
.
.
Sepanjang perjalanan Erka terus mengomel tidak jelas, meski rasanya hatinya sungguh sakit saat ia melihat wanita yang masih di cintainya bermesraan dengan suami sahnya.
Melihat Erka yang terus mengoceh ingin rasanya Ed menertawakannya, tapi ia tidak tega juga tidak mau sahabatnya marah kepadanya. Ia berusaha untuk menasehati Erka, berharap jika Erka akan mendengarkan dirinya kali ini.
"Sudahlah Ka', berusahalah untuk move on dari wanita itu, kenapa sih. Aku tahu kamu masih cinta pada Shifa, tapi kamu salah besar mencintai istri orang. Dan dari pandangan mataku Shifa itu sama sekali tidak mencintaimu lagi loh. Aku hanya tidak mau kamu kecewa lagi!" cibir Ed sambil memberi nasehat Erka.
"Huh... Syirik aja sih!" ucapnya dingin.
Ed sebenarnya malas meladeni Erka, tapi mau bagaimana lagi ia juga tidak mau sahabatnya tergila-gila dengan wanita yang sudah bersuami.
"Sorry bro, bukannya gue syirik sama lo ya. Gue masih waras kali. Gue hanya sekedar mengingatkan lo saja. Kalo lo gak mau dengerin apa yang gue ucapkan ya sudahlah. Bodo amat, gue juga nggak peduli!" balas Ed tak kalah dingin darinya.
"Iya-iya gue tahu. Jangan marah gitu dong, gue hanya bercanda kali!"
"Habisnya lo di kasih tahu malah nyolot sih. Kayak sudah nggak ada wanita lain saja, kan masih ada sekertaris kamu tuh yang lumayan cantik. Bisa kali dia, lo jadikan pelarian sementara! Siapa tahu nanti, lo bisa beneran jatuh cinta padanya." ucap Ed sambil tersenyum.
Mendengar apa yang di ucapkan oleh Ed, Erka tersenyum geli. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan jika dirinya harus bersanding dengan wanita yang super duper cerewet.
"Gila lo bro. Emang sudah nggak ada wanita lain apa, selain dia!" balas Erka dengan raut wajah kesal.
"Ya, lo kan sudah tahu tentang dia lumayan lama. Dia wanita baik-baik juga, emang apanya yang salah sih. Coba aja dulu, siapa tahu kalian cocok!" nasehat Ed dengan penuh pengharapan.
"Tahu ah... Bodo amat!." balas Erka malas membahas wanita yang menurutnya absurd.
Kini Ed dan Erka pergi menuju ke mobil masing-masing dan segera menuju ke kantor mereka berdua.
๐๐๐
Rey meninggalkan Shifa di resto itu, dirinya kesal karena Shifa masih memperhatikan sang mantan yang hingga saat ini masih belum bisa move on dari istrinya.
__ADS_1
Shifa mengejar suaminya dan mencoba untuk menjelaskan apa yang ada di hatinya, namun Rey terlanjur kesal padanya.
"Mas.. Kenapa sih kamu marah begitu padaku?" ucap Shifa pelan.
Tapi Rey sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari istri tercintanya, ia memilih diam tanpa mau menjawab apa yang di ucapkan oleh istrinya.
Rey juga berlalu meninggalkan Shifa dan segera naik ke mobilnya. Ia berharap jika Shifa akan mengejarnya sampai ke dalam mobilnya. Tapi keinginannya pupus sudah, Shifa yang terlanjur kesal malah pergi meninggalkan Rey.
Shifa naik taksi online yang baru saja di pesannya, Shifa pikir percuma saja ia menjelaskan pada pria dingin yang kini sudah menjadi suaminya. Menurutnya mustahil pria itu akan mengerti apa yang keluar dari bibirnya.
Ia tahu, Rey adalah tipe laki-laki yang pencemburu. Meski Shifa sadar pasti jika semua ini terjadi karena salahnya juga, ia kurang peka terhadap perasaan suami tercintanya.
"Ish.. Kenapa sih dari dulu mas Rey sama sekali tidak pernah berubah. Meski aku akui disini aku juga salah, karena aku kurang peka padanya. Rasakan itulah akibatnya jika mengabaikan istri yang akan meminta maaf. Emang enak di tinggal pergi! Mana main tinggal pergi saja, di kiranya aku bocah yang tidak bisa pulang sendiri. Meskipun aku nggak bawa mobil, aku juga masih bisa bepergian sendiri tahu!" umpat Shifa kesal.
Tanpa Shifa sadari jika sopir taksi yang di tumpanginya memperhatikan dirinya sedari tadi. Pria yang sudah berumur itu memperhatikan dirinya, yang sedari tadi ngedumel sendiri dengan raut wajah kesalnya.
"Nyonya, apakah anda sedang berdebat dengan suami anda? Maaf jika pertanyaan saya lancang!" ucap sopir taksi itu sambil sesekali menundukan kepalanya karena ketakutan.
Saking marahnya, ia sampai lupa siapa yang di ajak berbicara. Meski sopir taksi itu senang jika penumpangnya mau di ajak bicara, tapi ia sama sekali tidak menyangka jika penumpang wanitanya yang ia kira ketus. Ternyata ia wanita yang sangat terbuka, meski sebenarnya Shifa tidak sengaja mengatakan itu semua. Ia hanya keceplosan, sopir taksi tersebut tersenyum manis mendengar pernyataan dari penumpangnya.
"Sorry.. Sorry pak. Bukan maksudku lancang, berbicara seperti itu pada anda. Aku keceplosan pak. Maafkan saya ya pak!" ucap Shifa sambil merapatkan kedua tangannya di dadanya, ia malu dengan apa yang telah di lakukannya.
"Santai saja nyonya, saya tidak apa-apa. Malah saya senang mendengar apa yang curahan hati anda, anda mengingatkan saya akan putri saya yang berada di luar kota. Ia sangat mirip dengan anda yang sangat hangat dan cerewet sama seperti anda." jelas sang sopir.
Shifa yang sedang marah kini dapat tersenyum malu, meski senyumannya sama sekali tidak dapat di artikan. Ia bermonolog ria dalam hatinya yang mengumpati sopir taksi online yang ia tumpangi.
"Hi.. Hi.. Hi.. Aku cerewet? Emang iya ya? Aku sama sekali tidak menyadarinya. Apa aku yang bodoh! Tapi kalo di pikir-pikir lucu juga sih. Kenapa aku bisa mengatakan semua ini pada sopir taksi. Aku jadi malu sendiri kan!" batin Shifa meruntuki kebodohannya.
Melihat penumpanya asyik bengong, sopir taksi tersebut menyadarkan Shifa. Ia takut jika sesuatu terjadi pada wanita itu.
"Nyonya apakah anda baik-baik saja?" ucapnya pelan.
Shifa tersadar dari lamunannya, ia respek menjawab pertanyaan dari sopir itu.
__ADS_1
"Ah.. Iya. Aku baik-baik saja! Anda tidak perlu khawatir." jawab Shifa spontan.
"Syukurlah jika anda baik-baik saja nyonya. Selanjutnya kita akan pergi kemana, nyonya?" tanyanya ragu.
"Kita pergi ke kantor Jhojho Dirgantara, pak."
"Baiklah, segera kita meluncur kesana." jawab sopir taksi semangat sambil sesekali ia mencuri pandang ke arah Shifa. Jika ia melihat Shifa, maka ia sejenak dapat melepaskan rasa rindunya pada sang putri yang berada jauh di luar kota.
Tanpa butuh waktu yang lama, akhirnya sopir taksi tersebut sampai di halaman parkir gedung Jhojho Dirgantara. Shifa memberikan ongkos beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan pada sang sopir, ia juga mengucapkan terima kasih banyak pada sopir yang sudah mengantarkannya ke kantor yang di pimpinnya.
"Nyonya, maaf sebelumnya jika saya mengganggu. Saya hanya mau mengatakan, jika ini terlalu banyak!" ucap sang sopir sambil menyodorkan uang yang di berikan oleh Shifa barusan.
"Oh.. Tidak apa-apa pak. Ambil saja, anggap itu sebagai tanda terima kasih saya, karena anda sudah mengantarkan saya kesini dengan selamat. Semoga anda akan segera bertemu dengan putri bapak, dan jika anda butuh bantuan datang dan temuiku disini. Saya dengan senang hati akan membantu anda." ucap Shifa tulus.
Sopir taksi itu antusias saat dirinya berhasil mengingat jika penumpangnya adalah seorang presdir di perusahan yang kini di pijaki dirinya.
"Terima kasih banyak nyonya Shifa... Apakah anda nyonya Shifa Fenanda, Presdir perusahaan Jhojho Dirgantara yang baru?"
"Iya pak. Anda benar sekali. He.. He.. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak ya pak." balas Shifa sambil merapatkan tangannya di dada. Ia sama sekali tidak menyangka jika ada orang yang mengingatnya.
Shifa segera pergi dari halaman parkir, sementara sang sopir taksi hanya diam membisu. Ia tertegun dengan wanita yang menjadi penumpangnya barusan, ia sama sekali tidak menyangka jika Presdir Jhojho Dirgantara yang baru adalah seorang wanita yang sangat hangat menurutnya..
.
.
Bersambung...
.
.
Janga lupa dukyngannya ya. Happy Realing๐ฅฐ.
__ADS_1