
“Mau makan apa sayang?”
Ginara melihat-lihat menu di resto dalam mall
kemudian ia menunjuk salah satu menu steak iga bakar dan jeruk hangat.
“Baiklah” Tiara tersenyum kemudian melambai pada
waitres yang sedang menunggu di samping meja pesanan.
“Ada yang bisa di bantu Nyonya?” Tanya pelayan itu
ramah.
“Steak iga bakarnya dua, jeruk hangatnya satu sama
milk tea satu”
Pelayan Wanita itu mencatat pesanannya kemudian
segera pamit untuk menyiapkan hidangan.
Saat ini, kedua Wanita beda usia itu tengah
istirahat di restoran dalam mall, setelah puas berbelanja berbagai kebutuhan
Wanita, Tiara mengajak Ginara untuk makan siang. Sebenarnya Ginara tidak
terlalu suka dengan keramaian, tapi untuk membuat bundanya senang, ia mulai
sedikit terbiasa dengan keadaan tersebut.
Berbagai gerai pakaian mereka kunjungi seolah tidak
ada bosannya kalau sudah memilih-milih baju. Tiara bahkan membelikan lima gaun
cewek untuk Ginara, walaupun gadis itu menolak tapi bundanya tetap kekeh. Kata
bunda, seorang gadis itu juga harus memakai gaun bukan pakaian yang selama ini
sering Ginara kenakan. Gadis itu hanya tersenyum kecut. Ia tidak pernah
membayangkan kalau dirinya memakai gaun, apa jadinya?
Pesanan keduanya datang setelah hampir 15 menit
menunggu. Mereka makan dengan tenag sambil menikmati alunan music yang membuat
nyaman pengunjung restoran ini.
“Sayang, boleh bunda bertanya?” Tanya Tiara di sela
makannya. Ginara mengangguk.
“Bunda tidak menyangka, Gi sudah sedewasa ini,
sepertinya Bunda nggak lagi merasakan Gi yang yang cuek, dingin, tapi lebih ke
seorang gadis yang kalem, apa ada sesuatu yang merubah Gi?” Tiara bertanya
dengan tersenyum. Ginara memandang Wanita di depannya hari ini mungkin ia akan
mengatakan kepadanya bahwa ia sudah membuat komitmen dengan seseorang, jadi
bundanya itu tidak perlu lagi menawarinya untuk berkenalan dengan putra teman
bundanya. Ia meminum minumannya kemudian tersenyum tipis.
“Bunda…apa bunda akan dukung Gi kalau Gi punya
teman dekat?” Tanyanya ragu. Tiara pura-pura kaget, ia meminum milk tea dengan
cepat.
__ADS_1
“Ah, benarkah, siapa sayang?” Ah… inikah kejutan
yang dikatakan Mas Reza tadi malam? Putrinya sudah mulai mau membuka hati untuk
pria lain? Ia tidak sabaran untuk mengetahui siapa laki-laki yang mampu
meluluhkan ke-dingin-an putrinya ini. Sudah sejak lama ia ingin mengenalkan
Ginara dengan putra-putra temannya semasa kuliah dulu, tapi Ginara selalu saja
menolak, sampai akhirnya ia menyerah dan membiarkan Ginara berjalan sesuai
dengan keinginan hatinya. Nanti kalau sudah masanya, ia akan membujuknya lagi.
Tapi ternyata….
“Bunda akan merestui kami kan?” Tanyanya ragu.
Ginara sudah menanyakan pada Aldy apa yang
dibicarakan dengan papanya, Aldy hanya menjawab kalau papa merestui.
Bunda menggenggam jemari Ginara sayang.
“Apapun dan siapapun yang Gi pilih, selama itu
membuat Gi Bahagia, Bunda akan selalu merestui.”
“Aldy…” Kata Ginara pelan tapi mampu membuat Tiara
menatap kaget dan takjub.
“Teman Davin?” Tanya Tiara tak percaya.
“Salah ya? Gi udah bilang terlalu tua….”
“Eh, nggak kok sayang, siapa bilang salah? Bunda
perasaannya. Gadis itu menunduk resah.
“Sayang, dengar bunda” DI genggamnya lebih erat
kedua tangan Ginara.
“Gi berhak Bahagia, dengan siapapun yang menjadi
pilihan Gi, cinta tidak mengenal usia sayang, Bunda merestui kok, Nak Aldy juga
pemuda yang baik, sopan, bertanggung jawab…” Ginara mendongak menatap Tiara,
ada senyum terbit di bibirnya.
“Bunda gak marah?” Tiara tersenyum menggeleng.
“Kenapa harus marah sayang, Bunda Bahagia akhirnya
Gi bisa menemukan seseorang yang mampu menjaga putri bunda”
“Gi udah saranin Aldy cari yang sepadan, usia kita
terpaut jauh, tapi Aldy tetep maksain Gi untuk mencoba hubungan ini”
“Sayang…cinta itu tidak memandang usia, cinta itu
akan hadir pada saat dua insan sepakat menjalin kasih, dan satu lagi, cinta itu
tak pernah salah menempatkan perasaannya pada seseorang yang tepat.”
Ginara menghela nafas lega. Senyum kini terbit di
bibirnya, bukan senyum seringai yang biasanya ia tampilkan, tapi senyuman manis
yang menandakan ia siap meniti jalan berdua Aldy dengan restu dari orang tuanya.
__ADS_1
“Ya Allah dalam kondisi apapun aku hanya ingin
Bahagia, bersama orang-orang yang membuat aku Bahagia. Oleh sebab itu kuatkan
aku dan aku mohon jangan lagi memberi cobaan yang membuat aku menangis. Ini
bukan lagi permintaan tapi desakan dan aku tahu Engkau Yang Maha Pendengar dan
Pemurah. Tolong jangan lagi ada air mata” Doanya dalam hati kemudian menarik
nafas begitu dalam. Hatinya menghangat setelah mengucapkan doa tersebut.
“Oya sayang, apa Gi tidak mau menetap saja di
rumah? Bunda sudah sangat senang sekali Gi mau menginap di rumah tiap hari
sabtu minggu, bunda paham kok kerja Gi lebih dekat dengan apartemen, tapi sering-seringlah
pulang dan menginap ya” Pinta bunda tiba-tiba terisak.
“Bunda…” Ginara pindah duduk di sebelah Tiara dan
memeluknya sayang.
“Gi tidak akan pergi kemana-mana bunda, apalagi
meninggalkan bunda” Ucapnya sungguh-sungguh. Entah kenapa perasaan amat sayang
pada Wanita paruh baya itu tiba-tiba hadir. Selama ini bukan ia tidak sayang,
tapi kali ini perasaan itu hadir berkali-kali lipat.
“Aku menyayangi bunda, sampai kapanpun” Ucapnya
lagi.
Tangis Tiara sekejap pecah di sana. Ia balas
memeluk Ginara erat.
“Aku memang bukan ibu kandungmu, tapi cintaku
begitu tulus padamu sayang dan tidak ada bedanya dengan abang dan adikmu. Bunda
tahu, tempat mamamu tidak akan pernah tergantikan, bunda hanya meminta sedikit
saja tempatku di hatimu. Sedikit saja.” Ujar Tiara dalam tangisannya.
Dada Ginara sesak saai ini. Perasaannya berkecamuk
memikirkan, apa selama ini ia sudah begitu mengabaikan Wanita paruh baya di
dalam pelukannya ini. Tidak dihiaraukannya pandangan pengunjung restoran yang
memandang mereka heran, ada yang haru ada yang penasaran.
“Maafkan Gi ya bun, mungkin selama ini Gi begitu
dingin sama bunda, tapi sungguh Gi tidak ada maksud, dan tidak perlu bunda
meminta, bunda sudah mempunyai tempat sendiri di hati Gi dan bunda adalah
ibuku” Katanya seraya mengeratkan pelukannya pada Wanita itu.
“Kau juga putriku, jangan pernah merasa kau orang
asing, kami semua mencintaimu, jangan pernah merasa sendiri lagi…” Ucap Tiara
kemudian melepas pelukannya dan membelai lembut wajah Ginara. Mereka tersenyum
Bahagia, sudah selayaknya Ginara menikmati kebahagiaan dalam hidupnya.
To Be Continued
__ADS_1