
Rendi lebih dulu tiba di parkiran, duduk di atas motornya. Tak lama Kimi juga keluar, "Bagaimana kau bisa pergi begitu saja? Aku baru saja menyelamatkanmu dari kekacauan, jadi beri aku tumpangan. Aku tidak bawa mobil karena aku datang bersama Ibuku".
"Kau mau kemana?" tanya Rendi Dengan kesal.
Kimi ingin pergi ke butik, mengambil seragam sekolahnya yang baru. Seragamnya sudah sempit.
Rendi memastikan apa Kimi benar-benar bisa naik di atas motornya. dia mengenak rok, jadi agak sulit jika duduk menyamping, ditambah lagi motor Rendi tipe motor balap.
"Berikan saja helmnya" ujar Kimi.
Kemudian Rendi memberikan helm, Kimi langsung memakainya dan langsung naik ke atas motor tanpa kesulitan sedikit pun. Tidak duduk menyamping, layaknya wanita yang memakai rok. Tapi duduk di tengah. Seakan-akan dia memakai celana. Padahal rok seragam Kimi bener-bener pendek.
Tindakan Kimi yang diluar dugaan itu membuat Rendi sedikit terkejut "Kau benar- benar tak bisa di tebak".
"Jangan menyuruhku untuk Berpegangan padamu, karena aku tidak mau" sahut Kimi. Rendi tak berkomentar memacu motor besarnya, mengantar si nona besar.
***
Dewi pergi ke butik yang khusus menyediakan seragam sekolah SMA Internasional. Syok mengetahui betapa mahalnya harga seragam. Pegawai butik mengatakan memang itu lah harganya, kerena semua di pesan dan dijahit menggunakan tangan. Selain itu sekolah itu berada pada level yang berbeda sama sekali di banding sekolah lainya.
Tetap saja Dewi tak mengerti dan heran bagaimana bisa seragamnya seharga 10 juta rupiah. Pegawai butik membetulkan harganya, Seragam musim panas lebih murah. Harganya 5 juta.
"Oh....Begitu!" ujar Dewi masih dengan rasa keterkejutannya, memandangi seragam sekolah mahal yang terpajang di dekat dinding.
Dewi lalu keluar dari butik dengan langkah lesu.
Kimi dan Rendi baru saja tiba di depan toko. Kimi yang melihat Dewi lebih dulu segera menghampirinya.
Kimi menghampiri Dewi, dengan gaya songong besarnya "Apa kau mau melarikan diri?.
"Tak ada alasan bagiku untuk melakukan itu" sahut Dewi.
Kimi nyolot, "Apakah kau sudah gila? Kau tidak punya alasan untuk lari dariku? Bahkan saat Dimas kembali ke Indonesia seperti yang aku perkirakan?".
Semula Rendi hanya mengawasi dari tempatnya. Mendengar nama Dimas disebut, membangkitkan rasa tertarik dalam dirinya.
Dari sikap diamnya Dewi, Kimi bisa menebak Dewi sudah mengetahui kepulangan Dimas, "Ini adalah kenapa aku memperingatkanmu waktu di Taiwan. Kenapa kau tidak bisa mengerti?".
Dewi menarik napas, "Apa kau sudah selesai? Sekarang giliran ku. Jangan bergerak", dengan gerak cepat Dewi mencabut name tag Kimi.
Dari jauh Rendi tampak kagum dengan keberanian Dewi. ternyata Kimi mendapatkan lawan yang tangguh.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Apakah kau sudah gila?", teriak Kimi marah.
"Apa kau tidak ingat kejadian di pesawat? Kau tahu nama, nomor telepon, dan alamatku. Tapi aku hanya akan mengambil name tag-mu. Jika kau menginginkannya kembali, telepon aku. Kau sudah tahu nomorku" Dewi berjalan pergi.
"Hei! Berhenti di situ!" seru Kimi memerintah.
Dewi tak peduli dan terus jalan. Rendi maju selangkah, menghalangi Dewi. "Siapa kau? Bodyguardnya?" tanya Dewi tanpa takut.
Rendi mengangkat bahu, tak acuh. Melangkah mundur, membuka jalan mempersilahkan Dewi pergi.
Kimi mengejar Dewi. Tapi Rendi menghalangi dengan tangannya. tentu Kimi marah, "Kau tidak bisa membiarkan dia pergi!".
"Aku pikir kau kalah" ucap Rendi.
"Minggir!".
"Menyerahlah dan pergi ambil seragammu. kau bisa pulang sendiri. Aku ingin pergi ke suatu tempat" Rendi naik ke atas motornya. Pergi meninggalkan Kimi yang semakin kesal dan dongkol.
Hm..kasihan Kimi, nasibnya selalu seperti ini ditinggalkan dengan menahan Emosi.
Rendi ternyata mengejar Dewi. Dewi yang saat itu ingin menelpon terkejut melihat seorang pria tiba-tiba ada di depannya. Menghadang jalan dengan motornya.
"Apa hubunganmu dengan Dimas?" tanya Rendi tampak serius.
"Tidak ada".
"Bagaimana dengan Kimi?".
"Tidak ada hubungan sama sekali" jawab Dewi datar.
"Lalu kenapa kau mengambil name tagnya? Kenapa dia mengambil nama, alamat, dan nomor teleponmu?" tanya Rendi ingin tahu.
"Kenapa kau peduli?"tanya Dewi tidak suka.
"Mungkin kau salah paham...Apakah kau pikir aku bertanya dengan baik- baik sekarang?" tanya Rendi dengan nada mengancam.
Dewi tak gentar, "Apakah itu pertanyaan lain?".
Rendi minta Dewi setidaknya menjawab satu pertanyaan, ia mengira mereka berada di pihak yang sama. Dewi sangat heran, kita baru saja bertemu.
"Apa kau yakin? Aku pernah melihatmu sebelumnya".
__ADS_1
"Dimana?".
"Jika aku mengatakannya, apa kau akan mau menemui ku lagi" ujar Rendi.
"Tidak" jawab Dewi singkat.
"Kenapa tidak! Aku belum pernah melihat orang yang bisa membuat Kimi sangat kesal kecuali aku. Itu adalah saat yang langka. Jadi ayo kita...".
"Maafkan aku" potong Dewi, "Tapi aku tidak ingin terlibat, jadi bisakah kau minggir?".
"Apakah kau yakin aku yang menghentikanmu? Tidakkah kau pikir kau bisa saja mengambil arah lain? Apakah aku memblokir seluruh jalanya?" Rendi menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan dengan leluasa Menunjuk ke arah lain.
Dewi mendengus kesal, memilih jalan lain melewati Rendi. Lalu menoleh ketika Rendi bertanya, "Bisakah aku mendapatkan nomormu dari Kimi?" Rendi menghidupkan motornya, pergi dari sana.
Tak ingin lama-lama memikirkan tingkah aneh Rendi tadi. Dewi lalu menelpon Steven, minta mereka bertemu besok.
Keesokan harinya, Dewi bertemu dengan Steven Ia minta Steven memberikan nomor rekeningnya.
Dewi merasa tidak nyaman menyimpan uang itu di rekeningnya. Steven akan mengirimkan nomor rekeningnya melalui sms.
"Apa yang terjadi pada akun facebook mu?" tanya Steven, "Apakah seseorang membajaknya. Apa aku perlu memperbaikinya?".
Dewi ingin Steven melakukan sesuatu hal yang lain untuknya, berikan aku beberapa informasi mengenai sekolahnya.
Steven tentu heran, "Sekolahku? Untuk apa?". Dewi tanya apa pendapat Steven, jika ia bersekolah disana.
Steven tak mengerti, apa maksudnya. lalu Dewi menjelaskan bahwa Presdir Ahmad telah mentransfernya ke sana. "Ibuku sangat senang sampai- sampai dia sudah melakukan prosedur transfer itu tanpa bertanya padaku".
Steven kaget campur heran, "Benarkah?".
Dewi juga heran kenapa ekspresi seperti itu.
"Apa yang kau pikirkan, apa kau akan menerima tawaran itu?" tanya Steven.
Terus terang, Dewi sebenarnya iri pada Steven bisa sekolah di SMA unggulan, "Mereka memberikan kesempatan untuk aku pergi kesana. Aku bahkan tidak bisa menjadi ekor ular. Tapi mereka membiarkan aku menjadi ekor naga. Aku tidak punya alasan untuk menolaknya. Apakah kau pikir aku seharunya tidak ke sana?".
"Tidak ada yang tidak seharunya kau lakukan. Banyak yang bisa jatuh dan berubah. Tentu saja, saya tidak dapat menyangkal masuk sekolah itu adalah dunia satu hal yang besar. Selamat datang" Steven memberikan dukungan.
"Kau terdengar seperti kau memberiku izin. Terima kasih Steven" ucap Dewi. Tapi wajahnya tidak menunjukan ia sedang bahagia, Justru ada kekhawatiran di raut wajahnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1