Cinta Tak Pernah Salah

Cinta Tak Pernah Salah
Maukah Kamu Menikah Denganku?


__ADS_3

Assalamu'alaikum


Selamat malam


Maap baru bisa up nih


Masih negrjakan tugas yang seabrek deh


Tapi...alhamdulillah semua berjalan dengan lancar....


Makasih masih setia membaca novelku...


Selamat membaca readers....


Davin bernafas lega ketika keluar dari ruang


dospem, akhirnya minggu ini ia sudah bisa ujian sripsi, semua bimbingan ia


lakukan dengan tekun dan serius, hasilnya tinggal selangkah lagi menuju


sarjana.


Pemuda itu melangkah tersenyum sambil menenteng


tasnya, tidak sabar ia menemukan gadis pujaannya. Hari ini ia mantabkan untuk


berbicara langsung pada gadis itu. Cukup sudah intaiannya dan ia sudah sangat


yakin dengan pilihannya. Masalah papa dan bunda, kalau gadis itu setuju, maka


ia siap menghadap kedua orang tuanya itu.


Kali ini dilihatnya gadis itu sedang duduk berdua


dengan seorang temannya di kursi taman biasa dia duduk. Mereka kelihatan


berdiskusi serius, sampai Davin datang, seorang gadis yang mengenakan hijab


ungu muda itu menoleh ke arahnya dengan tatapan kagum, tapi tidak dengan gadis


yang menutup wajahnya dengan niqob itu. Sedikitpun tidak berpaling.


“Assalamu’alaikum…” Sapa Davin terutama


pandangannya tertuju pada gadis berniqob, hingga teman di sebelahnya langsung


paham kalau yang diincar adalah gadis itu.


“Wa’alaikumussalam, ada apa ya mas?” Tanya gadis


itu.


“Boleh aku bicara sebentar sama temanmu?” Gadis itu


menoleh ke gadis yang duduk di sebelahnya, tampak gadis itu menghela nafas


pelan. Ia bangkit untuk pergi.


“Sebentar saja, tolong…” Bahkan seorang Davin


memohon kepada seorang wanita. Wah…


“Ya udah, aku ke perpus dulu ya…” Pamit teman gadis


itu. Gadis berniqob itu tetap diam tak bergeming. Davin mengeluarkan kertas


dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada gadis itu. Dalam keadaan terpaksa


namun tetap sopan gadis itu menerima kertas tersebut. Sebentar kemudian mata


indah itu terbelalak.


Assalamu’alaikum,


Namaku Davin Mahendra,


Aku serius ingin mengenalmu,


Maukah kamu menikah denganku?


Empat baris kalimat yang benar-benar membuat


siapapun yang membacanya pasti akan shock. Tidak pernah bertemu, tidak pernah


kenal, tidak pernah berbicara, bahkan cenderung di abaikan, bisa-bisanya ada


cowok yang langsung mengajak nikah.


Gadis itu terdiam cukup lama, ia menunduk


memikirkan kalimat yang dibacanya. Ia mengambil bolpoin kemudian menuliskan

__ADS_1


sesuatu di bawah kalimat itu, kemudian menyerahkannya pada Davin. Pemuda itu


membacanya dan membelalak tak percaya.


Wa’alaikumussalam,


Namaku Mahira Ramazan


Bismillahirrohmanirrohim


Atas izin Allah aku bersedia


“Alhamdulillah…terima kasih kamu sudah percaya sama


aku, aku akan membawa kakakku untuk taaruf ke rumahmu, boleh?” Pinta Davin


sopan. Gadis itu mengangguk kemudian meminta kembali kertas yang dipegang Davin


dan menuliskan sebuah alamat, setelah itu gadis itu menangkupkan kedua tangan


di dada dan meninggalkan Davin sendirian.


“Ya Allah, mungkin ini jalan yang sudah Engkau


takdirkan untukku, bismillah…semoga Engkau ridhoi, begitu pula dengan papa dan


bunda” Doanya, kemudian ia langsung pergi meninggalkan kampus.


***


Kedua orang paruh baya di depannya memandang tak


percaya kepada anak bungsunya. Mereka benar-benar tak habis pikir, seorang


Davin yang terkenal dengar sikap slengekan, kocak, suka jahil kepada kakaknya,


kini meminta restu untuk menikah.


“Sayang, maksudnya gimana ini, bunda masih bingung


ini” Tiara merasa ucapannya beberapa hari yang lalu di dengar oleh Yang Maha


Kuasa. Tapi…ini Davin, benarkah yang diucapkannya?


“Bunda, papa, Davin serius, walaupun Dav belum


mengenalnya dengan dekat, tapi dia sudah siap untuk taaruf, aku janji bawa Kak


itu sia-sia, apalagi dengan kepercyaan gadis itu yang langsung menerima


ajakannya untuk menikah, padahal mereka kenal aja nggak.


Reza memandang putranya serius.


“Kamu sudah benar-benar yakin? Ini bukan sekedar


lelucon kan Dav?” Kata Reza.


“Pa Davin serius, Dav berjanji selepas sarjana akan


mencari kerja…”


“Perusahaan papa kan bisa kamu kelola” Kata Tiara


“Ya, kalau papa izinin…”


Tiara memandang Reza meminta pendapatnya, ia hanya


menggeleng masih dalam mode tidak percaya. Di tepuknya pundak putranya.


“Rupanya pandangan papa ke kamu harus berubah nih,


kamu ternyata sudah dewasa sudah bisa mengambil keputusan besar dalam hidupmu.


Selama hatimu yakin, lakukanlah. Papa merestui mu” Kata Reza memberi


keputusannya. Sesuatu yang baik tidak boleh di tunda kan? Begitu kata ajaran


Islam, bila telah siap dalam hal menikah dan untuk menghindari zina maka


sebaiknya menyegerakan menikah.


Davin langsung memeluk Reza, pemuda itu menangis


haru mendapat kepercayaan dari papanya. Tiara ikut tersenyum dan memeluk putra


bungsunya yang sudah berpikir dewasa itu. Kini tinggal minta Kak Ginara untuk


menemaninya taaruf ke rumah Mahira, semoga semua berjalan lancar.


***

__ADS_1


Pukul tujuh malam, Davin dan Ginara sudah berada di


kediaman orang tua Mahira. Mereka di temui oleh orang tua Mahira, Ayah Mahira


ternyata seorang warga negara Turki yang sudah menetap dan memilih mengikuti


kebangsaan sang istri. Mereka sudah mendapat cerita lengkap dari putri mereka,


jadi ketika Davin dan Ginara datang mereka langsung menanyakan keseriusan


Davin. Keluarga mereka termasuk keluarga yang sangat berada tapi kelihatan


sekali kalau mereka tidak pernah memandang status seseorang.


“Jadi Nak Davin sudah benar-benar mantab untuk


menikahi putri saya?” Tanya Omar Ramazan, ayah Mahira dengan bahasa Indonesia


yang sudah sangat fasih, walaupun masih ada logat Turkinya.


“In shaa Allah saya siap” Jawab Davin mantab.


Omar mengangguk tersenyum kemudian meminta istrinya


Fahira untuk membawa Ginara menemui putrinya untuk melihat bagaimana


keseluruhan putrinya agar tidak ada penyesalan di akhir nanti.


Ginara mengikuti wanita baya itu menuju kamar yang


ditempati Mahira, dengan tetap ditemani Fahira mereka masuk ke dalam kamar.


Terlihat Mahira masih mengenakan hijab dan niqobnya. Wah, bahkan di kamar dia


masih memakainya. Ada kekaguman di dalam hati Ginara, sementara ia seorang muslimah


tapi berhijab saja ia masih belum berani.


“Nak, ini kakaknya Davin, laki-laki yang ingin


men-taaruf kamu, kamu bisa membuka niqobmu agar tidak terjadi salah paham di


akhir.” Pinta Fahira.


Mahira mengangguk kemudian dengan perlahan ia


membuka niqobnya. Ma syaa Allah, tampak sebuah wajah yang sangat anggun. Ginara


tidak bisa mengucapkan sepatah katapun melihat keindahan wajah di depannya, ia


tersenyum senang.


“Terima kasih, kamu bisa pakai lagi niqobmu”


“Iya Kak, aku Mahira, kakak siapa?” Duh suaranya


lembut sekali, batin Ginara.


“Ginara, panggil aja Gi”


“Iya Kak Gi, Hira akan berusaha menjadi istri yang


baik untuk Davin”


Ginara tersenyum, ia menggenggam kedua tangan


Mahira lembut.


“Sama tolong bimbing adikku, dia masih butuh


belajar banyak”


“Salah kak, laki-laki yang membimbing wanita, maka


semua akan berjalan dengan semestinya” Ralat Mahira membuat Ginara tersenyum


malu.


“Baiklah, terimakasih, akan kami sampaikan kepada


orang tua kami untuk segera melamarmu”


“Terimakasih, barokalloh” Ucapnya santun.


Mereka kemudian keluar dari kamar Mahira dan kembali


ke ruang tamu, terlihat kedua laki-laki beda usia itu juga tampak santai dalam


berbicara. Semoga semua lancar dan di ijabah oleh Allah SWT. Aamiin.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2