
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
..._______________________________________...
...C u k u p...
..._______________________________________...
...________________________...
...______________...
...______...
...__...
..._...
Tring!
Tring!
Reva terkejut, baru beberapa detik dia membuka handphone—serentetan pesan disertai notifikasi panggilan tak terjawab terlihat memenuhi layar handphonenya. Pada detik berikutnya panggilan baru muncul; benda pipih yang berada tepat ditelapak tangan Reva bergetar.
Sejenak Reva mematung, maniknya menatap lekat pada angka-angka asing yang muncul dilayar ponsel. Reva tidak tahu nomor siapa ini; siapa gerangan yang coba menghubunginya sedari tadi? Gadis bermanik kelam itu memutuskan menerima panggilan tersebut. Tepat disambungan pertama, terdengar gumaman samar.
"—tersambung juga..."
__ADS_1
Nada familiar membuat Reva ingin segera menutup sambungan telepon mereka, tapi Josan mencegah cepat begitu mengetahui perangai Reva—tunangannya itu seperti apa.
"Jangan coba-coba menutupnya Reva, atau akan ku buat ibu mu semakin mendesak pernikahan kita!"
Tangan Reva lainnya mengepal, bibir yang terkunci rapat mulai membuka. Wajah tak suka terlihat jelas.
"Dari mana kau mendapatkan nomor teleponku?" tanya Reva. Tidak terdengar jawaban, sepertinya Josan enggan menyahuti pertanyaan Reva.
Reva menggigit bibir bawahnya sebentar.
"Apa mau mu Josan?" ucap Reva setengah menggeram. Terdengar tawa renyah dari seberang sana.
"Bukannya aku pernah bilang akan menghubungi mu lagi? Apa kau lupa tunangan ku yang manis?"
Rasa ingin berdecih keras ketika mendengar rangkaian kata memuakkan dari mulut lelaki itu.
"Bisa langsung ke point pentingnya?" ujar Reva, mencoba menahan diri. Josan menghela napas panjang diseberang sana. Selalu tergesah-gesah, pikirnya.
"Bisa kembali dulu kerumah mu manis? Aku menunggu mu."
Sambungan telepon diputus sepihak oleh lelaki kurang ajar bernama Josan. Reva menyapu kasar wajahnya; raut kekesalan terlihat makin jelas. Gadis itu lalu menghela napas panjang, dia memyimpan kembali benda pipih itu ke tas bawaannya.
"Dari siapa itu?" Eni tiba-tiba muncul bersama kalimat tanya. Sekilas dia curi-curi dengar tadi. Reva berbalik panik, manik mereka bersinggungan. Reva sedikit menggeleng, tanda tak ingin menjelaskan apapun pada sepupu Davian itu.
"Aku harus pergi," tutur Reva. Kening Eni terangkat, wanita itu melihat seberapa tergesah-gesahnya Reva membereskan barang bawaannya kembali ke dalam tas.
"Kau tak ingin menunggu Davian sadar?" tanya Eni kemudian—mengimbangi langkah Reva menuju pintu utama.
"Kabari aku saja, kalau begitu sampai jumpa... dan bilang pada—erg?! Ka—kakek Davian aku pamit..." sahut Reva cepat. Eni menghentikan langkahnya; membiarkan Reva menjauh, sosok itu perlahan pudar dari penglihatan wanita berstatus sepupu Davian itu.
Eni kemudian berbalik, melalui koridor yang sama; wanita itu ingin menuju ruangan tempat Davian berada. Tapi tiba-tiba Eni terdiam, kakinya menjadi berat—wanita itu merasakan kehadiran lain di lorong kediaman kakek mereka.
"Jangan menakuti ku Adam.." ujar Eni merinding. Dia melihat kakak kedua Davian yang terkenal kalem muncul dari sudut celah gelap ruangan.
__ADS_1
Eni pikir lelaki itu bersama Gedion sudah angkat kaki dari sini, siapa kira Eni malah berpapasan dengan Adam. Sepupu lainnya Eni.
"Lama tidak bertemu," bisik Adam. Eni menampilkan wajah bingung. Seingat wanita itu mereka beberapa waktu lalu sudah bertatap wajah; tepat ketika makan malam bersama di kediaman utama.
Seolah tahu sesuatu Adam membuka bibirnya lagi untuk meluruskan. Dia tak ingin Eni kebingungan.
"Maksudku—hanya kita berdua. Secara langsung, tanpa gangguan."
Eni semakin tak mengerti, sudahlah! Wanita itu mencoba tidak ingin ambil pusing atas pernyataan Adam.
"Begitu 'kah?" jawab Eni tak acuh. Adam menggangguk kecil lalu terjadi keheningan panjang.
Eni mulai merasa tak nyaman, dia memilih membuka mulutnya lagi.
"Ya sudah, aku ingin kembali ruangan Davian." ujarnya.
Eni melanjutkan langkah, melalui sosok Adam yang tengah menunduk. Tiba-tiba saja lengan Adam terangkat menuju pergelangan tangan Eni, wanita itu tersentak lalu mengubah bagian tangannya menjadi debu.
Tangan Adam mengambang diudara. Pandangan lelaki itu naik—menuju arah Eni. Keringat dingin seperti menetes dikening wanita itu. Dadanya naik turun dengan ritme cepat. Mata Eni bergerak gelisah.
"Enyahkan tangan mu, jangan coba-coba menyentuhku!" ujar Eni lantang juga cepat. Tanpa bersuara, Adam menyimpan kembali tangannya. Lelaki itu melihat Eni membalikkan badan lalu melangkah pergi dari sana, meninggalkan sosok Adam yang menatap dingin punggung Eni.
...***...
...Tbc......
...Jangan lupa like, vote, & comments......
...Terima kasih,...
...Ketemu lagi nanti......
...Bye...
__ADS_1
...:3...