
Kediaman keluarga Ahmad..
Nyonya Sari mengundang temannya datang kerumah. Kebetulan teman Nyonya Sari ini adalah ibunya Sinta temannya Tias . Ibu Sinta memanggil Nyonya Sari dengan sebutan kakak. Ia kagum memandangi rumah Ahmad yang super besar itu. Indah sekali, seperti istana, "Berapa kamar yang kau punya? Tidak masalah jika kau istri kedua di rumah ini".
Status istri ke dua itulah yang Nyonya Sari harapkan, tapi statusnya di sini hanya sebagai istri simpanan. Nyonya Sari akan mengajak ibu Sinta berkeliling.
Ibu Sinta bertanya apa presdir Ahmad tidak marah jika Nyonya Sari mengajaknya berkeliling.
Nyonya Sari bilang presdir Ahmad tidak ada di rumah, lagi pula sekarang ia tak peduli lagi jika presdir Ahmad marah. karena putranya sudah kembali, tidak ada lagi yang ia takutkan sekarang.
"Ah...Keras kepala sekali" seru ibu Sinta, Nyonya Sari heran, "Memangnya kenapa denganku?".
"Bukan kau! Ini Sekolahnya Sinta" jawab ibu Sinta sembari menatap ponselnya, "Aku dapat banyak SMS setelah mendaftar jadi bagian asosiasi orang tua murid. Mereka menelpon setiap hari.. Aku ingin menyingkirkannya".
"Irinya aku, Aku bahkan tak bisa pergi meskipun aku mau" kata Nyonya Sari miris.
Ibu Singa bilang itu cuma pekerjaan membosankan. Para orang tua siswa berdandan rapih dari ujung kepala hingga kaki, memperlihatkan dompet mereka dan bertanya, "Kau juga orang tua? Apa pekerjaan suamimu?" Ibu Sinta mempergakan gaya bicaranya di depan para orang tua murid. "Semuanya sampah" ucapnya kesal.
Nyonya Sari tanya jadi apa yang ibu Sinta katakan mengenai pekerjaan suaminya.
Ibu Sinta menjawab kesal, "Menjual minuman alkohol". Nyonya Sari syok, "Apakah kau gila? Apakah Sinta tidak apa- apa?".
Ibu Sinta tertawa, "Jangan khawatir! Mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat..Mereka pikir suamiku mempunyai bisnis air kemasan".
Nyonya Sari menilai ibu Sinta sungguh berani. Ibu Sinta mengatakan hidup tidaklah mudah. Ia lalu bertanya dimana kamar tidur Nyonya Sari.
Pembicaraan mereka dilanjutkan sembari minum teh. Ibu Sinta hampir lupa menanyakan ini, "Apa yang terjadi pada Nyonya besar?".
Nyonya Sari bilang tidak ada satupun foto yang berguna,"Dia cuma pergi ke galeri dan mengumpulkan peralatan makan. Setiap kali dia bertemu laki-laki, orang itu pasti sekretaris Rudi. Dia seperti biksu saja".
__ADS_1
Ibu Sinta mempunyai ide lain, merubah strategi. "Jatuhkan Sandi, maksudku Presdir Sandi. Carikan seseorang untuk Sandi. Wanita adalah cara terbaik untuk membuat Ayah membenci anaknya".
Nyonya Sari memarahi ibu Sinta, "Kau kuliah hanya untuk ini? Istri kedua sudah seperti seperti biksuni. Dan Sandi sudah seperti seorang pastor Katolik".
"Kalau begitu rumah ini punya energi yang buruk", ujar ibu Sinta, lalu teriak dan meloncat terkejut, "Ya tuhan!!Siapa itu", ucapnya melihat punggung seseorang yang tiba-tiba keluar dari sebuah pintu.
Astuti mengepel lantai dengan posisi jongkok dan gaya mundur. Astuti berdiri setelah menyelesaikan pekerjaannya. Nyonya Sari tanya apa yang dilakukan Astuti disana, "Ya Tuhan! aku bisa gila. Apakah kau mendengar semuanya lagi?" Astuti mengangguk lalu pergi.
Ibu Sinta heran apa wanita tadi itu pelayan yang tidak bisa bicara itu. Nyonya Sari tak tahan lagi, "Ayo kubur dia hari ini" ucapnya sadis... Ibu Sinta menanggapi dengan bercanda, "Oh...Sekarang kau kembali ke dirimu yang dulu, Dia sudah mengetahui banyak hal sekarang? Apakah kau yakin dia tidak bisa bicara?".
"Hah!" Nyonya Sari bengong pemikiran yang bahkan tak pernah terlintas sama sekali dalam benaknya.
Nyonya Sari jalan mengendap-endap menuju dapur, niatnya ingin mengangetkan Astuti. Tapi malah dia sendiri yang teriak kaget karena tiba-tiba Astuti berbalik. "Ya Tuhan! Bagaimana kau tahu?".
Astuti menunjuk ke pintu kaca lemari es, "Aku bisa melihatmu dari sana" Nyonya Sari kesal, "Oh..begitu! Apakah kau benar-benar bisu? Tapi, sejak kapan kau tak bisa bicara?".
Tapi Astuti menatapnya dengan wajah datar, plan..sama sekali tidak terkejut ataupun takut. Membuat Nyonya Sari jadi malu sendiri. (hihihi), "Lanjutkan kerjamu", ucap Nyonya Sari lalu pergi.
"Sejak umur 3 tahun setelah aku demam tinggi", tulis Astuti di notesnya.
***
Dewi berada di klub penyiaran tengah menerima wawancara dari Dani. Dani melihat CV Dewi, tercantum keahlian Dewi yang bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Dani menilai itu unik, biasanya siswa lain mengatakan mereka menguasai 3 bahasa.
"Itu lah salah satu alasan kenapa kau harus memilihku" ucap Dewi semangat, "Aku menjadi relawan..."
"Ditolak" potong Dani cepat.
Dewi bingung tanya kenapa. Dani berpikir Dewi berniat masuk ke klub ini karena ingin mendapatkan seragam, tapi sekarang Dewi sudah memakainya, "Apakah kau menjual tasmu?" sindir Dani.
__ADS_1
Dewi mengaku bohong soal tas itu. Dani tahuDewi bohong, "Apakah ada lagi yang ingin kau katakan?", tanya Dani sebelum mengakhiri sesi wawancara.
Dewi bicara menggunakan bahasa isyarat, "Tolong terima aku..Jika kau tidak menerimaku, Aku akan membalas dendam padamu".
Dani tanya apa artinya Dan Dewi tersenyum manis, "Tolong terima aku" Dani tidak percaya, "Isyaratnya terlalu panjang hanya untuk perkataan itu".
Tias masuk heran melihat Dewi ada diruangan ini. Lalu protes pada Dani, "Kau tidak membuang-buang waktumu untuk mewawancarainya, kan? Tidak, jangan pilih dia, senior".
Dani tanya kenapa tidak. Tias bilang Dewi adalah sahabat pacarnya Steven, "Mana mungkin perempuan bersahabat dengan laki-laki? Pokoknya jangan terima dia".
"Sayang sekali.. Aku suka semangatnya" ucap Dani menggoda.
Tias merajuk, "Senior".
Sampai akhirnya, pelamar lain masuk. Kebetulan dia adalah fans Dani, gadis yang bilang kalau ayahnya adalah Presdir Tv. Tias yang tidak suka tanya "mau apa kau". Gadis itu menyodorkan CV-nya, "Senior.. Aku datang untuk wawancara".
Tias langsung menghalangi, "Senior..pilih saja dia (Dewi), Kau diterima untuk acara kami selanjutnya. Congratulations!" ucap Tias pada Dewi.
dewi tersenyum bingung. Dani geli melihat perubahan Tias yang tiba-tiba.
Dewi lalu jalan menuju kelas dengan wajah tersenyum (ada harapan dia diterima di klub penyiaran). Merasa gerah, Dewi merapihkan rambut dan ingin mengikat rambutnya kembali.
Dimas tiba-tiba muncul dari belakang dan langsung menarik ikat rambutnya lagi. Dewi teriak terkejut, "Hei" Tapi Dimas sama sekali tidak berbalik atau pun menoleh. Jalan lurus dengan senyum jahil di wajahnya.
Dewi yang tak berniat mengejar hanya diam di tempatnya. Tanpa sengaja ia menoleh ke kanan, dimana ada Rendi sedang berdiri menatapnya dari jauh sejak tadi. Buru-buru Dewi mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Rendi..
Dewi merasakan kejanggalan dalam pandangan Rendi kembali menoleh dan melihat pria itu. Rendi menatap Dewi dengan pandangan berbeda yang sulit diartikan. Antara marah, sedih, cemburu atau merasa penasaran.
BERSAMBUNG...
__ADS_1