
Feri siswa yang di bully merasa terjepit, tapi Rendi bicara seolah ia yang disakiti. Rendi mencengkram kerah baju Feri, "Berhenti menyakiti perasaanku, Kau kira aku tidak tahu kalau kau melaporkan aku diam-diam?".
Rendi melepas cengkeramannya, "Selain melaporkan aku ke guru...Ayahmu menerima telepon sendiri, tapi yang menjawab telepon ayahku adalah sekretarisnya. Berapa kali harus ku beritahu padamu? Kenapa kau terus membuat rahasia antara kantor sekretaris dan aku?".
Feri memandang Rendi takut-takut..
Dewi langsung marah melihat sikap kasar Rendi, Tapi teman Rendi sangat menikmati permainan ini.
"Aku harus bagaimana lagi agar kau perhatian padaku? Karena kalau tidak, aku harus melakukan ini padamu agar dilihat orang-orang", Rendi mendorong kasar kepala Feri berulang-ulang dengan telunjuknya.
Dimas ada di sana, Berdiri di depan lokernya seperti sibuk memeriksa isi dalam lokernya. Ia sengaja diam, tenang dan tak ingin terlibat.
Feri diam, menahan tangis, malu dan sakit hati. Melirik marah pada Rendi.
Plok...
Rendi memukul kepala Feri, "Kau mau begini terus? Tidak mau jawab?
Plok...
"Tidak mau jawab? Berhenti melotot" ancam Rendi marah.
Anak-anak merintih nyeri, Dewi tidak tahan dan ingin mengatakan sesuatu. Tapi Feri lebih dulu bertindak, mendorong Rendi menjauh.
"Jangan sentuh aku! Aku tidak tahan lagi!", Feri memukul wajah Rendi menggunakan tasnya.
Anak-anak teriak nyeri. Dimas menoleh melihat apa yang terjadi Lalu kembali sibuk sendiri.
Rendi meraba wajahnya yang sedikit mengeluarkan darah akibat sabetan tas Feri. Feri menatap marah, Tapi Rendi tersenyum dengan wajah marah dan berkata, "Kenapa kau malah memperburuk suasana? Kau mau mati?".
"Aku tidak akan tinggal diam lagi sialan!", teriak Feri murka. "Sebentar lagi aku pindah.. Aku tidak takut apa-apa lagi! Kubunuh kau".
Feri menyerang Rendi, tapi Rendi dengan cepat membanting Feri ke lantai dengan jurus taekwondo yang ia kuasai. Benar-benar keras hingga Feri meringis kesakitan. Anak-anak teriak nyeri. Pembullyan nyata yang terjadi di depan matanya membuat Dewi syok.
Rendi bak banteng yang sedang mengamuk. Rendi berbalik dan melihat Dewi yang menatapnya. Belum cukup sampai disitu, Rendi dengan sengaja menginjak pundak Feri.
Dewi meringis seperti ikut merasakan sakit. Dan Rendi menatap garang Dewi, "Harusnya kau menahannya sedikit lebih lama..Aku akan menantikan....apa yang akan terjadi padamu".
Dewi gemetar ketakutan, seperti akan menangis. Dengan jelas Rendi mengancamnya.
Setelah puas, Rendi pergi di ikuti 2 pengawalnya. Satu persatu anak-anak membubarkan diri tanpa ada yang berani menolong ataupun sekedar bersimpati dengan Feri.
__ADS_1
Tapi dewi segera mendekati Feri, membantunya bangun, "Kau tak apa?.
Dimas menoleh mendengar suara Dewi.
"Mau minum?" Dewi menyodorkan botol minumnya ke Feri.
Dimas dengan cepat membuang botol minum itu, menarik Dewi berdiri, menempatkannya ke pintu loker.
Tentu Dewi marah, "Apa yang kau lakukan? Aku ingin memberikan ini padanya".
"Kau tidak lihat apa masalahnya? Jangan ikut campur" kata Dimas.
"Aku cuma tanya apa dia baik-baik saja.. Bukan ikut campur", sangkal Dewi tidak mengerti.
"Kau lihat ada orang lain yang bicara dengannya selain kau?" tanya Dimas.
Dewi lalu melihat sekitar, Tidak ada satu orang pun yang berani bicara atau bahkan mendekati Feri.
Dimas melanjutkan, "Jangan pernah ada di pihak yang lemah di SMA ini, Saat orang lemah di pihak yang lemah mereka tetap akan lemah" Dimas menatap Dewi yang diam tak lagi bersuara.
Rupanya Ada Kimi yang melihat mereka dari jauh. Perhatian yang ditujukan Dimas pada Dewi membangkitkan rasa marah di hatinya.
***
Panggilan tersambung, "Halo?" jawab Dewi dari sebrang.
"Ini Aku..Kamu mengenali suaraku , kan?", balas Kimi, "Kembalikan name tagku saat aku masih bicara baik-baik.. Aku tidak sesabar kelihatannya".
"Jika kamu menginginkannya, maka kamu datang dan ambil sendiri" jawab Dewi.
"Kau mau aku datang dengan Dimas?" tantang Kimi.
Dewi langsung mengalah, "Kau dimana?".
Dewi duduk menunggu di lobby spa. Tak lama Kimi keluar dengan menggunakan baju mandi. Kimi tanya dimana name tagnya sedangkan Dewi balik tanya mana formulir kedatangannya.
"Dasar sombong" cibir Kimi. "Apa Steven tidak menjelaskan padamu soal rangking di sekolah?".
"Kalau iya kenapa? Apa yang harus berubah?" tanya Dewi tak gentar.
"Sikapmu harus berubah..Kau Orang Kaya baru", sindir Kimi. "Aku tidak tahu bagaimana orang tuamu bisa kaya..Keluargaku sudah kaya sejak jaman kakek buyut ku, Jadi jangan biarkan orang bicara soal kau dan Dimas Itu merendahkan kami".
__ADS_1
"Aku juga maunya begitu" Dewi mengembalikan name tag Kimi, "Kembalikan formulirku".
Kimi mengambil name tag-nya. "Oh itu sudah kubuang" ucapnya santai tapi mengesalkan.
"Apa?".
"Di tong sampah bandara" ujar Kimi.
Kimi lalu berdiri, "Bagus sudah kemari", ia membuka dompetnya, mengeluarkan 10 lembar uang 100.000, "Ini untuk ongkos pulang", lalu melempar uang itu ke meja dekat Dewi. "Jangan menolaknya..Ini artinya kau harus minggat" Kimi memasang wajah jutek lalu masuk ke dalam.
Dewi menahan kesal dengan penghinaan Kimi. Ia memandangi uang di atas meja, menahan marah seperti ingin menangis. Haruskah ia ambil uang itu yang sama saja dengan melukai harga dirinya. Atau tidak mengambil uang itu. Totalnya lumayan juga 1 jt.
Rendi berada di mini market dekat rumah Aldi. Saat ini dia sedang menelpon Aldi minta pada temannya itu untuk segera datang. Ia langsung menutup teleponnya.
Dewi berada di tempat yang sama, tapi tidak melihat Rendi. Setelah membayar minuman yang ia beli Dewi langsung keluar, duduk di meja luar dan merebahkan kepalanya di meja, tidur.
Rendi yang berdiri di depan kaca jendela bisa melihat Dewi dengan jelas. Tersenyum melihat gadis itu lagi-lagi tidur di tempat yang sama, dengan posisi yang sama.
Rendi lalu keluar membawa minya duduk di depan Dewi. Rendi mengamati Dewi sebentar, lalu memakan minya. Hanya satu kali suap, setelahnya ia kembali mengamati gadis itu.
Rendi lalu menendang kaki meja, "Hey".
Dewi tak terpengaruh. Rendi menendang kaki meja sekali lagi, "Hey!".
Dewi terhentak dan membuka matanya, tapi tidak merubah posisinya sedikit pun.
"Kenapa kau selalu tidur di sini? Itu membuatku ingin melindungimu" ujar Rendi.
Dewi mengenali suara Rendi. Mengerutkan kening cemas, tak berani mengangkat kepala.
Ponsel Rendi berdering. Tersenyum melihat nama layar di ponsel lalu menjawabnya. "Dari mana kau tahu nomorku?".
"Kau juga tahu nomorku", jawab suara dari seberang yang ternyata adalah Dimas.
Rendi mengulum bibir kesal, "Baik kita seri.. Kenapa?".
"Minya enak ?" tanya Dimas mengetahui Rendi sedang makan mi.
Rendi perlahan menoleh. Melihat Dimas berdiri di seberang jalan menatapnya. Dimas melihat Dewi yang tidur di meja.
Lalu beralih menatap Rendi tajam, matanya merah seperti menahan marah. Dewi membuka matanya, semakin cemas. Dan senyum kecil kembali muncul di wajah Rendi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...