Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Belajar Membuka Hati


__ADS_3

.


.


Siang ini kantor NL group ramai aktifitas seperti biasanya, banyak para karyawan serta staf kantor tersebut yang berlalu lalang menjalankan tugasnya masing-masing, tak terkecuali Bagas adiaksa.


Bagas beraktifitas sepergi hari-hari biasanya, meski dalam hati ia nampak malu-malu. Semenjak pertemuannya dengan Nadia beberapa hari yang lalu, kini dirinya lebih pendiam. Bahkan biasanya dirinya akan menyapa para karyawan wanita di kantor dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Kini tidak begitu, dirinya terlihat menjaga jarak dengan gadis yang lainnya.


Hal itu sontak membuat berbagai spekulasi pertanyaan muncul di mata sahabatnya, tak terkecuali wanita yang selama ini berada dekat dengannya semenjak dirinya masuk ke dalam kantor tersebut.


"Gas.. Ada apa? Apa kamu ada masalah?" ucapnya lirih. Saat mereka tidak sengaja saling bertemu saat yang lain bubar untuk pergi makan siang.


"Eh mba Zila." ucapnya gugup. Bagas mengedar pandangan ke sekeliling tempat itu, takutnya ada yang melihat keberadaan mereka berdua apalagi jika nanti Nadia sampai melihatnya, Bagas takut wanita itu akan berburuk sangka kepadanya.


Zila merasa heran, kenapa sahabatnya terlihat celingukan dan seperti orang yang sedang ketakutan. Namun wanita itu hanya mengikuti kemana langkah Bagas membawanya.


Setelah mereka sampai di lorong yang sepi, bahkan jarang ada orang yang melewatinya. Bagas berhenti dan mulai mengambil ancang-ancang untuk membuka suara di depan Zila.


"Kenapa kamu malah bawa aku kesini sih? Tadi di tanya tidak langsung menjawab, apa kamu sedang ada masalah?" ucap Zila seraya berbisik. "Dan aku juga mendengar beberapa aduan dari rekan yang lain, jika kamu tidak menyunggingkan senyum saat menyapa karyawan lain dan terkesan murung. Memangnya ada apa Gas?" imbuh Zila dengan meluapkan rasa penasarannya di hadapan Bagas, pria yang sudah ia anggap seperti adiknya. Bahkan hanya Zila di kantor itu yang sangat dekat dengannya.


Bagas menarik nafasnya, lalu ia mulai menceritakan segalanya di depan wanita itu. Ia juga tidak lupa meminta pendapat dari wanita tersebut.


"Menurut mba Zila, apa aku salah jika menerima permintaan nona Nadia?"


"Apa maksud kamu Gas? Nona Nadia memintamu apa?"


"Dia memintaku untuk menjalani hubungan dengannya!" jawab Bagas jujur.


"Apa?! Maksud kamu nona Nadia nembak kamu?" ucap Zila syok terlihat dari raut wajahnya.


"Beneran mba. Apa mba Zila melihat raut wajahku ini sedang berbohong!" balasnya dengan anggukan cepat.

__ADS_1


"Maaf Gas, bukan begitu maksudku. Maksudku apa kamu terima tawarannya?" jawab Zila cepat, ia tidak mau pria itu salah sangka terhadap ucapannya.


"Aku mengatakan padanya, jika kami berdua akan menjalani saja dulu, tapi aku belum menerima cintanya. Aku takut ia hanya akan mengobral cintanya kepadaku sama seperti seorang pria yang susah membuatnya Move on."


"Jadi kamu sudah tahu, Gas?"


"Aku sangat tahu, malah saat aku masih belum bekerja di kantor ini!"


"Iya sih Gas, aku juga takut jika kamu hanya di jadikan sebagai pelariannya saja! Tapi kamu jangan over tinking dulu, siapa tahu kali ini dia sungguhan." ucap Zila memberi nasehat pada Bagas.


Mendengar penuturan dari wanita tersebut, Bagas sedikit bernafas lega. Ia membalas ucapan dari Zila tanpa keraguan seperti tadi lagi.


"Tapi mba Zila mengerti kan, kenapa aku menyapa semua rekan wanita tanpa menyunggingkan senyum. Aku takut nona Nadia akan murka jika melihat perlakuanku pada wanita lain." jelas Bagas jujur.


"Itu sih memang sudah menjadi watak kamu, yang terkesan pria dingin di kantor ini. Hehehe.." ledek Zila pada Bagas.


"Ih..mba Zila suka gitu, deh." ucapnya sambil mendelik kesal. Memang tidak di pungkiri apa yang di ucapkan oleh Zila, benar semuanya. Bahkan Bagas juga hanya hangat kepada Zila, jika di hadapan Nadia dia selalu dingin, entah apa alasannya.


"Iya mba, aku akan berusaha seperti apa yamg mba Zila minta." balas Bagas, kali ini seulas senyum terlihat di bibir manisnya.


"Baguslah.. Sekarang pergilah, lakukan apa yang semestinya harus kamu lakukan."


"Iya mba.. Terima kasih saran dan do'anya ya, mba." ucap Bagas dengan ketulusan hatinya.


"Sama-sama.. Semangat.. Tetap berusaha ya, semoga berhasil.." ucap Zila sambil berjalan dan pergi. Ia memberikan motofasi pada pria yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.


"Terima kasih banyak, mba." balas Bagas, ia juga melangkahkan kakinya, juga pergi meninggalkan tempat tersebut.


Mulai hari ini Bagas akan berusaha untuk sedikit lebih hangat pada wanita yang mengajaknya menjalani hubungan. Meski hatinya tidak mau bernasib sama seperti mantan kekasih Nadia, namun apa yang di katakan oleh mba Zila benar, jika kita tidak boleh berburuk sangka pada orang lain.


Bagas berniat untuk makan siang, namun saat dirinya hendak pergi, tangannya di tarik dari belakang oleh seseorang. Ia kaget lantas menoleh ke belakang, ia melihat siapa pelakunya.

__ADS_1


"Nona Nad..." ucap Bagas gugup lalu ucapannya terhenti saat jari telunjuk Nadia berada di bibirnya.


"Nadia saja! Jangan banyak membantah!" ucap Nadia serius.


"Iya... Baiklah!" jawab Bagas, meski berat untuknya, namun ia akan mencobanya, meski dalam hatinya sungguh merasa tidak enak hati.


"Ada apa kamu menghentikan langkahku?" tanya Bagas penasaran.


"Aku mau meminta kamu untuk menemani makan siang. Kamu sudah makan apa belum?" balas Nadia jujur. Barusan Nadia menghampiri Bagas di ruangannya, tapi pria dingin itu sudah tidak ada lagi di kamar itu.


"Hem.. Ini aku juga baru akan pergi untuk makan siang." jawab Bagas jujur.


"Baguslah.. Ayo kita pergi barengan!" ucap Nadia semangat.


"Baik..!" balas Bagas bahagia dalam hatinya.


Sepasang insan yang sedang belajar untuk saling mendekatkan satu sama lain, kini berjalan bersamaan. Bahkan bisa di bilang mereka pasangan yang sangat serasi, meski pun sama-sama dingin. Namun tidak di pungkiri, mereka sama-sama sedang memperjuangkan sesuatu.


Sesampainya di restoran terdedat, mereka duduk berdekatan. Mereka menesan makanan, kemudaia menikmatinya bersamaan. Beberapa pasang mata yang memperhatikan keduanya, kini baperan dan merasa iri dengan pasangan sejoli yang sedang belajar untuk saling mencingai.


Tak jarang Nadia menngunakan kesempatannya untuk menyuapi pria dingin yang sedang berusaha untuk di taklukannya.


Meski Bagas malu, namun dirinya berusaha tidak menolak keinginan Nadia. Dalam hati kecilnya, ia malu tapi ia juga mau di perlakukan manja oleh wanita di sebelahnya.


.


Bersambung...


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2