_1
seraya menoel hidung mancung Ginara membuat gadis itu semakin memerah wajahnya.
Dia bermaksud berbalik menghindari Aldy untuk menghampiri semua keluarga dan
teman-temannya yang lain. Tapi sebuah tangan langsung menariknya cepat sehingga
ia tidak sempat menghindar, alhasil, dia jatuh ke pelukan suaminya dengan
sempurna.
“Sekarang, kemanapun kamu melangkah, aku akan
selalu berada di sisimu, sweety” Katanya pelan kemudian mencium lembut bibir
ranum istrinya. Sejenak Ginara terpaku mendapat perlakuan lembut itu, ia lupa ia
berada di mana, secara ini adalah pengalaman pertama di cium seorang lelaki.
Namun sedetik kemudian ia menunduk malu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher
suaminya. Ya, tinggi mereka hanya beda 10 cm, jadi adegan pelukan mereka pun
sejajar tidak ada yang menunduk ataupun mendongak.
Aldy melingkarkan tangan kanannya di pinggang
istrinya, mengajaknya untuk menghampiri keluarganya yang lain. Tidak ada lagi
yang mau duduk di koade masing-masing, tapi mereka semua berbaur menjadi satu
di arena tengah, sehingga para tamu undangan tidak perlu naik ke satu persatu
koade untuk memberi selamat kepada mereka.
“Akung…” Ginara menghambur ke pelukan kakekknya
tanpa sungkan dengan sekitarnya, ia ingin kembali bermanja dengan kakekknya
itu. Sena menyambut pelukan Ginara sayang, di ciumnya kening cucunya lembut.
“Gadis kecilku….” Ucap Sena bahagia di tengah
matanya yang berkaca-kaca.
“Dan gadis kecil itu istriku Akung” Sambut Aldy
tersenyum. Sena tertawa renyah, ia merangkul cucu menantunya itu hangat.
“Aku sudah yakin kamu bakal jadi cucuku ketika
pertama kali kita bertemu” Kata Sena menatap Aldy. Laki-laki itu membelalak tak
percaya.
“Oh ya Akung…? Keyakinan anda 100 persen telah
terbukti” Bangganya seraya mengerling manja ke arah Ginara. Gadis itu hanya
mendengus ringan. Ia lebih memilih memeluk neneknya daripada menanggapi rayuan
suaminya.
“Uti…” Hana memeluk cucunya erat, isakan muncul di
lembut.
“Uti, ini hari bahagia aku lho, kok malah nangis, aku
aja dah gak nangis…” Ginara mencoba tegar di hadapan wanita tua yang dulu
pernah membencinya itu, bohong kalau ia gak ingin menangis. Wanita tua itu
tersenyum menyaksikan cucunya menghapus air matanya.
“Jadilah cucuku yang selalu tersenyum seperti ini
terus ke depannya….” Katanya tersenyum di balas senyuman juga oleh Ginara.
“Pasti Uti, Tante Win” Pelukan Ginara beralih ke
Winda, wanita baya itu memeluk erat, ia lebih bisa menguasai diri daripada
ibunya.
“Berbahagialah, kamu pantas mendapatkannya, tante
bahagia untukmu sayang” Kata Winda. Ginara mengangguk dan tersenyum kemudian
tanpa di suruh si kembar langsung menerombol mamanya padahal papinya belum
diberi kesempatan untuk mengucapkan selamat, terlalu lama bagi mereka kalau
harus menunggu antrian untuk memberi selamat kepada sepupu mereka.
“Kak Gi…” Seru mereka bersamaan dan memeluk
bersamaan juga dari kanan dan kiri Ginara. Gadis itu tertawa senang.
“Kalian itu ya, bukannya nunggu giliran juga” Marah
Ginara. Keduanya cemberut, sementara Rendi papinya hanya mendengus seraya
menggeleng pasrah dengan kelakuan putra kembarnya.
“Habisnya terlalu lama Kak menunggu adegan yang
tua-tua…auh sakit Mi” Daffa mengelus bahunya yang dipukul oleh Winda. Ginara
hanya tertawa diiringi yang lain.
“Kalian itu ya, tunggu giliran apa susahnya sih…”
Tegur Winda sewot, apalagi mendengar mereka di katai golongan tua-tua. Daffa
dan Raffa mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.
“Peace Mami, kalau nunggu mereka…sampai akhir gak
bakalan kami dapat jatah pelukan dari Kakak” Cemberut Raffa sambil menunjuk
antrian panjang di belakangnya.
__ADS_1
“Hehe, selamat ya Kak, jangan lupakan kita lho Kak,
aku masih belum puas bermanja sama kakak perempuanku” Ucap Daffa manja sambil
memeluk Ginara sayang. Tapi pelukan itu langsung di tarik oleh saudara
kembarnya membuat laki-laki muda itu cemberut.
“Aku juga belum puas kali Bang, dah minggir,
giliranku ini…”, Raffa menggeser posisi abangnya ke samping dan langsung
memeluk erat Ginara. Gadis itu tertawa seraya membalas pelukan adik sepupunya
itu.
“Kakak masih punya janji yang belum ditepati untuk
main sama kita ya” Tegas Raffa.
“Iya, aku masih ingat kok” Ginara tersenyum menatap
si kembar yang seumuran dengan Davin, tapi kadang masih kekanakan sifatnya,
“Kakak akan sempatkan main bareng sama kalian” Sambungnya seraya mengacak kedua
rambut mereka bersamaan, membuat dua pemuda itu kembali memeluknya senang.
Acara resepsi terus berlanjut sampai malam dan
hanya tinggal kalangan keluarga saja yang tinggal di ballroom itu. Setelah
menunggu semuanya berpamitan pulang, keluarga besar pengantin juga meninggalkan
tempat acara menuju rumah masing-masing, menyisakan ketiga pasangan pengantin
yang memang telah di siapkan kamar president suite room untuk melengkapi malam
pertama mereka.
Tampak mereka berjalan beriringan menuju lift
khusus dan bersenda gurau, bahkan saling melempar ejekan dan godaan yang
membuat para gadis jengah dan memerah wajahnya bak kepiting rebus. Sampailah
mereka di lantai teratas hotel itu yang kebetulan sekali memang hanya
menyediakan tiga kamar khusus president suite room di hotel mereka. Mereka
berdiri di depan kamar masing-masing.
“Hei, abang berdua…jangan teriak keras-keras yah
nanti” Seru Davin kocak yang langsung di sambut cubitan di pingganya.
“Aduh yang…yang mesra kek cubitnya, yuk kita lanjut
di dalam…” Dasar Davin, slenge’an tetep aja slenge’an.
“Palingan kamu yang teriak-teriak…” Balas Aldy
mengejek.
“Wah…teriak apaan?”
“Nambah dong yang…” Balas Aldy tak kalah kocak.
“Wesss…kita semua itu hahaha…aduh..aduh iya yang,
iya ini masuk…” Davin mengelus pinggangnya yang kali ini bener-bener pedih
rasanya.
Tidak ada lagi candaan karena mereka telah masuk ke
dalam kamar masing-masing untuk melaksanakan hajatan mereka setelah menunggu
seharian penuh. Moment yang selalu di tunggu oleh semua pengantin adalah ketika
malam pertama. Dan bagaimana malam pertama mereka? Hanya mereka yang tahu,
karena itu privasi mereka dongggg. Ya nggak, ya nggak, ya iyalah masak nggak.
Kalian yang dah pada nikah pasti juga ngalamin dan nggak mau bagi ke temen
kalian. Ya kan, PRIVASI kata kalian. Begitu juga Author yang baik hati
ini…tidak mau membeberkan malam pertama mereka ya, cukup mereka yang merasakan
sendiri bagaimana pengalaman malam pertama mereka. Kita mah…cuma berharap malam
pertama mereka berhasil dengan lancar, cemerlang, dan tanpa hambatan. Hehehehe,
emang jalan tol.
Ya udahlah, segini aja dulu ya…dah tamat nih novel,
aku suka buat novel tuh LUBER eh kayak pemilu aja thor…iya sih hehe. Tahu gak
sih? LUBER itu Lancar, Urut, Bahagia, Episode singkat, dan R untuk Resapi baca
novel aku…..hahaha
Alhamdulillah, akhirnya novel pertama aku bisa
berakhir dengan lancar, semoga aku bisa menuliskan kembali karya aku yang
laiiinnn yaaaa…..
Terima kasih banyak-banyak yang telah mau mampir
dan membaca novelku, dan alangkah lebih berterima kasih lagi kalau novelku juga
ada yang nge-like, koment, vote, hadiah, komentar membangun…hmmmm pokoknya
lope-lope deh sama reader semuanya….
Salam Readers yang tersayang….
Muah…muah…
__ADS_1
Wassalamu’alikum