Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Episode 45


__ADS_3

Rendi yang tahu kalau Dimas sedang marah kembali menendang kaki meja, dia membangunkan Dewi, "Cepat bangun! Dimas datang".


Dewi menggeliat, berakting seperti baru bangun dari tidur nyenyaknya, "Kenapa ribut sekali?". Dengan kepalanya, Rendi menunjuk ke arah Dimas.


Seketika Dewi kaget dan heran melihat Dimas ada di sekitar sini.


Dimas mendesis kesal, melototi Dewi yang sedang duduk berdua dengan Rendi.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Dimas mulai marah.


Rendi tersenyum mengejek, "Jangan seperti itu".


Dewi yang heran tanya pada Rendi, "Apa yang kalian lakukan? Apa yang kau lakukan di sini? Apa yang dia lakukan di sini?".


"Kalian berdua kenapa?" tanya Rendi heran, lalu menoleh ke Dimas, "Bukankah kau ke sini untuk menemuinya? Kemarilah".


"Kenapa aku datang untuk menemuinya? Aku tidak tahu apa yang kalian lakukan. Kau bisa mengacau di daerahmu. Tapi disini bukan tempatnya", sahut Dimas marah, menutup telepon lalu pergi.


Mata Dewi mengekor mengikuti kemana arah Dimas pergi.


Rendi menyuruh Dewi mengejar Dimas. Tapi Dewi berkata ia berada di sini bukan untuk bertemu Dimas.


Rendi melempar ponselnya kesal, "Jadi ini hanya kebetulan?" tanyanya tak percaya.


"Lalu memangnya kita janjian?" tanya Dewi balik, "Makan dan pergilah", tanpa menunggu jawaban Dewi pergi meninggalkan Rendi.


Rendi memperhatikan perginya Dewi yang jalan berlainan arah dengan Dimas.


Rendi mengepalkan tangan kesal, "Dia pintar membantah Ah...Aku kalah" lalu kembali memakan minya.


Dewi pulang ke rumah, jalan melewati taman Tiba-tiba Dimas muncul dari balik pohon.


Dewi teriak kaget. Dimas langsung memarahi Dewi karena tidur Di sana, "apa kau tidak takut?".


Dewi bilang tak ingin pulang lebih awal, dan tidak mempunyai tempat tujuan.


Dimas tanya dengan suara lebih pelan, "Kenapa tidak ada tujuan? Ada banyak kafe dimana-mana".


"Di sana menghabiskan banyak uang, gak mungkin nongkrong di cafe tanpa memesan kan!" bantah Dewi.


Dewi ingin masuk tapi Dimas mengalangi, "Kita belum selesai bicara".


Dimas ingin tahu kenapa Dewi menemui Rendi. Dewi mengaku tidak sengaja bertemu, hanya kebetulan berpapasan saja, "Dia sudah di sana saat aku bangun".

__ADS_1


"Sudah kubilang, jauhi dia..Dia bilang apa? Dia mengancammu?".


"Tidak, dia bilang dia ingin melindungi aku" jawab Dewi.


"Itu yang namanya ancaman! Itulah!" sergah Dimas kesal sampai menunjuk wajah Dewi. Sampai-sampai Dewi harus menjauh sedikit, "Kau harus mendengarkanku! Jauhi Rendi walaupun hanya berpapasan dan Ini bukan saran.. Tapi peringatan" ucap Dimas tegas.


"Itu bukan sesuatu yang bisa ku kendalikan" ujar Dewi bingung.


Dimas Menceramahi Dewi harus berusaha sebaik mungkin. Dewi semakin heran dan tanya sebenarnya apa yang terjadi antara Dimas dan Rendi.


Sebelum menjawab, Dimas diam dan menghela napas, "Aku tidak ingat.. Aku cuma tahu kalau kami saling membenci sekarang".


Dewi ingin masuk ke rumah, ia minta Dimas masuk ke rumah 5 menit setelah Dewi masuk. Dimas bingung, "Apa tidak bisa kita pura-pura berpapasan di halaman saja?".


"Tapi aku mencoba yang terbaik untuk tidak melakukannya (berpapasan)" ujar Dewi membalik perkataan Dimas.


Dimas tersenyum geli. Dewi memang pintar berdebat dan selalu mempunyai jawaban. Dewi lalu melangkah masuk, sedikit melirik Dimas dari sudut matanya.


Dia masuk lewat pintu belakang, yang langsung terhubung dengan dapur. Di sana ada Nyonya Sari yang sedang menuang wine ke gelas.


Dewi menyapa hormat. Nyonya Sari menegur Dewi, "Pulanglah lebih awal! Aku jadi mengambil wine ini sendiri".


"Maaf kan sa..." ucapan Dewi terputus, karena tiba-tiba Dimas masuk ke dapur.


"Kenapa tidak memanggilku..Kau tak perlu ke dapur" ucap Nyonya Sari.


Dewi buru-buru menyelinap pergi, tapi baru beberapa langkah Nyonya Sari menyuruh Dewi mengambilkan air putih untuk Dimas. Dewi lalu merapat ke dinding kulkas, mengambil sebotol air dingin.


Dimas mengulum senyum geli, tapi ia tetap stay cool. Dewi yang jadi salah tingkah.


"Kalian sudah ketemu? Ini putraku, Dimas. Dia putra kedua Ahmad Grup" ujar Nyonya Sari mengenalkan Dimas pada Dewi.


Dimas menatap Dewi dan Dewi hanya menunduk menuang air ke gelas.


"Kau tahu pelayan yang bisu kan? Ini putrinya" ucap Nyonya Sari pada Dimas.


Dewi sedikit tersinggung dan raut wajahnya berubah dan Dimas melihat perubahan itu. Dewi menunduk dan menyapa Dimas dengan sopan, "Senang berkenalan denganmu!" salam Dewi sambil meletakan gelas berisi air putih ke dekat Dimas.


"Aku sering melihatmu" ujar Dimas membuat Dewi melotot.


"Benarkah? Kapan? Di rumah?" tanya Nyonya Sari kaget.


"Di sekolah" jawab Dimas, "Aku penasaran siapa si gadis aneh itu,Ternyata kau? Senang bertemu dengan kau..Kita akan sering bertemu nantinya". Dimas menahan senyum, Dewi diam tak berkutik.

__ADS_1


Nyonya Sari bilang kalau mereka tak perlu sering bertemu. lalu Ia tanya pada Dewi, "Kau tidak melihat Dimas di sekolah?".


Dewi menggeleng,"tidak".


Nyonya Sari heran, "Sungguh? Dimas orang yang susah untuk diabaikan".


"Iya, kan! Dia ini memang aneh" celetuk Dimas membuat Dewi mendelik padanya.


Dimas menahan geli, "Aku naik dulu", ucapnya setelah puas mengerjai Dewi.


Dewi kemudian pamit pergi. tapi Nyonya Sari menahan, "Kau lihat wajahnya? Karena kau sudah melihatnya, kau harus melaporkan padaku semua kegiatannya di sekolah".


"Melapor?" tanya Dewi tak mengerti.


"Kenapa? Kau masuk sekolah itu dengan gratis.. Kau tidak mau melakukannya?" tanya Nyonya Sari.


Tentu Dewi menunduk, "Tidak".


Nyonya Sari menjelaskan ia tak minta Dewi menjadi teman Dimas, "Hanya karena kalian tinggal serumah dan pergi ke sekolah yang sama. Kau tidak boleh akrab dengannya. Persis seperti posisi kalian di rumah ini. Kau juga harus begitu di sekolah. Kau tidak boleh memanggil namanya begitu saja, meskipun kalian seumuran..Paham maksudku?".


"Ya" jawab Dewi pelan tampak sedih. "Dia adalah Tuan muda".


"Ya! Begitu!" sahut senang. "Aku tahu kau pintar..Aku juga mau minum".


"Ya" jawab Dewi mengambil air minum untuk Nyonya Sari dengan wajah muram.


Rupanya Dimas belum naik ke kamarnya, diam-diam ia berdiri di balik pintu mendengarkan perkataan ibunya. Dia sedih, miris rasanya.


Dewi lalu masuk ke kamarnya, perasaanya semakin sedih melihat ibunya yang tidur dengan posisi duduk seperti siaga jika sewaktu-waktu Nyonya Sari memanggilnya. Dewi minta ibunya berbaring dan istirahat sejenak.


Dewi melepas tasnya, mendongak melihat ke atas gantungan baju. Ia kaget melihat baju seragam SMA Ahmad ada di kamarnya. Dewi mengambil baju itu, "Ibu! Apa ini? Darimana Ibu mendapatkannya?".


"Dari mana lagi? Ibu membelinya" jawab Astuti dengan bahasa isyarat.


Dewi syok, "Ibu membelinya? Ibu! Ini hampir sejuta harganya. Dengan uang itu, kita bisa ..".


Astuti menepuk tangan Dewi pelan, "Biarkan ibu mengatasi ini, Cobalah..Kita lihat apa putriku cantik memakainya".


"Aku selalu cantik memakai apa saja" sahut Dewi terharu dan menahan tangis, "Terima kasih Ibu! Aku benar-benar menyukainya! Haruskah aku menyetrikanya?".


Astuti mengiyakan dengan anggukan. Dewi memandangi seragam barunya, terharu bahagia. Astuti tersenyum melihat putrinya senang.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2