
...Cerita bersifat fiksi / karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Sebelum baca silakan klik like, 'vote' juga comment sebagai wujud apresiasi terhadap karya orang lain....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
..._________________________________________...
...B e n a r k a h ?...
..._________________________________________...
...__________________________...
...___________________...
...___________...
...______...
...___...
..._...
Samar, Reva masih dapat mendengar teriakan Kian; sebelum ruangan hitam muncul bersama jentikan jari Davian. Melahap mereka—membawa pergi jauh dari sana. Entah bagaimana nasib namanya nanti, mungkin akan dicoret oleh dosen pengajar pada kelas pagi hari ini. Haha |
Reva melirik. Punggung tinggi Davian terlihat. Tampan jika diam, pikir gadis itu. Semua yang gelap perlahan lenyap. Mereka berpindah tempat cukup jauh.
Reva melihat kawasan pohon rimbun. Sepertinya mereka tengah berada diatas bukit; mirip daerah tempat tinggal kakek Davian. Pria tua misterius yang sama misterinya dengan laki-laki didepan Reva ini.
__ADS_1
Reva melihat, sang pemilik hazel itu menghela napas. Davian berbalik. Wajah kesal terlihat disana lalu rautnya berubah menjadi setengah membenci.
Terjadi keheningan singkat, sebelum Davian membuka mulut yang terkunci rapat sedari tadi.
"Sudah ku duga, kau akan menjadi beban..." bisiknya.
Adrenalin Reva memunca. Debar jantungnya meningkat, kalimat itu. Terdengar sedikit mengusik telinga Reva. Tangan gadis itu mengepal. Dia menggigit pipi bagian dalam mulutnya.
"Apa salah ku? Dan apa masalah mu?" Putus Reva. Mulai dari pertanyaan sederhana setelah sejenak berpikir dalam diam. Lagi. Lagi Reva melihat ekspresi dongkol Davian.
Bahkan Reva cukup sabar jika mengingat kalau lelaki asing ini pernah menampar pipinya.
"Kau ingin tahu?" Tanya Davian balik. Lelaki sombong ini memasukkan kedua tangannya kesaku celana.
"Entah sengaja ataupun tidak, kehadiran mu itu mengganggu... keterlibatan mu itu menyebalkan. Dan sudah aku bilang untuk menjauhi bayangan apa lagi masuk keruang dimensi milik ku seenak jidat, tapi kenapa kau tidak mendengarkannya?" Ucapnya panjang lebar. Ekspresi Reva mendatar. Manik kelam miliknya semakin pekat—menyoroti Davian.
"Maafkan aku, tapi ini bukan kehendak ku... dan soal aku yang kembali memasuki ruang dimensi mu. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa; selain aku sudah berada didalamnya." Sahut Reva. Tidak terlalu berharap kalau Davian akan memahaminya. Dan benar. Lelaki itu tidak terlalu peduli.
"Lalu apa maksudmu melarang memusnahkan aura hitam?" Pilih Davian mengganti topik menuju tujuan sebenarnya. Apa-apaan gadis ini masuk ditengah proses pemusnahan. Dia tidak tahukah kalau itu benar-benar berbahaya; salah sedikit—mungkin Reva akan lenyap.
Reva jadi teringat lagi. Kejadian itu.
"Dia... meminta tolong," jawab gadis itu apa adanya. Benar tidaknya, makhluk yang terbuat dari aura negatif dan menyerupai monster tadi terlihat—kesakitan.
Bahkan Reva merinding ketika mendengar; JERITAN ITU.
DEG!!
Tangannya terangkat, memeluk diri sendiri. Benda-benda hitam seolah hidup, membuka mata mereka—mengawasi REVA dari kejauhan.
Reva menelan saliva. Sepertinya dia sedikit menganggap enteng perkara ini sebelumnya.
"Kau... bisa mendengar mereka?" Tanya Davian. Pandangan Reva terangkat, membalas tatapan hazel itu.
__ADS_1
Kecil; Reva mengangguk.
Benarkah? Dewi batin lelaki itu berbicara.
Davian tiba-tiba menampilkan postur berpikir. Otaknya bertanya-tanya, bagaimana mungkin? Aura hitam yang mengambil suatu bentuk sejatinya tidak mampu untuk berbicara. Kecuali para roh suci atau—memang sudah ada pada tingkat sempurna. Contohnya sepupu lelaki ini. Wanita aneh bernama Eni.
Mereka itu hanya terdiri dari nafsu negatif—jika sudah melebihi batas wajar hal itu akan menyebabkan fenomena spritual. Bahkan hal yang lebih besar lagi.
Apa karena darah Gabriel? Darah yang mengalir dalam tubuh gadis ini meski hanya secuil?
Davian melirik Reva.
Sepertinya benar. Gadis ini terlalu istimewa seperti kata kakeknya.
Ini akan sangat merepotkan.
"Sepertinya aku harus benar-benar mencari cara untuk memutuskan ikatan ini—
—sebelum menjadi berbahaya jika dibiarkan terlalu lama" ucap lelaki itu. Pelan dan dalam.
Semelir angin menyapu setiap jengkal tubuh mereka. Efek dingin yang menggigit meninggalkan bekas sangat dalam dikulit. Reva diam. Mendengar ucapan itu.
Apapun maksud Davian, rasanya Reva harus menyetujuinya.
...***...
...Tbc.....
...Jangan lupa Vote, Like dan comments-nya......
...Terima Kasih,...
...Bye...
__ADS_1
...:3...