Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Cinta Tak Pernah Salah


__ADS_3

“Mau makan apa sayang?”


Ginara melihat-lihat menu di resto dalam mall


kemudian ia menunjuk salah satu menu steak iga bakar dan jeruk hangat.


“Baiklah” Tiara tersenyum kemudian melambai pada


waitres yang sedang menunggu di samping meja pesanan.


“Ada yang bisa di bantu Nyonya?” Tanya pelayan itu


ramah.


“Steak iga bakarnya dua, jeruk hangatnya satu sama


milk tea satu”


Pelayan Wanita itu mencatat pesanannya kemudian


segera pamit untuk menyiapkan hidangan.


Saat ini, kedua Wanita beda usia itu tengah


istirahat di restoran dalam mall, setelah puas berbelanja berbagai kebutuhan


Wanita, Tiara mengajak Ginara untuk makan siang. Sebenarnya Ginara tidak


terlalu suka dengan keramaian, tapi untuk membuat bundanya senang, ia mulai


sedikit terbiasa dengan keadaan tersebut.


Berbagai gerai pakaian mereka kunjungi seolah tidak


ada bosannya kalau sudah memilih-milih baju. Tiara bahkan membelikan lima gaun


cewek untuk Ginara, walaupun gadis itu menolak tapi bundanya tetap kekeh. Kata


bunda, seorang gadis itu juga harus memakai gaun bukan pakaian yang selama ini


sering Ginara kenakan. Gadis itu hanya tersenyum kecut. Ia tidak pernah


membayangkan kalau dirinya memakai gaun, apa jadinya?


Pesanan keduanya datang setelah hampir 15 menit


menunggu. Mereka makan dengan tenag sambil menikmati alunan music yang membuat


nyaman pengunjung restoran ini.


“Sayang, boleh bunda bertanya?” Tanya Tiara di sela


makannya. Ginara mengangguk.


“Bunda tidak menyangka, Gi sudah sedewasa ini,


sepertinya Bunda nggak lagi merasakan Gi yang yang cuek, dingin, tapi lebih ke


seorang gadis yang kalem, apa ada sesuatu yang merubah Gi?” Tiara bertanya


dengan tersenyum. Ginara memandang Wanita di depannya hari ini mungkin ia akan


mengatakan kepadanya bahwa ia sudah membuat komitmen dengan seseorang, jadi


bundanya itu tidak perlu lagi menawarinya untuk berkenalan dengan putra teman


bundanya. Ia meminum minumannya kemudian tersenyum tipis.


“Bunda…apa bunda akan dukung Gi kalau Gi punya


teman dekat?” Tanyanya ragu. Tiara pura-pura kaget, ia meminum milk tea dengan


cepat.

__ADS_1


“Ah, benarkah, siapa sayang?” Ah… inikah kejutan


yang dikatakan Mas Reza tadi malam? Putrinya sudah mulai mau membuka hati untuk


pria lain? Ia tidak sabaran untuk mengetahui siapa laki-laki yang mampu


meluluhkan ke-dingin-an putrinya ini. Sudah sejak lama ia ingin mengenalkan


Ginara dengan putra-putra temannya semasa kuliah dulu, tapi Ginara selalu saja


menolak, sampai akhirnya ia menyerah dan membiarkan Ginara berjalan sesuai


dengan keinginan hatinya. Nanti kalau sudah masanya, ia akan membujuknya lagi.


Tapi ternyata….


“Bunda akan merestui kami kan?” Tanyanya ragu.


Ginara sudah menanyakan pada Aldy apa yang


dibicarakan dengan papanya, Aldy hanya menjawab kalau papa merestui.


Bunda menggenggam jemari Ginara sayang.


“Apapun dan siapapun yang Gi pilih, selama itu


membuat Gi Bahagia, Bunda akan selalu merestui.”


“Aldy…” Kata Ginara pelan tapi mampu membuat Tiara


menatap kaget dan takjub.


“Teman Davin?” Tanya Tiara tak percaya.


“Salah ya? Gi udah bilang terlalu tua….”


“Eh, nggak kok sayang, siapa bilang salah? Bunda


perasaannya. Gadis itu menunduk resah.


“Sayang, dengar bunda” DI genggamnya lebih erat


kedua tangan Ginara.


“Gi berhak Bahagia, dengan siapapun yang menjadi


pilihan Gi, cinta tidak mengenal usia sayang, Bunda merestui kok, Nak Aldy juga


pemuda yang baik, sopan, bertanggung jawab…” Ginara mendongak menatap Tiara,


ada senyum terbit di bibirnya.


“Bunda gak marah?” Tiara tersenyum menggeleng.


“Kenapa harus marah sayang, Bunda Bahagia akhirnya


Gi bisa menemukan seseorang yang mampu menjaga putri bunda”


“Gi udah saranin Aldy cari yang sepadan, usia kita


terpaut jauh, tapi Aldy tetep maksain Gi untuk mencoba hubungan ini”


“Sayang…cinta itu tidak memandang usia, cinta itu


akan hadir pada saat dua insan sepakat menjalin kasih, dan satu lagi, cinta itu


tak pernah salah menempatkan perasaannya pada seseorang yang tepat.”


Ginara menghela nafas lega. Senyum kini terbit di


bibirnya, bukan senyum seringai yang biasanya ia tampilkan, tapi senyuman manis


yang menandakan ia siap meniti jalan berdua  Aldy dengan restu dari orang tuanya.

__ADS_1


“Ya Allah dalam kondisi apapun aku hanya ingin


Bahagia, bersama orang-orang yang membuat aku Bahagia. Oleh sebab itu kuatkan


aku dan aku mohon jangan lagi memberi cobaan yang membuat aku menangis. Ini


bukan lagi permintaan tapi desakan dan aku tahu Engkau Yang Maha Pendengar dan


Pemurah. Tolong jangan lagi ada air mata” Doanya dalam hati kemudian menarik


nafas begitu dalam. Hatinya menghangat setelah mengucapkan doa tersebut.


“Oya sayang, apa Gi tidak mau menetap saja di


rumah? Bunda sudah sangat senang sekali Gi mau menginap di rumah tiap hari


sabtu minggu, bunda paham kok kerja Gi lebih dekat dengan apartemen, tapi sering-seringlah


pulang dan menginap ya” Pinta bunda tiba-tiba terisak.


“Bunda…” Ginara pindah duduk di sebelah Tiara dan


memeluknya sayang.


“Gi tidak akan pergi kemana-mana bunda, apalagi


meninggalkan bunda” Ucapnya sungguh-sungguh. Entah kenapa perasaan amat sayang


pada Wanita paruh baya itu tiba-tiba hadir. Selama ini bukan ia tidak sayang,


tapi kali ini perasaan itu hadir berkali-kali lipat.


“Aku menyayangi bunda, sampai kapanpun” Ucapnya


lagi.


Tangis Tiara sekejap pecah di sana. Ia balas


memeluk Ginara erat.


“Aku memang bukan ibu kandungmu, tapi cintaku


begitu tulus padamu sayang dan tidak ada bedanya dengan abang dan adikmu. Bunda


tahu, tempat mamamu tidak akan pernah tergantikan, bunda hanya meminta sedikit


saja tempatku di hatimu. Sedikit saja.” Ujar Tiara dalam tangisannya.


Dada Ginara sesak saai ini. Perasaannya berkecamuk


memikirkan, apa selama ini ia sudah begitu mengabaikan Wanita paruh baya di


dalam pelukannya ini. Tidak dihiaraukannya pandangan pengunjung restoran yang


memandang mereka heran, ada yang haru ada yang penasaran.


“Maafkan Gi ya bun, mungkin selama ini Gi begitu


dingin sama bunda, tapi sungguh Gi tidak ada maksud, dan tidak perlu bunda


meminta, bunda sudah mempunyai tempat sendiri di hati Gi dan bunda adalah


ibuku” Katanya seraya mengeratkan pelukannya pada Wanita itu.


“Kau juga putriku, jangan pernah merasa kau orang


asing, kami semua mencintaimu, jangan pernah merasa sendiri lagi…” Ucap Tiara


kemudian melepas pelukannya dan membelai lembut wajah Ginara. Mereka tersenyum


Bahagia, sudah selayaknya Ginara menikmati kebahagiaan dalam hidupnya.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2