
Ginara keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang
sudah fress, di wajahnya masih ada titik-titik air yang menggantung. Kali ini
keadaannya sama denga dua pasang pengantin di sebelah mereka, tidak ada yang
membawa baju ganti, hingga gadis itu hanya memakai kimono handuk untuk menutupi
tubuhnya. Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk, namun ia terkejut ketika
ada yang merampas handuknya dari belakang dan membantu mengeringkan rambutnya.
Laki-laki itu mencium pucuk kepala istrinya lama serasa menikmati wangi yang
menguar dari rambutnya.
“Hmmm, wanginya….”
“Mandilah dulu Al, apa gak gerah seharian tadi
hmmm, lagipun kamu belum istirahat sejak kepulanganmu tadi” Kata Ginara lembut.
Aldy tersenyum.
“Oke, tunggu aku ya…” Aldy melesat cepat ke kamar
mandi.
Ginara meletakkan handuk pada sandaran kursi dan
berjalan menuju tempat tidur, saat akan mulai naik dia dibuat terhenyak oleh
matanya yang melihat penampakan seseorang yang tengah berdiri di luar jendela
kamarnya. Tampak samar, namun ia bisa melihat bahwa seseorang itu adalah sosok
yang selama ini dirindukan kehadirannya. Tubuhnya bergetar hebat dengan mulut
yang tergagap, “A..zi..”
Kilatan petir yang tiba-tiba menyambar memberikan
penerangan yang sangat jelas, dan tampak sosok itu masih tetap berdiri di luar
jendela dengan tersenyum ke arahnya. Seketika saja air matanya mengalir tanpa
permisi, mulutnya tidak mampu mengucapkan sepatah katapun, namun matanya tidak
lepas dari sosok yang selalu tersenyum ke arahnya. Lelaki itu memandang dengan
tatapan lembut seperti yang dulu sering dilakukan ketika berhadapan dengan
Ginara, dia tidak berkata sepatah katapun, hanya senyumnya yang tidak pernah
pudar dari wajahnya, bahkan lebih manis dari sebelumnya.
Ginara melangkah ke pintu balkon dan bermaksud
membukanya, menghampiri sosok yang dirindukannya itu. Azril menatap lembut ke arah
Ginara, pandangan sangat lembut dengan senyum terus menghiasi wajahnya.
Tangannya terulur ke arah Ginara dan reflek gadis itu juga mengulurkan tangan
untuk menyambut uluran tangan Azril.
“Sweety, kenapa di luar…?” Tanya Aldy heran yang
menyaksikan tangan gadis itu masih mengambang di udara. Ginara menoleh
terkejut, reflek tangannya diturunkan kembali ke sisi tubuhnya. Aldy menatap
terkejut melihat ada air mata di wajah gadis itu.
“Kau baik-baik saja?” Tanyanya panik sambil
mendekat ke arah Ginara dan memeluknya erat. Ginara terdiam linglung, ia
menatap lagi ke arah keberadaan Azril, “Dia sudah pergi” Lirihnya dengan suara
bergetar.
“Kau baik-baik saja?” Aldy mengulang pertanyaannya,
kali ini dengan nada cemas.
“Aku baik-baik saja” Sahut Ginara pelan, namun air
matanya tidak bisa berhenti mengalir.
Aldy tidak lagi bertanya dan mengucapkan apapun, di
dekapnya tubuh Ginara dengan begitu erat, dibawanya tubuh itu ke dalam kamar
dan menutup pintu balkon. Laki-laki itu mendudukkan Ginara di ranjang, mereka
duduk saling berhadapan.
“Menangislah sayang, curahkan apa yang masih
tersisa di hatimu, tidak apa-apa” Katanya dengan begitu tulus, seolah ia
mengetahui apa yang baru saja terjadi. Aldy mengelus punggung istrinya lembut,
“menangislah, lepaskan semuanya, setelah itu kau berhak untuk bahagia” Ucapnya
sabar. Ginara mengangguk dalam pelukan Aldy, “Aku janji, ini yang terakhir”
Kata Ginara tersedu, “aku sepertinya sudah merasa bahagia dan akan terus
bahagia Azi, terima kasih” Bisiknya tanpa suara. Ia mengeratkan pelukannya
dalam dekapan suaminya.
Aldy melepaskan pelukannya, disekanya air mata di
pipi istrinya dengan lembut, “sudah lebih baik?” Ginara mengangguk tersenyum.
“Terima kasih telah hadir di hidupku dan
__ADS_1
menerimaku….” Katanya pelan.
“…dan aku lebih berterima kasih, karena hidupku
lebih bahagia dan berarti semenjak kamu ada. Aku bahkan merasa bahwa akulah
orang yang paling beruntung karena memilikimu…” Balas Aldy seraya menggenggam
kedua tangan Ginara.
Gadis itu tersenyum.
“Tetaplah tersenyum ke dapannya, jangan ada air
mata, mata ini hanya untuk memandangku” Sambung Aldy seraya mengecup kedua mata
Ginara, “Dan bibir ini hanya tersenyum untuk ku” Lanjutnya lagi dengan mencium
lembut bibir Ginara. Dunia gadis itu seolah berhenti saat itu juga, tubuhnya
menegang, dadanya berdesir hebat, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
Kedua tangannya secara naluriah mengalung di leher Aldy. Posisi mereka berada
pada posisi yang intim, membuat Aldy mengambil kesempatan itu untuk memasukkan
lidahnya saat mulut istrinya terbuka. Dan … terjadilah romantisme pasangan
pengantin di malam yang sunyi dengan di iringi rintikan air hujan di luar sana.
“…Eunghhh…” Suara erangan Ginara lolos yang membuat
gejolak perasaan Aldy langsung membuncah, pandangan Aldy mulai
mengabur…dibelainya rambut Ginara, diciumnya keningnya, kedua mata, kedua pipi,
dan kembali mengecup bibir ranum itu seraya berkata….
“Malam ini, kamu akan menjadi milikku sepenuhnya
Ginara Safiera Mahendra”
Tidak lama, ruangan hening itu dipenuhi suara-suara
asing, yang bersahutan dengan suara tangisan dan erangan dari mulut wanita
semakin keras di selingi suara geraman rendah dari pria di atasnya.
Hujan sudah mereda memunculkan malam yang indah
disinari cahaya bulan yang sempurna dan bulat. Selama berjam-jam suara-suara
itu tidak berhenti, seakan tanpa lelah, dengan temaram lampu yang redup
menambah suasana romastis bagi dua insan yang hanya terlihat berupa bayangan
yang saling menyatu penuh na..su dan gairah.
Saat malam menjelang dini hari, suara aneh itu
sudah mulai berangsur-angsur melemah, hanya terdengar nafas terengah-engah dan
tempat tidur, saat kepalanya terbaring di sisi bantal, mata wanita itu langsug
terlelap dengan damai.
Sedangkan pria di sisinya masih dengan memeluk
tubuh te..njang wanita di sebelahnya, ikut berbaring seraya menciumi seluruh
wajah wanitanya. Di ciumnya kembali kening, mata, pipi, dan bibir itu dengan
penuh kelembutan dan penuh kasih, “Terima kasih, Sweety, selamat malam…”
***
Keesokan harinya,saat Ginara bangun, ia merasakan
rasa sakit di seluruh tubuhnya, pinggangnya serasa patah, bibirnya membengkak,
apalagi bagian kewanitaannya sangat perih dan sakit jika digunakan untuk
bergerak.
Saat matanya terbuka, tampak dada bidang tel..jang
yang tertangkap matanya, ia merasakan tangan besar melilit pinggangnya dan
merengkuhnya dalam dekapannya, sangat erat. Setelah berhasil mengingat kejadian
semalam, seluruh wajahnya bahkan sampai telinganya langsung memerah. Ingin ia
bersembunyi, agar perubahan wajahnya tidak terlihat oleh laki-laki di
sampingnya.
Ia mengangkat kepalanya menatap wajah pria yang
mendekapnya masih memejamkan matanya, tampak gurat kelelahan dan kebahagian
terpancar di wajah itu. Lama Ginara menatap pesona wajah yang teramat tampan
itu, sampai mata yang tadinya terpejam tiba-tiba terbuka dan langsung menusuk
tajam ke matanya membuatnya terkejut. Matanya langsung mengerjap panik seolah
ketahuan telah memandangi dengan begitu lama.
Mata Aldy menatap dengan lembut, ia tersenyum
kemudian bersuara dengan serak, “Sudah bangun hmmm?” Ginara mengangguk perlahan
dengan wajah yang masih memerah.
“Kamu kesakitan ya? Maafkan aku, sampai wajahmu
memerah gini” Kata Aldy seraya membelai wajah istrinya lembut. Wajah Ginara
bertambah malu, reflek ia menelusupkan wajahnya bersembunyi di dada Aldy.
__ADS_1
Laki-laki itu tertawa.
“Kenapa hmmm?” Diangkatnya dagu istrinya pelan
kemudian mencium bibir itu dengan lembut.
“Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diriku, kamu
terlalu…” Ginara langsung membungkam mulut Aldy dengan tangannya.
“Apa sih” Ucapnya malu, ia bermaksud menggeser
tubuhnya untuk bangun namun pelukan tangan Aldy begitu kuat walau ia berusaha
melepasnya. Laki-laki itu mendesis membuat Ginara terdiam.
“Sweety, kamu harus bertanggung jawab” Erangnya
frustasi. Ginara mendelik heran.
“Tanggung jawab apa?” Tanyanya heran. Aldy
menurunkan pandangannya ke bawah yang di ikuti oleh mata Ginara yang langsung
terbelalak sekaligus malu. Ia merasakan sesuatu yang mengeras menempel di
perutnya. Ekspresi wajah Ginara lagsung menegang dan memerah.
“Aku bilang jangan bergerak…nyatanya kamu nggak
percaya, jadi kamu harus bertanggung jawab” Bisik suara Aldy dengan suara yang
berat. Ginara menggeleng panik, ia sudah kelelahan akibat semalam, dengan mata
sendu dan menyedihkan ia berucap, “Aku masih sakit, Al…”
Aldy menikmati tatapan memohon istrinya, ada rasa
sedih di hatinya, tapi bisa ia maklumi, “Baiklah, apa kamu ingin mandi?” Ginara
mengangguk cepat. Aldy langsung bangun dari atas kasur dan mengitari tempat
tidur yang membuat Ginara menjerit seraya menutup matanya dengan kedua
tangannya. Aldy tersenyum nakal.
“Sweety, kenapa harus di tutup, bukankah semuanya
sudah kamu lihat?”
“Tidak!” Sangkal Ginara cepat namun sedetik
kemudian ia kembali menjerit merasakan tubuhnya melayang di udara. Laki-laki
yang telah resmi menjadi suaminya itu mengangkat tubuh te..jangnya dengan
sangat santai ke kamar mandi. Reflek Ginara menutup dadanya tapi ia lupa dengan
area bawahnya yang membuat Aldy langsung terbahak.
“Ah…kau semakin menggodaku ya Sweety…” Ucap Aldy
seraya mengamati bagian bawah Ginara membuat wanita itu mengapitkan kedua
pahanya erat.
“Mesum!” Seru Ginara disambut tawa menggelegar dari
Aldy. Dengan lembut, diletakkannya istrinya di bath up yang telah terisi air
hangat dan busa yang baru saja ia alirkan dari kran. Ginara langsung
menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalamnya membuat hanya kepalanya saja yang
terlihat.
“Kamu keluarlah dulu, aku akan mandi dulu” Cetusnya
memerintah tanpa memandang ke arah suaminya yang masih te…jang.
Bukannya pergi, Aldy malah ikut masuk ke dalam bath
up yang membuat Ginara panik, mau bangun otomatis tubuh atasnya akan kelihatan,
sehingga akhirnya ia hanya diam saja. Aldy mengambil duduk di belakang Ginara
dan secara otomatis bagian bawah Aldy menempel ketat di punggungnya yang
langsung membuat tubuhnya bergetar. Sensasi aneh itu kembali menyerang dirinya,
tapi ia mencoba untuk bersikap biasa. Maluuuu.
“Aku akan membantu membersihkannya, kamu tenang
saja…aku tidak akan macam-macam Sweety…” Bisiknya sensual.
“Al…aku..aku..bisa mandi sendiri”
“Sudahlah, nikmati saja…” Ginara hanya terdiam
setelahnya, namun apa yang ia bayangkan benar-benar terjadi, tangan Aldy sudah
merembet ke mana-mana, ke bagian-bagian favoritnya, mulai dari atas sampai
bawah, walaupun ia beralasan ia membasuhkan sabun ke tubuhnya, tetap saja hal
itu membuat Ginara merasa merinding sendiri. Dan….kalian tahu kan apa yang
selanjutnya terjadi…? Hiyaaa, cocok…maka yang terjadi…terjadilah. Aldy…Aldy…modusmu
ketinggian, hahahaha
Aldy mencium kening istrinya yang kembali terlelap
di atas ranjang setelah melalui adegan kedua di kamar mandi tadi, “Aku
mencintaimu Sweety, istirahatlah…”
To Be Continued
__ADS_1