
Assalamu'alaiku...
Selamat pagi....
Maafkan baru up, soalnya dua hari sakit
Dahlah gak usah panjang=panjang curhatnya...
Jadi selamat membaca reader...
Yudha memarkirkan mobilnya di halaman parkir
kemudian keluar untuk membukakan pintu bagi Ginara, tapi ternyata gadis itu
sudah keluar lebih dulu. Ia bukan sang nona muda manja yang harus dilayani
dalam membuka dan menutup pintu mobil. Bukan Ginara banget kale.
“Nona…” Yudha menutup perlahan pintu mobil, Ginara
menatap bingung karena laki-laki yang usianya di atasnya dua tahun itu hanya
berdiri diam di depannya.
“Kenapa?” Tanya Ginara seraya menaikkan alisnya.
“Eh…itu Tuan Muda minta saya harus melayani nona,
jadi ke depan saya harap nona tidak turun dulu sebelum saya bukakan pintu…”
Kata Yudha sopan.
“Ish…perintah apaan itu.” Sewot Ginara. Ia melangkah
melewati Yudha untuk masuk ke gedung perkantoran, padahal ia belum tahu dimana
letak ruang kerja Aldy. Yudha menyusul dengan tergesa, ia harus bisa
mengimbangi langkah gadis itu, karena ternyata ia tidak akan menjadi gadis
feminim dalam sehari, tidak akan menjadi anggun walau berhubungan dengan Aldy.
Sekarang saja ia masih tetap memakai celana jeans dan kemeja polos warna coklat
muda. Dengan langkah yang lebar gadis itu berusaha menekan lift sebelah kiri.
Ada banyak pasang mata yang memandang ke arah mereka. Pertanyaan pun berkembang
dengan sedirinya di antara mereka.
“Eh, siapa tuh yang sama Pak Yudha? Gak pernah
kelihatan kan ya?” Tanya seorang pegawai Wanita.
“Iya nih, duh…aku yang pingin dekat dengannya kok
malah ada Wanita lain sih?” Jawab teman di sebelahnya. Teman yang lain pada
tertawa lirih.
“Hei, siapa kamu Lun, pacar bukan, ngomong
sesukanya, kedengaran Pak Yudha baru tahu rasa kamu” Ejek pegawai lainnya.
“Apa yang kalian lihat, tidak ada pekerjaan
emangnya?” Tanya suara di belakang mereka. Para pegawai yang rumpi pun langsung
merinding dan membalikkan badan mereka dengan gugup. Sosok Wanita dengan
kisaran usia 35 tahun tampak memandang dengan tegas ke arah mereka. Tampilan
yang modis dengan rok di bawah lutut dan blouse lengan panjang membalut
tubuhnya yang masih tampak seksi. Wina, kepala HRD memergoki mereka lagi
membicarakan atasan mereka. Duh, untung gak ada kata-kata kotor tadi, batin
mereka.
“Ma…af bu, kita akan bekerja lagi” Jawab mereka
serempak.
“Masih banyak yang ingin kerja di sini, jadi
silahkan kalau mau menyerahkan surat pengunduran diri!” Katanya tegas. Mereka
semua menggeleng dan cepat-cepat lari membubarkan diri menuju ke meja mereka
masing-masing. Wina hanya menggeleng, kemudian berlalu menuju ke ruangannya.
Peraturan kerja di perusahaan ini sangat ketat,
bagi siapa yang kedapatan bersikap tidak sopan kepada tamu atau bergosip ria
tentang atasan mereka, maka jangan harap bisa bekerja kembali esok hari, dan
dipastikan tidak akan bisa mendapatkan kerja di perusahaan manapun. Jadi mereka
akan selalu bersikap hati-hati demi pekerjaan yang sudah dipegangnya.
“Nona, kita lewat lift yang sebelah sini, mari
silahkan.” Ginara menatap Yudha yang sudah siap di depan lift khusus CEO dengan
merentangkan sebelah tangannya untuk memindai agar pintu lift tetap terbuka.
Gadis itu memutar bola matanya malas. Huh, untuk ke ruangan Aldy saja harus
__ADS_1
pakai lift khusus. Ribet amat.
Ginara memang tidak pernah mau bekerja di kantoran,
saat papa menyuruhnya menggantikannya pun Ginara tidak pernah mau dan tidak
pernah mengetahui bagaimana suasana kantor jadi dia sama sekali tidak tahu jika
ada perbedaan lift khusus di kantor. Untung apoteknya bekerja hanya lantai
satu, jadi tidak perlu membuat lift yang harus dibedakan. Baginya, kinerja yang
paling utama bukan perbedaan kelas atau jabatan.
Sampai di depan ruang CEO, tampak sekretaris wanita
seumuran Yudha bangkit dari duduk dan memberi salam.
“Silahkan Nona, Anda sudah ditunggu oleh Tuan Muda”
Katanya sopan. Ginara mengangguk tanpa tersenyum. Ia masuk ke dalam ruangan
yang langsung di sambut dengan semerbak wangi lembut dari pengharum ruangan. Ruangan
serba putih dengan di dominasi warna krem membuat ruangan menjadi lebih nyaman
dan luas. Aldy tampak tersenyum menyambut kedatangan Ginara. Laki-laki itu
bangkit dari kursi kebesarannya dan menghampiri Ginara.
“Akhirnya…gadis kecilku datang juga” Ia bergerak
ingin memeluk tapi mendapat pelototan tajam dari Ginara, akhirnya tangannya
hanya memeluk udara dengan tersenyum kecut. Bukan muhrim, sudah pasti itu yang
akan di ucapkan Ginara. Ah masak sedikit saja tidak boleh.
“Panggilan apa itu?!” Ginara mendengus tak suka.
Aldy tertawa, ia membawa Ginara duduk di sofa. Tapi Ginara malah tetap berdiri
seraya memandangi hidangan yang telah tersedia di meja. Aldy memerintah Dewi sekretarisnya untuk menyiapkan semuanya.
Ada cumi asam manis, udang crispy, cah brokoli hijau dengan daging, dua jus
melon, dua air mineral, dan sepiring nasi dengan porsi jumbo. Sebentar, satu
piring? Kok cuma satu? Sendok dan garpu gak ada? Trus? Berbagai pertanyaan
dilontarkan Ginara dalam pikirannya. Gadis itu menatap Aldy dengan tatapan
bertanya.
“Bukan apa tadi?” Tanya Aldy tanpa menghiraukan
“Maksudnya?”
“Sini duduk dulu, jangan berdiri saja di situ” Katanya
dengan mengulurkan tangannya berharap Ginara menyambutnya. Gadis itu hanya
memutar bola matanya jengah.
“Saya akan kembali ke ruangan saya, silahkan
menikmati waktunya Tuan dan Nona.” Yudha tahu apa situasi yang mesti
dilakukannya.
“Hemm” Jawab Aldy. Hei, itu kata-kataku ya, kenapa
malah dia yang pakai. Teriak Ginara dalam hati.
Aldy berdecak begitu Ginara tidak merespon, segera
ia menepuk sofa di sebelahnya, tanda jika Ginara harus duduk di sana. Ginara
menghela nafas pasrah, ia bergerak ke arah sofa yang di tepuk Aldy.
“Terakhir kamu bilang, Ck, tuan pemaksa, itu nama
yang cocok untukmu bukan…” Sekilas adis itu gugup, namun sedetik kemudian ia
mampu menguasai diri lagi.
“Pentingkah itu?”
“Iyalah, apapun yang berhubungan dengan mu itu
harus penting bagiku” Gadis itu melengos. Aldy masih menunggu dengan
menyilangkan kaki dan melipat tangannya. Hhhh….Ginara menyerah, dengan pelan ia
berucap.
“Kekasih tampanku” Mata Aldy berbicar cerah, ia
sengaja menggoda gadis pujaannya itu.
“Hah? Aku gak dengar Nara…” Kata sama wajah gak
nyambung sama sekali, batin Ginara.
“Kekasih tampanku, puas!” Kata Ginara lantang. Aldy
senyum-senyum.
“Ah, terima kasih pujiannya…” Eh…siapa yang muji
__ADS_1
coba. Dasar, ia terjebak dalam permainan Aldy. Ia hanya berdecak.
“Baiklah My Sweety…kita sekarang makan ya”
Blush.
Pipinya memerah secara alami.
“Kenapa, apa masih sakit?” Tanya Aldy melihat
kemerahan di pipi gadisnya, ia meraih helai rambut gadisnya dan diselipkannya
di belakang telinganya. Gadis itu menoleh cepat, kemudian menunjuk ke meja.
“Kita makannya gimana, hanya ada satu piring?”
Tanya Ginara akhirnya.
“Ya udah, makan berdua. Suapi aku.” Kata Aldy
santai. Ginara mendelik dan beraksi akan mengerucutkan bibirnya, tapi segera
sadar bila hal itu terjadi pasti hal tak terduga akan terjadi juga. Akhirnya ia
hanya menghela nafas pelan.
“Sendoknya?” Aldy meraih tangan kanan Ginara dan
menciumnya, gadis itu hanya melotot kaget.
“Pakai ini saja, rasanya pasti lebih nikmat.” Katanya
tersenyum menyeringai, lebih ke senyum mesum menggoda sih.
Dih, sama aja ciuman tidak langsung kalau tanganku gantian
menyuapi dia trus aku sendiri? Ish! Akhirnya yang terjadi terjadilah. Adegan
saling menyuapi malah menjadi suasana yang romatis di ruang itu, mau tidak mau
Ginara menerima suapan dari tangan Aldy demikian juga Aldy. Wajah pemuda itu
benar-benar berbinar bahagia. Dalam hati Ginara juga merasa bahagia dengan
perlakuan Aldy dan hatinya telah menerimanya sebagai ketulusan perasaan Aldy.
Semua ketakutan dan kegelisahan hatinya yang tak lagi beralasan seakan
berlarian meninggalkannya.
“Pulanglah!” Kecupan lembut di pipi Ginara, setelah
makan siang selesai.
“Apa aku boleh mampir sebentar ke apotek?” Mencoba
mencari celah dengan suasana hati Aldy yang sedang senang.
“Hei, kau kan masih dalam masa penyembuhan,
menurutlah kali ini.” Aldy membantah agak keras ucapannya.
“Aku kan nggak sakit Al…”
“Tidak boleh, harus pulang. Yudha akan mengantarmu
Kembali. Atau mau langsung resign?” Ancamnya. Ginara gelagapan sendiri, ia
menggerak-gerakkan tangannya. Tanpa di sadari ia memeluk lengan pemuda itu yang
membuat Aldy senang bukan main.
“Iya…iya, aku pulang ya, terimakasih telah
mengajakku makan siang bersama. Aku akan menunggumu di apartemen”
“Nah, begitu kan manis gadis kecilku” Kecupan
kembali mendarat kini di kepala Ginara.
“Hanya Nara, itu panggilan Akung. Kau lihat aku
sebesar ini” Tanpa sadar Ginara mengerucutkan bibirnya dan…
Cup.
Mata Ginara melotot.
“Sudah ku bilang kan?” Kata Aldy tersenyum penuh
kemenangan. Emang menang banyak dia siang ini. Haha. Licik kau Al.
Aldy menekan tombol yang langsung terhubung ke
ruangan Yudha, tidak ada satu menit, laki-laki itu sudah masuk ke dalam ruangan
Aldy dan siap menerima perintah selanjutnya.
“Antar kembali Naraku dengan selamat, jangan
biarkan mampir kemanapun!” Perintahnya tegas. Ginara hanya melotot kesal.
“Baik Tuan Muda, mari Nona…” Yudha mempersilahkan
Ginara untuk keluar lebih dulu kemudian membimbingnya ke tempat parkir dan
mengantarkannya dengan selamat sampai ke apartemen.
To Be Continued
__ADS_1