Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Belajar Merelakan Meski Sulit


__ADS_3

.


.


Di perusahaan NK group, Nadia duduk di kursi kebesarannya. Ia tersenyum menyeringai, saat pikirannya membayangkan pria dingin yang kini menjadi asistennya.


Mungkin bisa di bilang, Nadia sedang berusaha untuk melupakan Reynand atau sedang berusaha untuk move on dari pria yang amat di cintainya. Meski rasanya dalam hati Nadia sungguh berat, harus mengikhlaskan Rey dari hidupnya.


Tapi mau bagaimana lagi, toh Rey juga sudah menjalani hubungan rumah tangga bersama Shifa, wanita yang selama ini selalu di puja-puja oleh Rey. Nadia tahu pasti rasa cinta Rey pada Shifa sangatlah besar, bahkan melebihi rasa cinta Rey untuk dirinya dulu.


"Mungkin boleh juga, Bagas aku jadikan tempat untuk pelarian cintaku yang telah kandas ini, kali yah? Tapi sepertinya dia kan tidak suka padaku." ucap Nadia pelan. "Tapi aku harus mencobanya terlebih dahulu kali, yah." monolognya lagi.


Saat Nadia sedang asyik berkutat dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk dari luar.


Tok... Tok... Tok...


"Permisi, nona Nadia.." ucap seorang pria dari luar.


Nadia kesal karena kini lamunannya buyar, oleh suara seoran pria. Ia ngomel-ngomel tidak jelas.


"Siapa sih, enggak tahu orang lagi happy apa. Ganggu saja!" monolog Nadia pelan.


Ia mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam ruangannya.


"I..iya masuk." ucap Nadia lantang.


Saat pintu di buka terlihatlah seseorang pria bertubuh tinggi tegap masuk ke dalam ruangannya. Ia adalah laki-laki yang baru saja di pikirkan oleh Nadia.


"Selamat siang nona Nadia, maaf jika saya mengganggu anda. Kedatangan saya kesini untuk meminta tanda tangan anda nona." ucap Bagas tanpa basa-basi.


Nadia tersenyum manis pada pria itu, sementara Bagas hanya membalasnya sekilas. Bagas tidak mau terhanyut dalam suasana, ia langsung mengatakan apa tujuannya datang ke ruangan big bosnya.


"Baik.. Mana saja yang perlu aku tanda tangani?" balas Nadia dengan seulas senyum di bibirnya.


Entah mengapa hatinya merasa deg-degan saat ia berhadapan dengan Bagas. Sementara Bagas masih bersikap acuh pada wanita di hadapannya. Setelah semua dokumen selesai di tanda tangani, Bagas memindahkan tumpukan map tersebut sambil mengucapkan kata terima kasih pada Nadia.


"Terima kasih, nona Nadia.." ucap Bagas sopan.


"Iya sama-sama." balas Nadia sambil tersenyum manis.


Saat Bagas hendak bergegas keluar dari ruangannya, Nadia menghampirinya dan menahan pintu. Tindakan Nadia membuat Bagas tak mengerti, ia bingung kenapa bos besarnya melakukan hal begitu kepadanya. Ia rasa hari ini, Bagas sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun.


"Kenapa nona Nadia melakukan hal seperti ini padaku, apa hari ini aku telah melakukan kesalahan?" batin Bagas dalam hatinya, sambil berpikir keras.


Tapi dari pada Bagas menduga-duga, lebih baik ia tanyakan saja apa maksud big bosnya, yang menghadang jalannya.


"Em.. Ada apa nona Nadia menghadang jalan saya? Apakah hari ini saya telah melakukan kesalahan?" tanya Bagas penasaran.

__ADS_1


Nadia menggelengkan kepalanya perlahan, lalu ia menjawab pertanyaan Bagas dengan gemuruh di dadanya.


"Tidak, Gas', kamu tidak melakukan kesalahan apapun."


"Lalu, kenapa anda menghalangi jalanku nona?"


"A..aku hanya ingin mengajakmu dinner nanti malam. Aku harap kamu mau menerimanya yah!"


"Apa?! Apakah anda yakin ingin mengajak saya di..dinner, nona Nadia?" tanya Bagas dengan ragu.


"Aku yakin! Memangnya kenapa? Apa kamu akan menolak permintaanku?" ucap Nadia sedih.


Bagas merasa bersalah, karena ucapannya membuat raut wajah Nadia berubah seketika. Ia tidak menyangka jika Nadia akan murung dengan ucapannya.


"Aku harus bagaimana ini? Kalo aku menolaknya, pasti nona Nadia akan kecewa padaku. Tapi kalo aku terima, apa aku tidak lancang, ya..? Bagaimana kalo ternyata nona Nadia sudah mempunyai kekasih atau bahkan tunangan. Lalu aku di labrak oleh kekasihnya. Ih.. Kan ngeri.!" batin Bagas dalam hatinya sambil memikirkan apa yang mungkin saja akan terjadi.


Nadia memperhatikan pria di depannya, ia penasaran dengan jawaban yang akan di berikan Bagas kepadanya.


"Baiklah saya menerima tawaran anda. Dimana tempatnya, nanti saya akan datang kesana!" ucap Bagas pelan sambil menundukan kepalanya tanpa berani menatap ke arah Nadia.


"Benarkah apa yang kamu ucapkan?"


"Iya, share saja dimana lokasinya."


"Oke, kamu tunggu ya. Aku akan segera share ke ponsel kamu." balas Nadia dengan mengulas senyum bahagia.


"Iya baiklah. Terima kasih larena kamu bersedia menerima ajakan kamu


.


πŸƒπŸ‚πŸƒ


Malam kini telah larut Bagas bersiap untuk segera pergi ke sebuah resto yang sudah di tentukan oleh Nadia. Ia ikuti saja apa yang di arahkan oleh bos besarnya.


Kini Bagas mengenakan uotfit lengkap seperti ia hendak pergi ke kentornya. Namun sebelum kepergiannya, Bagas merasa sepertinya dalam dirinya ada yang kurang. Ia masih saja berdiri di depan cermin dan masih saja mengamati dirinya dalam pantulan cermin tersebut.


Setelah dirasanya semua siap, Bagas segera naik ke dalam mobil miliknya dan segera bergegas menuju ke resto yang sudah di sepakati oleh Nadia.


Bagas berjalan dengan langkah yang tak pasti, ia ragu akan menjalankan dinner pertamanya bersama nona Nadia. Wanita yang memimpin perusahaan yang di tempatinya saat ini.


πŸƒπŸ‚πŸƒ


Di rumah yang sangat besar dan luas, kini keluarga kecil Jhonatan berada. Mereka semua duduk hangat sambil bercerita tentang harinya yang mereka semua jalani hari ini.


Tidak lupa pula, Shifa meminta izin pada papanya akan kepergiannya selama beberapa hari ini bersama sang suami. Jantung Shifa rasanya berdebar, ia ragu untuk menyatakan keinginannya bersama sang suami.


Shifa menarik nafas panjangnya, lalu ia mencoba berbicara serius pada sang papa tentang keinginannya. Sementara suaminya hanya diam dan acuh, meski sebenarnya dirinya lah yang sudah membicarakan hal ini pada papa mertuanya tadi.

__ADS_1


"Pa.. Ada yang ingin aku ucapkan pada papa." ucap Shifa sambil melirik ke arah sang suami, berharap jika sang suami akan membantunya.


"Iya nak, ada apa? Apa ada yang serius?" balas Jho tanpa ragu.


Shifa menelan salivanya kasar, ia ragu untuk mengatakannya pada sang papa. Tapi ia juga sudah berjanji pada Rey, jika dirinya akan meminta izin pada sang papa mengenai kepergian nya bersama sang suami.


"Begini pa, apa boleh Shifa meminta izin pada papa, aku dan mas Rey akan pergi selama dua hari untuk..." ucap Shifa, ia ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Untuk apa nak? Kenapa kamu menghentikan ucapanmu? Kamu baik-baik saja kan?" tanya papa Jho.


Shifa menganggukan kepalanya perlahan, ia mencoba untuk tidak gugup di depan kedua orang tuanya.


"Kamu mau kemana, nak?" tanya Riana penasaran.


"Em.. Kami berdua akan mengambil cuti selama 2 hari untuk pergi honeymoon, ma. Apa mama dan papa mengizinkannya?" ucap Shifa sambil menggigit ujung bibirnya.


Riana dan Jho saling pandang, meski dalam hati mereka berdua tersirat rasa bahagia. Karena putrinya ingin berbulan madu yang sempat tertunda karena kesibukan mereka berdua.


"Oh.. Kalian ingin berbulan madu..?" ucap Jho sambil tersenyum manis.


"Iya pa, apa papa memberi izin pada kami berdua?" tanya Shifa penuh harap.


Melihat putrinya yang sangat mengharapkan izin darinya, Jho bermaksud ingin mengerjai sang putri dengan cara memberikan jawaban pada putrinya lama. Ia hanya ingin mengetes seberapa seriusnya sang putri. Jho sudah tahu rencana putrinya, karena tadi Rey yang mengatakan hal tersebut kepadanya.


"Hem.. Bagaimana ya? Tapi pekerjaan kantor kamu kan masih menumpuk, nak!"


"Iya sih pa. Shifa tahu, tapi Shifa hanya meminta waktu selama 2 hari kok. Tidak lebih..!" ucap Shifa penuh pengharapan.


Jho menganggukan kepalanya perlahan, namun di akhir cerita ia memberikan restu jua pada sang putri dan anak menantunya.


"Pergilah.. Jika perlu jangan hanya dua hari. Papa akan menyuruh orang untuk menghandle pekerjaan kantor kamu!" jawab Jho serius.


"Benarkah.. Papa memberikan izin pada kami berdua untuk pergi?" balas Shifa antusias.


"Tentu saja, kenapa tidak. Kan tujuan kalian baik, papa berharap setelah kalian pulang honeymoon, kamu memberikan kabar baik untuk papa dan mama." ucap Jho penuh harap.


.


.


Bersambung...


.


.


Mohon dukungannya ya, jangan lupa tinggalkan like, komen, favorit, serta vote untuk karya author ya. Terima kasih banyakπŸ™πŸ»πŸ™πŸ».

__ADS_1


__ADS_2