
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._____________________...
...T e r g a n g g u...
..._____________________...
...___________...
..._____...
..._...
Davian memperhatikan setiap langkah kaki dari Eva, wanita itu kesana-kemari menyiapkan sarapan pagi dengan bahan baku seadanya yang mereka beli sebelum sampai di Apartemen kemarin malam. Roti panggang yang diolesi selai kacang ditambah susu hangat kemasan, tidak buruk juga. Eva melepaskan apron yang dia kenakan lalu duduk tepat dihadapan Davian sambil menghela napas lesu melihat sarapan yang dia buat sendiri.
"Makan saja, aku kehabisan uang karena mu." ucap Davian sarkas sambil menyeruput susu hangat miliknya. Eva menggembungkan pipi, setengah hati dia menyuap sepotong roti panggang kedalam mulut lalu mengunyahnya pelan.
Tak enak, batinnya tidak mau menyuarakan.
"Omong-omong..." Tiba-tiba Davian buka suara ditengah kegiatan sarapan pagi mereka. Lelaki berkacamata dengan manik hitam itu menatap lekat sosok Eva, membuat wanita yang ada didepannya menyudahi kunyahan lalu menelan paksa roti itu melewati kerongkongan.
"Kau masuk dan tidur di kamar ku kan kemarin malam? Atau tepatnya tidur di ranjang bersama ku." Pertanyaan dengan nada tajam dilayangkan Davian pada Eva, wanita yang mendengarnya itu dibuat mati kutu. Eva melarikan pandangan kesembarang tempat karena gelisah; dia tak ingin bersinggungan mata dengan Davian.
Hal itu makin membuat Davian yakin dengan tuduhannya. Lelaki berbingkai kacamata itu menyipitkan mata, menunggu Eva menjawab pertanyaan yang dia ajukan.
"Tid... tidak kok, tuan," sahut Eva menyangkalnya. Davian lihat keringat gugup mengalir dari kening wanita itu. Davian menghela napas kesal lalu menampilkan wajah malas, dia berkata—
"Jangan berbohong pada Eva, lalu hentikan panggilan tuan mu itu. Sebut nama ku saja 'Davian' mengerti?"
Eva mengangguk kecil, wanita itu melirik dari balik ekor matanya sebelum berbalik. Baik, dia memutuskan untuk jujur kepada Davian.
"Iya... maafkan aku Davian, sofa keras soalnya... hehe..." ucapnya dengan nada guyon khas Eva sekali meski Davian baru mengenalnya beberapa hari, wanita itu mudah ditebak suasana hatinya. Davian yang mendengar menopang dagu, jika dia jadi Eva dia juga akan menyelinap masuk agar bisa tidur nyenyak.
Hah~ baiklah Davian maafkan.
Lelaki itu mengembuskan napas pelan, setidaknya berkat adanya Eva disamping pria itu Davian tidak mengalami mimpi buruk lagi. Mungkin lebih tepatnya kearah tidak memimpikan apapun dan itu cukup menenangkan.
__ADS_1
Omong-omong soal yang lain Davian rasanya seperti mendengar sesuatu mirip bisikan halus dekat daun telinga kemarin malam, apa jangan-jangan Eva membisikan satu kalimat mantra penidur? Haha, lebih baik tanyakan saja Davian. Dari pada penasaran dan menuduh yang tidak-tidak.
"Rasanya kemarin aku seperti mendengar mu berbisik Eva, apa itu?"
Brak!
Respon diluar dugaan, wanita yang berada tepat didepan sana tersentak bahkan nyaris menumpahkan susu hangat dalam gelas miliknya. Davian yang melihat lagi gelagat gugup wanita itu, sepertinya tak perlu menunggu jawaban karena dia sudah bisa menebaknya.
Eva membisikan sesuatu meski Davian tak tahu apa yang dia bisikan.
Tiba-tiba wanita itu membungkuk sambil mengucapkan maaf pada Davian dengan lantang, Davian yang melihat berhasil dibuat bingung; ada apa dengan wanita itu? pikirnya penasaran.
"MAAF!"
"Karena kau selalu menyerukan nama seorang perempuan saat tidur dan mengalami mimpi buruk aku jadi ingin menenangkan mu dengan cara berpura-pura menjadi dia?!"
Apa?
Davian terkejut dengan wajah horor. Tak percaya dengan apa yang ia dengar, lelaki berkacamata itu memijit keningnya sakit.
"Jadi aku bilang kalau aku adalah Reva dan aku berada disini, sejenis itu—?!"
"Cukup!" potong Davian tak ingin mendengarnya lebih lanjut dengan nada tegas. Lelaki itu menatap dingin sosok Eva, membuat wanita bernama Eva itu terdiam lalu menundukkan kepala karena malu. Agaknya Eva sudah membuat kesalahan besar pada Davian.
Eva yang melihat itu dibuat sedih. Sepertinya dia harus meminta maaf nanti pada Davian, pikirnya demikian.
...***...
"Huh~"
Davian menatap kosong jejeran bangku didalam bus yang dia naiki. Lelaki itu sekarang ini sedang dalam perjalan menuju kantor tempat dia bekerja tapi pikiran Davian seperti melayang entah kemana. Tanpa sadar Davian mengangkat tangan lalu menggigit kuku jari tangannya, sebuah kebiasaan lama yang kembali muncul.
Setelah mendengar penuturan Eva tadi, Davian merasa terganggu. Bayang-bayang Reva kembali muncul dan memenuhi isi pikiran Davian, lelaki berkacamata itu resah. Sudah cukup lama dia berusaha untuk melupakan pasangan takdirnya tapi satu kalimat pemicu ternyata berhasil membuat Davian merindukan sosok itu secara sadar.
"Tch!"
Davian kesal tanpa sebab, kepalanya sakit. Bus yang dia naiki telah sampai pada tujuan, Davian berdiri bersama penumpang lainnya lalu berjalan keluar. Pemandangan bangunan kantor terlihat menyambut manik hitam milik Davian.
Davian lalu membuang napas panjang.
"Huupppfft!"
Fokus Davian?! rutuknya dalam hati. Lelaki itu menampar pelan kedua pipinya lalu berjalan masuk kedalam bangunan.
__ADS_1
Dia harus fokus agar bisa bekerja bukannya malah terganggu dengan masalah sepele seperti ini.
YA FOKUS!
Meski nyatanya Davian tidak bisa fokus sampai akhir jam kantor selesai. Lelaki itu menatap kosong layar komputer yang berada diatas meja, banyak berkas yang perlu di revisi tapi Davian sama sekali tidak berminat untuk membenarkan isi berkasnya itu. Beberapa karyawan juga curi pandang karena tingkah Davian tidak seperti biasanya. Pertanyaan 'kau baik-baik saja?' sudah sering terdengar ditelinga Davian dan lelaki itu hanya mampu menjawab singkat lalu tersenyum simpul kearah sang penanya.
Karena muak akhirnya Davian berdiri dan memilih pulang bersama dengan rekan kerjannya, tidak ada lembur hari ini karena Davian sedang galau. Haha! Persetan dengan atasan yang akan menegurnya nanti?!
Lelaki itu memasuki lift, menunggu hingga suara ting terdengar; interior lantai dasar terlihat menyambut Davian. Dia berjalan cepat menyalip beberapa orang didepannya, kebahagian karena pulang tepat waktu tiba-tiba sirna saat ada sosok yang menghadang Davian.
Lelaki itu memasang wajah masam. ARGHHH! Dia gemas sendiri—kenapa ada Layla diluar sana?! Apa wanita itu tidak mengenal kata menyerah? Rasanya menyebalkan Davian seperti memiliki penguntit saja.
Sambil mengembuskan napas kasar Davian berjalan keluar, mencoba mengabaikan sosok Layla yang lagi-lagi membuat kehebohan.
"DAVIAN?! TUNGGU!"
Beberapa pasang mata tertuju kearah mereka, Davian dibuat berhenti melangkah. Dia menoleh dengan sudut mata berkedut jengkel.
"Apa mau mu?"
LAYLA! APA KAU TIDAK MEMILIKI PEKERJAAN SAMA SEKALI? KENAPA KAU SELALU MENUNGGUI KU DIDEPAN KANTOR—ENTAH ITU WAKTU LEMBUR ATAU TIDAK?!
Ingin sekali Davian memaki tapi reputasinya akan dipertaruhkan nanti jika dia berteriak. Davian harap wanita itu menghilang dari hadapannya begitu saja, terbawa angin barang kali.
Lelaki itu hanya mampu tersenyum simpul, menunggu Layla menjawab tapi sepertinya keberuntungan memihak pada Davian.
"Kenapa si jala*ng ini ada lagi?!" Seru Eva terdengar dari kejauhan, sudut bibir Davian terangkat.
Tepat waktu!
Entah kenapa Davian merasa senang ketika mendengarnya. Hihi |
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti......
...Bye...
__ADS_1
...:3...