
Azlan memberi hukuman untuk keempat nya dengan memberi tugas pada mereka.
Nino di minta membantu mengurus perusahaan, Baron menggantikan posisi Nino untuk mengawasi keamanan kediaman keluarga Pramudya dan bertanggungjawab atas tugas anak buahnya. Lani bertugas menjadi pengawal pribadi untuk Ariel sedangkan Ayna menjadi pelayan pribadi Ariel. Mereka tidak bisa bertemu kecuali saat malam hari. Dan jika mereka melanggar peraturan itu, maka mereka tidak boleh menikah.
Semua itu berlaku selama kehamilan Ariel. Bukan Azlan tidak mau menikahkan mereka saat itu juga. Tapi dia masih trauma dengan sikap Ariel yang menjadi saat pesta pernikahan Adit dan Luna.
"Kita tidak akan bertemu sebelum matahari terbenam. Jangan merindukan ku." seru Baron pada Ayna.
"Ck.. Kau tidak pantas berkata seperti itu Bar. Dengan ekspresi datar kau mengatakan hal yang romantis. Menggelikan." ledek Nino. Saat ini mereka sedang mengucapkan perpisahan untuk pasangan mereka masing-masing karena mereka akan berpisah untuk sementara waktu. Nino di perusahaan dan itu artinya dia tidak akan bisa bertemu dengan pujaan hatinya walau hanya sekilas. Sedangkan Baron, dia masih bisa menatap Ayna dari kejauhan. Tapi ancaman Azlan membuatnya mengurungkan niatnya. Dia akan menahannya sampai matahari tenggelam.
"Diamlah!! Aku sedang berbicara dengan Ayna, bukan dengan mu."
Nino memutar bola matanya malas. Dia mendekati Lani dan berbicara tepat di telinga wanita itu. "Nanti malam dandan yang cantik, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." bisik Nino yang masih bisa terdengar oleh Baron dan Ayna.
Mendengar hal itu, Baron tidak mau kalah. Dia memegang tangan Ayna dan berkata, "Bagiku kau sangat cantik. Jadi kau tidak perlu berdandan untuk menyambutku. Tapi kau hanya perlu bersiap karena aku akan mengajakmu makan di pos jaga."
Ariel menepuk jidatnya. Sedangkan yang lainnya sudah tertawa terpingkal-pingkal mendengar gombalan seorang Baron. Benar-benar rangakaian kata yang romantis tapi berakhir dengan kata yang membangongkan.
"Kak Baron, apa kau tidak bisa mengajak Ayna ke tempat yang lebih bagus? Astaga.. Aku sudah terharu dengan ucapan romantis mu tapi kau ingin mengajaknya makan di pos jaga. Apa tidak ada tempat lain?" gerutu Ariel.
Azlan hanya bisa tertawa menutupi wajahnya. Dia tidak menyangka jika anak buahnya sangat konyol. Mungkin karena mereka hidup tidak seperti orang pada umumnya. Mereka di tuntut untuk melindungi orang-orang dan mempunyai tanggungjawab yang besar.
__ADS_1
Baron menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apa dia salah bicara? kenapa semua menertawakan nya?
"Harusnya kau mengajak Ayna ke tempat yang romantis atau makan malam di restoran. Bukan di pos jaga." seru Nino.
Baron mendengus kesal. Bukannya dia tidak ingin mengajak Ayna ke tempat romantis. Tapi masalahnya dia tidak mempunyai pengalaman seperti itu. Tempat romantis itu seperti apa saja Baron tidak tahu. Dan apa yang harus dia lakukan nanti nya, dia juga tidak tahu.
"Tidak apa-apa Kak, Aku akan menunggu kak Baron nanti malam. Aku juga akan memasak makanan untuk makan malam kita nanti di pos jaga." seru Ayna yang membuat hati Baron menghangat.
Ariel terharu dengan ucapan Ayna. Benar-benar sederhana tapi sangat romantis. Ucapan Ayna mengisyaratkan jika romantis tidak harus di tempat yang indah, tapi di manapun mereka bisa melakukan nya asalkan bersama.
Nino memanyunkan bibirnya. Dia merasa kalah telak. Karena Lani dari tadi tidak mengatakan apapun. Haruskah dia meminta Lani untuk membuatkan nya makanan juga?
"Ti_tidak." jawab Nino terbata. Dia tahu, jika sudah begitu dia tidak akan mendapatkan makan malam darinya. Biarlah dia yang berusaha. Lagi pula uangnya banyak karena selama ini dia tidak pernah menggunakan nya untuk hal yang tidak penting. Jadi dia bisa mengajak Lani ke restoran mewah nanti.
"Baiklah, waktu sudah habis. Sekarang kalian bisa kembali bekerja." Azlan sudah tidak tahan mendengar bualan menggelikan anak buahnya. Jadi dia meminta ke empatnya untuk menjalankan tugas mereka masing-masing.
"Ba_baik Tuan." jawab mereka serempak.
"Aku pergi dulu." pamit Baron yang di jawab anggukan Ayna. Pria itu menarik Ayna dan memberikan kecupan singkat di bibir wanita itu.
"Astaga...Baron..!!!" teriak Azlan
__ADS_1
Ayna hanya menunduk malu. Sedangkan Ariel dan Lani di buat menganga melihat keberanian Baron. Jangan-jangan pria itu sudah melakukan hal lebih pada Ayna.
Tidak mau mendapat hukuman lebih, Baron sudah lari terbirit-birit meninggalkan ruangan Azlan. Kini tinggal Nino dan Lani. Pria itu menatap Lani seolah ingin melakukan hal yang sama. Tapi di urungkan karena lagi-lagi wanita itu mengeluarkan jurus tatapan serigala betina. Nino hanya bisa menunduk lemas. Tapi ucapan Lani membuat semangatnya kembali. "Kerjakan tugasmu dengan baik, nanti malam kita akan melakukan hal sama seperti yang mereka lakukan. Bahkan lebih panas dari mereka" bisik Lani.
Bibir Nino mengembang. Dia mengecup kening Lani dan pergi dari ruangan Azlan.
"Dasar." gumam Azlan.
"Untuk kalian berdua. Karena Istri ku tidak kemana-mana, maka Lani, kau bantu Baron. Dan kau Ayna, kau harus stand by jika nanti istri ku membutuhkan sesuatu." seru Azlan.
"Baik Tuan." jawab mereka serempak
"Kalian boleh pergi."
Lani dan Ayna keluar dari ruangan Azlan. Menyisakan dua insan yang tengah berbahagia itu. "Sekarang tinggal kita berdua. Bagaimana Kalau kita....
"Apa?" tanya Ariel.
"Aku merindukan mu sayang." Azlan menjilat telinga Ariel. Dia mengangkat tubuh Ariel dan membaringkan nya di sofa.
Wanita itu hanya bisa memejamkan matanya merasakan perlakuan Azlan. Permainan yang belum pernah mereka lakukan setelah mengetahui kehamilan Ariel. Dan hari ini untuk pertama kalinya, Azlan mengunjungi anaknya dan bermain di dalam sana.
__ADS_1