
Dimas pulang ke rumah dan melihat ayahnya sedang berjalan-jalan di halaman "Aku pulang", ucap Dimas memberi salam.
Presdir Ahmad hanya mengangguk. Dimas jalan hendak masuk ke dalam tapi tidak jadi, ia tetap berdiri di samping ayahnya ragu-ragu.
Presdir yang tahu gelagatnya," Kau kenapa? ".
"Satu anak pulang, satu anak lagi pergi" jelas Dimas.
Presdir Ahmad tersenyum, "Begitulah..Aku menyukai keduanya".
"Tapi, Kakak dan aku sepertinya tidak menyukai ayah.." ungkap Dimas jujur.
"Itulah nasib seorang ayah" ujar presdir Ahmad. "Sisihkan waktumu besok".
"Kenapa besok?" tanya Dimas.
"Kita perlu membuat anak yang pergi kembali", kata presdir Ahmad tanpa menerangkan lebih banyak.
Keesokan harinya, Sandi yang sedang sakit dirawat Sinta yang disukainya. Sandi terus memperhatikan Wanita yang sedang meniupi bubur agar cepat dingin.
"Apa kau tak mau pulang ke rumah? kau harusnya ada di rumah saat sakit, bukannya di sebuah hotel seperti ini" ujar Sinta itu.
"Semuanya bahkan lebih menyedihkan di rumah, Para pelayan akan memasak bubur untukku.. Setidaknya, aku bisa melihatmu di sini" ujar Sandi.
Sinta berdiri memeriksa suhu badan Sandi "Kedengarannya seperti kau sedang berpura- pura sakit".
Sandi tersenyum tipis, "Kau tahu aku pura-pura tapi masih membawakan bubur? Kau harusnya membeli sesuatu yang enak".
"Berhenti menyuruh-nyuruh aku.. Aku juga butuh waktu berkencan" ucap Sinta.
Sandi sedih "Kau kejam sekali pada orang sakit".
Sinta hanya. tersenyum "Kakak terlihat lunak karena sedang sakit...Jadi cepatlah sembuh".
Sinta minta Sandi segera makan buburnya, sudah mulai dingin. Sandi memandangi Sinta lalu menegakan duduknya. Belum sempat Sandi menyentuh bubur itu, seketika ponselnya berdering.
Sandi menjawabnya, "Apa? Sekarang? Kapan kau ditelepon? 30 menit lagi aku tiba". Sandi menutup telepon, minta Sinta pulang sekarang, karena ia akan pergi.
Sandi langsung bangun dari tempat tidur. Sinta tanya apa ada masalah di perusahaan. Sandi menjawab sepertinya begitu, sembari mencukur kumisnya yang tipis dan sedikit merapihkan rambutnya.
__ADS_1
Sinta memandang sedih Sandi dan pada bubur yang belum sempat di sentuh sama sekali. Bubur yang dibuatnya untuk Sandi, kini menjadi mubazir.
Sandi memilih pakaian, saat dia berbalik, Sinta sudah tidak ada di tempatnya Pergi tanpa suara.
Sandi bergegas berganti pakaian.
Presdir Ahmad tiba di depan perusahaan bersama Dimas. Sekertaris Rudi membuka pintu untuk presdir Ahmad.
Dimas melihat sekitar, menghela napas menyadari kemana ayahnya membawanya pergi.
"Dimana Sandi berada" tanya presdir Ahmad pada Rudi. Kim Won.
"Sandi dalam perjalanan, Dia tadi ke rumah sakit dan langsung ke hotel karena sedang sakit" jawab Rudi.
"Kalau dia sakit, harusnya dia pensiun saja seperti aku" ucap presdir Ahmad dingin, sambil jalan tertatih.
Ini hari sabtu, Presdir Ahmad tak peduli hari apa, ia menjalankan bisnis tanpa melihat hari. Dimas memanggil Rudi pelan, "Aku pergi dulu".
Rudi bingung "Sekarang?".
"Berhenti disitu" cegah presdir Ahmad.
Dimas protes, "Katanya kita akan bertemu Kakak".
"Tapi ayah tidak mengatakan kalau itu di perusahaan. Ini bukan...." tuntut Dimas.
"Ini bukan demi kakakmu" potong presdir Ahmad cepat. "Juga bukan demi dirimu.. Ini adalah hal yang harus kalian berdua lakukan untukku, Selama kau hidup sebagai anakku dibawah Ahmad Group kau tidak punya hak untuk lari".
Rudi melirik Dimas iba. Presdir Ahmad melangkah masuk ke dalam. Dimas mulai merasakan beban di pundaknya.
Presdir Ahmad ingin menegaskan, suka atau tidak Dimas harus menerima takdirnya untuk menjalankan perusahaan suatu hari kelak. Bersama Sandi tentunya. Karena mereka berdua adalah putra presdir Ahmad.
Presdir Ahmad duduk menunggu di ruang meeting bersama Dimas dan Rudi yang duduk tak jauh di sebelahnya. Para jajaran management dan dewan direksi belum tiba. Tak lama kemudian, para dewan direksi dan jajaran management berlarian memasuki ruangan, duduk di tempanya masing-masing. Salah satu direktur menyapa presdir Ahmad. Presdir Ahmad hanya diam tidak merespon.
Direktur Ali menjadi orang yang terakhir kali masuk keruangan. Ia bahkan masih mengenakan pakaian casual, tanpa sempat berganti baju. Dengan dingin presdir Ahmad tanya, "Kau masih belum berhenti berjudi".
Direktur Ali tersenyum lebar dan berdalih, ini bukan berjudi Ini murni bisnis. Presdir Ahmad mencibir, "Bisnis apa? Berikan laporanmu lebih dulu".
"Apa?", Direktur Ali kaget, para direktur kasak kusuk. Rudi tersenyum tipis.
__ADS_1
Di jalan, Sandi terjebak macet, ia tak bisa datang seperti perkiraan sebelumnya.
Kembali ke perusahaan. Para direktur mulai melaporkan hasil kerjanya pada presdir Ahmad. Salah satu direktur melaporkan hasil Konvensi JJ proyek yang direncanakan untuk putaran kedua. Rencananya dibangun 30 lantai kamar tamu. Sebagai kandidat mereka memilih hotel Katana.
Sandi masuk keruang meeting melalui pintu belakang.
Alangkah terkejut dan marahnya dia melihat Dimas berada di ruangan itu. Karena Sandi sudah datang, Presdir Ahmad mengakhiri laporan dari para direktur.
"Aku lupa..Kau sudah mengenalnya. Yang lainnya belum pernah melihat dia sebelumnya..Dia putra keduaku, Aku membawanya agar kalian mengenali wajahnya" ujar presdir Ahmad mengenalkan Dimas pada dewan direksi.
"Anak kedua? Jadi...?" seru direktur Ali kaget.
Meski berat.. Dimas kemudian berdiri, "Senang bertemu kalian, Aku Dimas", ucapnya mengenalkan diri, lalu membungkuk memberi salam pada mereka.
Para dewan direksi memuji Dimas sangat tampan dan mirip dengan presdir Ahmad. Mereka berkata presdir Ahmad pasti bangga memiliki putra setampan Dimas.
Sandi menunduk, matanya memerah menahan marah Tampak terpukul.
Direktur Ali berkata ia hampir tak mengenali Dimas, "Kapan kau kembali? Adikku tidak bilang apa-apa".
"Sejak kapan kau dapat berita soal urusan keluargaku?", sahut presdir Ahmad dingin, mendelik tajam. Membuat direktur Ali tidak enak, "Tidak, bukan begitu maksudku".
"Kalian bisa pulang..Kalian bisa menghabiskan waktu dengan keluarga kalian. Sebaiknya jangan bersenang-senang karena aku ijinkan kalian pulang awal" ucap presdir Ahmad mengakhiri meeting, disambut tawa dari para dewan direksi. Satu persatu mereka membubarkan diri meninggalkan ruangan.
Setelah mereka pergi, presdir Ahmad tanya bagaimana kabar Sandi. Sandi bilang ia tidak tahu jika ayahnya akan datang ke kantor.
"Aku tidak menyangka bahwa kau akan pergi dari rumah selama itu" balas Presdir Ahmad.
"Ayo pulang", ajak presdir Ahmad pada Dimas lalu berdiri, "Antar aku dan Dimas pulang, sekertaris Rudi".
"Ya" jawab Rudi lalu memberi hormat pada Sandi.
Sandi bilang kalau Rudi selalu kejam padanya. Dengan tanggap Rudi bilang aku akan kembali, lalu menyusul presdir Ahmad.
Tinggal Dimas dan Sandi di ruangan itu. Untuk beberapa saat keduanya saling diam. Dimas membuka suara, "Jangan salah sangka..Aku tidak berencana kemari, Ayah mengajakku bertemu denganmu. Aku tidak tahu kalau akan dibawa ke perusahaan".
"Kapan kau pernah melakukan sesuatu yang direncanakan? Kau tidak tahu apapun. Tidak pernah sengaja melakukan sesuatu. Tapi, coba lihat apa yang terjadi kalau kau bertindak tanpa tahu konsekuensi" serang Sandi marah.
"Kakak benar..Tapi kenapa aku merasa ini tidak adil? Terlepas dari apa yang aku tidak tahu, dari apa yang tidak aku lakukan. Aku harus bagaimana jika keberadaan selalu mengganggumu", kata Dimas mengeluarkan isi hatinya yang mengganjal selama ini.
__ADS_1
Sandi diam, tak bisa menjawab. Dimas pamit pergi. Ini seperti sebuah teguran presdir Ahmad pada Sandi karena telah meninggalkan rumah. Jika Sandi terus membangkang entah apa yang terjadi nanti.
BERSAMBUNG...