
Assalamu'alaikum
Selamat malam
Maap baru bisa up nih
Masih negrjakan tugas yang seabrek deh
Tapi...alhamdulillah semua berjalan dengan lancar....
Makasih masih setia membaca novelku...
Selamat membaca readers....
Davin bernafas lega ketika keluar dari ruang
dospem, akhirnya minggu ini ia sudah bisa ujian sripsi, semua bimbingan ia
lakukan dengan tekun dan serius, hasilnya tinggal selangkah lagi menuju
sarjana.
Pemuda itu melangkah tersenyum sambil menenteng
tasnya, tidak sabar ia menemukan gadis pujaannya. Hari ini ia mantabkan untuk
berbicara langsung pada gadis itu. Cukup sudah intaiannya dan ia sudah sangat
yakin dengan pilihannya. Masalah papa dan bunda, kalau gadis itu setuju, maka
ia siap menghadap kedua orang tuanya itu.
Kali ini dilihatnya gadis itu sedang duduk berdua
dengan seorang temannya di kursi taman biasa dia duduk. Mereka kelihatan
berdiskusi serius, sampai Davin datang, seorang gadis yang mengenakan hijab
ungu muda itu menoleh ke arahnya dengan tatapan kagum, tapi tidak dengan gadis
yang menutup wajahnya dengan niqob itu. Sedikitpun tidak berpaling.
“Assalamu’alaikum…” Sapa Davin terutama
pandangannya tertuju pada gadis berniqob, hingga teman di sebelahnya langsung
paham kalau yang diincar adalah gadis itu.
“Wa’alaikumussalam, ada apa ya mas?” Tanya gadis
itu.
“Boleh aku bicara sebentar sama temanmu?” Gadis itu
menoleh ke gadis yang duduk di sebelahnya, tampak gadis itu menghela nafas
pelan. Ia bangkit untuk pergi.
“Sebentar saja, tolong…” Bahkan seorang Davin
memohon kepada seorang wanita. Wah…
“Ya udah, aku ke perpus dulu ya…” Pamit teman gadis
itu. Gadis berniqob itu tetap diam tak bergeming. Davin mengeluarkan kertas
dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada gadis itu. Dalam keadaan terpaksa
namun tetap sopan gadis itu menerima kertas tersebut. Sebentar kemudian mata
indah itu terbelalak.
Assalamu’alaikum,
Namaku Davin Mahendra,
Aku serius ingin mengenalmu,
Maukah kamu menikah denganku?
Empat baris kalimat yang benar-benar membuat
siapapun yang membacanya pasti akan shock. Tidak pernah bertemu, tidak pernah
kenal, tidak pernah berbicara, bahkan cenderung di abaikan, bisa-bisanya ada
cowok yang langsung mengajak nikah.
Gadis itu terdiam cukup lama, ia menunduk
memikirkan kalimat yang dibacanya. Ia mengambil bolpoin kemudian menuliskan
__ADS_1
sesuatu di bawah kalimat itu, kemudian menyerahkannya pada Davin. Pemuda itu
membacanya dan membelalak tak percaya.
Wa’alaikumussalam,
Namaku Mahira Ramazan
Bismillahirrohmanirrohim
Atas izin Allah aku bersedia
“Alhamdulillah…terima kasih kamu sudah percaya sama
aku, aku akan membawa kakakku untuk taaruf ke rumahmu, boleh?” Pinta Davin
sopan. Gadis itu mengangguk kemudian meminta kembali kertas yang dipegang Davin
dan menuliskan sebuah alamat, setelah itu gadis itu menangkupkan kedua tangan
di dada dan meninggalkan Davin sendirian.
“Ya Allah, mungkin ini jalan yang sudah Engkau
takdirkan untukku, bismillah…semoga Engkau ridhoi, begitu pula dengan papa dan
bunda” Doanya, kemudian ia langsung pergi meninggalkan kampus.
***
Kedua orang paruh baya di depannya memandang tak
percaya kepada anak bungsunya. Mereka benar-benar tak habis pikir, seorang
Davin yang terkenal dengar sikap slengekan, kocak, suka jahil kepada kakaknya,
kini meminta restu untuk menikah.
“Sayang, maksudnya gimana ini, bunda masih bingung
ini” Tiara merasa ucapannya beberapa hari yang lalu di dengar oleh Yang Maha
Kuasa. Tapi…ini Davin, benarkah yang diucapkannya?
“Bunda, papa, Davin serius, walaupun Dav belum
mengenalnya dengan dekat, tapi dia sudah siap untuk taaruf, aku janji bawa Kak
itu sia-sia, apalagi dengan kepercyaan gadis itu yang langsung menerima
ajakannya untuk menikah, padahal mereka kenal aja nggak.
Reza memandang putranya serius.
“Kamu sudah benar-benar yakin? Ini bukan sekedar
lelucon kan Dav?” Kata Reza.
“Pa Davin serius, Dav berjanji selepas sarjana akan
mencari kerja…”
“Perusahaan papa kan bisa kamu kelola” Kata Tiara
“Ya, kalau papa izinin…”
Tiara memandang Reza meminta pendapatnya, ia hanya
menggeleng masih dalam mode tidak percaya. Di tepuknya pundak putranya.
“Rupanya pandangan papa ke kamu harus berubah nih,
kamu ternyata sudah dewasa sudah bisa mengambil keputusan besar dalam hidupmu.
Selama hatimu yakin, lakukanlah. Papa merestui mu” Kata Reza memberi
keputusannya. Sesuatu yang baik tidak boleh di tunda kan? Begitu kata ajaran
Islam, bila telah siap dalam hal menikah dan untuk menghindari zina maka
sebaiknya menyegerakan menikah.
Davin langsung memeluk Reza, pemuda itu menangis
haru mendapat kepercayaan dari papanya. Tiara ikut tersenyum dan memeluk putra
bungsunya yang sudah berpikir dewasa itu. Kini tinggal minta Kak Ginara untuk
menemaninya taaruf ke rumah Mahira, semoga semua berjalan lancar.
***
__ADS_1
Pukul tujuh malam, Davin dan Ginara sudah berada di
kediaman orang tua Mahira. Mereka di temui oleh orang tua Mahira, Ayah Mahira
ternyata seorang warga negara Turki yang sudah menetap dan memilih mengikuti
kebangsaan sang istri. Mereka sudah mendapat cerita lengkap dari putri mereka,
jadi ketika Davin dan Ginara datang mereka langsung menanyakan keseriusan
Davin. Keluarga mereka termasuk keluarga yang sangat berada tapi kelihatan
sekali kalau mereka tidak pernah memandang status seseorang.
“Jadi Nak Davin sudah benar-benar mantab untuk
menikahi putri saya?” Tanya Omar Ramazan, ayah Mahira dengan bahasa Indonesia
yang sudah sangat fasih, walaupun masih ada logat Turkinya.
“In shaa Allah saya siap” Jawab Davin mantab.
Omar mengangguk tersenyum kemudian meminta istrinya
Fahira untuk membawa Ginara menemui putrinya untuk melihat bagaimana
keseluruhan putrinya agar tidak ada penyesalan di akhir nanti.
Ginara mengikuti wanita baya itu menuju kamar yang
ditempati Mahira, dengan tetap ditemani Fahira mereka masuk ke dalam kamar.
Terlihat Mahira masih mengenakan hijab dan niqobnya. Wah, bahkan di kamar dia
masih memakainya. Ada kekaguman di dalam hati Ginara, sementara ia seorang muslimah
tapi berhijab saja ia masih belum berani.
“Nak, ini kakaknya Davin, laki-laki yang ingin
men-taaruf kamu, kamu bisa membuka niqobmu agar tidak terjadi salah paham di
akhir.” Pinta Fahira.
Mahira mengangguk kemudian dengan perlahan ia
membuka niqobnya. Ma syaa Allah, tampak sebuah wajah yang sangat anggun. Ginara
tidak bisa mengucapkan sepatah katapun melihat keindahan wajah di depannya, ia
tersenyum senang.
“Terima kasih, kamu bisa pakai lagi niqobmu”
“Iya Kak, aku Mahira, kakak siapa?” Duh suaranya
lembut sekali, batin Ginara.
“Ginara, panggil aja Gi”
“Iya Kak Gi, Hira akan berusaha menjadi istri yang
baik untuk Davin”
Ginara tersenyum, ia menggenggam kedua tangan
Mahira lembut.
“Sama tolong bimbing adikku, dia masih butuh
belajar banyak”
“Salah kak, laki-laki yang membimbing wanita, maka
semua akan berjalan dengan semestinya” Ralat Mahira membuat Ginara tersenyum
malu.
“Baiklah, terimakasih, akan kami sampaikan kepada
orang tua kami untuk segera melamarmu”
“Terimakasih, barokalloh” Ucapnya santun.
Mereka kemudian keluar dari kamar Mahira dan kembali
ke ruang tamu, terlihat kedua laki-laki beda usia itu juga tampak santai dalam
berbicara. Semoga semua lancar dan di ijabah oleh Allah SWT. Aamiin.
To Be Continued
__ADS_1