Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Makan Siang di Kantor Aldy (2)


__ADS_3

Assalamu'alaiku...


Selamat pagi....


Maafkan baru up, soalnya dua hari sakit


Dahlah gak usah panjang=panjang curhatnya...


Jadi selamat membaca reader...


Yudha memarkirkan mobilnya di halaman parkir


kemudian keluar untuk membukakan pintu bagi Ginara, tapi ternyata gadis itu


sudah keluar lebih dulu. Ia bukan sang nona muda manja yang harus dilayani


dalam membuka dan menutup pintu mobil. Bukan Ginara banget kale.


“Nona…” Yudha menutup perlahan pintu mobil, Ginara


menatap bingung karena laki-laki yang usianya di atasnya dua tahun itu hanya


berdiri diam di depannya.


“Kenapa?” Tanya Ginara seraya menaikkan alisnya.


“Eh…itu Tuan Muda minta saya harus melayani nona,


jadi ke depan saya harap nona tidak turun dulu sebelum saya bukakan pintu…”


Kata Yudha sopan.


“Ish…perintah apaan itu.” Sewot Ginara. Ia melangkah


melewati Yudha untuk masuk ke gedung perkantoran, padahal ia belum tahu dimana


letak ruang kerja Aldy. Yudha menyusul dengan tergesa, ia harus bisa


mengimbangi langkah gadis itu, karena ternyata ia tidak akan menjadi gadis


feminim dalam sehari, tidak akan menjadi anggun walau berhubungan dengan Aldy.


Sekarang saja ia masih tetap memakai celana jeans dan kemeja polos warna coklat


muda. Dengan langkah yang lebar gadis itu berusaha menekan lift sebelah kiri.


Ada banyak pasang mata yang memandang ke arah mereka. Pertanyaan pun berkembang


dengan sedirinya di antara mereka.


“Eh, siapa tuh yang sama Pak Yudha? Gak pernah


kelihatan kan ya?” Tanya seorang pegawai Wanita.


“Iya nih, duh…aku yang pingin dekat dengannya kok


malah ada Wanita lain sih?” Jawab teman di sebelahnya. Teman yang lain pada


tertawa lirih.


“Hei, siapa kamu Lun, pacar bukan, ngomong


sesukanya, kedengaran Pak Yudha baru tahu rasa kamu” Ejek pegawai lainnya.


“Apa yang kalian lihat, tidak ada pekerjaan


emangnya?” Tanya suara di belakang mereka. Para pegawai yang rumpi pun langsung


merinding dan membalikkan badan mereka dengan gugup. Sosok Wanita dengan


kisaran usia 35 tahun tampak memandang dengan tegas ke arah mereka. Tampilan


yang modis dengan rok di bawah lutut dan blouse lengan panjang membalut


tubuhnya yang masih tampak seksi. Wina, kepala HRD memergoki mereka lagi


membicarakan atasan mereka. Duh, untung gak ada kata-kata kotor tadi, batin


mereka.


“Ma…af bu, kita akan bekerja lagi” Jawab mereka


serempak.


“Masih banyak yang ingin kerja di sini, jadi


silahkan kalau mau menyerahkan surat pengunduran diri!” Katanya tegas. Mereka


semua menggeleng dan cepat-cepat lari membubarkan diri menuju ke meja mereka


masing-masing. Wina hanya menggeleng, kemudian berlalu menuju ke ruangannya.


Peraturan kerja di perusahaan ini sangat ketat,


bagi siapa yang kedapatan bersikap tidak sopan kepada tamu atau bergosip ria


tentang atasan mereka, maka jangan harap bisa bekerja kembali esok hari, dan


dipastikan tidak akan bisa mendapatkan kerja di perusahaan manapun. Jadi mereka


akan selalu bersikap hati-hati demi pekerjaan yang sudah dipegangnya.


“Nona, kita lewat lift yang sebelah sini, mari


silahkan.” Ginara menatap Yudha yang sudah siap di depan lift khusus CEO dengan


merentangkan sebelah tangannya untuk memindai agar pintu lift tetap terbuka.


Gadis itu memutar bola matanya malas. Huh, untuk ke ruangan Aldy saja harus

__ADS_1


pakai lift khusus. Ribet amat.


Ginara memang tidak pernah mau bekerja di kantoran,


saat papa menyuruhnya menggantikannya pun Ginara tidak pernah mau dan tidak


pernah mengetahui bagaimana suasana kantor jadi dia sama sekali tidak tahu jika


ada perbedaan lift khusus di kantor. Untung apoteknya bekerja hanya lantai


satu, jadi tidak perlu membuat lift yang harus dibedakan. Baginya, kinerja yang


paling utama bukan perbedaan kelas atau jabatan.


Sampai di depan ruang CEO, tampak sekretaris wanita


seumuran Yudha bangkit dari duduk dan memberi salam.


“Silahkan Nona, Anda sudah ditunggu oleh Tuan Muda”


Katanya sopan. Ginara mengangguk tanpa tersenyum. Ia masuk ke dalam ruangan


yang langsung di sambut dengan semerbak wangi lembut dari pengharum ruangan. Ruangan


serba putih dengan di dominasi warna krem membuat ruangan menjadi lebih nyaman


dan luas. Aldy tampak tersenyum menyambut kedatangan Ginara. Laki-laki itu


bangkit dari kursi kebesarannya dan menghampiri Ginara.


“Akhirnya…gadis kecilku datang juga” Ia bergerak


ingin memeluk tapi mendapat pelototan tajam dari Ginara, akhirnya tangannya


hanya memeluk udara dengan tersenyum kecut. Bukan muhrim, sudah pasti itu yang


akan di ucapkan Ginara. Ah masak sedikit saja tidak boleh.


“Panggilan apa itu?!” Ginara mendengus tak suka.


Aldy tertawa, ia membawa Ginara duduk di sofa. Tapi Ginara malah tetap berdiri


seraya memandangi hidangan yang telah tersedia di meja. Aldy memerintah  Dewi sekretarisnya untuk menyiapkan semuanya.


Ada cumi asam manis, udang crispy, cah brokoli hijau dengan daging, dua jus


melon, dua air mineral, dan sepiring nasi dengan porsi jumbo. Sebentar, satu


piring? Kok cuma satu? Sendok dan garpu gak ada? Trus? Berbagai pertanyaan


dilontarkan Ginara dalam pikirannya. Gadis itu menatap Aldy dengan tatapan


bertanya.


“Bukan apa tadi?” Tanya Aldy tanpa menghiraukan


“Maksudnya?”


“Sini duduk dulu, jangan berdiri saja di situ” Katanya


dengan mengulurkan tangannya berharap Ginara menyambutnya. Gadis itu hanya


memutar bola matanya jengah.


“Saya akan kembali ke ruangan saya, silahkan


menikmati waktunya Tuan dan Nona.” Yudha tahu apa situasi yang mesti


dilakukannya.


“Hemm” Jawab Aldy. Hei, itu kata-kataku ya, kenapa


malah dia yang pakai. Teriak Ginara dalam hati.


Aldy berdecak begitu Ginara tidak merespon, segera


ia menepuk sofa di sebelahnya, tanda jika Ginara harus duduk di sana. Ginara


menghela nafas pasrah, ia bergerak ke arah sofa yang di tepuk Aldy.


“Terakhir kamu bilang, Ck, tuan pemaksa, itu nama


yang cocok untukmu bukan…” Sekilas adis itu gugup, namun sedetik kemudian ia


mampu menguasai diri lagi.


“Pentingkah itu?”


“Iyalah, apapun yang berhubungan dengan mu itu


harus penting bagiku” Gadis itu melengos. Aldy masih menunggu dengan


menyilangkan kaki dan melipat tangannya. Hhhh….Ginara menyerah, dengan pelan ia


berucap.


“Kekasih tampanku” Mata Aldy berbicar cerah, ia


sengaja menggoda gadis pujaannya itu.


“Hah? Aku gak dengar Nara…” Kata sama wajah gak


nyambung sama sekali, batin Ginara.


“Kekasih tampanku, puas!” Kata Ginara lantang. Aldy


senyum-senyum.


“Ah, terima kasih pujiannya…” Eh…siapa yang muji

__ADS_1


coba. Dasar, ia terjebak dalam permainan Aldy. Ia hanya berdecak.


“Baiklah My Sweety…kita sekarang makan ya”


Blush.


Pipinya memerah secara alami.


“Kenapa, apa masih sakit?” Tanya Aldy melihat


kemerahan di pipi gadisnya, ia meraih helai rambut gadisnya dan diselipkannya


di belakang telinganya. Gadis itu menoleh cepat, kemudian menunjuk ke meja.


“Kita makannya gimana, hanya ada satu piring?”


Tanya Ginara akhirnya.


“Ya udah, makan berdua. Suapi aku.” Kata Aldy


santai. Ginara mendelik dan beraksi akan mengerucutkan bibirnya, tapi segera


sadar bila hal itu terjadi pasti hal tak terduga akan terjadi juga. Akhirnya ia


hanya menghela nafas pelan.


“Sendoknya?” Aldy meraih tangan kanan Ginara dan


menciumnya, gadis itu hanya melotot kaget.


“Pakai ini saja, rasanya pasti lebih nikmat.” Katanya


tersenyum menyeringai, lebih ke senyum mesum menggoda sih.


Dih, sama aja ciuman tidak langsung kalau tanganku gantian


menyuapi dia trus aku sendiri? Ish! Akhirnya yang terjadi terjadilah. Adegan


saling menyuapi malah menjadi suasana yang romatis di ruang itu, mau tidak mau


Ginara menerima suapan dari tangan Aldy demikian juga Aldy. Wajah pemuda itu


benar-benar berbinar bahagia. Dalam hati Ginara juga merasa bahagia dengan


perlakuan Aldy dan hatinya telah menerimanya sebagai ketulusan perasaan Aldy.


Semua ketakutan dan kegelisahan hatinya yang tak lagi beralasan seakan


berlarian meninggalkannya.


“Pulanglah!” Kecupan lembut di pipi Ginara, setelah


makan siang selesai.


“Apa aku boleh mampir sebentar ke apotek?” Mencoba


mencari celah dengan suasana hati Aldy yang sedang senang.


“Hei, kau kan masih dalam masa penyembuhan,


menurutlah kali ini.” Aldy membantah agak keras ucapannya.


“Aku kan nggak sakit Al…”


“Tidak boleh, harus pulang. Yudha akan mengantarmu


Kembali. Atau mau langsung resign?” Ancamnya. Ginara gelagapan sendiri, ia


menggerak-gerakkan tangannya. Tanpa di sadari ia memeluk lengan pemuda itu yang


membuat Aldy senang bukan main.


“Iya…iya, aku pulang ya, terimakasih telah


mengajakku makan siang bersama. Aku akan menunggumu di apartemen”


“Nah, begitu kan manis gadis kecilku” Kecupan


kembali mendarat kini di kepala Ginara.


“Hanya Nara, itu panggilan Akung. Kau lihat aku


sebesar ini” Tanpa sadar Ginara mengerucutkan bibirnya dan…


Cup.


Mata Ginara melotot.


“Sudah ku bilang kan?” Kata Aldy tersenyum penuh


kemenangan. Emang menang banyak dia siang ini. Haha. Licik kau Al.


Aldy menekan tombol yang langsung terhubung ke


ruangan Yudha, tidak ada satu menit, laki-laki itu sudah masuk ke dalam ruangan


Aldy dan siap menerima perintah selanjutnya.


“Antar kembali Naraku dengan selamat, jangan


biarkan mampir kemanapun!” Perintahnya tegas. Ginara hanya melotot kesal.


“Baik Tuan Muda, mari Nona…” Yudha mempersilahkan


Ginara untuk keluar lebih dulu kemudian membimbingnya ke tempat parkir dan


mengantarkannya dengan selamat sampai ke apartemen.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2