Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Ekstra Chapter Three Aldy Ginara: Terima kasih telah hadir di hidupku


__ADS_3

Ginara keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang


sudah fress, di wajahnya masih ada titik-titik air yang menggantung. Kali ini


keadaannya sama denga dua pasang pengantin di sebelah mereka, tidak ada yang


membawa baju ganti, hingga gadis itu hanya memakai kimono handuk untuk menutupi


tubuhnya. Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk, namun ia terkejut ketika


ada yang merampas handuknya dari belakang dan membantu mengeringkan rambutnya.


Laki-laki itu mencium pucuk kepala istrinya lama serasa menikmati wangi yang


menguar dari rambutnya.


“Hmmm, wanginya….”


“Mandilah dulu Al, apa gak gerah seharian tadi


hmmm, lagipun kamu belum istirahat sejak kepulanganmu tadi” Kata Ginara lembut.


Aldy tersenyum.


“Oke, tunggu aku ya…” Aldy melesat cepat ke kamar


mandi.


Ginara meletakkan handuk pada sandaran kursi dan


berjalan menuju tempat tidur, saat akan mulai naik dia dibuat terhenyak oleh


matanya yang melihat penampakan seseorang yang tengah berdiri di luar jendela


kamarnya. Tampak samar, namun ia bisa melihat bahwa seseorang itu adalah sosok


yang selama ini dirindukan kehadirannya. Tubuhnya bergetar hebat dengan mulut


yang tergagap, “A..zi..”


Kilatan petir yang tiba-tiba menyambar memberikan


penerangan yang sangat jelas, dan tampak sosok itu masih tetap berdiri di luar


jendela dengan tersenyum ke arahnya. Seketika saja air matanya mengalir tanpa


permisi, mulutnya tidak mampu mengucapkan sepatah katapun, namun matanya tidak


lepas dari sosok yang selalu tersenyum ke arahnya. Lelaki itu memandang dengan


tatapan lembut seperti yang dulu sering dilakukan ketika berhadapan dengan


Ginara, dia tidak berkata sepatah katapun, hanya senyumnya yang tidak pernah


pudar dari wajahnya, bahkan lebih manis dari sebelumnya.


Ginara melangkah ke pintu balkon dan bermaksud


membukanya, menghampiri sosok yang dirindukannya itu. Azril menatap lembut ke arah


Ginara, pandangan sangat lembut dengan senyum terus menghiasi wajahnya.


Tangannya terulur ke arah Ginara dan reflek gadis itu juga mengulurkan tangan


untuk menyambut uluran tangan Azril.


“Sweety, kenapa di luar…?” Tanya Aldy heran yang


menyaksikan tangan gadis itu masih mengambang di udara. Ginara menoleh


terkejut, reflek tangannya diturunkan kembali ke sisi tubuhnya. Aldy menatap


terkejut melihat ada air mata di wajah gadis itu.


“Kau baik-baik saja?” Tanyanya panik sambil


mendekat ke arah Ginara dan memeluknya erat. Ginara terdiam linglung, ia


menatap lagi ke arah keberadaan Azril, “Dia sudah pergi” Lirihnya dengan suara


bergetar.


“Kau baik-baik saja?” Aldy mengulang pertanyaannya,


kali ini dengan nada cemas.


“Aku baik-baik saja” Sahut Ginara pelan, namun air


matanya tidak bisa berhenti mengalir.


Aldy tidak lagi bertanya dan mengucapkan apapun, di


dekapnya tubuh Ginara dengan begitu erat, dibawanya tubuh itu ke dalam kamar


dan menutup pintu balkon. Laki-laki itu mendudukkan Ginara di ranjang, mereka


duduk saling berhadapan.


“Menangislah sayang, curahkan apa yang masih


tersisa di hatimu, tidak apa-apa” Katanya dengan begitu tulus, seolah ia


mengetahui apa yang baru saja terjadi. Aldy mengelus punggung istrinya lembut,


“menangislah, lepaskan semuanya, setelah itu kau berhak untuk bahagia” Ucapnya


sabar. Ginara mengangguk dalam pelukan Aldy, “Aku janji, ini yang terakhir”


Kata Ginara tersedu, “aku sepertinya sudah merasa bahagia dan akan terus


bahagia Azi, terima kasih” Bisiknya tanpa suara. Ia mengeratkan pelukannya


dalam dekapan suaminya.


Aldy melepaskan pelukannya, disekanya air mata di


pipi istrinya dengan lembut, “sudah lebih baik?” Ginara mengangguk tersenyum.


“Terima kasih telah hadir di hidupku dan

__ADS_1


menerimaku….” Katanya pelan.


“…dan aku lebih berterima kasih, karena hidupku


lebih bahagia dan berarti semenjak kamu ada. Aku bahkan merasa bahwa akulah


orang yang paling beruntung karena memilikimu…” Balas Aldy seraya menggenggam


kedua tangan Ginara.


Gadis itu tersenyum.


“Tetaplah tersenyum ke dapannya, jangan ada air


mata, mata ini hanya untuk memandangku” Sambung Aldy seraya mengecup kedua mata


Ginara, “Dan bibir ini hanya tersenyum untuk ku” Lanjutnya lagi dengan mencium


lembut bibir Ginara. Dunia gadis itu seolah berhenti saat itu juga, tubuhnya


menegang, dadanya berdesir hebat, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


Kedua tangannya secara naluriah mengalung di leher Aldy. Posisi mereka berada


pada posisi yang intim, membuat Aldy mengambil kesempatan itu untuk memasukkan


lidahnya saat mulut istrinya terbuka. Dan … terjadilah romantisme pasangan


pengantin di malam yang sunyi dengan di iringi rintikan air hujan di luar sana.


“…Eunghhh…” Suara erangan Ginara lolos yang membuat


gejolak perasaan Aldy langsung membuncah, pandangan Aldy mulai


mengabur…dibelainya rambut Ginara, diciumnya keningnya, kedua mata, kedua pipi,


dan kembali mengecup bibir ranum itu seraya berkata….


“Malam ini, kamu akan menjadi milikku sepenuhnya


Ginara Safiera Mahendra”


Tidak lama, ruangan hening itu dipenuhi suara-suara


asing, yang bersahutan dengan suara tangisan dan erangan dari mulut wanita


semakin keras di selingi suara geraman rendah dari pria di atasnya.


Hujan sudah mereda memunculkan malam yang indah


disinari cahaya bulan yang sempurna dan bulat. Selama berjam-jam suara-suara


itu tidak berhenti, seakan tanpa lelah, dengan temaram lampu yang redup


menambah suasana romastis bagi dua insan yang hanya terlihat berupa bayangan


yang saling menyatu penuh na..su dan gairah.


Saat malam menjelang dini hari, suara aneh itu


sudah mulai berangsur-angsur melemah, hanya terdengar nafas terengah-engah dan


tempat tidur, saat kepalanya terbaring di sisi bantal, mata wanita itu langsug


terlelap dengan damai.


Sedangkan pria di sisinya masih dengan memeluk


tubuh te..njang wanita di sebelahnya, ikut berbaring seraya menciumi seluruh


wajah wanitanya. Di ciumnya kembali kening, mata, pipi, dan bibir itu dengan


penuh kelembutan dan penuh kasih, “Terima kasih, Sweety, selamat malam…”


***


Keesokan harinya,saat Ginara bangun, ia merasakan


rasa sakit di seluruh tubuhnya, pinggangnya serasa patah, bibirnya membengkak,


apalagi bagian kewanitaannya sangat perih dan sakit jika digunakan untuk


bergerak.


Saat matanya terbuka, tampak dada bidang tel..jang


yang tertangkap matanya, ia merasakan tangan besar melilit pinggangnya dan


merengkuhnya dalam dekapannya, sangat erat. Setelah berhasil mengingat kejadian


semalam, seluruh wajahnya bahkan sampai telinganya langsung memerah. Ingin ia


bersembunyi, agar perubahan wajahnya tidak terlihat oleh laki-laki di


sampingnya.


Ia mengangkat kepalanya menatap wajah pria yang


mendekapnya masih memejamkan matanya, tampak gurat kelelahan dan kebahagian


terpancar di wajah itu. Lama Ginara menatap pesona wajah yang teramat tampan


itu, sampai mata yang tadinya terpejam tiba-tiba terbuka dan langsung menusuk


tajam ke matanya membuatnya terkejut. Matanya langsung mengerjap panik seolah


ketahuan telah memandangi dengan begitu lama.


Mata Aldy menatap dengan lembut, ia tersenyum


kemudian bersuara dengan serak, “Sudah bangun hmmm?” Ginara mengangguk perlahan


dengan wajah yang masih memerah.


“Kamu kesakitan ya? Maafkan aku, sampai wajahmu


memerah gini” Kata Aldy seraya membelai wajah istrinya lembut. Wajah Ginara


bertambah malu, reflek ia menelusupkan wajahnya bersembunyi di dada Aldy.

__ADS_1


Laki-laki itu tertawa.


“Kenapa hmmm?” Diangkatnya dagu istrinya pelan


kemudian mencium bibir itu dengan lembut.


“Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diriku, kamu


terlalu…” Ginara langsung membungkam mulut Aldy dengan tangannya.


“Apa sih” Ucapnya malu, ia bermaksud menggeser


tubuhnya untuk bangun namun pelukan tangan Aldy begitu kuat walau ia berusaha


melepasnya. Laki-laki itu mendesis membuat Ginara terdiam.


“Sweety, kamu harus bertanggung jawab” Erangnya


frustasi. Ginara mendelik heran.


“Tanggung jawab apa?” Tanyanya heran. Aldy


menurunkan pandangannya ke bawah yang di ikuti oleh mata Ginara yang langsung


terbelalak sekaligus malu. Ia merasakan sesuatu yang mengeras menempel di


perutnya. Ekspresi wajah Ginara lagsung menegang dan memerah.


“Aku bilang jangan bergerak…nyatanya kamu nggak


percaya, jadi kamu harus bertanggung jawab” Bisik suara Aldy dengan suara yang


berat. Ginara menggeleng panik, ia sudah kelelahan akibat semalam, dengan mata


sendu dan menyedihkan ia berucap, “Aku masih sakit, Al…”


Aldy menikmati tatapan memohon istrinya, ada rasa


sedih di hatinya, tapi bisa ia maklumi, “Baiklah, apa kamu ingin mandi?” Ginara


mengangguk cepat. Aldy langsung bangun dari atas kasur dan mengitari tempat


tidur yang membuat Ginara menjerit seraya menutup matanya dengan kedua


tangannya. Aldy tersenyum nakal.


“Sweety, kenapa harus di tutup, bukankah semuanya


sudah kamu lihat?”


“Tidak!” Sangkal Ginara cepat namun sedetik


kemudian ia kembali menjerit merasakan tubuhnya melayang di udara. Laki-laki


yang telah resmi menjadi suaminya itu mengangkat tubuh te..jangnya dengan


sangat santai ke kamar mandi. Reflek Ginara menutup dadanya tapi ia lupa dengan


area bawahnya yang membuat Aldy langsung terbahak.


“Ah…kau semakin menggodaku ya Sweety…” Ucap Aldy


seraya mengamati bagian bawah Ginara membuat wanita itu mengapitkan kedua


pahanya erat.


“Mesum!” Seru Ginara disambut tawa menggelegar dari


Aldy. Dengan lembut, diletakkannya istrinya di bath up yang telah terisi air


hangat dan busa yang baru saja ia alirkan dari kran. Ginara langsung


menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalamnya membuat hanya kepalanya saja yang


terlihat.


“Kamu keluarlah dulu, aku akan mandi dulu” Cetusnya


memerintah tanpa memandang ke arah suaminya yang masih te…jang.


Bukannya pergi, Aldy malah ikut masuk ke dalam bath


up yang membuat Ginara panik, mau bangun otomatis tubuh atasnya akan kelihatan,


sehingga akhirnya ia hanya diam saja. Aldy mengambil duduk di belakang Ginara


dan secara otomatis bagian bawah Aldy menempel ketat di punggungnya yang


langsung membuat tubuhnya bergetar. Sensasi aneh itu kembali menyerang dirinya,


tapi ia mencoba untuk bersikap biasa. Maluuuu.


“Aku akan membantu membersihkannya, kamu tenang


saja…aku tidak akan macam-macam Sweety…” Bisiknya sensual.


“Al…aku..aku..bisa mandi sendiri”


“Sudahlah, nikmati saja…” Ginara hanya terdiam


setelahnya, namun apa yang ia bayangkan benar-benar terjadi, tangan Aldy sudah


merembet ke mana-mana, ke bagian-bagian favoritnya, mulai dari atas sampai


bawah, walaupun ia beralasan ia membasuhkan sabun ke tubuhnya, tetap saja hal


itu membuat Ginara merasa merinding sendiri. Dan….kalian tahu kan apa yang


selanjutnya terjadi…? Hiyaaa, cocok…maka yang terjadi…terjadilah. Aldy…Aldy…modusmu


ketinggian, hahahaha


Aldy mencium kening istrinya yang kembali terlelap


di atas ranjang setelah melalui adegan kedua di kamar mandi tadi, “Aku


mencintaimu Sweety, istirahatlah…”


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2