Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Episode 29


__ADS_3

Setelah dari rumah Steven, Tias pergi ke Basecamp. Meringkuk tidur di sofa.


Disitu ada Kevin, "kau kenapa? " tanya Kevin pada Tias yang terlihat murung.


"Aku merasa seperti akan dicampakkan" jawab Tias singkat.


Kevin malah tersenyum, "Steven tidak akan kembali? Aku tahu dia adalah orang bijaksana".


"Bukan seperti itu" sahut Tias kesal, duduk tegak.


"Lalu apa?".


"Mungkin Steven sudah tahu bahwa aku pernah pacaran dengan Dimas" jelas Tias.


"Apa maksudnya? " .


"Steven dan Dimas bertemu di Taiwan" ujar Tias.


"Oh Tidak...Mereka bertemu dan mencampakkan mu???" tanya Kevin (hahaha..maksdunya, mereka saling tertarik satu sama lain gitu!!!).


Tentu Tias kesal, "Sini, biar aku memukulmu!".


"Jadi Steven tahu atau tidak, Barusan kau bilang kau dicampakkan".


" Aku merasa yakin akan segera dicampakkan" jawab Tias lemas. Ia bertanya-tanya apa yang Dimas katakan tentang dirinya pada Steven, "Aku yakin Dimas belum bisa melupakanku".


Kevin menghela napas dan garuk-garuk kepala melihat Tias yang terlalu percaya diri. Tias berpikir Dimas dan Steven berkelahi, " Kau pikir Kim Tan akan menuntut Steven karena memukulnya?".


"Hey!!! jika begitu maka Dimas yang akan memukuli Steven" sanggah Kevin.


Tias tidak terima, "Hei! Steven adalah petarung yang baik, kau tahu! Dan jangan berpihak pada Dimas! Jangan pula berpihak pada Kimi!", kata Tias kesal.


***


Beralih ke Dimas, orang yang sedang dibicarakan Tias. Dia diam di kamar memandangi kotak musik di atas meja. Dia benar-benar merindukan Dewi.


Dimas duduk di ranjang, mengutak-atik ponselnya. Hal pertama yang ia lakukan adalah membuka akun Facebook milik Dewi.


Dimas membaca status Dewi yang diposting tadi malam, "Sama halnya aku tidak punya cara untuk membuktikan apa yang ada di mimpiku tadi malam, tempat itu sama saja bagiku...Apakah aku benar-benar ada di sana? ".

__ADS_1


Dimas lalu menulis komentar, "Kau ada di sana, Aku bisa membuktikannya".


Karena Dimas belum log out dari akun Facebook Dewi itu, jadi komentar yang ia ketik tadi atas nama Dewi.


Dewi yang pulang dari membeli keju. Ponselnya berdenting menandakan ada komentar baru. Dewi membuka dan heran melihat komentar terbaru atas nama Dewi.


Dewi langsung bisa mengetahui siapa pelakunya.


Dewi kemudian membalas, "Hei log out sekarang! Atau aku akan membuatmu log out dari hidupmu".


Dimas berjalan keluar dari kamar, tertawa membaca balasan Dewi. "Tidak akan, Apa aku orang yang tahu sopan santun? Aku seorang pengedar narkoba..Dimana kau? Apakah ginjalmu masih sehat?".


Dewi jalan menuju pintu, dan membalas, "Ginjalku sehat, Ambil ginjalku jika kau membutuhkannya".


Dimas membalas, "Jujurlah padaku...Kau benar-benar ingin aku ada di sana, ya kan?".


Keduanya berdiri di depan pintu. Tangan mereka sama-sama membuka handle pintu.


Kreeekkkk.........


Pintu terbuka, Dimas keluar dan Dewi masuk. Tapi Mereka membuka pintu yang berbeda. Dimas keluar lewat pintu depan sedangkan Dewi masuk kerumah melalui pintu belakang.


Dewi masuk ke dapur memberikan bungkusan yang ia bawa pada pelayan lain.


(Ruang penyimpanan wine bawah tanah terpisah dari rumah utama. Jika ingin kesana harus keluar dari rumah utama, dan melewati jalan yang menuju taman).


Dimas mengangguk pada Astuti, lalu kembali menatap ponselnya. Dimas berhenti ketika melihat sesuatu yang tampak tak asing baginya. Lalu berbalik menatap punggung Astuti dengan bingung.


Di ruang tengah, Nyonya Sari berbaring santai di sofa sembari belajar bahasa inggris, dari kartun Sleeping Beauty di tabletnya. Dewi datang membawa keju yang diminta Nyonya Sari.


Nyonya Sari mengucapkan terima kasih, "Aku tidak menyuruhmu melakukan ini, Tapi Ibumu".


"Ya", jawab Dewi.


Dewi semakin marah, tapi ia tetap diam. Berancang-ancang pergi menukar wine. Astuti menegur putrinya dengan bahasa isyarat, "Kenapa kau melakukan ini? Pergilah belajar!", lalu mengambil botol wine dari tangan Dewi.


"Bagaimana aku bisa belajar? Aku bahkan tidak bisa membayar sewa kamar". jawab Dewi dengan bahasa isyarat, merebut botol wine lalu pergi dengan kesal. Menahan tangis.


Astuti berdiri terpaku memandangi punggung putrinya yang menjauh. Sama seperti Dewi, ia juga menahan tangis dan kesedihannya.

__ADS_1


Dewi masuk keruang penyimpanan wine. Ruangan yang luas dan terlihat mewah. Dewi menghela napas, air mata yang sedari tadi di tahannya menetes dengan sendirinya, "Bahkan anggur hidup dalam kemewahan" ucap Dewi.


Dimas duduk di taman menanti balasan Dewi. "Ahh! Kenapa tidak ada jawaban?".


Dewi keluar dari ruang penyimpanan wine jalan menuju dapur.


Dimas merasa ada yang lewat langsung menoleh dengan cepat. Lagi-lagi yang ia lihat hanya punggung gadis dengan rambut panjang menyelinap masuk ke dalam dapur. Dimas sedikit ketakutan, mengira itu adalah hantu...hihihihi....


Lalu Dimas masuk kerumah, ponsel ia angkat tinggi-tinggi seperti mencari sinyal. Dikiranya Dewi tidak membalas karena masalah koneksi internet.


Dimas kembali dibuat terkejut melihat sekelebat bayangan gadis berambut panjang melintasi dapur.


Dimas lalu bertanya pada ibunya, "Ibu, apa ibu pernah merasa lumpuh saat tidur?".


Nyonya Sari kaget, "Lumpuh saat tidur? Kenapa? Apakah kamu ber mimpi buruk ?".


"Aku sering melihat punggung gadis berambut panjang disini" jawan Dimas.


Nyonya Sari menarik napas lega, "Oh, dia adalah putri salah satu pelayan. Dia tinggal di sini, Usianya sama denganmu. Siapa ya, namanya? Dewi mungkin?".


"Aku menyuruh gadis itu untuk tinggal disini, dia tinggal di sini tapi bukan seperti hantu" jelas Nyonya Sari pada putranya.


Dimas mulai tertarik tapi belum ngeh kalau itu Dewi yang dia kenal, "Kenapa dia tinggal disini".


"Kakak perempuan gadis itu menikah di Taiwan, dan ibunya menarik semua uang deposit jaminan tempat tinggal mereka. Jadi apa yang bisa mereka lakukan" jelas lagi Nyonya Sari.


Dimas tertegun, jalan mondar-mandir di kamar. Mencerna satu persatu kesamaan yang terjadi. Ia ingat pertengkaran Dewi dengan kakaknya sewaktu di Taiwan. Dewi yang menangis karena kakaknya membawa lari uang itu.


Dimas mengambil ponselnya, melihat kembali status Dewi yang menginginkan Ahmad Group bangkrut. dia semakin yakin, lalu mengirim pesan ke Dewi, "Apa yang kau lakukan sekarang? Jawab aku cepat!".


Dimas gelisah menunggu jawaban yang tak kunjung datang. Mengetuk layar ponsel, merefresh halaman. Sekali, dua kali, tiga kali, semakin lama Dimas semakin tidak sabar dan mengetuk ponselnya berulang-ulang.


Dimas berdiri, "Ah.. Jawab aku cepat".Dimas kembali mengetuk ponselnya, merefresh halaman, dan tring balasan dari Dewi muncul, "Aku sedang minum".


Dimas buru-buru keluar kamar, berlari menuju dapur. Ia berdiri ragu-ragu di depan pintu, diluputi rasa tegang.


Dimas diam sejenak, seolah menguatkan hatinya. Ia memberanikan menggeser pintu perlahan. Membuat celah dan mengintip ke dapur. (Kaya main petak umpet aja).


Apa yang dilihatnya benar-benar membuat Dimas syok. Dewi, gadis itu ada disana sedang minum di dapur sembari memandangi ponselnya. Dimas berbalik membelakangi pintu. Lalu melihat kembali ke dapur, memastikan penglihatannya kalau gadis itu benar-benar Dewi.

__ADS_1


Ya...di dapur sana memang Dewi, gadis yang selama ini memenuhi benaknya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2